
Los Angeles — USA
Mansion Utama
Sia menunggu Jesslyn yang katanya akan datang ke mansionnya.
"Honey, sedang apa disini ? Akan ada tamu ?". Victor menghampiri Sia sejak beberapa menit yang lalu sudah duduk di taman depan mansion mereka
Sia menganggukkan kepalanya tersenyum.
"Menantuku akan datang, V". Ungkapnya
"Kau memperlakukan Jesslyn seperti dia baru menjadi menantu kita saja. Tidak berubah sejak dulu". Tutur Victor menatap gemas istrinya
"V, hanya dia menantuku satu - satunya". Ucap Sia cepat
"Hmmm".
"Sudah sana pergi. Lakukan apapun bersama Liu ! Jangan mengganggu ku". Usir Sia
Victor sedikit mengernyit mendengar itu dari istrinya. Ingin Victor bertanya tapi diurungkan saat melihat raut wajah Sia.
"Aku ada di ruang kerjaku jika membutuhkan sesuatu, Honey". Ujarnya sebelum beranjak meninggalkan Sia yang ditemani pelayan pribadinya
Sia menganggukkan kepalanya.
Drt... Drt... Drt...
Ponselnya berdering dengan cepat Sia melihatnya.
Klik
"Kau sudah dimana, Amor ?". Tanya Sia cepat
"...."
"Kau yang meminta kami berkumpul bahkan menghubungi Angeline".
"...."
"Angeline pasti akan menemanimu, Dia tidak akan bekerja selama satu minggu ini karena di skors oleh kakakmu".
"...."
"Ya begitulah. Cepat datang. Grandma tidak sabar mendengar kabar bahagia itu".
"...."
"Kau tidak sendiri ?". Sia sedikit mengerutkan alisnya
"...."
"Hmmm".
"...."
"Iya, grandma akan memberitahu grandpamu, tenang saja".
"...."
"Me too, Amor".
Klik
Setelah panggilan itu terputus Sia melihat sebuah mobil masuk ke pelataran mansionnya.
"Itu menantu Anda sudah datang, nyonya". Ucap Mia mendekati Sia
"Sajikan menu yang sudah aku siapkan, Mia !". Titah Sia
"Ingin menikmatinya di sini atau di dalam, Nyonya ?".
"At here, please".
"Baiklah, Nyonya". Ucap Mia beranjak pergi bersama beberapa pelayan mengikutinya
Tidak lupa mereka berhenti sejenak menyapa Jesslyn bersama Jonathan dengan ramah.
"Mom". Seru Jesslyn mencium pipi ibu mertuanya
"Kenapa kalian lama sekali ?". Seru Sia
"Tanyakan putramu, Mom. Kemana saja dia padahal aku sudah memberitahunya pagi ini akan ke mansion utama". Decak Jesslyn duduk disamping Sia
Mendengar itu Sia menatap tajam putranya.
"Dimana daddy ?". Jonathan menghiraukan tatapan ibunya
"Ada di ruang kerjanya, pergilah. Kau merusak pemandangan mataku !". Usir Sia diiringi kekehan kecil
Jonathan meninggalkan dua wanita beda generasi itu masuk ke dalam mansion.
"Bagaimana, Mom. Apa ada yang mencurigakan dari kedua cucumu ?". Tanya Jesslyn
"Mereka berdua selalu mencurigakan, Jess. Terlebih Jacob".
"Aku dan daddy nya juga merasakan itu sejak Jacob berusia enam belas tahun, Mom".
"Apa kita sepemikiran, Jess ?". Sia menatap lekat menantunya
Jesslyn menganggukkan kepalanya.
"Jessica hanya akhir - akhir ini saja terlihat mencurigakan, Mom".
"Kau benar. Ayo ikut aku ke ruang bawah tanah". Ajak Sia menarik tangan Jesslyn
Sementara Jesslyn melihat itu hanya mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"Ada apa di ruang itu ?". Batinnya
"Nyon—".
"Letakkan saja disana, Mia ! Aku ada sedikir urusan dengan menantuku". Ucapnya memotong perkataan Mia lebih dulu
"Tidak nyonya besar tidak tuan besar, mereka sangat kompak sekali dalam berucap". Gumam Mia menilai Sia
"Ck, kau ini ada - ada saja, Mia. Seperti baru bekerja dengan mereka saja". Tuturnya sendiri lalu beranjak mengerjakan apa yang diperintahkan Sia
"Kemana nyonya besar, Mia ?". Tanya bibi Grace membawa beberapa menu ditangannya
Merasa tidak melihat kehadiran pemilik mansion ini sontak mereka yang berlalu lalang menyajikan menu juga bertanya - tanya.
