Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 48



Los Angeles — USA


Mansion Utama


Angeline masih betah berdiam diri dikamarnya mencerna kembali pertemuannya dengan Javier kemarin.


"Ada hubungan apa diantara mereka ?". Ujarnya bermonolog


"Kenapa grandma memanggilnya Sio ? Seperti nama kesayangan". Sambungnya terus mengingat itu


Drt... Drt... Drt...


Ponselnya yang berada dinakas tiba - tiba bergetar mengagetkan Angeline.


Maureen is Calling. . . .


Klik


"Hallo...".


"...."


"Really ?".


"...."


"Bukankah disana ada banyak dokter yang bisa melakukan bedah itu ?".


"...."


"Baiklah. Aku usahakan hari ini datang ke rumah sakit".


"...."


"Iya. Baiklah".


Tut


Angeline panik sendiri mendengar ada pasien darurat yang keluarganya hanya ingin dirinya yang mengambil alih untuk membedahnya.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang".


Baru beberapa langkah dirinya teringat perkataan Jacob dua hari yang lalu.


"Tetap di mansion atau jabatanmu aku cabut dari rumah sakit jika keluar tanpa izinku !".


Angeline mendengus kesal mengingat itu. Dirinya susah payah mendapat gelar kedokteran seenaknya saja Jacob ingin mencabutnya.


"Bagaimana ini ? Aku ingin sekali kesana tapi aku juga tidak bisa melawan perintahnya. Sialan ! Kenapa aku tidak berdaya seperti ini ?". Teriaknya kesal


"Lagipula apa hubungan diantara kami sampai aku harus takut kepadanya ? Ck". Angeline terus menggerutu kesal


Tok... Tokk...


Ceklek


Angeline membuka pintu kamarnya menampilkan kepala pelayan dimansion ini sedang tersenyum kearahnya.


"Maaf mengganggumu, Nona. Nyonya besar memintamu segera turun untuk sarapan pagi". Ujar bibi Grace ramah


Angeline menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa - apa bi. Baiklah, katakan kepada grandma aku kesana dalam lima menit". Balasnya tersenyum ramah


Bibi Grace menganggukkan kepalanya lalu kembali ke bawah meninggalkan Angeline yang akan bersiap - siap.


Seperti yang Angeline katakan dirinya turun dala lima menit kemudian.


Saat kakinya bergerak menuju ruang makan samar - samar dirinya mendengar suara Jacob.


"Tidak lagi grandma. Cukup kemarin saja". Tolak Jacob


"Kenapa lagi dengannya ?". Gumam Angeline


"Jac - Jac, cepat atau lambat Angeline pasti akan menerima penthouse itu". Tutur Sia


"Grandma. Aku tidak ingin membahas itu lagi untuk saat ini". Balas Jacob


"Penthouse ? Untukku ?". Batinnya merasa pernah mendengar kalimat itu tapi kapan ?


"Aghh aku punya ide cemerlang agar bisa pergi ke rumah sakit lagi". Tiba - tiba muncul sebuah ide di otaknya setelah mendengar perdebatan Jacob dan Sia


"Jac—".


"Aku akan menerima penthouse itu. Tapi dengan satu syarat...". Seru Angeline mendekati Jacob dan Sia


Jacob menatap tajam Angeline namun diabaikannya.


Sia yang antusias dengan itu langsung mendekati Angeline.


"Katakan syaratnya, An. Jacob pasti akan menyanggupinya". Ujar Sia semangat membuat Jacob mendelik


"Grandma...". Jacob ingin protes


"Syuttt. Diamlah Jac !". Seru Sia


"Aku bersedia menerima pemberian Jacob, Grandma. Asalkan aku diizinkan kembali bekerja di rumah sakit". Ucapnya dengan cepat mengabaikan ekspresi penolakan Jacob


"Ok, deal !". Ucap Sia cepat


Mendengar itu Jacob membulatkan matanya.


"Grandma !". Protes Jacob


"Sampai kapan kau akan mengurung Angeline di dalam sangkar emasmu, Jac ?". Perkataan Sia seolah menjadi jembatan bagi Angeline agar lolos dari sangkar emasnya Jacob


"Grandma. Aku menyayangimu... Thank you so much". Gumam Angeline


"Terserah kalian saja lah". Ucap Jacob pasrah lalu meninggalkan keduanya


Niat Jacob datang ke mansion utama untuk sarapan pun lenyap. Setelah mendengar syarat dan persetujuan Sia membuat selera makannya hilang.


