
Los Angeles — USA
Lyn's International Hospital
Kericuhan kembali terjadi di rumah sakit itu kala ada dua pasien terjadwal operasi hari ini dengan dokter utamanya adalah Angeline sedang menunggu diruang rawat inap bersama keluarganya.
Sedangkan sang dokter sendiri masih enggan menampakkan diri kepublik pasca rumor yang beredar semakin kencang. Membuatnya malas melangkahkan kaki keluar dari pintu apartmentnya.
"Apa sudah ada kabar dari dokter Angel ?". Terdengar kepanikan dari suara yang menyapa tim medis di ruangan itu
"Saya mohon angkat ponselmu, dok. Ini emergency !". Batin Sarah panik karena ponselnya tidak diangkat sama sekali oleh Angeline
Mereka menggelengkan kepala termasuk Sarah selaku asistennya yang sedari tadi berusaha menghubungi Angeline.
"Sebaiknya gunakan cara terakhir yang saya sarankan tadi, Dok". Ucap Sarah menuai pro dan kontra hingga kini
"Ini seharusnya belum masuk jam kerja presdir. Jika kita menghubunginya bisa saja besok pekerjaan kita menjadi taruhannya". Terang salah satu dokter disana
"Lalu bagaimana ini ? Menunggu kabar dokter Angeline sama saja kita menghilangkan nyawa pasien". Balas perawat lainnya
"Mengambil alih tugas dokter Angeline juga bukan tindakan benar. Mengingat ini operasi besar". Ungkap kepala rumah sakit
"Apa ada tindakan lain yang bisa diambil, Dok ? Keluarga pasien terus bertanya kapan operasi bisa dilakukan ?". Ujar Sarah ikut bersuara
Mereka semua terdiam dengan pemikiran masing - masing hingga terdengar pintu ruang operasi itu terbuka menampilkan sosok yang mereka tunggu akhirnya tiba lengkap dengan perlengkapan medisnya.
Ceklek...
Angeline masuk dengan bernafas sedikit lesu akibat kericuhan selama perjalanan dirinya dimulai dari lobby apartmentnya hingga lobby rumah sakit—Lelah hayati.
"Maaf membuat kalian panik dan cemas. Sekarang kalian sudah bisa mempersiapkan kelengkapan operasi dan bawa pasien pertama sekarang juga". Titah Angeline sibuk dengan menyiapkan mentalnya untuk fokus
"Siapa yang membawanya kemari ? Apa presdir membaca pesanku ?". Batin Sarah heran
"Jika itu benar, tidak masalah jika tidak dibalas, setidaknya nomorku pernah masuk ke dalam daftar orang yang pernah masuk ke ponselnya". Sambungnya bersorak gembira
"Kau tidak apa - apa, Sar ?". Tanya Angeline tanpa sengaja memperhatikan gerak gerik Sarah yang aneh menurutnya
"E—ehh tidak apa - apa dok. Hehe". Ucapnya gugup seperti ketahuan mencuri
#Lima Menit Berlalu...
Pasien pertama dibawa masuk ke ruang operasi. Angeline mulai melakukan tugasnya untuk membedah bagian yang bermasalah pada pasiennya.
Lampu ruangan operasi itu mulai berganti warna menjadi merah hingga 45 menit berlalu lampunya sudah padam membuat keluarga pasien yang menunggu diluar harap cemas menjadi satu menunggu dokter yang bertugas keluar.
Ceklek...
Mendengar pintu terbuka membuat jantung semua orang berdegup kencang.
"Keluarga pasien ?". Suara lembut itu sangat sopan masuk ke telinga siapapun yang mendengarnya
"Kami, Dok". Ucap pria paruh baya seusia ayahnya berdiri dengan dibantu gadis kecil disampingnya
Angeline—Ya, yang keluar itu adalah Angeline berniat ingin menyapa langsung keluarga pasien pertama.
"Selamat tuan, istri Anda sudah melewati masa kritisnya. Operasinya juga lancar. Pasien segera kami pindahkan ke ruang rawat, zekarang tinggal menunggu pasien siuman baru bisa memastikan keadannya lagi". Jelas Angeline lembut
Mereka selaku keluarga pasien tentu saja sangat senang mendengar itu, mereka lalu mengucapkan terima kasih kepada Angeline.
"Tidak, aku justru minta maaf karena sudah terlambat 15 menit melakukan operasi dari jadwal yang sudah ditentukan". Tutur Angeline merasa bersalah
"Tidak apa - apa nak. Kau sudah melakukan yang terbaik dengan menyelamatkan nyawa isriku". Ucap pria paruh baya itu
"Paman, jangan seperti ini. Anggap saja aku sedang menyelamatkan nyawa ibuku sendiri". Ungkap Angeline sekali lagi meras tidak enak hati
Pria itu menganggukkan kepalanya lalu pamit undur diri hendak menyusul ke ruang rawat istrinya saat ini.
Setelah melihat pria itu hilang dari jangkauannya Angeline kembali masuk ke dalam ruang operasi guna mempersiapkan kembali untuk operasi kedua yang dijadwalkan satu jam lagi.
