
Hai - hai readers🙌🏻
Maaf ya aku baru sempet up lagi. Lagi banyak kegiatan soalnya, hehe.
Nih aku udah lanjut up.
Happy readingđź’™
...****************...
San Francisco — USA
"Kau benar - benar bertunangan, Fel ?". Tanya wanita yang berdiri didekat pria yang kini sudah menjadi calon menantu keluarga Xanders
"Menurutmu ?".
"Ck, bisa tidak jika aku bertanya jangan balik bertanya ?". Kesalnya
"Apa kau pikir aku bisa bermain - main dengan keluarga itu ?".
"Cih, of course, not. Mengingat kau itu ahlinya memanipulasi suasana". Jawabnya santai
"Hei, kau belum menjelaskan apapun kepadaku !". Teriaknya saat melihat pria itu berjalan terus tanpa menjawab pertanyaannya dengan benar
"Felix Marcello !". Teriaknya lagi dengan nada tinggi hingga menarik perhatian semua orang yang ada di bandara itu
"None of your business, An !". Ucap Felix datar tanpa memperdulikan sekitarnya
"Sialan !". Umpatnya kesal menatap Felix yang sudah mendahuluinya mencapai mobil yang sudah menunggu kedatangannya
"Hei !". Teriaknya dengan berlari cepat ketika melihat mobil yang ditumpangi kakak sepupunya itu berlalu meninggalkan pelataran bandara
"Sialan kau ! Felix Lucas Marcello !". Batinnya menggerutu melihat Felix meninggalkannya begitu saja
"Mari, Nona". Ucap seorang pria dari dalam mobil yang berhenti disebelahnya
"E—ehh".
"Tuan Felix meminta saya mengantar Anda kembali ke apartment, Nona". Ucapnya lagi
Dengan penuh kekesalan Alana masuk ke dalam mobil sembari menggerutu.
"Jangan ke apartmentku. Ke mansionnya saja". Titah Alana
Pria yang duduk di kursi pengemudi itu hanya menganggukkan kepala saja.
Hening
"Cih, tidak bosnya tidak anak buahnya sama - sama menyebalkan". Gumamnya setelah tidak ada tanda - tanda pria itu akan memulai pembicaraan lagi
...****************...
Chicago, IIIinois — USA
"Bagaimana dengan Sisilia ?". Tanya Alex serius kepada pria disampingnya
Hening
Pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
"Hei, kau dengar aku ?". Sentak Alex
Pria disampingnya itu menaikkan sebelah alisnya.
"Kau bicara kepadaku ?". Tanyanya
Alex memutar bola matanya jengah menghadapi pria - pria kaku disekitarnya.
"Hari - hariku dikelilingi pria minim ekspresi, Ck". Gumamnya berteriak
"Ah sudahlah. Bicara denganmu membuat darahku tidak stabil". Ucap Alex mendahului pria itu
"Apa Master tidak salah menempatkan tim yang akan bersama kami dengan ketua yang bertingkah kekanak - kanakan itu ?". Batinnya menilai Alex dari yang sudah berjalan menjauhinya
Ting !
Ting !
Dua pesan masuk ke ponselnya segera dibukanya karena dirinya tahu tidak ada yang akan mengirim pesan apapun selain pimpinan dan wakilnya.
Master
"Alex bersama Tim A akan membantu tugasmu kali ini, Sam !"
Tuan Phillip
"Kepalamu akan menjadi gantinya jika gagal dalam misi ini, Sam !"
Samuel, ya. Pria itu bernama Samuel, ketua Tim X yang bertugas bersama Phillip menghancurkan satu markas besar sebuah Klan di Sisilia.
Master
"Baiklah, Master"
Send....
Setekah membalas pesan dari Jacob, Samuel menghembuskan nafasnya kasar. Lalu melanjutkan langkahnya menyusul Alex.
...****************...
Los Angeles — USA
Mansion Utama
"What the hell, Jess !". Teriak Angeline refleks ketika mendengar perkataan yang Jessica lontarkan
"Are you kidding, Me ?". Ulangnya berusaha meyakinkan pendengarannya
Jessica menggelengkan kepalanya.
