
Hari pernikahan pun tiba. Anindira kini sedang duduk sambil menatap cermin. Melihat dirinya yang tengah dirias. Wajahnya yang sudah cantik alami ditambah lagi dengan sentuhan tangan berbakat membuat dirinya terlihat sangat cantik dan menawan.
Sapuan makeup yang tidak terlalu tebal namun terlihat sempurna di wajahnya.
Ia senang melihat dirinya di cermin, pasalnya ia tidak pernah berdandan seperti ini dan secantik ini.
Ibu, Ayah. Apa kalian melihatku?
Kalian pasti terkejut melihat diriku sekarang, aku terlihat cantik bukan?
Aku memakai baju pengantin,
Aku akan menikah sekarang. Ucapnya dalam hati sambil memandang foto Ayah dan ibunya yang ada di ponselnya.
Anindira sedih karena dihari pernikahannya orang tuanya sudah tidak ada.
"Apa itu foto orang tua nona?, Kenapa Nona bersedih?". Tanya perias wanita yang tengah merias wajah Anin.
"Iya ini orang tuaku. Mereka sudah meninggal". Ucapnya sambil mengusap layar ponselnya yang masih menampilkan foto orang yang sangat disayanginya itu.
"Yang sabar ya nona. Anda pasti sangat sedih, di hari bahagia ini orangtua anda tidak bisa mendampingi".
Hari bahagia katanya.
Anindira terus melamun. Ia sedih, meskipun ia menikah dengan terpaksa tetap saja ini hari yang besar baginya dan orang tuanya tidak bisa mendampinginya.
"Jangan menangis ya nona". ucap MUA yang tengah mendandani Anin, ia takut air mata Anindira akan merusak riasan makeup nya.
"Tenang saja, air mataku sudah kering".
"Satu langkah lagi". ucap sang perias sambil memilih warna lipstik mana yang akan dipakaikan ke bibir Anin. "Ini dia", mengambil lipstik berwarna merah muda. "Warna ini akan cocok dibibir nona". ucap perias muda itu Sambil memakaikan lipstik ke bibir Anin yang memang sudah merah alami.
"Selesai". Ucap perias setelah memakaikan lipstik.
"Wahh. . . Nona cantik sekali".
"Terimakasih, berkat kamu".
"Nona memang cantik. Dipoles sedikit saja sudah sangat cantik".
Anindira hanya tersenyum.
Nyonya Hanna datang ke kamar tempat Anindira dirias. Ia ingin melihat calon menantunya itu sekalian akan menjemputnya. Seperti yang sudah ia duga bahwa Anindira pasti akan terlihat sangat cantik.
"Sayang kau cantik sekali. Aku memang tidak salah pilih menantu. selain hebat dan berbakat kau juga dianugerahi wajah yang sangat cantik". Ucap Hanna memandang wajah gadis yang sebentar lagi resmi menjadi menantunya itu
"Apa kau sudah siap?'.
"Sudah Tante".
"Baiklah ayo". Sambil menggandeng calon menantunya itu. dengan full senyuman dibibirnya.
Mereka pun mulai berjalan menuju taman. Hanna memilih taman sebagai tema pernikahan putranya itu. Karena ia ingin acara pernikahan yang santai. dengan dihiasi bunga-bunga yang indah di sekeliling taman dengan dekorasi yang dirancang pihak WO profesional, Membuat taman ini luar biasa indahnya. dilengkapi dengan cuaca cerah dan angin sepoi-sepoi membuat acara hari ini berjalan dengan lancar.
Para tamu duduk dikursi yang tersusun rapi di taman itu. Tamu yang diundang hanya keluarga dan kerabat dekat saja.
Sesuai permintaan Aksan. karena dia tidak ingin banyak sekali orang yang datang.
Semua mata tertuju pada Anindira, tak terkecuali Aksan calon suaminya. para tamu pun banyak melayangkan pujian, banyak pula gadis-gadis yang iri padanya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Anindira memang sangat cantik mempesona. Riasan yang tidak terlalu berlebihan menyatu di wajah yang memang sudah cantik alami itu. Ditambah dengan gaun pernikahan yang simpel namun tetap terlihat mewah berwarna putih panjang yang dipakainya membuat penampilannya sangat sempurna.
Wahh Anin kau seperti putri kerajaan.
batin Kanaya kagum melihat sahabatnya itu.
"lumayanlah, not bad" ucap Bella melihat calon kakak iparnya.
Anindira tahu pernikahan ini didasari bukan karena cinta, melainkan dengan perjodohan dan keterpaksaan. Namun dirinya sudah bertekad akan menjalaninya dengan segenap jiwanya.
