
🌻Hai - hai readersku🖐🏻
Maaf ya aku baru bisa update lagi. Soalnya di Kepulauan Bangka ada sedikit kendala di PLN nya.
Tower di pelabuhan kentan, Tanjung Api - Api rubuh. So, aliran listrik ke Bangka bermasalah. Tegangan listrik disini ga memungkinkan untuk nyala bersamaan.
Makanya diadakan pemadaman listrik bergilir se wilayah Bangka. Huhuhu😭
Nihh aku lanjutin lagi ya sambil curi - curi sinyal, wkwkka.
#HappyReading💙
...****************...
Chicago, IIIinois — USA
Ting !
Denting pesan masuk ke ponsel Jacon disela keheningan mereka yang sedang bersiap - siap untuk menjalankan aksi di tengah malam ini.
Ting !
Ting !
Dua pesan masuk lagi keponselnya seolah tidak membiarkan Jacob untuk mempersiapkan keperluannya.
Jacob masih mengabaikan pesan itu.
Selang dua detik kemudian ada panggilan masuk ke ponselnya.
Drt... Drt... Drt...
Drt... Drt... Drt... (2×)
Dua panggilan itu juga diabaikan Jacob.
Melihat sang master tidak memperdulikan panggilan maupun pesan yang masuk itu membuat keheningan semakin berlangsung karena sepertinya aura Jacob sudah berbeda.
Drt... Drt... Drt... (3×)
Tidak ada tanda - tanda Jacob akan mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
Ting !
Ting !
Dua pesan masuk lagi selang beberapa detik panggilan itu berakhir.
Drt... Drt... Drt...
Kini mereka semua menolehkan kepala melihat sumber suara itu.
Merasa ponselnya berdering dengan cepat Samuel mengangkatnya sebelum Jacob bersuara.
"Tuan Phillip ?". Gumamnya mengerutkan alisnya
Tuan Phillip is Calling. . . .
Klik
"Ya, Tuan ?".
"...."
"Master aman. Hanya saja sedikit berbeda".
"...."
"Iya".
"...."
"Baiklah, Tuan. Sesuai perintah".
Klik
Panggilan beberapa saat itu selesai dengan Samuel yang berjalan mendekati Jacob tanpa takut.
"Master". Sapanya mendekat
Jacob menghentikan aktivitasnya lalu menolehkan kepalanya menatap Samuel yang justru membuat nyalinya sedikit menciut kala menatap mata Jacob.
"Tuan Phillip sudah tiba di wilayah utara kota ini tiga puluh menit yang lalu, Master". Ucapnya sepelan mungkin hingga tidak ada yang mendengarnya
Jacob menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Finish ?". Tanya Jacob datar
Mereka semua menganggukkan kepala dengan posisi masing - masing lengkap beserta senjatanya.
"Sesuai rencana A. Masuk ke tim masing - masing !". Kini Samuel yang memberi instruksi karena Jacob sudah berjalan meninggalkan mereka lebih dulu tanpa mengatakan apapun lagi
"Check... Check...". Suara masuk ke alat pendengar yang mereka gunakan
"Satu... Satu...".
"Tiga... Tiga...".
Lagi - lagi suara itu masuk.
"Sebelum memulai misi malam hari ini. Ada baiknya kita semua berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing - masing". Instruksi Zayn tiba - tiba
"Sialan kau ! Tuhan tidak akan pernah mendengarkan do'a manusia berlumuran dosa seperti kita !". Umpat Alex yang sejak tadi memilih diam
"B*doh ! Aku ragu dengan kapasitas otak si bertulang kelinci ini". Ejek Samuel
"Aku hanya menghibur kalian sebelum menjalankan misi. Tidak tahu terima kasih sekali. Semoga Tuhan memberkati langkah kalian Tim A & Tim X". Seru Zayn terkekeh
Disaat semua orang diam hanya pria itu yang berani membuat lelucon.
Selain untuk menghibur menurutnya itu bisa menghilangkan ketegangan diantara mereka.
"Zayn. Aktifkan semua lokasinya !". Terdengar suara Jacob masuk
"Baik, Master". Jawab Zayn tegas membuat semua yang mendengarnya menggelengkan kepala
Jika orang lain yang bicara, Zayn masih bisa berjenaka namun jika itu Jacob maka sisi tegasnya akan menguak.
Beberapa mobil dan motor beriringan mengikuti mobilnya Jacob membelah keheningan di tengah malam kota Chicago itu.
Ting !
Segera Jacob buka ponselnya untuk melihat pengirim pesan itu.
Phillip
"Aku sudah tahu lokasinya, Jac. Sisi barat kota ini. Lebih tepatnya sebuah gedung yang terlihat tua dari luar namun klasik di dalamnya"
Jacob menyeringai membaca pesan yang Phillip kirimkan kepadanya.
