
...•°•°•°•...
Malam hari•
Seperti biasa malam hari Agam menutup pintu dan jendela, memastikan jika semuanya sudah aman lalu ia melangkah ke lantai atas. Namun belum juga melangkah Lulu memanggilnya dari depan pintu kamar tamu. ''Nak.''
Agam menoleh dan tersenyum. ''Kau belum tidur mom?''
Lulu menggelengkan kepalanya. ''Belum, bisa kita bicara dulu sebentar saja?''
''Tentu saja mom, mau aku bikinkan coklat hangat?''
''Boleh, mom tunggu di ruang tamu.''
Agam pun melangkah ke arah dapur untuk membuat coklat hangat, sedangkan mom Lulu sudah duduk di ruang tamu..
•••••
Kini duduklah dua orang ibu dan anak, meminum coklat hangat di tangan mereka masing-masing..
''Nak, selama kau disini apa yang kau lakukan dan pelajari?'' tanya Lulu tanpa melihat Agam dan lebih fokus ke coklat hangat di tangannya..
''Tidak ada?''
Lulu menoleh dan mengerutkan keningnya. ''Kau tidak bekerja?''
Agam menggeleng. ''Tidak, sudah dua kali aku mencoba untuk bekerja tapi berakhir pengunduran diri.''
''Apa Cinderella tidak pernah meminta uang bulanan padamu?''
''Dia tidak membutuhkan uang, yang dia butuhkan hanya aku heheh.'' Guyon Agam membuat Lulu marah.
''Dasar anak durhaka di penuhi dengan jaham! bagaimana bisa kamu tidak pernah memberikan uang bulanan pada istrimu'' Lulu menjewer telinga anak sulungnya..
''Aiiiiii__ Habisnya Cinderella nggak pernah nanya mom, dia juga nggak pernah minta uang padaku.''
Plaaakkk... Lulu memukul bahu Agam dengan kencang. ''Astagfirullaaaaah ya ahli kubur, dimana otak cerdasmu di taruh hah?''
''Apa kamu nggak kasihan melihat penampilan istri mu yang begitu sederhana, sedangkan sodara tirinya bagaikan putri konglomerat.'' dengus Lulu melipat kedua tangannya..
Agam yang melihat ibunya merujuk hanya tersenyum, ia kenal betul bagaimana sikap penyayang sang ibu. Namun Agam mengira jika sang ibu sudah keliru dengan istrinya.. ''Mom.''
Mom Lulu membuang muka, seakan dia enggan untuk di sentuh sang anak.
''Mom, bukankah seharusnya kau beruntung mendapatkan menantu sederhana seperti Cinderella? Kau tau mom aku menyukai kesederhanaan nya, dia tidak malu untuk terlihat sederhana walau dia akan mewarisi seluruh harta ayahnya.''
''Tapi bagaimana pun dia sudah menjadi istrimu, dia sudah tanggung jawabmu di dunia mau pun di akhirat nanti. Walau dia tidak pernah bertanya dan meminta uangmu, tapi kamu harus peka dan menyadarinya.''
''Baik mom, terimakasih sudah mengingatkan.'' Agam mengalah karna dia merasa jika perkataan sang ibu ada benarnya.
''Dan satu lagi, jaga jarak pada sodara tiri Cinderella! entah mengapa aku mempunyai firasat buruk saat melihatnya.''
Agam mengangguk.''Baik mom.''
''Yasudah jika kamu sudah mengerti, mom ngantuk mau tidur byeee.'' mom Lulu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamarnya, begitu pun dengan Agam yang melangkah ke lantai atas di mana Cinderella sudah tertidur pulas..
•••••
Setelah sampai di kamarnya Agam melihat jika istrinya sudah terlelap tidur, ia pun naik ke atas peraduan membuka selimut dan memeluk Cinderella dari belakang..
''Umm.'' Cinderella berbalik badan dan memeluk Agam, menyembunyikan wajahnya di leher sang suami.''Kenapa baru ke atas?'' Tanya Cinderella dengan suara purau..
''Habis ngobrol sama mom di bawah.''
''Ummm.''
''Yank, boleh aku tanya sesuatu?''
''Apa?''