"Yang kau dengar memang benar". Tutur Jessica menatap Angeline sedih
"Kau ini sudah gila atau bagaimana, Hah ?". Lagi - lagi Angeline berteriak
"Beruntungnya kamarku ini kedap suara. Jika tidak ? Semua orang pasti akan berlarian kemari setelah mendengar teriakannya". Batin Jessica menggelengkan kepala melihat respon wanita yang belum terlalu lama dikenalnya ini
"Kita memang bukan seperti dua sahabat pada umumnya mengingat ya kau tahu sendiri. Bagaimana aku bisa berdiri dihadapanmu hingga detik ini kalau bukan karena kakakmu itu". Ucap Angeline menatap Jessica
"Tapi, Jess. Kau bisa menganggapku kakakmu atau seperti sahabatmu sendiri. Untuk menceritakan hal seperti ini kau jangan sungkan kepadaku". Sambungnya
Mendengar itu Jessica merasa senang dan sedih.
Senang karena pada akhirnya ada seorang wanita yang bersama kakaknya tanpa melihat sisi kekayaannya keluarganya.
Sedih karena disaat dirinya akan berpisah justru baru bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki kakak perempuan yang bisa diajak mengobrol atau sekedar tempat berkeluh kesah.
"Kau mau mendengarkan sedikit ceritaku, Jess ?". Tanya Angeline menangkup tangan Jessica
Jessica yang melihat itu sontak semakin terharu. Lalu menganggukkan kepalanya.
"Dulu aku bertanya - tanya kenapa takdir mempermainkanku sedalam ini. Aku tidak punya orangtua lagi, tidak punya saudara, tidak tahu siapa kerabat orangtuaku, aku tidak mengenal siappapun dalam silsilah keluarga mereka....". Jessica terus mendengar perkataan Angeline dengan balas mengelus tangannya lembut
"Bahkan dulu sebelum aku mengenal satu persatu dari kalian. Aku selalu menilai keluarga ini benar - benar tipikal keluarga yang menuntut kesempuraan diatas segalanya. Setiap berita yang beredar jika ada keluarga kalian dalam pemberitaaan itu aku selalu melewatinya". Kekeh Angeline
"Seolah mendengar nama Xanders saja membuatku merinding. Dulu sekali aku berharap tidak pernah bertemu dengan keturunan - keturunannya. Ah sialnya aku justru melamar pekerjaan di rumah sakit milik keluarga itu sendiri". Angeline masih bercerita dengan Jessica yang setia mendengarkannya
Jessica terkekeh mendengar pernyataan Angeline mengenai keluarganya.
"Kau bukan satu - satunya orang yang berpikiran seperti itu, Angel. Semua orang bahkan teman - temanku langsung menjauhiku saat mereka tahu aku siapa". Ujar Jessica
"Bahkan mereka saat bertemu langsung dengan kakak dan grandpaku ada yang pingsan". Tawa Jessica ketika mengingat hari itu
"Ya, aku juga pasti akan pingsan seperti mereka jika berhadapan dengan keduanya". Kekeh Angeline
"Apa kau juga pingsan saat bertemu dengan kakakku ?". Tanya Jessica tertawa keras
"Hampir. Saat itu pertama kalinya aku melihat kakakmu datang ke rumah sakit setelah hampir dua tahun aku bekerja disana".
"Lalu grandpamu ? Kesan pertamaku saat melihatnya dari jarak dekat adalah....". Gantung Angeline
"Kau seperti melihat kakakku tapi ini versi tuanya , Right ?". Kekeh Jessica tanpa henti
"Aishh itu, ya. Aku akui aku seperti melihat kakakmu di diri grandpa dan grandmamu, Jess".
"Hanya saja kakakmu itu versi lebih dari grandpamu. Ya, tidak separah grandpamu yang masih bisa diajak mengobrol". Angeline ikut terkekeh kembali teringat saat mereka berkumpul di ruang tamu sehabis acara pertunangan Jessica
Dimana Victor tidak mampu melawan perkataan istrinya atau lebih tepatnya menurut saja dengan apa yang dikatakan sang istri.
"Grandpa memang seperti itu, hanya grandma yang bisa menjinakkannya. Dan aku lihat sepertinya kakakku juga begitu. Kepadamu dia berusaha mengesampingkan amarahnya agar tidak kau sadari. Meski terkadang kakakku sangat misterius tapi aku tahu dia sangat menyayangu dan melindungi orang - orang disekitarnya". Jelas Jessica
"Mulutnya memang sangat tajam persis grandmaku. Keiritannya dalam berbicara melebihi granpda. Sejak kecil dia memang dikenal dengan julukan Ice Boy, Cold Bastard, Beruang Kutub, Muka Tembok, Minim Ekspresi, dll". Sambung Jessica
"Boleh aku jujur, Jess ?". Tanya Angeline
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Of course". Jawabnya
"Aku merasa kakakmu itu terlalu misterius dibandingkan grandpamu". Tutur Angeline
"Kau benar. Kami juga merasakan itu. Terlebih setelah dia kembali dari Las Vegas tiga tahun yang lalu. Seolah dirinya yang kembali itu bukan kakakku melainkan jiwa orang lain". Terang Jessica kembali teringat saat dimana keluarganya dibuat heran dengan tingkah kakaknya
"Kakakku bahkan semakin irit bicara sejak hari itu. Aneh bukan ?". Ujar Jessica
Lima belas menit tanpa terasa mereka sibuk bertukar cerita hingga membuat Jessica sesaat melupakan permasalahan yang dihadapinya berkat adanya Angeline.
