
Chicago, IIIinois — USA
Tepat jam tiga pagi Phillip, Samuel dan Vincent tiba di lokasi misi mereka.
"Ini lokasinya ?". Tanya Phillip dengan matanya sibuk menelusuri sekitarnya
"Ya, Tuan. Master sendiri yang mengirimkan alamatnya tadi". Jawab Samuel
Phillip menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bagaimana dengan Tim A ? Mereka sudah tiba ?".
"Bahkan mereka sudah menyebar di beberapa titik sesuai instruksi Master". Jawab Samuel lagi
"Bersiaplah !". Seru Phiillip memberi aba - aba
"Vincent ! Tugasmu seperti biasa. Pantau mereka dan tembak siapa saja yang menganggumu" Terang Phillip bersiap dengan senjatanya
"Sam ! Kau pasti tahu tugasmu". Ujar Phillip menyeringai tipis
Samuel dan Vincent menganggukkan kepala mereka lalu berpencar sesuai tugas masing - masing.
Baru beberapa menit mereka disana sudah terdengar suara tembakan dari arah dimana Phillip berada.
Samuel memberi kode dengan matanya yang syukurnya dapat ditangkap dengan baik oleh Vincent.
"Tetap ditempat kalian !". Instruksi itu membuat keduanya terlonjak kaget
"Berjaga - jagalah Sam ! Dua pria sedang berjalan kearahmu !". Suara yang lain masuk ke pendengaran mereka
Baru menolehkan kepalanya Samuel dikejutkan dengan tumbangnya mereka berdua akibat peluru yang dilesatkan Vincent.
Samuel langsung melihat kearah tersangka penembakan dengan menyeringai.
"Ah itu, sepertinya jariku sedikit terpeleset, Tuan". Ucap Vincent menyengir kuda
Sementara Phillip yang sudah duduk dengan santai di dalam sebuah ruangan tidak peduli dirinya dikelilingi musuh atau siapapun.
"Lambat sekali ! Perjanjiannya tepat jam tiga bukan ?". Phillip mengintimidasi keadaan sekitarnya dengan tenang
"Anda yang datang terlalu cepat, Tuan". Jawab salah seorang pria yang berdiri didekatnya
"Benarkah ?". Phillip terkekeh yang mana itu menurut orang - orang adalah tawa seorang psikopat
Hening
Tiba - tiba masuk seorang pria membisikkan sesuatu kepada pria yang tadi berbalas kata dengan Phillip
Pria itu menganggukkan kepalanya lalu mendekati Phillip.
"Anda diminta naik ke rooftop, Tuan". Ucapnya sopan karena sadar siapa pria yang ada dihadapannya itu
"Siapa kau berani memerintahku, Eh ?". Tanya Phillip datar
"Tuan Marvin sudah menunggu Anda disana". Jawabnya
Phillip menyeringai mendengar itu. Tanpa mengatakan apapun lagi Phillip segera beranjak menuju tempat yang dikatakan pria itu.
"Rooftop !". Seru Phillip kepada orang - orang diluar sana melalui alat penghubung yang digunakannya
Sampai di tempat itu dapat Phillip lihat tiga orang pria sedang berdiri menatap kebawah gedung itu.
"Marvin Ellio Ricci, Right ?". Sapa Phillip tenang berjalan kearah mereka
Ketiga pria itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
"Ah, Phillip De Nielson". Ucap pria yang disapa Marvin itu dengan terkekeh
Phillip menatap pria itu tanpa ekspresi apapun.
"Ternyata kau cukup cepat juga datangnya ya". Kekeh Marvin
"Aku hanya tidak suka menyia - nyiakan waktu saja". Sindir Phillip
Marvin tidak merasa tersinggung sama sekali justru dirinya semakin tertawa.
"Pria ini lama - lama semakin mirip Leo". Gumamnya menatap intens Phillip yang terus saja menunjukkan wajah datarnya
"Baiklah Tuan Phillip mari kita mulai transaksinya". Ujar Marvin berjalan mendekati Phillip
Dengan matanya Marvin memberi kode anak buahnya untuk menunjukkan sebuah barang yang menjadi kunci kesepakatan mereka kali ini.
Phillip memeriksa semuanya lalu tertawa sinis.
"Kau ingin bermain - main denganku, eh ? Lihatlah isi kopermu benar - benar tidak ada artinya untukku". Sarkas Phillip
"Apa maksudmu ?". Marvin tidak mengerti maksud Phillip mengatakan itu
"Gunakan matamu untuk melihatnya, Tuan Marvin". Phillip sengaja menekan kata terakhirnya
Marvin segera memeriksa apa yang ada di kopernya.