Terlihat mobil dan motor besar beriringan itu berpisah sesuai rute mereka masing - masing.
Melihat itu Jacob segera mengirimkan pesan kepada Alex dan Samuel.
Alex
"Phillip akan bersama kalian"
Send. . . .
Samuel
"Mike dan Vincent akan bersama Tim X"
Send. . . .
Tidak menunggu lama Jacob memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jaket khusus yang dikenakannya.
Lima belas menit kemudian masing - masing tim sudah tiba dilokasi berjaga mereka.
Alex baru sempat membuka pesan masuk ke ponselnya. Dengan mengernyitkan dahinya Alex membaca pesan itu.
"Tuan Phillip ada disini ? Kapan dia tiba ? Bukankah dia langsung kembali ke Los Angeles setelah misinya kemarin". Gumamnya heran
"Mereka ini seperti tidak kenal lelah. Aku tidak yakin pria itu sempat memejamkan matanya. Mengingat tidur adalah hal terakhir dalam hidup mereka, ck". Sambungnya mengomentari Jacob and the geng yang dikenal tidak bisa menetap di satu tempat dengan lama dan nyaman
Alex dengan mata tajamnya melirik wilayah sekitarnya mencari sosok yang paling disegani setelah sang Master.
Wilayah ini cukup sunyi sehingga jika menimbulkan gerak gerik mencurigakan akan cepat diketahui anggota Klan yang sedang mereka awasi.
Mata Alex menangkap sosok pria dengan postur tinggi tegap sedang bersembunyi dibalik pohon besar tidak jauh dari gedung tua yang minim cahaya itu.
"Astaga, nyalinya segagah tubuhnya ternyata. Berani mengintai musuh sendirian dikegelapan seperti ini". Batin Alex memuji keberanian Phillip
Timnya mulai berpencar mengikuti instruksi Alex.
Dengan hati - hati Alex keluar dari mobil berjalan mengendap - ngendap mendekati Phillip.
"Tuan". Sapanya saat sudah dibelakang Phillip
"Tim mu sudah menyebar ?". Bukannya membalas sapaan itu Phillip justru menanyakan timnya
"Ck, tidak ada keramah tamahan sedikitpun dari pria ini. Tidak ramah bintang 1". Gumamnya mengumpat Phillip
Alex menganggukkan kepalanya lalu ikut bersembunyi dibelakang pohon besar itu.
Disaat mereka berdua memasang mata dan telingan dengan fokus kesatu titik tiba - tiba terdengar gelak tawa dari seseorang dari alat pendengar yang mereka gunakan.
"Kalian sedang bermain petak umpat, Niel ?". Tawanya dengan keras
Baru saja Alex ingin membalasnya sudah didahului oleh Phillip.
"Setelah ini kepalamu yang akan diperebutkan Jaclerss dan teman - temannya !". Ucap Phillip sinis
Lagi - lagi pria yang menertawakan mereka semakin tertawa kencang.
"Ide yang bagus, Phillip". Kekeh Jacob terdengar seram di telinga mereka semua kecuali Phillip dan Mike
"Sialan kalian !". Umpat Zayn tidak ada takut - takutnya dengan Jacob
"Nyawamu tinggal dua, Zayn !". Kini Phillip terkekeh devil
"Cihh, seperti nyawamu ban—". Perkataan Zayn terpotong kala mereka mendengar suara yang bisa diprediksi dapat menulikan indra pendengaran mereka
"Sam ! Awasss !". Teriakan Mike dapat didengar mereka semua yang memakai alat pendengar satu sama lain itu
Duarrr
"Astaga. Apa itu ?". Tanya Alex pertama kali
"Mike. Are you okay ?". Phillip terdengar khawatir
"Suaranya bisa membuat gendang telingaku merajuk untuk mendengar kemerduan malam hari lagi, ck". Zayn berdecak kesal
"Zayn !". Bentak Phillip
"****, kotoran telingaku bahkan takut untuk keluar ketika mendengar suara barusan". Vincent ikut bersuara
"Kau juga cari mati, Vin ?". Hardik Alex
Glekk
Vincent yang baru saja keceplosan berkomentar sontak menutup mulutnya rapat - rapat.
"Sialan. Lagi - lagi aku harus berurusan dengan tim ini". Gumamnya memaki kegiatannya malam ini
"Nasib junior selalu seperti ini. Sabar, sabar, sabar. Mereka hanya senior yang kolot". Sambungnya
"Ada apa ?". Jacob bersuara memecah keheningan mereka semua
"Gedung yang sedang kita amati tiba - tiba meledak, Master". Bukan Mike ataupun Samuel yang menjawab
"Meledak ? Apa ada yang mencurigakan ?". Tanya Jacob
"Tidak ada, Master. Gedung itu tiba - tiba meledak begitu saja". Jawab Vincent mewakili Mike dan Samuel yang saat ini masih bersusah payah mendekati sekitaran gedung yang baru saja meledak itu
"Mike ?".
