Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 10



Las Vegas — USA


"Aku akan mengingatkanmu kejadian tiga tahun silam". Ujar Jacob menekan luka tembak dilengan pria tua itu


"Arghhhh, ssshhhhh". Teriakann kesakitan diiringi desisan membuat semua yang mendengar dari alat pendengar merinding memikirkan apa yang dilakukan pemimpin mereka didalam sana


#Flashback On


"Bagaimana ini kenapa tidak ada satupun taksi yang lewat". Ucap seorang wanita dengan jas dokter ditautkan dilengannya menoleh kiri kanan melihat apakah ada tanda - tanda kendaraan umum melintas


"Aku sudah hampir telat. Semoga ada dokter yang menangani pasienku". Sambungnya masih panik


"Aishh sudahlah aku jalan kaki ke seberang saja".


Baru beberap langkah dirinya sudah dibekap orang tidak dikenal. Sempat memberontak namun dirinya kalah tenaga dengan pria yang membekapnya.


"Hmmpppp, Le—pas !". Berontaknya berusaha lepas dari bekapan pria itu


"Diam, atau ku tembak kau". Bentaknya keras


Hening... Wanita itu pasrah dirinya akan dibawa kemana karena berontakpun tidak ada gunanya.


Mobil yang membawanya berhenti disebuah gedung tua. Dapat didengarnya raungan - raungan kesakitan dari dalam membuatnya takut dan merinding.


"Hmmpppp". Racaunya diiringi tangisan mendengar teriakan pilu dari dalam semakin terdengar jelas di telinganya


"Bos, aku mendapat satu mangsa lagi. Tapi kali ini sangat cantik dan sudah dewasa. Apa sebaiknya kita gunakan dulu tubuhnya baru kita eksekusi". Ujarnya menyeret paksa wanita itu dengan tatapan haus belaian


"Hmmmpppp".


"Apa cantik ? Kau ingin mengatakan sesuatu ?". Tawanya


"Hmppp". Hanya itu yang terdengar diiringi tangisan dengan wajah penuh ketakutan menyaksikan langsung tubuh yang sedang dieksekusi untuk diambil organnya serta tangisan - tangisan menyayat hati sekumpulan orang yang disekap sepertinya


Hahaha... Tawa mereka semua melihat wanita itu gemetar ketakutan. Seolah itu hiburan untuk mereka semua.


Srekk...


"Arghhh"


"Hiksss"


"Tolongg"


"Hmmpppp"


Suara itu seperti lagu ditelinganya, terus menerus diputar berulang - ulang suara yang sama. Kesakitan, teriakan, tangisan, raungan menjadi satu dalam ruangan itu.


Bugh...


Wanita itu menendang salah satu pria yang memegangnya dengan sisa keberaniannya.


Plakk... Tamparan keras ia dapatkan dari pria yang ditendangnya


"Beraninya kau !". Makinya mendekati wanita itu


"Angeline Ruby.A". Ucapnya membaca name tag wanita itu


"Namamu secantik wajahmu, Nona". Sambungnya dengan mengelus wajah wanita itu


"Kau akan melayani kami semua, Ruby". Terdengar gelak tawa sesudahnya


"Hmpppp". Angeline tahu makna melayani sehingga dirinya terus memberontak dengan sisa tenaganya


Plak... Tamparan kedua ia dapatkan dari pria yang dipanggil bos itu.


"Kau akan menjadi ****** kecilku". Setelah mengatakan itu pria tua itu mendekati wanita dibelakangnya yang juga ikut memberontak sepertinya


Plakk...


Bughh...


Ctasss...


"Arghhhh, hikss". Suara itu yang memenuhi telinga Angeline


"Kau juga akan menjadi jalangku bersama wanita didepanmu". Ujarnya kemudian meninggalkan tempat itu menyisakan pria - pria yang sedang mengeksekusi korban mereka dihadapan korban selanjutnya


"Aku berharap ini bukan akhir dari hidupku, Tuhan". Batin Angeline memejamkan matanya tidak mau mendengar suara - suara menyayat hatinya


Tangisan Angeline berlarut hingga malam hari sudah banyak nyawa melayang didepan matanya. Seketika dirinya menyesali profesi dokternya tidak berlaku ditempat ini.


"Aku berusaha keras menyelamatkan nyawa orang lain, sedangkan mereka dengan mudahnya mengambil nyawa orang lain". Batinnya menatap sendu korban yang sudah dieksekusi


Blam... Pintu dibuka keras menampilkan pria yang sedang menyeret satu wanita paruh baya seusia ibunya kira - kira dan satu anak perempuan seusia dirinya.


Bughh...


Mereka dihempaskan didekat Angeline dengan hidung dan kening yang berdarah. Naluri kedokteran Angeline menguak tapi tidak bisa digunakan dengan kondisinya yang juga sama. Akan menjadi korban eksekusi.


"Arghhhh". Jerit wanita itu saat rambutnya ditarik paksa


Angeline ngilu mendengar teriakan itu membuat mentalnya terguncang.


"Hmpppp". Mendadak Angeline berontak


Bugh...


Angeline terpental cukup jauh akibat tendangan yang didapatnya.


Plakk..


