Bakery love story

Bakery love story
Menerima Perjodohan



Di sebuah restoran, Aksan Gamon Alister bersama sekretaris setianya Malik sedang menunggu seorang gadis yang akan dijodohkan dengannya. Aksan pulang lebih awal dari kantornya untuk menemui gadis yang telah dipilihkan mamanya.


"Kenapa gadis itu lama sekali, beraninya dia membuatku menunggu." Ucap Aksan kesal.


Anin yang sedang membuat roti di tokonya itu lupa kalau ini adalah jadwal pertemuannya dengan Aksan. ia baru ingat karena Chika yang mengingatkannya.


"Ya ampun bagaimana bisa aku melupakan pertemuan dengannya". sambil mencuci tangannya.


dia buru-buru membersihkan tepung yang menempel di bajunya.


karena sudah telat dia memilih naik Taksi. karena jika dia menunggu bis lagi pasti dia akan sangat terlambat.


jadwal pertemuan mereka jam 15.00 tapi Anin terlambat setengah jam.


"Maaf membuat anda menunggu".


Ucap Anin yang baru tiba sambil ngos-ngosan karena habis berlari. Anin terlambat karena taxi yang ditumpanginya mogok. Karena letak restoran yang sudah dekat dia memilih berjalan kaki dan akhirnya dia terlambat setengah jam.


Anin sudah tahu jika pria yang dijodohkan dengannya adalah Aksan Gamon Alister karena Nyonya Hanna sudah memberitahunya.


Aksan memperhatikan Anin dari atas ke bawah. Melihat penampilan gadis yang ada dihadapannya ini. Sungguh diluar dugaan. Dia mengira gadis yang akan ia temui sama seperti wanita wanita yang mencoba mendekatinya dengan penampilan yang minim untuk menarik perhatiannya.


sedangkan Gadis yang sedang berdiri dihadapannya itu, Anindira memakai kemeja berwarna pink dengan celana jeans berwarna hitam. dengan sisa tepung yang masih menempel di baju dan celananya. karena terburu-buru dia tidak membersihkannya dengan benar. rambut lurusnya yang ia ikat tinggi sedikit turun karena ia berlari tadi.


"Jadi kau orangnya". Ucap Aksan Sambil tersenyum sinis.


Kenapa ibu memilih gadis seperti ini untuk dinikahkan dengan ku.


"Apa kau lupa jika hari ini kau akan bertemu dengan ku?" Tanya Aksan ketus sambil menyilangkan kakinya.


"Tidak tuan, saya ingat".


"Lalu kenapa kau berpakaian seperti ini? Apa kau tidak bisa lebih baik dalam berdandan?". ucapnya mengejek, karna ia masih kesal sudah dibuat menunggu lama oleh gadis yang sedang berdiri dihadapannya itu.


"Kenapa dengan dandanan saya. saya memang biasa memakai ini saat bekerja. Saya juga tidak terlalu suka berdandan. Apa anda keberatan tuan?". Ucap Anin dengan ketus sambil menepuk-nepuk sedikit noda tepung yang ada di bajunya dengan kuat.


Apa apaan dia. tidak sopan sekali bertanya seperti itu. Memangnya kenapa pakaian ku? lagian hanya kotor sedikit saja. Berdandan? hah Nyonya Hanna bilang dia tidak tertarik dengan urusan wanita, tapi kenapa dia bertanya tentang dandanan ku?Menyebalkan.


Anindira dan Aksan saling menatap dengan tatapan menantang satu sama lain.


*Berani sekali dia menatapku seperti itu. Apa dia sedang menantangku*?. batin Aksan


"Baiklah aku akan menerima perjodohan ini".


Entah keputusan yang diambilnya benar atau tidak, dia tidak terlalu memikirkannya. kata penerimaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Apa?". Anindira terkejut dengan ucapan Aksan, setelah perdebatan tadi dia kira perjodohan ini tidak akan berhasil. tapi Aksan malah menyetujuinya.


Mudah sekali dia menerima perjodohan ini.


"Aku menerimanya hanya karena mama" Ucap Aksan dengan tatapan yang tak terbaca oleh Anin. sedangkan Anin tak bereaksi apapun, dia hanya diam dan mendengarkan ucapan Aksan.


"Baiklah".


"Mama yang akan menentukan tanggal pernikahannya jadi Bersiaplah".


Aksan bangun dari duduknya lalu pergi meninggalkan Anin. diikuti sekretaris Malik.


Hahh. Anindira tertawa kesal dengan tingkah laku pria yang baru saja menerima perjodohan dengannya itu.


Pergi begitu saja? Setidaknya antarkan aku pulang. huh aku lelah sekali. Dasar Tuan sombong.


 


Di dalam mobil menuju perjalanan pulang.


Melirik kaca spion. "Sepertinya anda punya rencana Tuan Muda". Tanya sekretaris Malik.


Aksan hanya tersenyum.


"Aku ingin wanita tidak tahu diri itu tau jika aku sudah melupakannya. Dan aku akan menikah dengan wanita lain."


Malik pun paham apa yang dimaksud tuannya itu, Aksan ingin membuat Tamara mantannya berpikir bahwa dia sudah benar-benar melupakannya dan mencintai wanita lain.


"lihat saja penampilannya, bisa-bisanya dia menemuiku dengan penampilan seperti itu." sambung Aksan yang ternyata masih memikirkan pertemuannya tadi dengan Anindira.


_ _ _


Setibanya di Mansion keluarga Alister, Aksan langsung disambut oleh mamanya.


"Bagaimana? Dia gadis yang baik kan? Dia juga cantik kan? Apa kalian bicara banyak tadi?". Pertanyaan beruntun langsung ditanyakan mamanya.


"Aku akan menerima perjodohan ini ma." Ucap Aksan.


"Serius?" Hanna terkejut dan hampir tidak percaya bahwa putranya yang keras kepala itu dengan mudah menerima perjodohan yang dibuatnya.


"Apa kau menyukainya?"


"Aku menerimanya hanya karena mama". setelah mengucapkan itu Aksan Lalu berlalu meninggalkan mamanya.


"Apa mama yakin akan menikahkan kakak dengan wanita itu?". Tanya Bella yang sedang duduk di sofa.


Hanna melirik kearah putrinya.


"Apa kau tidak yakin dengan pilihan mama?". Tanya Hanna lalu berjalan menghampiri putrinya dan duduk di sebelahnya.


"Bukan begitu ma, emm maksud Bella dia itukan hanya pemilik toko roti biasa." Ucap Bella dengan hati-hati.


"Mama tidak peduli. Mama hanya ingin menantu yang tepat, dan Anindira adalah gadis yang tepat."


"Hemm terserah mama saja". Ucap Bella.


Bersambung. . .