"Entahlah. Nyonya bilang ada sedikit urusan dengan nyonya Jesslyn". Jawab Mia
Mereka menganggukkan kepala tidak mau ikut campur lebih jauh urusan pribadi Sia.
"Sajikan juga menu favorit tuan dan nona muda kita, Mia". Titah wanita tua yang disapa bibi Grace itu
Mia beserta pelayan lainnya menganggukkan kepala mereka.
"Apa tuan muda juga akan datang, Mia ?". Tanya satu pelayan saat mereka sudah agak menjauh dari bibi Grace
Mia menanggukkan kepalanya.
Mereka tersenyum mendengar itu. Meski Jacob irit bicara lebih terkesan selalu dingin mereka tetap memuja ketampanannya yang melebihi sang kakek.
"Jangan tersenyum seperti itu, tuan muda pasti datang bersama kekasihnya". Tawa Mia membuat mereka memudarkan senyum indah mereka
"Kau ini tidak bisa sekali saja membiarkan kami bahagia". Kesal mereka lalu meninggalkan Mia lebih dulu
"Ada - ada saja mereka itu. Jelas - jelas bagaikan langit dan bumi mau - maunya menyaingi nona Angeline yang cantiknya berlebihan itu, ck". Ucap Mia bermonolog menggelengkan kepala menilai pelayan - pelayan yang mendahuluinya
...****************...
Los Angeles — USA
Hari ini Angeline mulai menjalankan masa hukuman atas tindakannya kemarin.
Pagi hari ini Angeline benar - benar dibuat kesal oleh Jacob.
Bagaimana tidak, sejak Angeline siuman dari pingsannya kemarin. Jacob selalu mengekori dirinya seperti anak ayam.
Bahkan ikut menginap di apartmentnya dengan dalih takut terjadi apa - apa dengannya jika ditinggal sendiri.
Hei, apakah Jacob lupa ? sebelum berurusan dengan Jacob sekalipun Angeline memang tinggal sendiri bukan di apartmentnya ?.
Lalu apa ini ? Mendadak dirinya harus terus didekat pria yang mati - matian ingin dia hindari sejak terbitnya rumor itu.
"Bisa tidak jangan menatapku seperti itu ?". Kesalnya melihat tatapan Jacob
Jacob diam saja terus melihat apa yang Angeline lakukan.
"Apa kau memasak setiap hari seperti ini ?".
Angeline menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Lalu aku harus bagaimana jika tidak masak ? Memesan makanan dari luar, begitu ?".
"Aku ini bukan dirimu tuan muda yang terhormat. Jika ingin makan tinggal makan tanpa harus bersusah payah memasak". Sambungnya sedikit menyindir Jacob
Jacob mengeluarkan tawa kecilnya menanggapi ocehan Angeline.
"Kenapa kau tidak menggunakan jasa pelayanan apartment ?".
"Gajiku tidak akan cukup untuk membayar upahnya. Lagipula aku sudah terbiasa melakukannya sendiri".
"Apa aku terlalu kecil memberi gaji untuknya seukuran dokter spesialis ?". Batin Jacob bermonolog setelah mendengar penjelasan Angeline
"Aku baru tahu gaji dokter spesialis bedah sepertimu tidak cukup untuk memberi upah kepada jasa pelayanan ?". Tutur Jacob santai
"Apa aku perlu menaikkan gaji dokter spesialis ya ?". Sambungnya seperti menimbang - nimbang perkataannya
Deg
Angeline tahu Jacob menyindirnya.
"Sial, bagaimana aku bisa lupa bahwa dihadapanku ini presdir rumah sakit bukan hanya pangeran iblis saja". Gumamnya berteriak
"Ehh. I—tu. Sebenarnya gaji kami sangat besar. Hanya saja aku harus menyisihkan sedikit uangku untuk anak—".
Angeline belum selesai melanjutkan perkataannya karena dering ponsel Jacob berbunyi.
Drt... Drt... Drt...
Jacob melihat nama yang mengganggu paginya.
Mike is Calling....
Klik
"...."
"Sì".
(Ya)
"...."
"Stamattina non vado in ufficio. il nonno mi ha chiesto di venire nella casa principale. Puoi sostituirmi alla riunione di stamattina !". Ucap Jacob dalam bahasa asing agar Angeline tidak mengerti
(Aku tidak akan kekantor pagi ini. Grandpa memintaku datang ke mansion utama. Kau bisa menggantikan aku rapat pagi ini !)
"Dia ada rapat ?". Gumam Angeline yang ternyata mengerti bahasa yang Jacob gunakan
"...."
"Spetta a voi ! incontriamoci nel mio ufficio dopo pranzo, Mike !".
(Terserahmu ! Temui aku di ruanganku setelah makan siang, Mike !)
