Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 26



Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


Setelah pengakuan Jacob mengenai status keduanya. Kini semua orang di rumah sakit semakin segan dengannya.


Seperti saat ini Angeline terlihat sedang berkeliling mengecek pasien menghilangkan jenuh di ruangannya.


Sebagian menyapanya sopan sebagian juga menatapnya sinis tidak suka.


"Cih setelah menjerat presdir dengan tubuhnya sekarang dia mulai menunjukkan jati diri aslinya".


"Wanita beruntung yang bisa menjadi wanitanya presdir".


"Bukan mantra bukan sulap. Inilah calon istri presdir dari kalangan biasa seperti kita".


"Wajahnya sangat polos ya tapi siapa yang tahu isi hatinya, cih".


"Setiap hari melihat wajah dokter ini benar - benar tidak membuatku bosan".


"She's very beautiful".


Bisik pelan beberapa yang didengar Angeline saat melewati semua orang.


"Nyonya, Anda disini ?". Kaget seorang suster melihat Angeline di lantai dua khusus pasien kelas menengah


"Bisa kalian panggil aku seperti biasanya ? Tanpa embel - embel nyonya ?". Minta Angeline sejak tadi risih sekali disapa seperti itu


"Aku ini bukan calon istrinya, Astaga. Bisa - bisanya mereka mempercayai perkataan si devil itu". Batin Angeline menggerutu kesal


Mereka tersenyum kikuk mendengar permintaan Angeline lalu menganggukkan kepala pelan.


"Ya sudah lanjutkan kegiatan kalian. Aku masih ingin berkeliling". Seru Angeline berjalan menjauhi mereka


"Siap, Dok". Ucap mereka serentak


Mereka tersenyum menatap punggung Angeline yang sudah menjauhi mereka.


Angeline terus menelusuri lantai itu ruangan demi ruangan memeriksa pasien rawat inap disana.


Drt... Drt... Drt...


Ponsel disakunya bergetar. Sengaja Angeline tidak mengaktifkan deringnya.


Jessy is Calling...


"Tumben". Gumannya melihat nama yang menghubunginya


Klik


"Ya, Jes. What happend ?". Sapa Angeline langsung


"...."


"Tidak. Mungkin dia ada di ruangannya. Why ?".


"...."


"Of course. Tapi bukankah kau masih di San Francisco ?"


"...."


"Oh, begitu ya".


"...."


"Tomorrow, right ?".


"...."


"Tidak - tidak. Aku bisa datang sendiri. Jangan meminta kakakmu menjemputku". Tolak Angeline cepat


"...."


"Aku hanya tidak mau merepotkan siapapun, Jess".


"...."


"Baiklah, see you tomorrow".


Klik


Panggilan sudah Angeline akhiri.


Angeline kembali melanjutkan langkahnya memeriksa pasien - pasien disana.


Hingga tiba di salah satu ruangan yang terlihat sedang banyak orang berargument dan ada suara tangisan pilu disana yang Angeline dengar.


"Saya mohon, Dok. Biarkan putra kami dirawat sampai sembuh baru aku lunasi biayanya. Saya janji". Mohonnya bersujud dikaki dokter itu


"Saya akan berusaha mencari biaya secepatnya untuk melunasi. Beri saya waktu. Dok, sus". Sambungnya


Hikss... Hiksss...


Mendengar itu Angeline penasaran lalu mendekati sumber keributan disana dengan langkah pelan tanpa disadari siapapun.


"Maaf, Tuan. Ini sudah prosedur rumah sakit kami. Lunasi biayanya dulu baru kami lanjutkan perawatan putra Anda". Ujar suster yang memegang sebuah papan lengkap data diri dan pengeluaran pasien yang harus dibayar


"Saya mohon, Dok. Putra saya butuh dioperasi secepatnya. Anda bisa lihat sendiri bagaimana putra saya kesakitan". Tangis wanita yang Angeline tidak ketahui siapa dari pasien yang terdengar merintih itu


Angeline meradang marah melihat penanganan yang diberikan suster dan dokter itu.


Dengan langkah cepat Angeline membelah kerumunan suster, dokter, dan keluarga pasien itu hingga membuat mereka semua diam.


"Apa begini tindakan pertama yang selalu kalian lakukan kepada pasien, Hah ?". Tanpa sadar Angeline berteriak karena kesal


"Kalian ini dokter dan suster yang tugasnya membantu masyarakat. Mengabdi kepada masyarakat. Jasa kalian sangat diperlukan bagi mereka yang kesusahan seperti ini !".


"Seharusnya kalian utamakan keselamatan pasien bukannya mengutamakan administrasi sialan itu !". Hardik Angeline lagi


Mereka semua terdiam termasuk dengan dokter disana. Sebagian mulai takut dengan kehadiran Angeline yang mulai kemarin dikenalkan sebagai calon istri Presdir mereka.