"Kau masih bisa memberontak ternyata. Eh". Ucap pria itu mendekati Angeline


"Ruby ku sayang, berhentilah memberontak. Sebentar lagi kau harus melayani kami, siapkan tenagamu". Ujarnya melepaskan tangannya dari rambut halus Angeline


"Hmppppp". Angeline terus menggelengkan kepalanya diikuti tangisan yang juga dirasakan semua orang ditempat itu


Srekk...


Dorr...


Plakk...


Bughhh..


"Ayo sekarang giliranmu, Anak kecil".


"Hiksss". Tangisnya tidak berlaku ditempat ini


"Arghhh, Sa—kit mom".


"Arghh Arghhh"


Plak...


"Hiksss"


"Ayo kau selanjutnya nona manis". Ucap pria lain mendekati wanita disamping Angeline yang menatapnya memohon pertolongan


"Hikss"


"Arghhh"


"Kau lambat sekali". Maki pria lainnya


"Cepat !"


Plak...


"Arghhh"


"Sshhhhhh"


Angeline melihat bagaimana mereka memperlakukan dua wanita dihadapannya dengan tidak kemanusiaan.


Setelah puas menyiksanya, mereka diseret paksa menuju sekumpulan wanita yang terbaring tidak berdaya.


"Saatnya giliranmu nona cantik". Ucapnya mendekati Angeline


Melihat itu Angeline memberontak sekuat tenaga.


"Hmmpppp". Raung Angeline


Srekkk... Penutup mulutnya dibuka paksa membuatnya langsung berteriak


"Lepaskan aku bajingan. Biadab kalian". Makinya


"Lepasss !"


"Kalian tidak pantas disebut manusia. Kalian lebih pantas disebut hewan. Hewan laknat. Sialan". Serapah Angeline


Plakk...


"Seharusnya sejak tadi aku menghabisimu saja". Ucap pria itu


Plakk...


"Sshhhh". Akibat tamparan keras itu Angeline terjatuh mengenai serpihan kaca pecah sehingga melukai tangan dan kaki mulusnya


Bughh... Bughhh...


"Uhukkk". Darah segar keluar begitu banyak dari mulutnya


Pria itu menendang Angeline lebih dari satu kali ditempat yang sama. Kini tubuh wanita itu dipenuhi memar, bekas luka, luka baru yang mengeluarkan banyak darah akibat serpihan kaca. Sungguh kondisi yang mengenaskan dibanding wanita sebelumnya yang hanya mendapat tamparan dan sayatan dibebarapa bagian tubuhnya.


Srett... Srettt... Sretttt....


Tiga sayatan di paha, lengan, dan perutnya Angeline dapatkan dari pria lainnya—Seperti membunuh secara perlahan.


"Ssshhhhhh". Desis Angeline tidak bisa lagi tertahan


Jika yang lainnya hanya diam menerima siksaan lain halnya dengan Angeline. Wanita itu berontak hebat yang mengakibatkan beberapa pria turun tangan sehingga membuatnya paling mengenaskan ditempat ini.


Plupp... Mulutnya kembali ditempel dengan lem penutup agar tidak mengeluarkan makian lagi.


Angeline melihat sekitarnya dengan kunang - kunang akibat kelelahan, kehilangan banyak darah, luka - luka, ditambah dirinya belum minum dan makan apapun.


Bughhh... Sebelum jatuh pingsan dapat Angeline dengar teriakan beberapa orang yang mulai dikuliti, dicongkel matanya, diambil organ tubuh lainnya.


"Akhirnya pingsan juga wanita ini". Tawa pria tua itu merasa puas sudah menyiksa wanita pemberontak seperti Angeline


"Apa wanita ini kita nikmati saja bos ?". Tawar pria disebalahnya


"Tidak, wanita ini hanya untuk kita siksa bukan dinikmati. Lagipula dia sudah pingsan atau bahkan mati karena siksaan yang kita berikan. Kau mau menikmati tibuh bak manekin ?". Ujar Pria itu memandang Angeline yang sangat mengenaskan


Bughhh... Tubuh Angeline yang pingsan ditendang untuk kesekian kalinya oleh mereka.


Dua wanita sejak tadi memperhatikan kekejaman mereka terhadap sosok Angeline hanya menatap sedih wanita itu yang kini pingsan dengan banyaknya luka menganga yang terus mengeluarkan darah.


"Benar - benar wanita pemberani. Semoga tuhan memberimu umur panjang, Nak". Batin wanita paruh baya yang sejak tadi menyaksikan itu semua


"Semoga kakak baik - baik saja. Terima kasih karena sudah menyelamatkan aku dari siksaan ketiga". Batin wanita disebelahnya.


Sebenarnya wanita itu yang akan disiksa tetapi Angeline memberontak sebagai bentuk perlindungan agar wanita itu tidak disiksa dihadapan ibunya.


#Flashcbak Off


Glek... Dua pria yang melihat rekaman itu mendadak gemetar tidak karuan.


"Apa didalam rekaman itu bukan kalian berdua ?". Ujar Jacob sudah akan menarik pelatuknya karena sedari tadi dirinya memejamkan mata mendengar teriakan memilukan dari Angeline


Dorr... Dorrr...


Dua tembakan Jacob bersarang di tangan kedua pria dihadapannya.


"Arghhhh"


"Arghhhhh"


"Tangan itu yang sudah menampar milikku tanpa ampun, Bukan ?". Jiwa iblis Jacob yang tertahan sedari tadi menguak saat mendengar tangisan pilu Angeline serta melihat darah segar disekujur tubuhnya membuat Jacob mendidih