Klik
"Kenapa meninggalkan rapat, Tuan ?". Ucap Angeline tanpa melihat Jacob
Jacob memutarkan tubuhnya menghadap Angeline. Menatap penuh selidik wanita dihadapannya ini.
"Kau mengerti bahasa yang aku gunakan ?". Tanya Jacob seperti orang bodoh
"Apa dia meremehkanku ? Cih, Begini - begini juga aku punya darah Italia, Jerk !". Batin Angeline memaki Jacob
"Hanya sedikit. Tidak sefasih Anda, Tuan". Ucapnya
"Really ?". Jacob sedikit tidak percaya
Angeline menganggukkan kepalanya sedikit tersenyum.
"Duduklah disana, Tuan. Ini akan memakan waktu sedikit lagi". Titah Angeline risih mendapat tatapan Jacob
Jacob menurut saja kali ini tanpa berdebat seperti biasanya.
Hingga di menit ke empat Jacob duduk di meja makan tiba - tiba Angeline berteriak agak kencang.
"Arghh".
Prangg
Jacob terkejut mendengar itu segera mendekati Angeline khawatir.
"Sshhhh".
"Are you okay, Ruby ?". Tanya Jcob khawatir tanpa sadar memanggilnya Ruby
Deg
"Ruby ? Tenang Angeline tenang. Mungkin ini hanya kebetulan yang kesekian kalinya". Batin Angeline berusaha tenang
Jacob yang melihat panci berisi masakan Angeline berserakan dilantai beserta isinya tidak dihiraukannya.
Fokusnya hanya kepada tangan Angeline yang memerah akibat tersiram masakan hangat yang tidak sengaja disenggolnya.
"Aku tidak apa - apa, Tuan".
"Ini tidak sa—".
"Aww, Ssshhhh". Teriak Angeline saat Jacob menyentuh tangannya
"Ini yang kau bilang tidak sakit, Hah ?". Jacob membentak Angeline karena terlalu khawatir
"Pria ini aneh. Kenapa harus membentakku begitu ?". Lagi Angeline membatin
"I—ni tidak apa - apa, Tuan. Sudah biasa. Aku terkadang ceroboh". Tutur Angeline menahan sakit ditangannya
"Mulai besok jangan pernah masuk kedapur atau membersihkan apapun lagi ! Aku akan mengirim pelayan di mansionku untuk melakukannya !". Titah Jacob dengan membawa Angeline menjauhi dapur
"Tidak perlu, Tuan. Aku bi—".
"Apa menjadi penurut sesulit itu untukmu, Ruby ?". Ucap Jacob dingin
Angeline mengabaikan nama yang Jacob sebutkan.
"Tuan, aku kan sudah bilang tidak mampu mem—".
"Mereka pelayanku ! Aku yang akan memberi mereka gaji bukan kau !". Ucap Jacob tinggi
Dadanya naik turun dengan cepat. Menghadapi Angeline nyatanya tidaklah mudah.
"Benar - benar keras kepala !". Batin Jacob kesal
Ingatan Jacob berputar mengingat perkataan James kemarin mengenai penyebab pingsannya Angeline setelah rapat dadakan yang diadakannya.
"Ingatlah, Master. Jauhkan dokter ini dari kelelahan fisik yang berlebihan dan luka yang menghasilkan darah segar. Seperti yang sudah saya jelaskan tempo hari. Kondisi dokter Angeline tidak senormal dulu"
"Apa ada yang luka ?". Jacob menelisik tubuh Angeline dengan cermat
Angeline menggelengkan kepala merasa aneh dengan Jacob yang seperti ketakutan dan cemas berlebihan.
"Padahal hanya tanganku yang memerah mengapa reaksinya berlebihan seperti ini". Gumam Angeline
Saat Jacob meraih ponselnya untuk menghubungi dokter pribadinya agar datang memeriksa Angeline. Tiba - tiba ada panggilan masuk dari neneknya.
Drt... Drt... Drt...
Grandma is Calling...
Klik
"...."
"Angeline bersamaku".
"...."
"Of course, Not. Grandma. Kemarin Angeline pingsan jadi aku menemaninya saja".
"...."
"Iya, sebentar lagi kami akan ke mansion utama".
"...."
"Tidak. Apa Jess—".
"Awsshhhh". Desisan Angeline ternyata terdengar oleh Sia
Jacob dengan cepat melihat Angeline.
"Ini, Tuan". Ucap Angeline pelan menunjuk tangannya
Deg
Mata Jacob membulat lalu dengan pelan melepas genggamannya pada tangan Angeline yang memerah.
"Maafkan aku". Pungkas Jacob pelan lalu kembali mendengarkan neneknya berbicara di telepon
"...."
