Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 37



San Francisco — USA


"Kau sudah menyelesaikannya sesuai rencana ?". Tanya Felix dengan posisi membelakangi orang kepercayaannya itu


"Sudah, Tuan".


"Selalu awasi langkah Alana. Jangan sampai dia mengacaukan rencanaku". Titah Felix


"Baik, Tuan".


Hening


Felix tidak mengatakan apapun lagi hingga akhirnya seorang pria yang berstatus menjadi asisten pribadinya itu bersuara.


"Apa masih ada yang ingin Anda sampaikan, Tuan ?".


Mendengar itu Felix membalikkan posisinya kini menghadap asistennya.


"Sepertinya kau buru - buru sekali". Ucapnya penuh selidik


Asistennya yang ditatap seperti itu sedikit kelabakan.


"Bu—kan seperti itu, Tuan. Hanya saja saya ingin segera menyelesaikan pekerjaan pagi ini". Jelasnya berusaha menghilangkan kegugupan dihadapan Felix yang menatapnya intens


"Pergilah". Usir Felix tanpa kata lagi


"Baiklah, Tuan. Saya permisi". Pamitnya lalu beranjak meninggalkan ruangan Felix


Ting !


Pesan masuk ke ponselnya setelah asisten pribadinya keluar.


Ting !


Ting !


Felix kembali mengabaikan pesan itu. Dirinya enggan melihat ataupun membalas pesan itu


Ting !


Denting yang ke empat berbunyi menandakan pesan masuk ke ponselnya lagi.


"Tidak penting sekali !". Ucapnya setelah melihat nama pengirimnya dilayar ponselnya


Setelah itu Felix duduk dikursi kebesarannya memilih untuk menyelesaikan berkas - berkasnya daripada membalas pesan yang terus masuk ke ponselnya.


...****************...


Los Angeles — USA


Xan's Group


"Tuan besar". Sapa mereka setiap berpapasan dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja


Semua yang melihat kedatangannya sontak terkejut. Karena tidak ada konfirmasi apapun terlebih dahulu akan kedatangannya kali ini.


"Apa kita ada apat dadakan lagi ?".


"Pagi ini yang datang tuan besar bukan tuan muda. Apa jangan - jangan ?.... ".


"Tuan Jacob dikonfirmasi ada kegiatan di Chicago. Apa hari ini yang memimpin perusahaan adalah tuan besar ?".


"Astaga dia memang sudah berumur tapi ketampanan dan kharismanya tidak berkurang sedikitpun".


"Ketampanan yang hakiki tuan muda dapatkan dari tuan besar sangat jelas ya".


"Oh My God. Dia seusia daddy ku tapi aku seperti melihat yang seumuran denganku".


"Nyonya besar sangat beruntung memiliki suami sekaligus mesin ATM berjalan ini di hidupnya".


Begitulah bisik - bisik karyawan wanita yang begitu memuja sang tuan besar saat mereka berpapasan sepanjang perjalannya menuju lift eksekutif.


Ting...


Tujuannya sudah sampai dilantai teratas perusahaan ini.


Lift terbuka menampilkan sosok yang disapa tuan besar itu.


"Tuan". Sapa Mike yang langsung berdiri menyambut kedatangannya


"Tidak perlu seperti itu, Mike. Kau juga putraku. Ingat itu". Balasnya lalu berjalan menuju ruang kerja Jacob Xanders selaku CEO dari Xan's Group


"Ku pikir kau ikut Jacob ke Chicago". Sambungnya sebelum mereka masuk ke dalam sana


Ceklek


"Setelah jam kerja perusahaan berakhir aku akan menyusul kesana, Tuan". Ucap Mike mempersilahkannya masuk


"Apa Jacob mengatakan alasan dirinya mendadak harus kesana ?".


Mike menggelengkan kepalanya. Seperti sebelum - sebelumnya. Mike hanya dianggap tangan kanan merangkap asisten pribadinya Jacob.


Jadi wajar jika orang - orang mempertanyakan kehadirannya yang tidak disamping Jacob.


"Tuan bilang hanya ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikannya disana". Jawab Mike


"Berhentilah bersikap formal denganku, Mike !". Dirinya kesal sudah berapa kali meminta pria yang berstatus sebagai asistennya Jacob ini untuk bersikap biasa saja


Mike menyengir kuda menampilkan gigi rapatnya yang hanya bisa disaksikan oleh beberapa orang tertentu saja.


