
Los Angeles — USA
Mansion Utama
HOT NEWS
"Semakin menghebohkan jagat maya, inilah sosok wanita yang berhasil menempati hati Sang Billionaire"
"Aku rasa ini rumor pertama Jacob ya, V ?". Sia berucap dengan memegang buah apel ditangannya
"Hmmm".
"Sejauh ini Jacob bebas dari rumor apapun meski sudah beberapa wanita yang dibawanya menemui kita. Tapi sekarang ?". Ujar Sia mengingat cucunya itu
"Jacob jadi mengingatkan aku kepada Victor Xanders semasa mudanya. Jauh dari skandal maupun rumor tapi sekalinya terkena rumor berakhir menjadi nyata. Apa mereka akan berakhir sama dengan kisah kita dulu, V ?". Sambung Sia
"Mereka berbeda dengan kita". Ucap Victor
Sia menaikkan alisnya heran mendengar itu.
"Apanya yang berbeda ? Jelas - jelas sama". Tutur Sia
"Jelas berbeda. Aku CEO Sang Mafia terlibat skandal dengan Putrinya Sang Mafia. Kau yang menjeratku dalam skandalmu waktu itu, Honey". Jelas Victor sembari mengedipkan satu matanya menggoda Sia
Mendengar itu Sia menunduk malu mengingat masa lalunya yang sengaj menarik Victor kedalam masalahnya.
"Tapi kau juga terjerat dengan pesona Putri Sang Mafia bukan, V ?". Sia balas mengedipkan mata kirinya
"Ya, sialnya begitu. Pesonanya mampu meruntuhkan pertahanan yang sudah ku bangun sejak lama". Balas Victor memeluk Sia
"Bukan hanya dirimu, V. Aku juga terjerat pesonamu saat pertama kali menatap mata tajam ini". Ucap Sia kini menyentuh mata suaminya lembut
"Ternyata kisah itu sudah puluhan tahun berlalu ya, V. Aku tidak menyangka akan berada diposisi ini sampai kita menyaksikan tumbuh kembang cucu - cucu kita hingga mereka dewasa seperti sekarang". Sambungnya
"Teruslah bersamaku hingga akhir hayatku, Honey". Ucap Victor mengecup singkat kening istrinya
"Of course, kau juga harus bersamaku hingga akhir hayatku, V". Balas Sia
Sepasang lansia itu sibuk menyalurkan rasa cinta mereka tanpa menyadari jika mereka sudah menjadi tontonan.
"Pasangan tua tidak tahu tempat". Suara itu sukses membuat Sia dan Victor menatap kebelakang
Victor menatapnya tajam dengan aura permusuhan.
Sementara Sia menatapnya kesal diiringi kegemasan melihat siapa yang berbicara itu.
"Ricci sialan, bangkitlah dari kuburmu bantu aku memutilasi cucu sialanmu ini". Batin Victor menatap garang pria yang kini sudah duduk santai dihadapannya
"Marvin E Ricci ! Awas kau !". Batin Sia menatapnya gemas
"Kalian tidak ingin menyambut kedatangan cucu tampan kalian ini, Grandma ? Grandpa ?". Ujarnya dengan wajah tengil
"Menjauhlah dari hadapanku, kau merusak pemandangan mataku". Ujar Victor
"V !". Tegur Sia
"Kemarilah cucu tampanku, grandma merindukanmu". Sambungnya merentangkan tangan agar pria seumuran Jacob itu memeluknya
"Oh grandma ku sayang. I miss you so much". Ucapnya dengan cepat memeluk Sia sebelum singa dihadapannya mengaung
"Awshhh". Teriaknya sedikit kencang tiba - tiba mendapati serangan mendadak dari Sia
"Kau kemana saja, hah ? Satu minggu yang lalu kami membuat acara keluarga tapi kau tidak hadir. Benar - Benar ya kau ini. Apa sudah menganggapku grandma mu lagi ?". Ujar Sia menarik telinga Marvin
"Awsshhhh, grandma ini sakit". Ucapnya tanpa di buat - buat
"Sial, Jacob benar. Lebih baik berurusan dengan tumpukan berkas daripada dengan grandma". Batinnya menatap Sia
"Honey". Tegur Victor datar
Sia melepaskan tangannya dari telinga Marvin. Masih menatapnya kesal.
"Kau tidak ingin memeluk grandpa ?". Victor berbicara menatap pria seusia Jacob ini
"Bukankah tadi ada yang bilang aku merusak pemandangan matamu, Grandpa ?". Ujar Marvin
"Kemari atau satu peluru melesat di lenganmu !". Ancam Victor
"Ok, Aku rindu bermain tembak menembak denganmu, Grandpa". Ucapnya memeluk Victor
Plakk
Sia memukul bahu Marvin pelan.
"Kau ini. Bisa - bisanya merindukan hal gila seperti itu. Dasar maniak peluru". Ujar Sia meninggalkan mereka berdua
"Aku tahu kau kemari bukan merindukan kami, Lio. Pasti ada masalah yang mengusik ketenanganmu, Right ?". Ujar Victor setelah mereka melepaskan pelukan itu
"Hmm".
"Of course, not. Tentu saja aku merindukan kalian. Terutama Mom Jess. Setelah ini aku akan mengunjungi mereka". Balasnya santai
"Umurku memang sudah 87 tahun tapi insting ku masih kuat". Ucap Victor
"Katakan".
