Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 44



Los Angeles — USA


Mansion Utama


Pagi yang cerah mengawali kegiatan seisi mansion megah itu.


"Jacob sudah kembali ?". Sia bertanya kepada semua yang dihadapannya tanpa menatap mereka


Mereka menggelengkan kepala tidak tahu.


Sia mengembuskan nafasnya kasar mendapati cucunya itu masih belum kembali juga.


"Morning, Grandma...". Suara lembut itu masuk ke pendengaran semua orang yang langsung tersenyum mendengarnya


Sia membalikkan badannya menghadap asal suara sapaan itu.


"Oh cucu menantuku yang cantik. Kemarilah". Balasnya atas sapaan Angeline


Angeline segera mendekati Sia dengan menebar senyumannya.


"Beruntungnya saat ini tidak ada tuan muda. Jika tidak, kami tidak akan pernah bisa melihat senyuman menyejukkan hati dari nona Angeline ini". Gumam Mia menatap dua wanita beda generasi dihadapannya


"Kenapa pagi - pagi begini kau sudah turun ? Apa tidurmu nyenyak ?". Tanyanya seolah lupa dengan persoalan Jacob


"Aku rasa ini tidur ternyenyak ku selama tiga tahun terakhir grandma". Ujarnya terdengar ambigu


Mendengar itu sontak Sia mengerutkan alisnya.


"Memangnya kenapa dengan tiga tahun terakhirmu ?". Tanya Sia


Seketika Angeline sadar apa yang baru saja dikatakannya.


"Kau payah Angeline ! Payah. Hampir saja kau mengatakan kejadian tiga tahun yang lalu, hufftt". Batin Angeline memaki dirinya sendiri


"I—tu. Maksudku tidur ternyenyak semenjak aku menjadi dokter, Grandma". Jelasnya dengan sedikit gugup


Sia memicingkan matanya melihat kegugupan Angeline.


"Kenapa Angeline ini seperti Jacob sekali. Penuh teka teki". Batinnya menilai Angeline


"Ceritakan kepada grandma bagaimana kehidupanmu tiga tahun terakhir". Tuturnya masih dengan menatap Angeline meminta penjelasan


"Tidak ada yang istimewa. Hari - hariku hanya diisi dengan bekerja, tidur, makan dan mandi saja grandma". Ujarnya berusaha menutupi kegugupannya dihadapan Sia


"Tidak ada teman ? Liburan ? Shopping ?". Tanya Sia


Angeline menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak punya waktu untuk itu, Grandma". Jawabnya jujur


"Kau benar - benar tidak pernah shopping ?". Angeline menganggukkan kepalanya


Sia tercengang mendengarnya.


"Sangat berbanding terbalik dengan Amor. Bisa dikatakan Angeline lebih seperti mommy nya Jacob, jauh dari kata berfoya - foya". Gumamnya menatap Angeline intens


Ada rasa bahagia sendiri di relung hati terdalamnya menilai Angeline. Jika semua wanita yang mendekati cucunya itu selalu haus kekayaan, suka berbelanja barang mahal lain halnya dengan wanita satu ini.


"Lalu semua barang - barangmu ?". Sia semakin penasaran dengan kehidupan Angeline yang membuatnya takjub


"Ah itu. Setiap akhir bulan aku akan mampir ke toko - toko kecil untuk membeli keperluanku seperti pakaian dalam, baju yang cocok untukku bekerja, dll...". Jawabnya terlampau jujur tanpa rasa malu sedikitpun


"Toko kecil ?".


"Iya, grandma. Hitung - hitung aku membantu mereka menghabiskan stok barang di toko mereka". Ujarnya tersenyum hangat


Lagi - lagi Sia dibuat terkejut dengan pengakuan Angeline.


"Anak ini benar - benar berbanding terbalik dengan kehidupan Amor. Apa katanya tadi ? Toko kecil ? Aku saja tidak yakin seumur hidupku pernah masuk kesana". Batinnya


Melihat keterdiaman Sia membuat Angeline berasumsi sendiri.


"Apa grandma merasa jijik berdekatan denganku setelah tahu dari diriku ini tidak ada kemewahan ?". Cicitnya merasa Sia tidak memberi respon apapun


Sia yang sejak tadi bergumam perang batin dengan dirinya tersadar sudah mengabaikan Angeline.