"Of course, Dad". Ucapnya bersikap santai menghilangkan sikap formalnya tadi saat mereka dilihat pegawai perusahaan ini


"Lupakan anak itu. Dia memang suka datang dan menghilang sesuka hatinya. Oh ya. Bagaimana perkembangan proyek terbarunya Jacob yang ada di Italia". Ujar Jonathan penasaran


Jonathan ? Ya, pria yang sejak kedatangannya menjadi pusat perhatian seisi perusahaan ini adalah Jonathan Xanders. Ayah dari CEO tempat mereka bekerja.


Lebih tepatnya pemegang perusahaan sebelum akhirnya digantikan oleh putrnya itu.


"Italia ? Sejak kapan Master punya proyek disana ?". Gumamnya sedikit terkejut namun tetap bersikap biasa saja dihadapan Jonathan


"Aah aku paham. Mungkin proyek yang Master katakan kepada daddy adalah menghancurkan markas kecil itu". Sambungnya dengan cepat menyadari itu


"Anda benar - benar pandai mengendalikan situasi, Master". Sambungnya lagi


"Mike...".


Dengan cepat Mike menetralkan kekehannya agar tidak disadari Jonathan.


"Berjalan dengan baik, Dad. Seperti biasa. Tidak ada yang gagal dalam tangannya". Ujar Mike diiringi sedikit tawa


"Yeah, kau benar. Aku akui itu memang sangat benar. Sejauh ini dia berkarir tidak ada proyek atau tender apapun yang gagal ditangannya". Kekeh Jonathan


"Justru semua orang berbondong - bondong ingin bekerja sama dengannya". Imbuh Jonathan


"Tepat sekali, Dad. Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi yang sempurna dalam semua hal". Jelas Mike


Jonathan menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Mike.


"Kau tidak ingin duduk, Mike ? Apa kakimu tidak pegal berdiri terus menerus ?". Ujar Jonathan


Hening


"Kau tidak ada pekerjaan yang ingin dilakukan, Mike ?". Tanya Jonathan setelah keheningan diantara mereka


Pria itu menggelengkan kepala sebagai jawabannya.


"Disini tidak ada Jacob. Jadi bersikaplah santai dengan daddy mu ini, Mike ! Jangan meniru Jacob yang selalu datar itu". Kekehnya mencairkan suasana


"Bukan be—".


"Duduklah ! Kita tunggu mommy mu kemari". Tuturnya


Mike mengernyitkan alisnya mendengar itu.


"Mommy kemari ?". Tanyanya dengan polos


"Iya. Sebenarnya aku tidak ada niatan kemari. Hanya saja tadi sebelum kesini aku ada urusan jadi ya, aku mampir saja kemari. Kebetulan saat diperjalanan mommy mu menghubungiku...". Jelas Jonathan


Mike diam mendengarkan perkataan Jonathan seperti anak ayam yang patuh kepada induknya.


"Dia ingin aku menemaninya memeriksa kesehatan rutinnya". Sambungnya


"Mommy tidak ingin melewatkan setiap detiknya tanpamu, Dad". Kekeh Mike menanggapi penjelasan Jonathan


"Aku pikir daddy kemari untuk menggantikan Jacob satu hari ini". Ucap Mike lagi


"Of course, Not. Untuk apa aku pensiun lebih cepat jika masih harus memimpin perusahaan ini lagi ?". Tutur Jonathan terkekeh


"Jacob tidak ada di perusahaan maka kau yang akan menggantikannya, Right ?". Tanya Jonathan


Mike menganggukkan kepalanya lagi sebagai jawaban.


"Maka lakukan tugasmu. Kau berhak duduk di kursi kebesarannya itu karena posisimu hari ini menggantikannya untuk sementara".


"Tidak, Dad. Aku ada ruangan sendiri disebalah ruangan ini". Jawab Mike tersenyum


"Kau in—".


Ceklek


Suara pintu dibuka menghentikan perkataan Jonathan.