"Apa ini sumpah pengabdian yang kalian ucapkan sebelum bekerja disini ? Sia - sia ijazah kalian, kualifikasi kalian jika mengutamakan uang daripada nyawa pasien !".


Dengan cepat Angeline mendekati pasien yang sudah merintih itu.


"Apa diagnosis pasien ini ?".


"Siapa yang bertanggung jawab menanganinya dari awal ?". Tanya Angeline menatap sendu anak laki - laki dihadapannya


Hening


"Aku bisa mengadukan hal ini kepada wakil presdir jika tidak ada yang menjelaskan kepadaku !". Ancam Angeline dingin


Deg


"Bisa hancur reputasiku sebagai suster di rumah sakit terbaik ini".


"Bisa - bisa kami kehilangan pekerjaan di rumah sakit internasional ini".


"Oh My God. Seketika aku ingat siapa yang berdiri dihadapan kami ini".


Batin mereka seketika mendengar ancaman Angeline.


"Saya, Dok". Ucap cepat salah satu dokter perempuan mendekati Angeline


"Sial, kali ini aku terpaksa mengalah dihadapanmu Angeline karena aku menyayangi pekerjaan dan reputasiku. Bukan karena aku takut kepadamu !". Batin dokter itu mencaci Angeline


"Aghh Dokter Laura. Dokter senior yang sudah sangat tahu bagaimana peraturan rumah sakit ini, right ?". Sinis Angeline menatap dokter itu


"Aku akan membalasmu, Angeline. Pasti !". Batinnya menatap benci Angeline


"Apa diagnosis pasien ini ?".


"Ada tumor di otak kecilnya, Dok". Jawab dokter itu sedikit malas berhadapan dengan Angeline


"Kedua, Dok. Terlambat sedikit bisa menyebar ke bagian lainnya". Jelasnya


"Kau sudah tahu begitu kenapa masih mempersulit mereka, hah ?". Bentak Angeline tersulut emosi mendengar perkataan wanita yang selalu menganggapnya rival di semua bidang


"Emilly, right ?". Angeline menatap suster yang bertugas sebagai asisten dokter bedah yang biasa Angeline lihat bersama dokter lainnya


"Iya, Dok. Saya". Jawabnya sopan


"Segera ke lantai satu minta siapkan ruang operasi sekarang juga !". Titahnya cepat


"Baik, dok". Setelah menjawab itu Emilly segera keluar untuk mempersiapkan ruangan operasi


Keluarga pasien itu menatap Angeline dengan berbinar.


Mereka bersyukur masih ada orang baik seperti Angeline di rumah sakit ini. Disaat dokter dan suster yang seharusnya bertugas justru mempersulit mereka sejak awal.


"Tapi, Dok. Mer—".


"Apa ? Belum melunasi administrasinya, Right ?". Ucap Angeline sinis


Suster itu menganggukkan kepalanya takut - takut.


"Itu bisa di selesaikan setelah operasi nanti !". Kesal Angeline karena mereka tetap membahas administrasi


"Tetap tidak bisa begitu, Dok. Sudah per—".


"Tidak ada peraturan rumah sakit seperti itu. I know it !". Teriak Angeline tersulut emosi


Terjadi perselisihan antara Angeline dengan beberapa dokter di ruangan itu.


Hingga kedatangan Emilly dan Sarah semakin membuat Angeline berdebat dengan dokter - dokter disana yang masih menahannya untuk membawa pasien ke ruang operasi.


"Dok, ini tidak bisa dilakukan begitu saja. Semua sudah ada jadwalnya !". Tahan salah satu dokter


"Kau pikir aku peduli ?Aku ingatkan sekali lagi di rumah sakit ini tidak hanya ada satu ruang operasi jika kau lupa !". Sarkas Angeline menahan emosi untuk kesekian kalinya


"Ta—tapi Dokter Alfred yang bertugas melakukan operasinya !".


"Lalu dimana dia ? Apa ada disini, Hah ?". Tanya Angeline kesal


Mereka melirik satu sama lain tidak bisa lagi mendebat Angeline karena memang disini tidak ada Dokter Alfred.


"Dokter Alfred sedang melakukan operasi dari satu jam yang lalu, Dok". Jawab Sarah kebetulan mengetahui jadwal kerja diruang operasi hari ini


"Lalu kalian ingin membiarkan anak ini terus kesakitan, hah ?". Teriak Angeline lagi


Hening


"Aku yang akan menangani operasinya langsung !". Ucap Angeline final


"Tapi, Dok—"


"Aku yang akan membayar administrasinya jika itu yang kalian risaukan, sialan !". Sarkas Angeline


Tanpa melanjutkan perdebatan mereka Angeline dibantu Sarah dan Emilly dengan cepat mendorong brankar pasien itu menuju lift untuk turun ke ruang operasi.


