
Setelah drama mandi bersama selesai, kini Anindira sudah berada di depan meja rias sedang mengeringkan rambutnya. Ia ternganga memandangi lehernya di cermin karena melihat banyak tanda merah kecil kecil disana.
Bagaimana cara menutupinya ya? Bisa malu aku kalau sampai dilihat orang.
Sementara Aksan sudah selesai bersiap. Ia sudah rapi menggenakan jas kantornya. Ia berjalan menuju istrinya yang sedang duduk sambil menyisir rambutnya, lalu memeluknya dari belakang dan mencium rambutnya yang harum tergerai indah. rambut panjang yang tidak terlalu hitam bisa dibilang agak coklat tanpa diberi pewarna buatan.
Biasanya Anin selalu mengikat rambutnya saat pergi ke toko, tapi kali ini dia membiarkan rambutnya tergerai.
"Tidak diikat?" Tanya Aksan masih menciumi rambut harum istrinya.
"Tidak"
"Kenapa?"
Anindira mengangkat rambutnya menunjukkan tanda-tanda merah di lehernya. "Untuk menutupi ini" ucapnya sedikit kesal. Aksan tertawa puas.
"Seperti itu lebih bagus. Jangan pernah mengikat rambut mu lagi. "
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin lehermu dilihat orang." Ucap Aksan jujur karena ia tidak rela leher jenjang dan putih istrinya dilihat banyak orang apalagi laki-laki mata keranjang.
Ada rasa bahagia yang dirasakan Anin saat Aksan mengatakan itu, ia merasakan kalau Aksan benar-benar mencintainya dan peduli padanya.
"Baiklah".
Aksan kembali mencium keningnya karena Anindira menuruti perkataannya. Menatap pantulan wajah mereka di cermin, wajah cerah yang memancarkan kebahagiaan.
Mereka pun segera turun untuk sarapan. saat hendak membuka pintu kamar,
"Sebentar" Anindira berlari ke ruang ganti mengambil syal untuk menutupi lehernya. Meskipun rambutnya sudah digerai tetap saja tidak bisa menutupi lehernya karena rambutnya pasti terbang terbang tertiup angin nanti.
"Ayo". Mereka pun segera turun sambil bergandengan tangan. Syal yang dipakai Anin senada dengan warna dres yang dipakainya sekarang. Sangat cantik.
Semua mata tertuju pada mereka saat mereka menuruni tangga. Siapapun bisa melihat kalau mereka sedang bahagia.
"Romantisnya." Ucap Bella mulai menggoda sambil meletakkan kedua tangannya di pipi.
Jadi pengen, ah aku rindu pacarku hehe. ucapnya dalam hati.
Sedangkan Mama dan Papanya hanya tersenyum.
Sambil tersenyum Aksan menarik kursi untuk Anindira duduk. Sangat jarang mereka melihat Aksan tersenyum penuh cinta seperti itu.
Menantuku memang berhasil merubahmu nak. Batin Nyonya Hanna bahagia.
Sekertaris Malik yang sudah dari tadi menunggu di sofa dengan segelas kopinya, tersenyum dalam hati bersyukur melihat Tuannya yang sudah berubah menjadi penuh cinta dan berperasaan. Namun tidak dalam urusan bisnis, Tuannya tetaplah Aksan Gamon Alister yang kejam dan tak kenal ampun dalam menjatuhkan lawannya.
Mereka semua memulai sarapan dengan hangat, sedangkan sekretaris Malik menunggu di sofa ruang tamu yang ada di sebelah ruang makan sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tuan David dan Nyonya Hanna sudah memaksanya untuk bergabung tadi namun dia bilang sudah sarapan tadi sebelum berangkat kemari.
"Sayang, kau kan punya banyak karyawan, kau tidak perlu repot-repot lagi pergi kesana setiap hari, nanti kau lelah." Ucap Aksan sambil membelai rambutnya saat mereka sudah berada di depan mobil.
