
''Kau?"
Jantung Siska bergetar tak karuan saat netra matanya melihat seorang pria masuk kedalam tokonya dengan senyuman manis di wajahnya, bibir Siska bergetar dengan mata sudah berkaca kaca menahan sakit di dalam hatinya takkala ia mengingat masa-masa sulit dalam hidupnya.
''Siska.''
Gano melangkah menghampiri Siska, namun tanpa di sangka suatu benda melayang di atasnya bersamaan dengan suara teriakkan Siska yang menyuruhnya pergi dengan lantang.
''Pergi kamu dari sini, brengsek! mau apa kau datang kemari HAH.'' Siksa terus menghujami Gano dengan benda-benda yang ada di dekatnya, sedangkan Gano mencoba menghindari semua itu..
Semua karyawan dan orang-orang yang akan membeli kue menyingkir menghindari amukan sang pemilik toko, mereka semua takut dan hanya bisa menonton karna tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Terlebih takut terkena hantaman barang yang sedang melayang di udara..
''Siska tolong hentikan, aku hanya ingin bicara dengan mu.'' Gano perlahan menghampiri Siska walau ia terkena hantaman barang yang membuat tangannya sakit karna melindungi kepalanya..
''Dasar bedebah sialan! terkutuk! pergi kau ke neraka, aku tidak mau berbicara dengan mu! pergi kamu dari hadapanku.'' Teriak Siska yang akan melempar meja ke arah Gano namun Siska tidak kuat untuk mengangkatnya..
''Aku hanya ingin berbicara dengan mu, aku berjanji hanya berbicara sebentar saja aku mohon Sis.'' dengan lancangnya Gano memeluk Siska di depan para pembeli dan para karyawan di tokonya.
Sejenak Siska tertegun dengan pelukan Gano, tubuhnya menegang takkala ia teringat beberapa bulan yang lalu saat ia memohon agar Gano tetap tinggal bersamanya namun pria ini malah pergi dan mencampakkan dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
''Lepas! lepaskan aku.'' Siska memberontak namun Gano tetap memeluk.
''Plis aku ingin bicara.''
''Lepaskan!lepaskan!lepasakaaaannn!! Siska berteriak memukul bahu Gano, namun Gano masih tak bergeming..
Setelah cukup lama Siska memberontak dan berteriak membuat ia lelah sendiri memejamkan matanya, lalu mengisyaratkan pada salah satu karyawan nya untuk menyuruh semua orang pergi dari sini.
Karyawan itu mengangguk lalu mempersilahkan semuanya untuk keluar dan meninggalkan Gano dan Siska saja.. ''Bisa kau lepasakan? semua orang sudah pergi.'' Ketus Siska.
Gano melepasakn pelukannya lalu mundur satu langkah dari Siska. ''Maafkan aku sudah lancang memelukmu.''
''Kau dari dulu sudah lancang dan merusak hidupku! aku tidak heran dengan kalaluan mu. Jadi untuk apa kau kesini Hah, jangan membuang waktu ku karna aku merasa ingin muntah melihat wajah mu. Cuih, kau kesini ingin meminta maaf itu percuma Gano! maaf mu tidak akan bisa membuat hidupku kembali kesemula.'' Siska masih mode on ketus sampai-sampai matanya melotot ingin keluar.
Gano tidak merasa tersinggung, malah ia tersenyum melihat Siska marah padanya ia sadar dengan kesalahan nya. ''Maafkan aku.''
''Elleeeeh sudahlah, tidak ada lagi yang harus maaf dan di maafkan! aku sudah melupakan semuanya dan hidup tenang tanpa mu.''
Gano terdiam lalu mengenggam tangan Siska, walau Siska memberoktak tidak ingin di sentuh oleh Gano tapi bukan Gano namanya kalau tidak memaksa..
Gano kembali teringat bagaimana ia selalu memaksa Siska melakukan hasratnya, walau Siska menjerit sakit dan meminta ampun tapi Gano seakan menulikan pendengaran nya.. ''Apakah kita tidak bisa kembali bersama Sis? Aku berjanji akan menjaga mu dan bayi kita.''
Deg..