''Untuk apa? aku sudah memiliki banyak uang walau ayahku jarang memberikan aku uang tapi aku punya para tuyul untuk menghasilkan aku uang.'' Guyon Cinderella yang membuat Agam terkekeh, berbicara serius dengan istrinya sama halnya berbicara dengan pelawak...
''Aku serius sayang.''
Cinderella mendongkakkan wajahnya, menatap mata Agam dengan dalam. ''Aku tidak butuh uang mu, aku juga tidak perduli apa pekerjaan mu! yang aku butuhkan hanya kamu selalu ada di sisiku mencintaiku sepenuh hatimu.''
Agam tersenyum. ''Tentu saja, kau segalanya bagiku.'' jawab Agam membuat tubuh Cinderella berdesir, lalu Cinderella mendaratkan bibirnya hingga kedua bibir itu saling bertautan dan mencicipi rasa satu sama lainnya..
Tangan Agam menyusup kedalam gaun tidur yang Cinderella pakai, meraba punggung mulus sang istri hingga tanggan itu dengan tidak sopan meremas gundukkan sintal yang sedang membusung..
Angin malam berdesir, suara-suara ambigu kian terdengar saat Agam sudah memulai kegiatan mereka memadu kasih dan merajut keringat penuh cinta..
•
•
•
•
Di sisi lain•
Siska bagun dari tidurnya, entah mengapa dia sangat gelisah saat ia merasakan jika perutnya merasakan mulas tapi setelah itu hilang lagi..
''Ada apa denganku? masa mau melahirkan sekarang sih, kan dua minggu lagi kata dokter nya juga.'' gumam Siska dalam hati lalu tangan Siska terlentur mengambil ponselnya di atas anaks, menelpon Novi untuk menemaninya tidur karna Siska takut jika dirinya terjadi sesuatu atau pingsan dan lain sebagainya..
Namun sekian lama menelpon tak kunjung ada jawaban dari Novi, Siska pun turun dari ranjang dan melangkah ke ruang tamu..
''Ahkk.''
Rasa mulas itu datang lagi, membuat Siska menghentikan langkahnya lalu menelpon Gano karna Siska tidak punya pilihan lain lagi..
[Bisa kau kesini? perutku mulas.]
Hingga tak lama Gano mengetuk pintu lalu Siska membuka pintu. ''Apa perlu kita ke dokter?'' tanya yang sudah ada di depan Siksa dan Gano berlari dari rumahnya karna khawatir saat Siska menelponnya..
''Tidak perlu, perutku hanya mulas.'' Siksa duduk di sofa dengan hati-hati, di ikuti oleh Gano dari belakang dan duduk tak jauh dari posisi Siska..
''Tidurlah di sini, biar aku menjagamu.''
''Tapi perutku mulas.'' rengek Siska yang sudah tidak canggung lagi dengan Gano.
''Mau aku elus?'' tanya Gano berharap jika Siska mau dia sentuh..
Siska diam sejenak lalu mengangguk. ''Boleh di coba.'' Siska membaringkan tubuhnya, lalu Gano dengan hati hati mengelus perut buncit yang di dalamnya ada darah dagingnya sedang menanti untuk lahir le dunia..
Elusan Gano di perutnya terasa nyaman, hangat, dan penuh damba. Membuat Siska menyunggingkan bibirnya dengan perlakukan Gano yang lembut penuh Cinta, hingga Siska berpikir apakah dia harus memaafkan Gano untuk semua kesalahannya? menjalin kasih dengan lembaran baru demi anak yang dia kandung?
''Gano, apa kamu benar-benar telah berubah?'' tanya Siska membuat Gano yang sedang mengelus menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Siska.
''Aku sedang mencoba untuk merubah sikap, sifat dan kelakuanku, aku sudah cukup menyadari semua kesalahanku padamu dan pada kakakku.''
''Jika aku memberikan mu kesempatan, apa kamu tidak akan bersikap kasar lagi padaku?''
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Gano berdetak kencang, hatinya seakan berbunga dengan ucapan yang terlontar dari mulut Siska. apakah benar dia akan di beri kesempatan kedua oleh wanita yang sedang mengandung anaknya? jika benar ia akan merubah semuanya dan tidak akan menyakiti ibu dari anaknya, dia akan memberikan seluruh jiwa, cinta dan hidupnya..
''Siska kamuuu..''
•
...••••••...
...JANGAN LUPA ...
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA NYA YAAAA...