Dealing With The Devil Prince !

Dealing With The Devil Prince !
DWTDP# Chapter - 38



Chicago, IIIinois — USA


Ting !


Ting !


Dua pesan masuk ke ponsel Jacob mengalihkan perhatian semua orang yang berada di ruangan bernuansa hitam abu - abu itu.


Jacob segera membuka pesan itu.


Phillip


"Tim bayangan sudah menyebar, Master"


Mike


"Kami sudah tiba. Langsung ke penthouse atau lokasi target, Master ?"


Jacob tidak membalas pesan itu justru melanjutkan instruksinya mengenai rencana demi rencana yang sudah disusunnya.


"Jadi kita akan berpencar kali ini, Master ?". Samuel bersuara mewakili semuanya


"Ya".


"Apa kawasannya berjarak sangat jauh antar target ?". Kini Alex yang bertanya


"Jika iya kenapa ? Jika tidak pun kenapa ?". Jacob balik bertanya


"Apa kalian takut ?". Sinisnya


Sontak mereka menggelengkan kepala. Jika mereka takut sekalipun akan memilih diam saja daripada masalahnya berkepanjangan.


"Zayn akan memantau semua kamera disana". Ujar Jacob


"Apa kali ini target kita klan pemula, Master ?". Tanya Samuel berani


Jacob tersenyum smirk mendengar pertanyaan itu.


"Entahlah. Mereka masuk kategori pemula atau abal - abal". Jawabnya tenang namun sinis


Mereka semua terdiam melihat Jacob seperti itu. Seramnya Jacob akan terlihat jelas dimata semua orang ketika sedang berbicara masalah serius namun dengan ekspresi setenang mungkin.


Ting !


Ditengah keheningan yang terjadi, tiba - tiba pesan masuk ke ponsel Jacob.


Jacob membuka ponselnya untuk melihat pesan dari siapa.


Zayn


"Semua sudah dalam kendali, Master"


Dengan menampilkan smirknya, Jacob meletakkan ponselnya kembali ke meja.


Ting !


Baru beberapa detik Jacob meletakkan ponselnya kini kembali berbunyi pertanda ada pesan masuk.


"Ruby ?". Gumamnya tanpa ekspresi


Ruby


"Bisakah membujuk grandmamu untuk membiarkan aku ke apartmentku sebentar saja"


Ting !


Satu pesan lagi masuk dari pengirim yang sama.


Ruby


"Please...."


Ting !


Belum sempat dirinya membalas sudah masuk lagi pesan tentunya dari orang yang sama.


Ruby


"Aku mohon. Jac - Jac"


Jacob tersenyum tipis membaca pesan yang dikirim Angeline.


"Baru pertama kalinya mengirimiku pesan sudah berani memelas seperti ini". Batinnya tertawa dengan menggelengkan kepalanya


Jacob membayangkan bagaimana ekspresi wanita yang selalu memasang wajah keterpaksaan jika bersamanya itu, kini sedang memasang wajah memelas untuk dilepaskan dari genggama harimau. langsung membalas pesan itu.


"Apa ada mas—". Perkataan Alex menggantung ketika Jacob memasang wajah tidak bersahabatnya kepada mereka semua saat ini


Glek


Alex menelan kasar ludahnya melihat tatapan Jacob.


"Sial, aku lupa jika yang duduk dihadapanku ini bukanlah Mark ataupun Vincent yang bisa diajak bercanda. Untung kau masih bis bernafas, Lex !". Gumam Alex menundukkan kepalanya


Sementara Samuel dan Tim X di ruangan itu ikut menatap Alex dengan horor terkecuali Tim A tentu saja.


Jacob kembali fokus ke ponsel digenggamannya.


Ruby


"Tidak boleh ! Untuk apa kembali ke apartment itu ? Apa keperluanmu yang disiapkan Paman Liu tidak cukup ?"


Send. . .


Tidak lama kemudian sekitar dua menit masuk lagi sebuah pesan ke ponselnya.


Ting !


Ruby


"Hisssh kau itu pria. Mana mengerti keperluan wanita yang aku maksud, Tuan Jac - Jac yang terhormat !"


Jacob mengerutkan alisnya tidak mengerti.


Ruby


"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak !"


Send. . .


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Tidak ada lagi tanda - tanda Angeline akan membalas pesannya. Jacob berinisiatif untuk kembali mengiriminya pesan.