"Tuan muda". Sapa Liu yang kebetulan baru akan masuk ke dalam mansion


Jacob menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa dengan ekspresinya ?". Gumam Liu


Tidak ingin terlalu memikirkan Jacob, Liu segera masuk untuk menemui Victor.


Sementara Angeline sejujurnya merasa tidak enak hati apalagi ketika Jacob menunjukka ekspresi penuh penolakan dan juga wajah pasrahnya sebelum pergi tadi.


"Grandma. Apa kita tidak keterlaluan ?". Tanya Angeline


Sia menautkan alisnya tidak mengerti.


"I—tu. Jacob baru saja datang sekarang sudah pergi lagi tanpa sarapan". Lirihnya pelan


Sia tersenyum mendengar nada ketidaknyamanan dari Angeline.


"Jangan terlalu dipikirkan, An. Jacob memang seperti itu". Ucap Sia


"Aghh Liu. Apa kau melihat Jacob ?". Pertanyaan Sia menghentikan langkah pria itu


"Tadi kami berpapasan di depan pintu. Sepertinya dia terlihat sangat kesal, Nyonya". Ucapnya dengan jujur


Angeline semakin tidak enak hati.


"Sebenarnya apa alasan dia melarangku bekerja lagi ? Kenapa aku tidak boleh keluar dari mansion ini ?". Gumamnya penuh tanda tanya kepada Jacob


Ting !


Bunyi pesan masuk itu membuat Angeline terkejut sesaat.


Maureen


"Apakah Anda bisa datang lebih cepat, Dok ?"


Angeline mengerutkan alisnya membaca pesan masuk itu sehingga menarik perhatian Sia.


Angeline diam saja. Jari jemarinya mulai mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan itu.


Maureen


"Baiklah, tunggu aku lima belas menit lagi"


Send....


"An ?".


"E—ehhh. maaf. Apa grandma mengatakan sesuatu tadi ?".


Sia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.


"Duduklah, kita mulai sarapannya setelah grandpamu turun". Ajak Sia


"Aku harus segera pergi ke rumah sakit, grandma. Ada pasien darurat". Ungkapnya


"Sepagi ini ? Bukankah ada dokter yg lain disana, An ?". Sia tidak suka seseorang melewatkan sarapannya saat sudah di meja makan


"Maaf, Grandma...". Cicitnya pelan tidak berani menatap Sia


"Hmmm".


"Pergilah, An. Grandma akan meminta Mia mengantar makan siang untukmu nanti". Sambung Sia


"Grandma tidak apa - apa menunggu sendiri ?". Angeline memastikan


Sia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku pergi dulu grandma". Pamit Angeline


"Jangan lewatkan sarapan pagimu, An !". Ingat Sia


"Iya, Grandma. Bye...". Setelah Angeline berpamitan Victor turun ke bawah menemui istrinya di meja makan


Pandangannya mengedar kesana kemari seperti mencari sesuatu.


"Kau mencari dua cucumu, V ?". Tanya Sia yang menyadari itu


Victor berdehem pelan sebagai jawabannya.


"Jacob tadi sempat kemari, tapi anak itu sudah pergi lagi tanpa sarapan. Angeline juga sudah pergi ke rumah sakit tanpa sarapan". Ungkapnya


Victor mengerutkan alisnya mendengar kalinat terakhir Sia.


"Jacob sudah memberinya izin untuk kembali bekerja ?". Tanya Victor


Sia menganggukkan kepalanya sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Sebagai syarat untuk menerima pemberian penthouse dari Jacob". Sia terkekeh mengingat bagaimana ekspresi penolakan Jacob yang sangat terlihat


"Bukan kau yang mengiyakannya ?". Tanya Victor yang sangat tahu bagaimana watak istrinya


Sia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Victor tepat sasaran.


Victor menggelengkan kepalanya melihat istrinya.


"Jangan terlalu mengganggu cucumu, Honey". Tegurnya


"Aku, hanya mendukung Angeline saja, V. Lagipula dia pasti bosan dikurung di mansion ini. Sedangkan kesehariannya biasa dihabiskan di rumah sakit". Sia membela dirinya sendiri merasa tidak salah


Victor diam tidak menanggapi perkataan istrinya.