Deg
Jantungnya seakan ingin meloncat keluar begitu melihat isi yang jauh berbeda dari yang dibawanya tadi.
"Sial, siapa yang berani menukar koperku !". Teriaknya menatap tajam ketiga anak buahnya yang spontan ikut terkejut dengan apa yang mereka lihat
"Bagaimana bisa isi kopernya berbeda, Hah ?". Marvin semakin menatap tajam anak buahnya
Sedetik kemudian Marvin tertawa kencang membuat mereka tercengang.
"Haha. Kau ingin memanipulasi keadaan, eh ?". Tawanya dengan mata tertuju kepada Phillip yang tetap mempertahankan ekspresi datarnya
"Kau pikir aku bodoh ?".
"Dan kau pikir aku sudi menggunakan otak dan tanganku untuk mengambil kopermu ?". Sinis Phillip
Phillip melihat jam tangannya sudah menunjukkan hampir jam empat pagi. Itu artinya sebentar lagi Jacob akan tiba.
"Jika bukan kau maka siapa lagi, hah ?". Marvin terus meneriaki Phillip
"Klan X'Dragons terlalu mahal untuk melakukan pekerjaan kecil itu". Phillip menyeringai ketika mendapati sosok Jacob yang bersembunyi dibalik pilar besar
"Dia benar - benar datang sesuai perkataannya". Batin Phillip
Bukannya marah karena kopernya ditukar. Marvin hanya kesal karena Phillip tetap memasang wajah datarnya sepanjang waktu ini.
"Sialan. Bisa - bisanya dia setenang ini menghadapi lawan yang sedang mengamuk ?". Gumam Marvin sedikit mengagumi Phillip
Jadi ya, kekesalan Marvin itu lantaran Phillip yang tetap menunjukkan ekspresi datarnya—Agak aneh memang ketua mafia satu ini.
Tap... Tapp... Tappp
Derap langkah seseorang masuk ke indra pendengaran mereka semua.
"Kau mencari ini ?". Tanya pria yang menggunakan masker dan topi itu berjalan mendekati mereka sembari membawa sebuah koper
Sontak mereka semua menolehkan kepala melihat siapa yang datang dengan beraninya mengganggu transaksi mereka.
"Lio... ?". Sambung pria itu datar
Marvin yang mendengar nama itu disebutkan sontak mendekati pria itu dengan penasaran.
"Siapa kau ?". Akhirnya Marvin bertanya
Sosok bertubuh tinggi tegap lengkap dengan sorot mata tajam itu benar - benar menarik perhatian semua orang yang berdiri didekatnya.
Bukannya menjawab, pria itu diam saja dengan mata terus menatap Marvin dan Phillip bergantian.
Pria itu mendekati Phillip mereka bicara melalui tatapan mata yang hanys dimengerti oleh mereka berdua saja.
"Kau membuat atasanku kecewa, Tuan Marvin". Ujar Phillip
Baik Marvin maupun anak buahnya tercengang mendengar penuturan pria itu.
"Apa katanya ? Atasannya ?". Gumam Marvin menatap mereka
"Ternyata instingmu belum kuat, Lio". Kekeh pria yang sudah diketahui sebagai atasan Phillip itu
Lagi - lagi Marvin dibuat terkejut mendengar nama kecilnya yang hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
Dengan instingnya Marvin langsung menyebut nama seseorang.
"Jacob !". Serunya menatap pria itu tanpa berkedip
Pria yang bersama Phillip terkekeh pelan lalu mulai membuka topi dan masker yang digunakannya.
Deg
Lagi - lagi mereka semua dibuat terkejut dengan kebenaran yang baru terungkap ini.
Jacob menyeringai tipis melihat reaksi orang disekitarnya saat ini.
"Sialan, berarti dugaanku selama ini benar. Pria ini memang layak di panggil Master. Mengingat bagaimana dia menyembunyikan semua ini dengan rapih bertahun - tahun". Batin Marvin bermonolog
"Bagaimana diskusimu dengan grandpa ? Membuahkan hasil ?". Kekeh Jacob pelan
"Sialan kau ya ! Diam menggeluti bisnis bergerak menjadi ketua mafia. Bahkan grandpa tidak tahu bahwa klannya sudah bangkit lagi dari tidur panjangnya". Ungkap Marvin
Jacob hanya tertawa pelan mendengar itu tidak memberi reaksi apapun termasuk dengan Phillip.