Namun saat jari - jarinya mulai mengetik pesan untuk balasan lagi layar ponselnya berubah. Menampilkan layar panggilan masuk.


Drt... Drt... Drt...


Sebuah senyuman meskipun sangat tipis namun dapat disaksikan semua orang diruangan itu terbit dari bibirnya Jacob.


"Master tersenyum ? Astaga".


"Apa benar yang barusan tersenyum adalah Master ?".


"Jika aku seorang wanita maka aku akan mengakui senyuman Master semakin menambah ketampanannya".


"Ternyata benar. Ketika seorang yang terkenal kulkas ratusan pintu saat tersenyum akan mengalihkan sekitarnya".


"Seandainya waktu bisa di perlambat maka aku akan merekam senyuman Master. Oh My God".


Gumam mereka yang terpana melihat Jacob menerbitkan sebuah senyuman.


Mereka itu mafia dari Klan paling di segani. Jika diluar sana mereka dianggap anggota paling beruntung yang bisa bergabung pada Klan X'Dragons.


Maka lain halnya didalam sana. Mereka justru merasa sebuah keberuntungan berpihak kepada mereka.


Bagaimana tidak ? Melihat senyuman sang Master adalah momen terlangka dalam sejarah Klan itu sendiri.


Sedangkan Jacob yang menjadi pusat perhatian sejk beberapa menit lalu pertama kali menerima pesan yang entah dari siapa. Sesekali senyum tipis terbit dibibirnya.


Ruby is Calling. . . .


Klik


Di dering kedua Jacob mengangkat panggilan itu.


"Hmmm".


"...."


"Resta lì finché non torno a casa ! Capisci ?".


(Tetap disana sampai aku kembali ! Kau mengerti !)


"...."


"Non discutere con me, Ruby !"


(Jangan mendebatku, Ruby !)


"...."


"Non c'è bisogno ! Lo zio Liu si prenderà cura dei tuoi bisogni. Stai a casa. Non uscire !"


(Tidak perlu ! Paman Liu akan mengurus kebutuhanmu. Tetap di mansion. Jangan keluar !)


"...."


"Ruby...". Ucap Jacob kali ini terdengar sangat datar seolah tidak menerima bantahan


"...."


Klik


Sebelum Jacob menyelesaikan perkataannya, sambungan telepon itu sudah dimatikan sebelah pihak.


Jika biasanya Jacob yang selalu mematikan sepihak. Maka sekarang Angeline yang melakukannya tanpa peduli apa dan bagaimana tanggapan Jacob.


"Really ? Dua kali ?". Batin Jacob cukup tercengang


Hanya Angeline yang berani mematikan sambungan telepon secara sepihak saat dirinya masih berbicara.


Ting !


Ting !


Jacob membuka pesan itu dengan cepat.


Ruby


"Awas saja jika salah ! Aku akan menendang bokongmu itu jika menemui ku lagi !"


Ruby


"Harus ada sayapnya ! Ukurannya yang kecil saja jangan yang panjang !"


Jacob kembali mengerutkan alisnya benar - benar tidak mengerti.


"Bersayap ?". Tanpa sadar Jacob bersuara cukup nyaring


Semua memusatkan pandangannya kepada Jacob.


"Maaf, Master ?". Samuel bertanya


Jacob menatap mereka semua dengan ekspresi yang tidak terbaca.


Hening


Jacob melihat mereka satu persatu lalu menghembuskan nafasnya berat sebelum mengatakan sesuatu.


"Apa kalian tahu jenis keperluan wanita yang wajib ada di lemari mereka ?". Tanya Jacob sembari menyandarkan punggungnya ke kursi


"Apa sejenis. Ehmm. Itu—". Ucap Alex menggantung sebelum melanjutkan perkataannya menatap Jacob terlebih dahulu.


Jacob menganggukkan kepalanya senagai tanda mengizinkan Alex melanjutkan perkataannya.


"Berbusa dan memiliki pengait dibelakang atau depannya, Ma—ster". Sambungnya sedikit gugup


Jacob semakin mengerutkan alisnya.


Dirinya bahkan mereka semua yang diruangan itu sangat ahli dalam tembak menembak melawan musuh.


Tapi mereka semua minim pengetahuan soal wanita, wajar saja mereka tidak memahami itu.


Apalagi ini persoalan yang sangat bertolak belakang dengan keseharian mereka.


