CINDERELLA SOMPLAK!!

CINDERELLA SOMPLAK!!
CS ~ Bab 98. Di usir



...•°•°•°•...


Di ruang tamu, semua orang tengah duduk terkecuali Cinderella yang sedang berkacak pinggang menatap sodara tiri dan ibu tirinya.


Amarah yang ada di dalam hati belum sepenuhnya mereda, namun Agam selalu mengingatkan jika dia harus lebih bersabar karna ada anak di dalam perutnya ... yang mana membuat Cinderella membuang nafas secara perlahan dan meredakan emosinya.


"Maafkan aku Ella, aku salah." Nungky memohon ampunan dari Cinderella.


''Apa yang ada di otak mu HAH!'' Cinderella mentoyor kepala Nungky yang tengah berlutut di depannya.


''Aku tau aku salah, maafkan aku yang selalu iri padamu ... maafkan aku yang selalu mencari gara-gara denganmu, tapi aku mohon jangan usir aku dan ibuku dari rumah ini ... kami tidak punya tempat tinggal lagi."


''Aku nggak perduli!''


''Aku mohon Cinderella.'' Nungky masih bersikukuh memohon agar tidak di usir dari rumah ini, ia tidak mau jadi bahan ejekkan teman-teman nya jika tau dia di usir dari rumah mewah ini.


Biarlah dia memohon untuk kali ini saja, agar harga dirinya di depan teman-teman kampusnya tidak turun.


Sedangkan Cinderella memijat keningnya, ''Begini saja ... lebih baik kalian berdua pergi dari rumahku! aku muak menampung benalu yang tidak tau diri seperti kalian.''


''Ella ... Nak, kalau kamu mengusir istri Ayah trus nasib Ayah bagaimana?'' Ayah Haris mencoba untuk membujuk putrinya. "Nungky juga sudah minta maaf padamu, apa salahnya memaafkan apa yang sudah berlalu.''


''Nasib Ayah?'' ulang Cinderella menatap sang Ayah, ''Kalau Ayah tidak mau di tinggal oleh istri Ayah, kenapa Ayah tidak ikut saja bersama mereka dan tinggal di luar sana?'' Ucap Cinderella dengan enteng, ia tidak mau memaafkan Nungky begitu saja.


Bukan ia tak perduli dengan nasib sang Ayah, namun jika Nungky di biarkan begitu saja akan beresiko untuk keutuhan rumah tangganya di masa depan.


Ia tidak mau kehilangan suami, apa lagi ia tengah mengandung buah cinta mereka ... walau sejatinya Cinderella percaya dengan Agam, bahwa dia tidak akan melakukan pengkhianatan dalam hubungan mereka.


Tapi untuk berjaga-jaga itu juga perlu, apa lagi melihat Klarisa memeluk suaminya tadi siang membuat darah Cinderella mendidih. Tidak memungkin'kan jika akan ada bibit Klarisa-Klarisa selanjutnya dan bibit si Ulat keket berbulu domba, yang akan membuat dia gila.


''Kau mengusir Ayah, Nak?'' Ayah Haris tak percaya jika putrinya berani mengusir Ayah nya sendiri.


''Aku tidak mengusir Ayah, aku hanya memberi solusi pada nasib yang di pertanyakan Ayah padaku tadi.'' Seperti biasa, jika Cinderella bisa memainkan kata agar sang lawan bicara tidak berkutik.


''Bukannya itu sama saja mengusir?'' kini Amora ikut bicara.


Cinderella menyunggingkan bibirnya, "Tentu saja itu berada, Ayah mempertanyakan bagaimana nasib dirinya jika kau pergi dari sini ... dan aku mengusulkan untuk Ayah ikut denganmu. Berbeda halnya dengan mengusir!'' Ucap Cinderella, padahal intinya sama saja..


Amora terdiam ...


Cinderella semakin menyunggingkan bibirnya. ''Dan lagi, aku tidak bisa memaafkan anakmu yang sudah diluar batas pemikirannya ... lebih baik kalian pergi dari sini, dan bawa barang-barang kalian! Dan Ingaat, hanya baju bukan perhiasan dan uangku.''


''Cinderella kau itu jahat sekali!'' Bentak Amora, "Kenapa kamu nggak bisa memaklumi Nungky? mungkin saja dia khilaf dan kamu harus memaafkan sodara mu."