"Of course, Not. Justru grandma merasa kau wanita unik". Pungkasnya tersenyum


"Bagaimana dengan mall ? Apa kau tidak pernah berbelanja sekalipun disana ?".


"Aku akan belanja disana untuk kebutuhan anak - anak panti asuhan saja, grandma. Tidak apa - apa pakaianku murahan asal mereka semua mendapat kenyamanan dari pemberianku". Jelasnya menggebu - gebu dengan tersenyum mengingat wajah bahagia anak - anak itu


Deg


Jantung Sia seolah ingin meloncat keluar setelah mendengar kata anak panti.


"Sepertinya kau sangat bahagia menceritakan mereka, Nak".


"Of course, Grandma. Kebahagiaanku saat ini hanya sebatas melihat senyum mereka, tawa mereka, senyum keluarga pasien - pasienku. Hanya itu saja".


"Kebahagiaanmu sendiri ?". Celetuk Sia


"Tidak ada kebahagiaan yang lebih berharga daripada kebahagiaan orang - orang di sekelilingku, Grandma". Ujarnya nyaman berbagi cerita dengan Sia


"Aku ingin mendengar mereka lebih dalam. Ceritakan lagi bagaimana hari - harimu saat disana, Nak". Sia sudah memposisikan diri dihadapan Angeline


Dengan tersenyum seolah permintaan Sia adalah perintah mutlak untuknya. Angeline mulai menceritakan keadaan disana hingga tak terasa Sia menatap Angeline dengan mata berkaca - kaca.


"Astaga. Di era sekarang aku sangat yakin tidak ada wanita sepertimu, Nak. Rela menghabiskan gaji bulananmu hanya untuk membelikan kebutuhan anak - anak panti meskipun resikonya kau harus memakai barang - barang lusuh sekalipun". Sia membatin menatap Angeline yang tersenyum menceritakan anak - anak yang dimaksudnya


Sementara Mia dan beberapa pelayan mansion yang ternyata juga ikut mendengarkan ceritanya memandang fokus Angeline dengan mata berkaca - kaca seperti Sia.


"Oh God. Aku saja sebagai pelayan di mansion ini selalu membeli kebutuhanku di mall. Sedangkan dia ?".


"Apa ini yang dinamakan malaikat tak bersayap ?".


"Seperti namanya. Angeline... Hatinya juga seperti malaikat".


"Dia dokter aku pelayan. Tapi justru yang sering berbelanja ke mall adalah aku bukan dia".


"Aku bangga kepadamu, Nak".


Tanpa terasa lima belas menit berlalu sejak Angeline menceritakan kehidupan di panti.


"Ekhemm...". Deheman itu sedikit keras menyadarkan semua orang yang larut dalam cerita Angeline


Deg


Semua pelayan sontak menunduk melihat siapa yang berdehem barusan.


Mereka melirik satu sama lain merasa sudh melalaikan tugas masing - masing.


Sementara Sia menatap tajam sang empu.


"Kau butuh sesuatu, V ?". Tanyanya masih menatap tajam sang suami yang sudah menganggu kesenangannya mendengarkan cerita Angeline


"Kalian sibuk bercerita hingga melewatkan jam sarapan pagi, honey...". Victor sengaja menekan kata terakhirnya


Glekk


Pelayan yang tadi bertugas menyiapkan sarapan sekarang kalang kabut mendapati kecerobohan mereka yang akan mendapat amukan dari Victor.


"Ck, kau bisa makan sendiri dulu kan ? Kenapa harus mengangguku, V !". Ucap Sia kesal


Mungkin semua orang sudah terbiasa melihat keberanian Sia kepada suaminya. Tapi tidak dengan Angeline. Meski sudah beberapa kali melihat Sia begitu tetap saja tidak bisa dicerna dengan baik oleh otaknya.


"Aku rasa hanya grandma yang berani begitu kepada Tuan Victor yang terkenal kejam". Gumamnya menilai keberanian Sia


Sementara Victor terkekeh pelan menanggapi kekesalan istrinya.