Tidak ada yang bisa mencegah tindakan Angeline. Karena Angeline memang dikenal sebagai dokter yang mengutamakan pasien daripada peraturan apapun.


"Selalu mencari muka, sialan kau Angeline !". Batin dokter Laura menatap punggung Angeline seperti musuh


Tiba di lift, Angeline meminta Sarah dan Emilly membawa pasien turun satu lift.


Sementara dirinya dengan cepat menarik keluarga pasien untuk naik lift lainnya karena tidak muat naik satu lift dengan brankar pasien.


"Nak, kami tidak tahu harus menggantinya sampai kapan. Tapi aku janji akan melunasinya dengan mencicil". Ucap ayah pasien itu


Angeline menggelengkan kepalanya lalu mengusap lembut tangan pria itu.


"Jangan pikirkan uang atau apapun, Paman. Aku akan melakukan yang terbaik untuk putra kalian". Ucap Angeline tulus


"Selain cantik wajahmu, ternyata hatimu lebih cantik, Nak. Semoga Tuhan selalu menyertaimu ya". Ujar ibu dari pasien tadi mengelus pipi Angeline lembut


Angeline membalas dengan mengelus tangan wanita itu.


Ting !


Mereka keluar bersamaan dari dua lift menuju ruang operasi.


Disana sudah ada dua suster dan satu dokter yang menunggu Angeline untuk melakukan operasi.


"Kami serahkan yang terbaik kepadamu, Nak". Ucap kedua orang tua pasien itu


Angeline tersenyum lalu mengangguk sebelum berlalu masuk ke ruang operasi diikuti Sarah dan Emilly juga.


"Setelah ini aku akan mempertanggung jawabkan kesalahanku, yang terpenting anak ini selamat". Batin Angeline menyadari letak kesalahannya kali ini


"Mereka mempercayai keselamatan anaknya ditanganmu, Angeline. Kau harus semangat !". Ucapnya lagi dengan menghirup nafas dalam - dalam


...****************...


Los Angeles — USA


Masih di tempat yang sama hanya lantai yang berbeda dengan Angeline.


Jacob baru saja mendapat laporan mengenai tindakan diluar jadwal yang Angeline lakukan.


"Maksudmu ?".


"Nona Angeline melanggar aturan rumah sakit, Master". Jelas Mike


Jacob mengerutkan alisnya tidak mengerti aturan yang mana.


"Mengambil pasien yang seharusnya menjadi tanggung jawab dokter bedah juniornya".


"Are you sure, Mike ?". Jacob tidak yakin jika Angeline melakukan hal yang bisa merusak reputasinya


"Masih saya selidiki, Master".


"Setelah jam istirahat mereka. Minta semua dokter dan suster berkumpul di ruang rapat ! Terkecuali yang sedang bertugas di jam itu !". Titah Jacob


Mike menganggukkan kepalanya lalu keluar ruangan Jacob untuk menghubungi pihak terkait.


...****************...


Los Angeles — USA


Mansion Utama


Victor dan Jonathan juga mendapat laporan yang sama dengan diterima Jacob dari rumah sakit mengenai pelanggaran yang Angeline lakukan.


"Tapi dia benar, V. Jika dia tidak bertindak nyawa anak itu bisa saja terancam, right ?". Sia setuju dengan tindakan Angeline


"Mommy benar, Dad. Angeline tidak salah". Ucap Jesslyn ikut mendukung perkataan Sia


"Kita lihat saja langkah apa yang akan Jacob ambil kali ini". Ucap Victor tersenyum smirk


Sia dan Jesslyn bingung menatap arti senyuman itu.


"Maksud daddy. Selama Jacob yang mengambil alih tidak ada siapapun yang bisa lolos dari kemarahannya. Apa kali ini juga begitu ? Mengingat wanita itukan sudah di beri stemple sebagai calon istrinya". Jelas Jonathan terkekeh


"Hmmm".


Mendengar itu sontak Sia dan Jesslyn ikut tersenyum.


"Kau yang paling memahami cucumu, V". Ucap Sia


"Daddy yang terbaik". Ucap Jesslyn memberi dua jempol kepada Victor


"I see". Victor berbangga diri menatap remeh putranya


"Ck". Jonathan berdecak melihat itu


Sementara Sia dan Jesslyn melihat itu lagi - lagi terjadi. Mereka terkekeh pelan lalu pergi ke dapur meninggalkan dua pria beda generasi itu.