''Aku tidak mau memaafkan anakmu, dan aku tidak bisa memakluminya ... apa kau baru menyadari jika aku ini jahat? kemana saja selama ini ...? dan lagi, kau telah berani memasak ikan kesayangnku! apa kau tau satu harga ikan yang kau masak?''


"Ka-."


"Sudahlah, lebih baik kalian pergi secepatnya di bandingkan aku usir secara paksa."


"Cinderella, Nak. Ayah mohon jangan seperti itu.''


''Aku tidak memaksa Ayah untuk pergi dari sini, tapi Cinderella mohon ... pikirkan baik-baik jika Ayah ingin ikut dengan mereka. Jika saja Tante Amora mau menyanyangiku seperti dia menyayangi Nungky, mungkin aku bisa menerima kehadirannya." Ucap Cinderella melangkah pergi dengan terburu buru ke lantai atas.


Agam melihat mertunya merasa iba dan kasihan, ia pun mengelus pundak Ayah mertuanya. "Sabar Ayah, aku akan mencoba untuk membujuk Cinderella ... tapi akan lebih baik untuk sekarang, kalian mengikuti perkataan Cinderella untuk mendinginkan suasana." Ujar Agam melangkah pergi untuk menyusul Cinderella..


"Ayo kita pergi dari sini, suasana hati Cinderella sedang memanas. Mas yakin jika Cinderella akan memaafkan Nungky, namun tidak sekarang.''


Amora menghela nafas dan mengangguk. ''Baik Mas, aku ikut saja.'' Ucap Amora yang sudah pasrah.




Perlahan Agam membuka pintu kamar Cinderella, mengintip sang istri yang pasti tengah bersedih dan terluka. Agam masih beruntung karna sang istri mempercayainya jika dia tidak pernah bermain api dengan perempuan lain, bisa ia bayangkan jika Cinderella percaya apa yang di bicarakan oleh Klarisa? Mungkin nasibnya akan sama seperti si Nungky yang babak belur..


''Sayang ...''


Agam memanggil Cinderella yang tidak ada di mana-mana, lalu Agam berjalan ke arah balkon namun tak ada batang hidungnya sang istri.


''Kemana dia? aku lihat dia masuk ke kamar ini kok nggak ada yaa.'' gumam Agam.


Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sang istri yang tengah mengelus perutnya.


''Kau di kamar mandi?'' Agam lupa untuk memeriksa kamar mandi.


Cinderella mengerutkan keningnya. "Memangnya aku harus di mana? Ahh ... leganya perutku sudah mengeluarkan apa yang di tahan sejak tadi.''


''Kau habis Pup?'' pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Agam, karna Agam pikir jika Cinderella sedang bersedih di bawah selimut. Tapi nyatanya Cinderella tetaplah Cinderella yang somplak dengan kelakukan nya.


Di saat Agam berpikir jika Cinderella tengah bersedih, tapi sang empu malah enak enakkan ngeden dengan tenang di kamar mandi.


''Pertanyaan apa itu? tentu saja jika seseorang terburu buru ke kamar mandi, yaa ... pengen bokerlah. Aahhh sudahlah, ayo kita ke lantai bawah dan melihat mereka pergi dari rumah ini.'' Ucap Cinderella dengan semangat, namun Agam menghentikan langkahnya.


''Kamu benar-benar harus di beri pelajaran yaa ... ''


''Kamu mau apa?'' tanya Cinderella melihat Agam membuka baju dan celananya.


''Memberi pelajaran pada mu.''


''Aahk ... aku takut.'' Ucap Cinderella, namun tangannya malah membuka sleting baju yang dia pakai, lalu membuka dan membuang baju itu kesembarang arah. ''Touch me wherever you want."


Cinderella tetaplah Cinderella yang somplak, ia tidak akan merasa sedih hanya kerna hal sepele ... apa lagi menyangkut si penyihir Meksiko dan si Ulat keket berbulu domba.




Sedangakan Ayah haris tengah membantu istrinya untuk berkemas. Amora tengah memandangi perhiasan miliknya lalu melihat kanan kiri dan mengambil beberapa perhiasan dan memasukkan nya kedalam saku celana.


''Aku tidak mau hidup susah, cepat atau lambat aku pasti akan menempati rumah ini lagi.'' Gumam Amora dalam hati.



...••••••...


...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA...


...Jangan lupa dukungannya, like setelah membaca....