"Kalian bisa melanjutkan ceritanya. Tapi sebelum itu kalian harus mengisi tenaga dulu untuk bercerita dan mendengarkannya, Honey...". Ujarnya sembari duduk dikursinya


"Cih, ceritanya sudah basi apalagi melihat ekspresimu itu semakin membuatnya hancur, V !". Tutur Sia ikut duduk di sebelah kanan suaminya


"Angeline...". Panggil Victor


Untuk pertama kalinya semua orang mendengar Victor memanggil Angeline. Sejauh yang mereka lihat sejak pertama kali bertemu Victor hanya diam tidak menyapa atau berbicara dengannya.


Tapi pagi ini ? Angeline merasa ini mimpi. Namanya bisa keluar dari mulut seorang Victor Xanders untuk pertama kalinya.


Sia juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang didengarnya.


"V, are you okay ?". Sia menempelkan telapak tangannya di jidat Victor


Victor menaik turunkan matanya seolah bertanya ada apa ?.


"Tidak panas...". Cicitnya pelan


"Tentu saja. I'm okay".


"Mia !". Panggil Sia cepat


"Iya, Nyonya". Jawabnya mendekati posisi Sia


"Aku tidak bermimpikan ? Pria tua itu memanggil Angeline ? Oh My God". Heboh Sia sampai menyebut suaminya pria tua


Mia menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Sia.


"Cubit aku Mia untuk memastikan ini mimpi atau bukan". Perintahnya


Bukannya tidak ingin menuruti Sia, hanya saja Mia terlalu takut dengan tatapan membunuh dari Victor jika dirinya sampai mencubit Sia sesuai permintaannya.


"Ayo Mia !". Pintanya tidak sabaran


Dengan cepat Mia menyentuh lengan Sia untuk mencubitnya.


"Semoga saja setelah ini aku masih bisa hidup dengan damai dan tenteram". Batinnya penuh harap apalagi saat ini jelas Victor menatapnya dengan tajam


"Awshhh". Sia meringis pelan sembari menggosok lengannya


Sia bangkit lalu memeluk erat suaminya.


Victor hanya diam saja menunggu reaksi apalagi yang akan ditunjukkan istrinya itu.


"Kau tahu, V. Sejak pertama kali Angeline bertemu dengan kita sampai hari ini aku sangat berharap namanya keluar dari mulutmu. Terimakasih sudah mengabulkannya, V". Ungkap Sia menahan air mata


"Kenapa dia sensitif sejak tadi". Gumam Victor membalas pelukan istrinya


Sedangkan Angeline diam saja. Dia juga masih tidak menyangka hari ini mendengar Victor menyebut namanya.


"Dia wanitanya Jacob. Sebentar lagi juga akan menjadi Mrs.Jacob Xanders. Apa salah jika aku ingin beramah tamah dengannya, honey ?". Kekehnya pelan


Angeline sontak menunduk mendengar itu.


"Ck, aku benci kalimat yang menyatakan aku akan menjadi nyonya Xanders !". Batinnya menolak keras pernyataan itu


Victor tersenyum tipis melihat Angeline yang tertunduk diam.


"Kemarilah. Aku tidak mau saat Jacob kembali dia akan memporak porandakan mansion ini karena melihat tubuh wanitanya semakin kurus". Kekehnya mencairkan suasana untuk pertama kalinya


Sia menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Victor.


"Grandpa benar, Nak. Kemarilah. Duduk disampingku". Pintanya kepada Angeline


Angeline hanya menganggukkan kepalanya mendekati sepasang lansia itu.


"Terimakasih, Tu—".


"Grandpa ! Kau memanggil istriku grandma, bukan ?". Tegas Victor


Angeline tersenyum kikuk mendengar itu.


"Gra—ndpa...". Ulangnya dengan sedikit canggung


Victor dan Sia melihat itu hanya tersenyum tipis menyadari kecanggungan Angeline saat bersama Victor.


"Kehadiranmu memang ditakdirkan untuk mencairkan dua kutub utara di keluarga ini, Nak". Batin Sia


"Aku akan menganggapmu cucuku mulai saat ini". Gumam Victor tersenyum samar


"Sepertinya dua singa hanya tunduk dengan pawangnya masing - masing". Gumam Liu yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan semuanya