"Bisa kita bicara di ruang kerja grandpa saja ? Ini sangat penting". Ucap Marvin diangguki oleh Victor
"Liu, jika istriku mencari kami. Katakan kami ada di ruang kerjaku". Titah Victor kepada asisten yang sudah bekerja sangat lama kepadanya
Pria yang disapa Paman Liu itu menganggukkan kepala saja.
Ceklek
"Duduklah dimanapun kau mau". Ucap Victor
Marvin yang mendengar itu hanya terkekeh pelan. Baginya Victor seperti sahabatnya sendiri.
"Persis seperti Jacob". Batinnya tertawa melihat Victor
"Hmmm". Victor sengaja berdehem agak keras supaya pria dihadapannya ini memulai pembicaraan
"Apa Klan X'Dragons sudah bangkit dari tidur panjangnya, Grandpa ?". Tanya Marvin langsung pada intinya
"Maksudmu ?". Victor sebenarnya tahu kemana arah pembicaraan ini hanya saja dirinya ingin mengetahui sejauh mana informasi yang diketahui pria dihadapannya
"Begini grandpa. Aku tahu Klan X'Dragons milik grandpa itu sudah sangat lama tidak beroperasi atau bisa dikatakan hilang tanpa jejak. Tapi satu minggu yang lalu aku menerima kesepakatan dengan Klan itu. Anehnya lagi yang menghadiri kesepakatan bukan pemimpinnya melainkan wakilnya". Jelas Marvin
"Kau tahu nama pemimpinnya ?". Tanya Victor
Marvin menggelengkan kepala.
"Klan itu sekarang sangat menjaga privasi pemimpinnya, grandpa. Hanya saja seseorang sempat masuk dan memanggilnya Tuan Phillip. Jadi aku simpulkan nama wakil pemimpinnya itu Phillip". Tutur Marvin
"Phillip ? Jika itu orang yang sama dengan pria yang selalu satu langkah lebih maju melindungi Jacob. Berarti benar. Dugaanku tidak pernah meleset. Jacob mengambil alih Klan tanpa meminta persetujuanku". Batin Victor dengan pikiran menuju kemasa lalu
"Apa kau punya fotonya ?". Marvin hanya menggelengkan kepala
"Kapan kau ada kesepakatan lagi dengan mereka ?". Tanya Victor
"2 minggu lagi, Grandpa. Harusnya hari itu aku bertemu pemimpinnya langsung". Ujar Marvin
"Baiklah. Jika sudah bertemu dengannya kau bisa memberitahu grandpa, bukan ?". Balas Victor
Marvin menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Victor.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita keluar sebelum grandma ku tercinta itu mengeluarkan aungannya, Grandpa". Ujar Marvin terkekeh
Usai membahas itu mereka segera keluar menuju tempat dimana Sia berada saat ini.
Cup
"Bye grandma". Ucapnya setelah mendaratkan satu kecupan di pipi kiri Sia
Bukannya membalas Sia justru memberinya tatapan tajam.
"Baru saja tiba setengah jam yang lalu kau sudah ingin pergi lagu ? Kenapa grandma merasa lama - lama kau semakin mirip Jacob, Ya ?". Ucap Sia
Marvin, Victor, Liu, dan beberapa pelayan lainnya terkekeh kecil mendengar pekataan Sia.
"Kau mau kemana lagi anak nakal ? Bermain wanita lagi ?". Sarkas Sia
"Mengunjungi Mommy Jess & Daddy Jo, Maybe". Ucapnya berlalu begitu saja setelah melewati Victor dengan menganggukkan kepala
"Anak itu, benar - benar ya !". Ucap Sia frustasi menghadapi pria yang sudah menghilang dari pandangannya itu
"Like Father Like Son, Honey". Ucap Victor ikut beranjak pergi
Sia tidak menanggapi perkataan suaminya. Dirinya sibuk menata barang - barang kiriman cucu perempuannya kemarin.
"Setidaknya aku punya cucu perempuan yang bisa diajak mengenal fashion dan keindahan mata". Gumamnya sembari sibuk mencocokkan tempat satu dengan tempat lainnya
...****************...
Los Angeles — USA
Xanders Mansion
Sepasang suami istri sedang menonton tv itu mengganti channel satu dengan lainnya yang isinya sibuk membahas pemberitaan sang putra dengan wanita yang mereka ketahui dengan jelas.
BREAKING NEWS
"Rumor dating Sang Billionaire semakin diperkuat dengan gandengan mesra mereka saatkeluarnya dari L.I.H"
"Apa Jacob benar - benar sudah menghamili Angeline, Jo ?".
Pria disebelahnya hanya mengedikkan bahu karena memang tidak tahu.
"Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Semua wanita yang mendekatinya hanya sekumpulan wanita haus harta dan kekuasaan. Sedangkan Angeline ? Dia berbanding terbalik seperti enggan berada disisi Jacob". Sambungnya
"Biarkan Jacob yang menjawabnya nanti, baby". Ucap Jonathan tidak ingin ikut campur permasalahan putranya
Ya, mereka berdua sepakat tidak ingin terlalu mencampuri urusan anak - anaknya. Mereka punya pilihan masing - masing. Orangtua hanya menyetujui dan mendampingi saja—Begitulah prinsip mereka berdua.