
Los Angeles — USA
Mansion Utama
"Masih belum diangkat juga, V ?". Tanya Sia sudah kesekian kalinya
Victor hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Calm down, Mom. Mungkin Angeline pergi ke rumah sakit". Jesslyn berusaha menenangkan ibu mertuanya itu
"Atau mungkin dia sed—". Jesslyn menggantung perkataannya saat matanya menangkap dua sosok yang sedang berada di pintu utama kediaman megah ini
"Mom...". Panggil Jesslyn sembari memberi kode melalui matanya
Sia yang dasarnya sangat peka dengan kode seperti itu sontak memutar tubuhnya agar menghadap pintu utama.
Matanya berbinar sesaat melihat kedatangan orang yang mereka khawatirkan sejak tadi.
"Kenapa kau membawanya pergi tanpa memberitahu orang mansion, Jac - Jac ?". Sia mulai mengintrogasi mereka berdua.
"Apa ini, Jac ?. Kau tidak ke kantor, eh ?". Sambung Sia
Namun bukannya menjawab pertanyaan Sia, Jacob justru melewati mereka semua tanpa menegur siapapun dengan tangan terus menarik Angeline naik ke lantai dua.
"Jacob !". Panggil Sia lagi - lagi diabaikan pria itu
Sementara mereka yang melihat itu hanya fokus ke wajah Angeline yang terlihat pucat sehingga pasrah begitu saja saat Jacob menarik tangannya agar mengikuti pria itu.
"Mereka kenapa ?". Batin Sia penuh tanya
Jesslyn mengedikkan bahunya tidak mengerti dengan mereka berdua.
"Kali ini aku seperti tidak melihat Jacob yang biasanya, Mom". Celetuk Jesslyn
Sia membenarkan perkataan yang dilontarkan Jesslyn barusan.
"Aku juga merasa Angeline terlihat berbeda, Jess". Tutur Sia
Sementara Victor diam saja melihat itu semua tanpa berniat memberikan pendapatnya.
#Kamar Jacob
Blamm...
Jacob menutup keras pintu itu ketika mereka sudah berada didalam kamarnya.
Dirinya lalu mendudukkan Angeline di sofa tepat didepan ranjangnya.
Angeline menutup matanya sesaat karena terkejut dengan dentuman pintu itu.
"Kau harus meminum obatmu". Ucapnya sembari membuka satu persatu obat yang harus Angeline minum
Seakan pasrah, Angeline hanya menuruti apa yang Jacob katakan tanpa melawannya seperti sebelumnya.
"Kau sudah makan ?". Tanya Jacob menatap Angeline yang terus bungkam sejak tadi
Hening...
"Angeline ?". Ulang Jacob dengan datar
Angeline menggelengkan kepalanya pelan. Memang benar pagi ini dirinya belum sarapan karena terburu - buru pergi menyusul Jacob ke kantornya.
Jacob menghela nafasnya melihat respon yang Angeline berikan.
Tanpa bertanya lagi Jacob keluar kamar memanggil pelayan di mansion ini untuk membawa makanan ke kamarnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Jacob kembali dengan membawa nampan berisi makanan untuk disantap Angeline.
"Makanlah !". Perintahnya tidak ada nada kelembutan dalam suara itu
Angeline tidak bergeming sama sekali membuat Jacob menatapnya dingin.
"Buka mulutmu !". Jacob mengambil piring itu karena geram dengan tingkah Angeline
"Angeline...". Panggil Jacob lagi
Sementara sang empu hanya menolehkan kepalanya tanpa berniat membuka mulutnya sedikitpun.
"Makan atau–". Belum sempat melanjutkan ancamannya, Angeline lebih dulu mengambil alih piring itu dari tangan Jacob
Melihat itu Jacob menyeringai. Ancamannya memang ampuh meluluhkan Angeline dalam sekejap.
Baru tiga suapan masuk ke mulutnya, Angeline sudah menghentikkan kegiatan makannya membuat Jacob tidak senang.
"Kenapa tidak dihabiskan ?". Jacob bersuara
Hening...
"Angeline....".