"Bisa kau perjelas ?". Pinta Jacob


Alex akan menjawab namun didahului oleh Samuel yang langsung memahami maksud perkataan Alex barusan.


"B-R-A, Master". Samuel sengaja mengeja tiga abjad itu


Alex menundukkan kepalanya takut Jacob murka.


"Sialan pria ini ! Frontal sekali bicaranya, ck". Maki Alex dalam hati


"Apa ada yang bersayap ?". Tanya Jacob


Mereka tercengang mendengar itu.


"Astaga. Pria yang dijuluki iblis ini benar - benar tidak tahu apa itu bra ?".


"Aku curiga jangan - jangan master ini masih perjaka".


"Mustahil Master tidak tahu bentuk bra seperti apa ?".


"Dia ini pura - pura polos atau memang tidak tahu ?".


"Apa tahun ini pabrik bra mengeluarkan model terbaru dengan sayap ?".


"Bra mantan - mantanku tidak ada yang bersayap. Apa itu model baru ?".


"Aku tidak percaya ini. Oh My God. Aku harus memberitahu Mark. Dia pasti akan tertawa mendengar ini".


Lagi - lagi mereka semua bergumam menilai Jacob seperti bayi yang sangat polos saat ini.


"Sam ?". Suara Jacob menyadarkan mereka semua


"Bra tidak ada yang bersayap, Master. Hanya ada yang menggunakan tali ataupun tidak sama sekali". Jawab Samuel


Jacob semakin tidak mengerti.


"Apa semua kebutuhan wanita menyusahkan seperti ini ?". Gumamnya mulai kesal


Hening


Ting !


Satu pesan masuk ke ponselnya menghentikan keheningan mereka.


Ruby


"Warnanya harus yang biru dan hijau ya. Aku tidak bisa memakai warna lainnya"


Setelah membaca itu Jacob semakin dibuat kebingungan.


Karena permintaan Angeline ini diluar nalarnya Jacob sendiri.


"Apa lagi ini ? Warna biru dan hijau ?". Batinnya


Jacob menghela nafasnya kasar.


"Apa ada yang berwarna biru dan hijau ?". Tanya Jacob tanpa menyebut nama tujuan pertanyaannya dilontarkan


Mereka semua menganggukkan kepala menanggapi kepolosan Jacob yang tentu saja membuat mereka terkejut.


Benarkah Jacob sepolos itu ?. Entahlah. Hanya Jacob dan author yang tahu.


Merasa sudah mendapat jawaban dari dua pertanyaannya. Jacob segera mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk dikirimkan kepada seseorang.


Phillip


"Pergi ke mall sekarang !"


Send. . . .


Ting !


Ting !


Phillip


"Butuh pakaian baru dari Ms.Jane. Again, Master ?


Phillip


"Atau ada beberapa perhiasan lagi yang sudah selesai dibuat ?"


Phillip


"Bukan itu !"


Send. . .


Selang dua detik kemudian Phillip langsung menghubunginya.


Drt... Drt... Drt...


Phillip is Calling. . . .


Klik


"...."


"Carikan beberapa keperluan wanita yang sangat mereka butuhkan di waktu tertentu !". Titah Jacob datar


"...."


"Aku tidak tahu. Yang jelas kau carikan saja di mall !".


"Harus yang bersayap !". Sambung Jacob


"...."


"Warnanya harus biru dan hijau ! Awas saja jika salah warna !". Serunya dingin


"...."


"Jika kau masih tidak ketemu langsung hubungi Paman Liu saja. Aku sibuk setelah ini !". Ujarnya


"...."


"Beli semua saja jika sudah ketemu. Antar langsung ke mansion utama !". Titah Jacob lagi


Klik


Jacob mematikan sambungannya sepihak.


Karena merasa semuanya pasti bisa ditangani oleh Phillip, Jacob memilih melanjutkan kembali pembahasan yang tertunda karena kebutuhan yang Angeline debatkan tadi.


Dua puluh menit berlalu, Jacob akhirnya selesai menjelaskan rencana demi rencana yang sudah di buatnya.


Kini mereka sudah bisa fokus lagi kepada misi yang akan mereka jalankan tengah malam ini.


Melupakan sejenak kepolosan sang Master dan juga permasalahan seputar wanitanya yang sempat menghentikan kegiatan mereka.