"Sejak kapan ?". Tanya Marvin pada intinya
Jacob menaik turunkan alisnya memintanya memperjelas pertanyaannya itu.
"Sejak kapan kau ? Mafia ? Klan ini ? Semuanya, Jac !". Ucap Marvin tidak sabaran
"Tinggalkan kami berdua, Niel !". Titah Jacob kepada Phillip agar membawa anak buah Marvin meninggalkan mereka
Marvin tidak peduli dengan anak buahnya yang ada di otaknya saat ini banyak sekali pertanyaan untuk Jacob.
"So... ?". Ulang Marvin cepat
Jacob tersenyum tipis melihat antusias dari sepupunya itu.
"Tepat di umurku yang ke tujuh belas tahun...". Jacob mulai menjelaskan semuanya kepada Marvin tanpda ada yang dirahasiakan lagi
Lima belas menit berlalu...
Jacob selesai menceritakan semuanya kini menyisakan banyak pertanyaan di otak Marvin untuknya.
"Maksudmu ? Mereka mulai mengincar keselamatanmu ?". Tanya Marvin
Jacob menganggukkan kepalanya.
"Bahkan saat itu kau masih terlalu kecil untuk mengenal dunia ini, Jac !". Seru Marvin
"Mereka merasa hadirnya diriku menjadi penghalang mereka untuk menjadi klan mafia paling ditakuti di dunia ini". Jelas Jacob santai
"Itu sebabnya kau... ?".
Jacob menganggukkan kepalanya lagi.
"Tebakanmu benar sekali, Lio. Karena aku cucunya Victor Xanders". Jawab Jacob
"Kenapa kau mengganti nama klan yang sebelumnya ditangan grandpa ?".
"Memanipulasi keadaan adalah keahlianku". Ucap Jacob menyombongkan diri
"Sialan !". Maki Marvin hendak memukul Jacob
"Urusan kita masih belum selesai, Ellio !". Jacob menyeringai penuh arti
Marvin mengerutkan alisnya tidak mengerti.
"This is !". Ucap Jacob menunjukkan sebuah koper dibawahnya
"Ck, itu tidak penting lagi. Percuma bertransaksi jika barangnya sendiri sudah ditanganmu, Sialan !". Lagi - lagi Marvin mengumpat Jacob terang - terangan
Jacob terkekeh mendengar ocehan Marvin.
Mereka berdua berjalan bersamaan menuju lantai dasar gedung ini untuk bertemu masing - masing dengan status sebagai pemimpin dua klan mafia.
"Rahasiakan ini dari semua orang. Terutama grandma !". Bisik Jacob pelan
"Baiklah. Aku tidak janji dengan grandpa dan daddy Jo". Kekeh Marvin
"Dua pria tua itu pasti sudah tahu. Apalagi insting grandpa masih sangat kuat". Ucap Jacob santai namun terselip nada sindiran diakhir katanya
Marvin mengedikkan kedua bahunya berjalan mendahului Jacob begitu saja.
...****************...
Los Angeles — USA
Xanders Mansion
"Kenapa masih disini ?". Jonathan mendekati istrinya yang masih setia duduk dibalkon kamarnya
"Ada yang kau pikirkan, Baby ?". Sambung Jonathan sudah duduk disamping Jesslyn
"Hanya memikirkan kedua anak kita yang selalu memberi kabar secara mengejutkan seperti ini, Jo". Jawab Jesslyn
Ya, Jesslyn cukup terkejut dengan pernyataan putrinya beberap hari yang lalu mengenai pertunangan dan pernikahannya yang dadakan seperti itu.
Belum lagi putranya juga memperkenalkan seorang wanita yang mulai diakui ke publik sebagai calon istrinya.
"Mereka punya jalan hidup sendiri, Baby. Jangan terlalu dipikirkan begitu". Jonathan merengkuh istrinya sangat erat
"Aku hanya sedikit khawatir saja, Jo". Ujar Jesslyn lirih
Jonathan tidak lagi menjawab perkataan istrinya. Karena malam semakin dingin Jonathan menuntun Jesslyn masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat.
"Besok kita akan mengunjungi mereka di mansion utama". Ucap Jonathan paham kegelisahan istrinya
Jesslyn menganggukkan kepalanya lalu perlahan menutup matanya dengan posisi tidur memeluk sang suami.