"Tapi aku senang. aku bisa berkumpul dengan para karyawan yang sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, aku senang membuat roti dari tanganku sendiri, dan juga di sana aku merasa dekat dengan ibu." Ucap Anindira penuh penghayatan dalam setiap ucapannya tadi.
Aksan menghela nafasnya mendengar jawaban istrinya itu. Kebanyakan wanita lain akan menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang memanjakan diri tapi istrinya tidak, istrinya berbeda, meskipun ia adalah istri dari seorang konglomerat, bahkan dirinya sendiri mempunyai usaha yang terbilang sukses tapi ia tidak seperti wanita wanita lain yang suka menghambur-hamburkan uang.
ia sangat senang memiliki istri seperti Anindira. Baik, pekerja keras, penyayang, dan selalu menuruti perkataannya. Anindira wanita yang sangat sempurna dimatanya.
"Aku bahagia memiliki mu"
Aksan mencium kening Anindira lama, mengalirkan cinta. Ia bersyukur memiliki Anindira sebagai wanitanya.
"Jaga dirimu." Ucap Aksan setelah melepas ciumannya. Ia membukakan pintu mobil untuk Anindira masuk. Mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Tadinya Aksan ingin berangkat satu mobil, namun Anindira menolak karena arah mereka berbeda.
- - -
Dari kejauhan Chika melihat Anindira baru saja turun dari mobil. meskipun penampilannya berbeda Chika tetap tanda dengannya.
Ting. Suara pintu Toko terbuka
"Selamat datang Nona muda" Goda Chika sambil menundukkan kepalanya saat Anindira baru masuk kedalam
"Apasih". Ucap Anindira sambil tertawa kecil.
"Wah. . wah. . Kak Anin, kakak cantik sekali." Ucap karyawan lain yang sedang membersihkan lantai.
"Tumben kak penampilannya begini, mau pergi ya?" Tanya Chika
"Enggak kok, sekali-kali tampil beda gituloh hehe." Anindira beralasan.
"Tapi kakak memang cocokan begini tau, seterusnya begini saja kak" ucap Chika lagi, mengingat pakaian Anindira saat di toko yang hanya mengenakan celana panjang dan kaos atau kemeja. Apalagi setelah membuat roti penampilannya jadi berantakan dan sisa tepung yang menempel dimana-mana.
"Bukannya gak mau Chika, kakak lebih suka pakaian yang simple, apalagi habis buat roti pasti berkeringat dan kotor."
"Kalau begitu kakak gak usah buat roti, karyawan bagian kan ada. Kakak hanya perlu memantau kami saja." Sejujurnya Chika ingin bosnya itu tidak perlu repot-repot membantu para karyawan. Dia segan, bosnya itu sangat baik dan selalu membantu mereka. Apalagi Anindira tidak pernah memarahi mereka jika berbuat kesalahan, seperti datang terlambat.
"Ia kak, apa gunanya kakak menggaji kami kalau kakak juga ikut turun tangan membantu kami, kami tidak ingin kakak kelelahan, kami segan tau kak." Ucap karyawan lainnya juga.
"Makasih ya kalian, aku bangga punya kalian." Anindira terharu dengan semua yang telah diterimanya, dia selalu di kelilingi orang-orang baik. Dia sangat bersyukur.
Mereka pun berpelukan, sungguh bukan seperti atasan dan bawahan, tidak ada dinding pembatas diantara Anindira dan para karyawannya.
"Eh apaan tuh peluk peluk". Karyawan lain yang baru keluar dari belakang pun langsung ikutan bergabung berpelukan bersama mereka.
Para karyawan benar-benar telah menganggap Anindira sebagai kakak mereka. Apalagi semua karyawannya adalah perempuan dan kebanyakan orang rantauan. Mereka sangat bersyukur mendapat bos yang baik seperti Anindira.