"Lain kali jika ada yang ingin kau ceritakan hubungi aku saja, Jess". Ucap Angeline mengelus lembut tangan Jessica
"Terima kasih. Kau sudah menenangkanku saat ini. Aku merasa sepertinya kau memang wanita yang ditakdirkan tuhan untuk menjadi kakak iparku". Kekeh Jessica
"Aisshh kau ini. Kalau saja kau bukan putri dari keluarga konglomerat seperti ini mungkin aku bisa saja membawamu tinggal di apartmentku. Tapi ya sayangnya itu mustahil". Ucap Angeline sembari tertawa
"Apa kau akan menginap disini ?". Jessica berdiri mendekati meja riasnya
"Aku ti—". Ucapan Angeline terpotong saat dering ponsel Jessica yang di nakas berbunyi
Drt... Drt... Drt...
Manusia Es is Calling. . . .
"Manusia es ?". Gumam Angeline setelah melihat nama yang muncul dilayar ponselnya Jessica
"Jess, ponselmu". Ucap Angeline memberikan ponsel itu ke pemiliknya
"Siapa ?".
Angeline mengedikkan bahunya.
Jessica mengambil ponselnya lalu melihat nama yang menghubunginya.
Manusia Es is Calling. . . .
Klik
"Iya kakakku yang tampan. Ada apa ?".
"...."
Angeline yang mendengar Jessica menyebut kata kakak menautkan alisnya lalu terkekeh.
"Ternyata adiknya sendiri memberi namanya Manusia Es. Sesuai raut wajahnya yang selalu datar dan dingin". Gumam Angeline terkekeh
"Are you sure ?".
"...."
"Jadi kalian akan menginap ?".
"...."
"Ahh baiklah. Cepat kembali ya kakakku yang tampan".
"...."
"Iya - iya. Aku tidak akan mencuci otaknya. Tidak tahu dengan grandma". Ucap Jessica dengan tertawa
"...."
"Ba—".
Klik
Belum sempat melanjutkan perkataannya sambungan telepon itu sudah dimatikan sepihak.
"Ck, selalu begitu !". Kesal Jessica lalu meletakkan ponselnya di meja rias begitu saja
"Ada apa ?". Tanya Angeline melihat raut kekesalan diwajah Jessica
"Manusia es itu ! Selalu menghubungi dan mematikan panggilan sepihak. Benar - benar menyebalkan". Ucapnya
"Manusia es ?". Ulang Angeline berpura - pura tidak tahu padahal dia sudah bisa menebak siapa yang dimaksud Jessica
"Iya, Jacob Xanders ! Si manusia es pemilik wajah terdatar dan terdingin didunia ini. Sialanya dia kakakku yang sangat tampan". Makinya sedikit berteriak
Angeline tertawa menanggapi kekesalan Jessica.
"Selalunya begitu bukan ?". Ucap Angeline
"Sudahlah. Lupakan tingkah kakakmu itu. Sebaiknya kita segera ke bawah sepertinya grandmamu sudah memberi alarm untuk kita menemaninya". Sambungnya meredakan kekesalan Jessica
"Hmm, baiklah. Ayo". Ujar Jessica menarik cepat tangan Angeline
Setelah itu mereka berdua berjalan beriringan dengan canda tawa seperti kakak beradik.
"Kau harus menjadi kakak iparku, Angeline !". Gumam Jessica menatap Angeline sesekali disela langkah mereka
Pembicaraan mereka saat dikamar Jessica pun hanya diketahui oleh Angeline saja.
Angeline seperti sedang memposisikan sebagai calon kakak ipar yang baik jika orang - orang melihat itu.
Entah kenapa tanpa ragu Jessica membicarakan hal yang bahkan tidak pernah dikatakannya kepada keluarganya. Seolah dirinya sangat mempercayai Angeline untuk menjaga rahasianya kali ini.