"Jo". Suara lembut itu sangat sopan masuk ke telinga siapapun yang mendengarnya


"Baby". Balas Jonathan tidak pernah mengganti panggilannya sampai mereka setua ini


"Mom...". Mike mendekati Jesslyn dengan tersenyum


"Kau disini anak nakal ? Tidak bersama Jacob di Chicago ?". Tanya Jesslyn yang mengira pria itu berada di Chicago bersama putranya


Mike menggelengkan kepalanya. Lalu memeluk hangat Jesslyn.


"Why ? Tidak biasanya. Apa kalian bertengkar ?". Selidik Jesslyn


"Of course, Not. Mom. Sore atau malam nanti aku akan kesana menyusulnya. Karena besok dia ada kegiatan yang perlu melibatkan aku". Jelas Mike santai


"Baby, kemarin kau bilang merindukan Mike. Sekarang dia sudah dihadapanmu justru kau mengintrogasinya seperti polisi". Ucap Jonathan menggelengkan kepalanya


"Ya. Kau benar, Jo. Kau !". Ucapnya menunjuk Mike dari jarak dekat


"Kenapa sudah satu bulan ini tidak pernah datang kemansion lagi, hah ? Apa kau sudah tidak menganggapku mommy mu ?". Sentak Jesslyn dibuat seolah - olah sedang kesal


Mike terkekeh menanggapi perkataan Jesslyn.


"Aku sangat sibuk akhir - akhir ini, Mom. Putramu bahkan tidak membiarkanku tidur nyenyak". Ucap Mike memelas


"Kalian itu seperti anak kembar. Kesibukan kalian itu bahkan mengalahkan tugasnya presiden yang memimpin negara ini, ck !". Gerutu Jesslyn


Lagi - lagi Mike dan Jonathan terkekeh mendengar nada kekesalan Jesslyn.


"Jangan kesal terus, Mom. Tidak baik untukmu. Nanti darah tinggimu bermasalah". Kekeh Mike


"Kau ini ya !. Awas saja saat Jessica menikah kau tidak juga membawa pasanganmu. Akan mommy kebiri saja pusaka kesayanganmu itu !". Ancam Jesslyn


Glek


Mike dan Jonathan spontan merapatkan kaki mereka dalam posisi masing - masing.


"Astaga mommy ku ini lebih menyeramkan dari grandma Sia ternyata jika sudah mengeluarkan ultimatumnya". Gumam Mike menelan kasar ludahnya


"Hish, istriku sudah mendapat pengaruh dari mommy sepertinya". Batin Jonathan menilai buruk ibunya yang entah sedang apa sekarang


"Iya, Mommy ku yang paling cantik ini". Cicit Mike memuji Jesslyn


"Awas saja jika tidak membawa !". Ancam Jesslyn lagi


"Sudahlah. Bukankah kita akan ke rumah sakit untuk periksa kesehatan, Baby ?". Sela Jonathan menghentikan pertikaian kecil dihadapannya


"Ya. Ayo !". Jawab Jesslyn cepat


"I can see you, Boy !". Tutur Jesslyn menatap tajam Mike seperti ingin mengirisnya


"Iya, M-O-M-M-Y". Balas Mike sengaja menekankan kata mommy


Jonathan menuntun Jesslyn keluar ruang kerja Jacob.


"Becareful. Mom, dad". Ucap Mike setelah mereka berada diluar


"Jangan lewatkan sarapanmu, Mike !". Seru Jesslyn sebelum berjalan masuk ke lift khusus Jacob itu


Mike menganggukkan kepalanya sembari melambaikan tangan kearah lift yang akan tertutup itu.


"Huft, Jacob benar. Mommy jika sudah begitu seramnya melebihi grandma". Cicit Mike pelan lalu beranjak masuk ke ruang kerjanya


Ting !


Master


"Bagaimana ? Mommy lebih menyeramkan dari grandma Sia bukan ?"


Setelah membaca itu Mike memutar bola matanya malas.


"Bagaimana aku bisa lupa di ruangan itu ada kamera tersembunyi, ck". Gerutunya


Mike memilih mengabaikan pesan itu karena dirasa tidak penting.


Ting !


Dengan malas Mike membuka pesan itu.


Master


"Zayn dan Vincent akan ikut bersamamu kemari !"


"Cih, mereka lagi !". Decaknya namun tidak bisa berbuat apa - apa karena ini perintah Jacob