Anin berdiri disamping Aksan yang memakai setelan jas berwarna hitam. Mereka berdua terlihat sangat serasi.
"Pasangan serasi".
"Cantik dan tampan".
Pernikahan pun dimulai. Aksan dan Anin duduk berdampingan. Jantung Anindira berdegup kencang saat Aksan mulai mengucapkan ijab kabul, namun Aksan mengucapkannya dengan sangat tepat. Aksan memang sudah berlatih agar tidak salah mengucapkannya.
Semua orang merasa lega. Bahkan orang yang baru saja mengucapkan kalimat sakral barusan juga lega.
Aksan mulai memasangkan cincin berlian dijari manis Anindira yang beberapa detik yang lalu resmi telah menjadi istrinya.
Anin melihat cincin yang sudah melekat di jarinya itu. Cincin dengan batu permata yang sangat indah dan mahal pastinya.
Kemudian giliran dirinya yang akan memasangkan cincin dijari Aksan.
Semua orang bertepuk tangan setelah mereka saling bertukar cincin.
Anindira bingung dengan perasaannya. Entah dia harus senang atau bagaimana dengan pernikahan ini.
"Apa kau senang?, Tentu saja kau senang. Semua wanita memang seperti itu". Bisik Aksan ditelinga Anin.
"Apa maksud anda?".
Anin tidak mengerti apa maksud dari perkataan Aksan, pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Aksan hanya menarik ujung bibirnya tidak menjawab pertanyaan Anin.
Apa maksud dia?
Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, semua orang memberikan selamat kepada mereka.
Semua orang senang dan menikmati pestanya. Namun tidak untuk kedua mempelai.
"Akhirnya kalian resmi menjadi pasangan suami istri. Mama sangat senang." Ucap Hanna terharu dan juga bahagia, tentu saja dia yang paling bahagia di sini.
"Anindira akhirnya kau menjadi menantuku".
"ingatlah pernikahan bukanlah permainan. Kalian harus menjaga hubungan kalian!". Ucap Tuan David memperingatkan, meskipun dia tahu pernikahan ini hasil paksaan dari istrinya tapi dia berharap tidak akan ada kata perceraian yang akan membuat malu keluarganya.
"Baik pa". jawab Aksan
Tuan David dan istrinya pun pergi untuk melayani para tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka.
"Selamat ya Aksan akhirnya kau menikah. Istrimu juga sangat cantik. kau sangat beruntung"
Ucap Kevin sepupu Aksan sekaligus rekan bisnisnya. Kevin adalah salah satu sepupu Aksan yang sangat menjengkelkan baginya.
"Awalnya aku ragu kau bisa move on dari Tamara, tapi ternyata kau benar-benar melupakannya." ucap Kevin dan langsung mendapat tatapan tajam dari Aksan.
"Jangan pernah kau sebut namanya lagi". Ucap Aksan ketus.
"Baiklah baiklah". Kevin memang suka membuat Aksan jengkel tapi dia juga takut jika Aksan sudah marah.
Siapa Tamara?. Kenapa dia tidak suka saat namanya disebut. Batin Anindira.
Setelah Kevin memberikan selamat kepada mereka diapun pergi.
Kanaya datang menghampiri mereka. "Aninn selamat yaa. Kau sangat cantik". Ucap Kanaya memeluk Anindira. Mereka berpelukan sangat lama. tidak bisa dipungkiri bahwa Kanaya sedih melihat sahabatnya ini harus menikah dengan terpaksa. dia mengkhawatirkan masa depan sahabatnya itu.
Setelah melepas pelukannya. Kanaya juga memberikan selamat kepada Aksan. "Selamat Tuan Aksan atas pernikahannya". Ucapnya lagi kepada Bos besar di perusahaan tempatnya bekerja itu.
"Hemm". Jawab Aksan hanya dengan berdehem. Lalu meninggalkan mereka berdua.
"Ohya Dimana kak Kenan?" tanya Anin setelah Aksan pergi.
"Aku juga tidak melihatnya dari tadi".
"Aku rasa dia tidak datang. Sudah kubilang kan dia itu menyukaimu. Mana mungkin dia datang di acara pernikahan orang yang dicintainya. Hatinya pasti hancur sekarang ini".
"Mana mungkin seperti itu. ku rasa dia sibuk. telpon ku saja tidak di angkat, pesanku juga tidak dibalas." Anin tidak ingin memikirkan hal itu. dia sudah terlanjur menyayangi Kenan sebagai seorang kakak.
kak Kenan kenapa kau menghilang lagi, kau kan sudah berjanji akan selalu ada untukku.
Kenan memang tidak memberitahu Anin ataupun Kanaya soal kepergiannya lagi keluar negeri
Bersambung. . .