"Dok, Anda memang yang terbaik". Puji semua tim yang membantunya bertugas hari ini
"Kalian bisa saja. Ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya kalian". Ujar Angeline mendapat senyuman dari tim medis yang banyak membantunya kali ini
"Bagaimana setelah operasi kedua selesai kita makan di kantin, aku yang akan mentraktir kalian". Sambungnya
"Wah ide bagus, Dok".
"Dokter Angel memang paling tahu kapan kita tanggal tua".
"Bonus kita untuk menghemat ditanggal tua".
Ungkap mereka bersamaan karena merasa senang mendapat traktiran dari Angeline.
"Setidaknya dengan mereka aku bisa melupakan sejenak masalah itu". Batin Angeline
Tanpa terasa kini operasi kedua juga sudah selesai dilakukan dengan baik. Pasien selamat tim medis juga aman. Semuanya bisa bernafas lega.
Lagi - lagi kali ini Angeline yang keluar untuk menyapa keluarga pasien. Selama berbincang dengan mereka Angeline benar - benar menunjukkan wibawa seorang pemimpin yang bijak dan ramah.
"Maaf sekali lagi, operasinya harus terlambat dari jadwal pertama". Ucap Angeline sopan
Mereka hanya tersenyum menanggapi perkataan Angeline yang berulang kali meminta maaf atas keterlambatannya melakukan operasi.
Semua orang di sana menyadari wajah Angeline yang hampir satu minggu ini melalang buana di surat kabar, media cetak, tv, sosial media, pemberitaan manapun akibat rumor yang beredar mengenai dirinya dan CEO ternama itu.
Awalnya mereka segan tetapi setelah melihat keramahan dan ketulusan Angeline dalam berbicara membuat mereka luluh dan tersenyum tak kalah tulus membalasnya. Bahkan ada yang sampai memeluknya.
Setelah itu Angeline masuk kembali ke ruang operasi guna memberitahu tim medis untuk makan siang bersamanya dikantin.
Ceklek...
"Aku tunggu dikantin ya, Segera ganti pakaian kalian". Ucap Angeline setelah mengambil tas dan jas dokternya untuk segera ke ruangannya dulu
Setelah memastikan Angeline pergi, tim medis mulai berbincang mempertanyakan siapa dan bagaimana Angeline bisa tiba di rumah sakit tanpa kabar apapun.
"Ya, bagaimana ?"
"Bukankah sejak tadi Sarah menghubungi dokter Angel tapi tidak di angkat"
"Apa jangan - jangan presdir yang membawanya kemari ?"
"Itu tidak mungkin. Bagaimana presdir bisa tahu sedangkan kita saja tidak ada yang memiliki nomor presdir, bukan ?"
"Atau justru Wakil Presdir yang menghubungi Presdir secara langsung ?"
"Aishh sudahlah. Yang terpenting sekarang operasi aman dan berjalan lancar"
Begitulah percakapan - percakapan mereka disela membersihkan ruang operasi.
Sementara Sarah yang diam saja juga ikut mempertanyakan dalam hati bagaimana bisa Angeline tiba di rumah sakit ini.
"Sebaiknya nanti aku tanyakan langsung kepada dokter Angel". Batin Sarah
Mereka sibuk mempertanyakan kehadiran Angeline yang mendadak, disisi lain rumah sakit itu justru kembali menjadi saksi bagaimana cara Presdir mereka membawa masuk dokter Angel dengan aman tanpa dapat dijangkau para wartawan yang memburu mereka tanpa henti.
Kini semua yang bekerja disana semakin yakin rumor itu benar adanya bukanlah sebuah rumor lagi tetapi fakta.
Sebagian membuat tagar Patah Hati Sedunia. Sebagian juga membuat asumsi Wanita Murahan—Khusus mereka yang membenci Angeline ya.
#Ruang Presdir L.I.H
Jacob menebarkan senyum tipis setiap menyaksikan interaksi Angeline dengan keluarga pasien.
"Anda benar - benar berhasil masuk ke dalam hari tuan muda, nona Angel". Batin Mike ikut tersenyum
"Apa kita bisa ke kantor sekarang, Tuan ? Satu jam lagi Anda ada rapat dengan Maverick Corporation". Jelas Mike memberikan MacBooknya kepada Jacob
"Kali ini yang menghadirinya siapa ? Hmmm". Tanya Jacob setelah menerima MacBooknya
"Tuan Aiden Maverick sendiri yang menghandlenya, Tuan". Terang Mike
Jacob menganggukkan kepala saja tanpa menjawab.
"Kita kembali sekarang, Mike !". Ucap Jacob setelah memberikan MacBooknya kepada Mike
"Baik, Tuan". Balas Mike mengikuti Jacob
Dari kejauhan mereka masih bisa melihat wartawan itu masib berkumpul didepan selama berjam - jam hanya untuk mendapat konfirmasi darinya dan Angeline.
"Mike, ubah rute. Minta Jackson menjemput di rooftoop. Aku tunggu disana". Titah Jacob enggan lewat pintu utama setelah melihat wartawan masih berkumpul disana
"Baik, Tuan".
Setelah itu mereka bergerak kembali naik ke lantai teratas rumah sakit itu lalu menuju rooftoop menaiki helikopter yang membawa mereka ke Xan's Group