Jantung Siska ingin melompat dari tempatnya saat ia mendengar jika Gano menyebutkan bayi kita?
''Apa maksudmu! jangan mengada ngada kamu.'' Siska menepis tangan Gano..
''Siska ak__
Gano tidak bisa meneruskan perkataannya saat pintu terbuka menampilkan seorang pria dengan nafas memburu, lalu melangkah ke arah Siska. ''Kamu nggak papa?''
Siska menggeleng. ''Aku nggak papa ko.''
Satria menoleh pada Gano lalu menoleh lagu pada Siska. ''Apa kalian sudah selesai berbicara? kalau sudah ayo kita pergi.'' Ajak Satria menggenggam tangan Siska keluar dari Toko..
•
DI SISI LAIN•
•
...•••••...
Agam mengintip Cinderella yang sedang membuat makanan untuknya. Agam tersenyum namun dengan mata menyipit memikirkan bagaimana cara agar membuat Cinderella menjadi milik dirinya seutuhnya.
Dua kali gatot (gagal total) untuk mengajak istrinya pergi ke nirwana, membuat Agam memikirkan bagaimana caranya namun semakin di pikirkan membuat ia sakit kepala dan menyerah..
Agam pun melangkah dengan gontai lalu memeluk Cinderella dari belakang, menumpukan dagu nya di bahu Cinderella. ''Kau sedang membuat apa sayang."
"Uh, kau mengejutkan ku.'' Cinderella terkejut dan merasa geli sekaligus karna Agam menggesek gesekkan bulu jambang di area bahunya..
''Sedang menata makanan untuk kita makan.''
''Kau yang memasaknya?'' bisik Agam dengan sensual.
''Ti_ umhh tidak, bibi yang memasaknya.'' lirih Cinderella menelan ludahnya saat Agam meraba perutnya..
''Dimana bibi?'' Tanya Agam yang masih asik mengecup tengkuk Cinderella.
''Khemm, bibi sudah pu_ pulang baru saja. Agam sepertinya aku harus mandi dulu.'' Cinderella mencoba melepaskan pelukan Agam. Karna ia ingat jika bajunya terkena terigu di campur obat gatal untuk para benalu di rumah ayahnya..
''Baiklah, mandi yang bersih aku lapar.'' Agam melepaskan pelukannya dan membiarkan Cinderella untuk mandi. Namun Cinderella tidak tau arti lapar yang sesungguhnya dari perkataan Agam.
''Ya sudah aku ke atas dulu nanti kita makan sama-sama.'' Cinderella melangkah ke arah kamar tanpa ada rasa curiga dalam hatinya..
Sedangkan Agam tersenyum penuh makna, saat mata tajamnya memperhatikan Cinderella berjalan masuk kedalam kamar.
Setelah melihat Cinderella masuk kedalam kamar, Agam langsung berlari ke arah pintu depan dan langsung menguncinya, menutup jendela dan gordeng lalu berlari ke arah belakang dan menguncinya dengan rapat hingga semut pun tidak akan ada yang berani masuk.
Setelah semua pintu dan jendela tertutup rapat seperti malam hari, Agam pun melangkah dengan riang gembira ke lantai atas untuk menyusul Cinderella mandi..
''Yes, yes, yes hayuu kita Wik-wik.'' Gumam Agam berjoget menaiki anak tangga dengan riang..
Sedangkan Cinderella yang sudah berada di kamar mandi, tiba-tiba ia merasakan tak enak hati lalu Cinderella meraba dadanya yang bersetak kencang. ''Uh kenapa kok jadi nggak enak hati gini yaaa, akankah sesuatu akan terjadi?'' Gumam Cinderella lalu menggidikkan bahunya tak mau ambil pusing.
Cinderella pun melepaskan semua bajunya, lalu menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. Cinderella belum menyadari kalau sebentar lagi ada buaya darat yang akan menerkam dirinya..
•
...•••••...
...Akankah Agam berhasil menjebol gawang kali ini?...
...Jangan lupa ya Ziyeng apresiasi nya untuk like di setiap bab lalu komen....
...LIKE.KOMEN.VOTE.BUNGA....