"Aku tidak berselera memakan apapun, Jacob". Ucap Angeline pelan
Jacob yang sedang tidak ingin berdebat akhirnya membiarkan itu. Dirinya mendekati Angeline untuk memberinya obat agar segera diminum wanita itu.
Angeline mengambil beberapa butir obat dari tangan Jacob untuk diminumnya.
"Istirahatlah. Aku akan kembali ke kantor. Dan kau jangan pergi kemanapun selagi aku tidak ada". Ucap Jacob beranjak dari duduknya
"Setelah aku kembali nanti kita akan bicarakan semuanya. Jangan membantahku. Kau mengerti ? Angeline Arberto....". Ujarnya sembari membenarkan dasi dan jasnya
Angeline kembali tidak memberi reaksi apapun terhadapan perkataan Jacob.
"Aku tahu kau wanita yang penurut, Ruby...". Ucap Jacob dengan tersenyum tipis sembari mengelus pipi Angeline sebelum dirinya benar - benar meninggalkan kamarnya
Lagi dan lagi, Angeline terpaku setiap mendengar kata Ruby keluar dari mulut Jacob.
"Kenapa setiap nama itu keluar dari mulutnya aku seperti merasa tenang dan takut bersamaan ?". Gumamnya menatap punggung kekar yang perlahan hilang diikuti tertutupnya pintu kamar Jacob.
#Ruang Keluarga
Terlihat Victor dan Jonathan beserta istri mereka sedang duduk santai di ruangan itu.
"Apa Amor sudah memberitahu kalian kapan rencananya mereka akan menikah, Jess ?". Tanya Sia
Jesslyn menggelengkan kepalanya sembari menuangkan teh ke dalam beberapa gelas kecil.
"Anak itu belum menghubungiku lagi setelah mereka kembali ke San Francisco, Mom". Jawab Jesslyn
"Sungguh ? Apa cucuku itu sudah ketularan kakaknya yang jarang menghubungi keluarganya ?". Kekeh Sia diikuti Jesslyn seketika
Jika dua wanita itu tertawa maka tidak dengan dua pria lainnya yang hanya menyimak saja.
"Ahh itu dia tersangka utamanya". Ucap Sia sembari melihat Jacob yang berjalan menuruni anak tangga
Jesslyn mengikuti arah pandang ibu mertuanya itu.
"Kau akan kembali ke kantor, Jac ?". Tanya Jesslyn ketika Jacob sudah berada di anak tangga terakhir
"Iya, Mom". Jawab Jacob singkat
"Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan, Jac ?". Kini Sia ikut bersuara
"Tidak sekarang, Grandma. Aku harus kembali ke kantor karena ada meeting penting yang harus aku selesaikan lebih dulu". Ujar Jacob
"Tapi, An–". Ucapan Sia terputus karena Jacob mendahuluinya
"Aku pergi dulu, Grandma. Mom". Jacob pamit terburu - buru tidak mengurangi aura dinginnya sedikitpun
Setelah Jacob hilang dari pandangan mereka, Sia dan Jesslyn menghela nafas bersamaan.
"Aku merasa Jacob ini semakin mirip Victor semasa mudanya dulu". Tutur Sia
"Honey....". Tegur Victor
"Like grandfather like grandson, Mom". Ucap Jesslyn seolah membenarkan perkataan Sia
"Ya, Jacob sama sekali tidak menuruni gen baikku". Celetuk Jonathan terselip sindiran diakhir kalimatnya
Mendengar itu Victor menatap horor putranya itu.
"Jo–". Baru akan bersuara lagi tapi terhenti
"Dan kau juga tidak menuruni gen daddy mu, Jo". Tutur Sia memotong cepat perkataan Victor barusan
"Karena tuhan menjadikan aku sebagai versi terbaik dari kalian berdua, Mom". Jawab Jonathan tidak peduli reaksi wajah sang ayah
Mendengar itu baik Sia maupun Jesslyn terkekeh melihat ekspresi kedua pria yang sudah tidak muda lagi itu.
"Kalian ini tidak bisa sehari saja tidak berdebat". Tutur Sia
Sementara Jesslyn menggelengkan kepala melihat reaksi suami dan ayah mertuanya jika sudah berdebat.