"Sam ?".
Alih Jacob kepada keduanya yang masih tidak memberi klarifikasi apapun.
Hening
Tidak ada diantara keduanya yang menjawab panggilan Jacob. Hingga Vincent kembali bersuara.
"Mereka mendekati reruntuhan gedung itu, Master". Jelas Vincent
"Astaga. Apa mereka kehilangan akal ?". Phillip berkomentar
"Terlalu terburu - buru. Bisa jadi itu hanya jebakan atau pengalihan fokus mereka. Tetap waspada !". Titah Jacob
Baru saja Jacob mengatakan itu terdengar lagi ledakan kecil membuat mereka semua bertanya - tanya siapa yang berani bermain dengan mereka.
"Vincent ?". Panggil Phillip pertama kali karena mengira ledakan susulan terjadi disana
"Tidak - tidak. Bukan disini. Kami aman". Jawabnya
Deg
Seketika Phillip, Alex, Vincent dan Zayn membulatkan mata mereka meski ditempat yang berbeda.
Fokus mereka hanya tertuju pada satu titik yang tidak mengeluarkan suara lagi.
"Master !".
"Jacob !".
Panggil mereka bersamaan meneriaki nama itu.
"Zayn, lacak posisinya !". Titah Phillip kalut
"Berjaga - jagalah kalian semua !". Sambungnya memberi instruksi mewakili Jacob yang tidak bersuara
"Bagaimana, Zayn ?". Phillip diliput kepanikan ditambah lagi Mike dan Samuel juga tidak meresponnya setelah ledakan pertama terjadi
"Mati !". Teriak Zayn yang entah berada dimana
Deg
Jantung mereka seperti ingin meloncat dari tempatnya ketika mendengar satu kata itu.
Mereka menduga - duga dengan pemikiran masing - masing.
"Sialan. Bicara yang benar !". Bentak Phillip tidak puas
"Apanya yang mati ?". Sambungnya lagi
"Sistem yang terhubung dengannya mati total, Niel ! Aku tidak bisa melacaknya". Jelas Zayn terdengar cemas
"****. Mobilnya, Zayn !". Balas Phillip cepat
"Ya. Di mobilnya ada sistem pelacak yang bisa kau retas !". Sambung Phillip mengingat setiap inci mobil yang dikendarai seorang Jacob Xanders itu
"Baiklah. Kau ingat kode akses mobilnya ?". Tanya Zayn tak kalah cepat
"Ex—". Baru akan menjawabnya perkataan Phillip dengan cepat dipotong oleh sosok yang sesaat lalu menjadi fokus kekhawatiran semua orang
"Aku disini". Ucap Jacob santai
"Kau baik - baik saja, Jac ?". Phillip segera mengintrogasinya
"Ya". Hanya itu balasannya
Sangat singkat, padat dan jelas. Tidak tahu saja dia bahwa sejak mendengar ledakan susulan itu ditambah dirinya tidak bisa dilacak membuat kekhawatiran melanda semua orang di tengah malam itu.
"Sialan, Sia - sia aku mengkhawatirkan iblis satu ini !". Batin Phillip mengumpat Jacob
"Lalu kenapa sistem mu mati total jika kau baik - baik saja, ehh?". Tanya Phillip
"Aku sengaja mematikannya. Hanya saja tadi ada tikus kecil yang menganggu aktivitas malamku". Jelas Jacob terdengar ambigu
"Apa kau mencurigai sesuatu, Jac ?". Phillip yang memilik insting sangat kuat itu merasa ada yang tidak beres disekitar Jacob
Hening
Hingga mereka kembali mendengar ledakan yang cukup keras.
Duarrrr
"Jacob !"
"Master !".
"Astaga jantungku tidak bisa diajak kompromi".
"Oh My Godness. Master menghadapi ledakan itu sendiri".
Ujar mereka sedikit histeris langsung memahami gangguan yang Jacob maksud tadi.
"Aku tahu kau tidak akan semudah itu mati, Jac. Tapi tetap saja. Jangan membuat kami khawatir. Sialan kau !". Gumam Phillip khawatir disertai makian kekesalan kepada Jacob
"Mainanmu sepertinya mempunyai nyali yang besar, Jac". Gumam Zayn yang memahami perkataan Jacob dengan cepat
Bersahabat bahkan bekerja dengan Jacob sejak lama membuat mereka berdua termasuk Mike sangat memahami perkataan maupun penjelasan Jacob yang mungkin terdengar ambigu ditelinga orang baru.