"Terima kasih...". Ucapnya setiap kali menerima piring yang sudah disajikan beberapa menu oleh istrinya


Sia yang selalu menerima ucapan itu hanya membalasnya dengan tersenyum. Dibalik sisi kejamnya Victor, dia selalu meratukan istrinya dari hal terkecil sekalipun seperti halnya barusan.


Hal itu juga yang membuat Sia merasa menjadi wanita terberuntung di dunia ini. Suaminya kejam diluar lembut didalam.


Mereka berdua mulai menyantap sarapan paginya tanpa ditemani Jacob maupun Angeline.


...****************...


Los Angeles — USA


Lyn's International Hospital


Angeline baru turun dari taxi yang ditumpanginya. Dirinya dibuat tercengang dengan pemandangan dihadapannya.


Banyak reporter dan kamera yang masih setia menunggu di pintu masuk rumah sakit ternama itu.


"Apa mereka masih ingin meliputku ?". Gumamnya waspada


Angeline berjalan lurus dengan menundukkan kepalanya.


Baru beberapa langkah sorot kamera sudah mengarah kepadanya.


Cekrek... Cekrek....


"Nona, apakah benar satu minggu ini Anda tidak bekerja karena ada perjalanan ke luar negeri bersama Tuan Jacob ?".


"Benarkah kalian akan segera menikah, Nona ?".


"Nona, katakan sesuatu...".


"Apakah Anda resmi bertunangan dengan Tuan Xanders ?".


"Apa benar Tuan Jacob membeli sebuah hunian kelas atas untukmu, Nona ?".


Blablabla...


Begitulah sederetan pertanyaan yang mereka lontarkan kepadanya.


Angeline mengabaikan mereka semua. Tidak ada niatan dirinya untuk menjawab satupun pertanyaan itu.


"Astaga, aku pikir selama aku tidak berkeliaran dimanapun satu minggu ini mereka tidak akan mengejarku seperti ini lagi. Tapi aku salah. Mereka semakin menjadi - jadi karena tidak melihatku dimanapun". Gumamnya kesal


Angeline akhirnya lolos dari jangkaun maniak berita itu dengan bantuan keamanan yang sigap melindunginya.


"Huftt. Sampai kapan aku harus dihadapkan dengan media - media itu ?". Ucapnya kesal sembari merapihkan penampilannya


"Untung tadi aku menolak tawaran supir di mansion itu yang ingin mengantarku. Jika tidak ? Mereka pasti akan langsung menyerbu ku seperti tadi mengingat semua mobil keluarga itu memiliki plat khusus, Ck". Gumamnya menggerutunya sembari berjalan menuju lift


Ting !


Angeline keluar dari lift dengan menebar senyumnya kepada siapa saja yang berpapasan dengannya.


"Dokter...". Sapa beberapa suster yang sangat senang melihat kehadiran Angeline pagi ini


Angeline membalas sapaan itu dengan senyumannya.


"Kalian apa kabar ?". Tanyanya ketika sudah berada didekat mereka


"Kami baik, Dok. Anda sendiri ?". Tanya salah satu suster mewakili yang lainnya


"Syukurlah. Aku juga baik". Jawab Angeline


"Dr.Angeline, Right ?". Tanya seorang pria yang berjalan kearah Angeline dengan wajah datarnya


Angeline menautkan alisnya merasa asing melihat pria dengan seragam dokter dihadapannya itu.


"Maxime... Dokter yang dikirimkan dari rumah sakit pusat untuk menggantikanmu selama masa skorsmu kemarin". Ucapnya sembari mengulurkan tangan memperkenalkan diri kepada Angeline


"Rumah sakit pusat ? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika ada dokter pengganti ?". Gumamnya belum juga membalas jabatan tangan itu


Pria itu berdehem sedikit keras menyadarkan Angeline dari lamunannya.


"Angeline...". Balasnya dengan menerima jabatan tangan dari Maxime


"Senang berkenalan denganmu, Dr.Maxime". Ucapnya menghilangkan kecanggungan diantara mereka


Maxime menganggukkan kepala lalu pamit undur diri karena harus memeriksa pasien yang semalam menjalani operasi.


"Apa Jacob benar - benar serius ingin memberhentikanku dari pekerjaan ini ? Buktinya saja dia sudah menyiapkan dokter pengganti". Batinnya menatap tidak percaya