"Tidak ada, grandma. Tadi tangannya sempat terkena tumpahan sayur yang masih panas". Jelas Jacob cepat
"...."
"Iya".
Klik
"Pria ini benar - benar titisan iblis ya, kepada siapa saja selalu dimatikan sepihak panggilannya". Gumam Angeline memaki Jacob
"Aku akan memanggil dokter James !". Ucap Jacob mencari kontak dokter itu
"Tidak perlu, Tuan. Aku punya salep. Oleskan itu saja karena ini hal kecil tidak perlu memanggil dokter. Jangan lupa aku juga seorang dokter". Tutur Angeline cepat mencegah Jacob
"Iya, kau dokter bedah bukan dokter kulit !". Jacob menatapnya datar
"Tetap saja sama - sama dokter, bukan ?". Angeline bersikeras menolak itu
"Ck, cepat tunjukkan dimana salepnya ?". Akhirnya Jacob pasrah
Angeline menunjuk letak kotak obatnya. Jacob melangkah mengambil peralatan itu.
"Tanganmu !". Titah Jacob menatapnya tajam
Angeline ingin menolak tapi tidak berani setelah melihat tatapan tidak bersahabat dari Jacob.
"Awshhhh".
"Tahan sebentar". Ucap Jacob mulai mengoles tangan Angeline denga salep perlahan - lahan
Angeline menganggukkan kepalanya dengan meringis sesekali saat telapak tangan Jacob menyentuh tangannya yang kemerahan.
"Terima kasih, Tuan". Ucap Angeline tulus.
Setelah Jacob selesai mengoleskan salepnya dia berkata bahwa mereka sudah ditunggu di mansion utama.
Angeline mengiyakan perkataan Jacob tanpa bertanya dirinya segera bersiap - siap.
Setelah melihat Angeline ke kamarnya Jacob mengirimkan pesan kepada anak buahnya yang berjaga di lobby apartment untuk mengawalnya menuju mobil.
"Mereka ini tidak ada puasnya". Ucap Jacob datar
Sejak membawa Angeline kembali ke apartmentnya kemarin sore. Lobby apartmentnya kembali dipenuhi awak media yang bersiap meliputnya.
...****************...
Los Angeles — USA
Mansion Utama
Terlihat dua pasang beda generasi keluar Xanders sedang duduk menikmati hidangan di taman depan mansion sesuai permintaan sang nyonya besar.
"Kau terlihat kesal, Honey. Ada apa ?". Victor bersuara setelah Sia menyelesaikan panggilannya
"Cucumu itu. Beraninya membuat cucu menantuku pingsan". Kesal Sia
Jonathan dan Jesslyn terkekeh mendengar kekesalan Sia.
"Hmmm".
Mendengar deheman Victor mereka melanjutkan kembali kegiatan menyantap hidangan mereka.
"Grandma....". Panggil seseorang yang baru turun dari sebuah mobil sport hitam
"Amor !". Sambut Sia
Akhirnya yang mereka tunggu datang juga.
Sementara Victor, Jonathan dan Jesslyn hanya menonton saja drama penyambutan cucu dan nenek itu.
Ada yang aneh menurut Jesslyn menatap putrinya.
"Kau membeli mobil baru, Jess ?". Tanya Jesslyn menyelidik
Jessica menggelengkan kepalanya pelan.
"I—tu, aku bersama seseorang kemari, Mom". Tutur Jessica
Belum sempat mengatakan apapun lagi seseorang keluar dari mobil itu dengan gagahnya.
Deg
"Sial, pria ini benar - benar ingin membuat grandmaku jantungan". Batin Jessica meneriaki pria yang baru saja keluar dari mobil itu
"Kau siapa ?". Bukan Sia maupun Jesslyn yang bertanya melainkan Victor yang kini sudah berdiri disamping istrinya
"Grandpa, Di—a".
"Felix Marcello". Ucapnya mendahului Jessica dengan mengulurkan tangan kepada Victor
Deg
"Benar - benar tidak bisa diajak bekerja sama, sialan !". Gumam Jessica mengumpat pria disampingnya
"Berani sekali pria itu mengulurkan tangannya kepada tuan besar".
"Arghh dia tidak kalah tampannya dari tuan muda".
"Wow, manusia tertampan setelah tuan muda ada didepan mataku".
"Apa dia kekasih nona muda ya ?".
Bisik - bisik pelayan yang kebetulan berada di halaman itu melayani Victor beserta istri, anak, dan menantunya.
~Guysssss. Maaf ya aku baru bs update. 5 hari kemarin aku benar - benar sibuk bgt. Deadline aku numpuk. Hehe. In syaa allah besok aku up lagi ya🙏📢