
Senja mulai tiba, dibarengi dengan turunnya rintik rintik hujan. Aksan dan Anindira benar-benar menghabiskan waktu mereka bersama hari ini, meskipun hanya di dalam kamar saja.
Cuaca yg dingin membuat mereka berdua betah berlama-lama berada di bawah selimut. tidur sambil saling memeluk memberikan kehangatan satu sama lain. Nyaman, itulah yang mereka rasakan.
Hujan semakin lama semakin deras. hawa dingin semakin menjadi, mereka pun mengeratkan pelukan satu sama lain.
Kruukk. . . kruukk. . .
Suara dari perut Anindira berhasil memecahkan keheningan yang tercipta akibat terlalu menghayati momen romantis itu. seketika Aksan tertawa mendengar suara itu. Anindira langsung merosot membenamkan kepalanya di dada suaminya.
"Kau lapar?" Tanya Aksan. Anindira mengangguk di dada Aksan yang membuat Aksan merasakan geli.
Mengganggu saja suara perut ini. kau berbunyi disaat yang tidak tepat, dasar perut.
"Ayo turun, kita lihat apa makan malam sudah siap atau belum."
Anindira mengikuti suaminya tanpa banyak bicara karena memang ia benar benar lapar sekarang. hawa dingin membuatnya lapar.
Kebetulan saat mereka turun makan malam baru saja disajikan. Anindira semakin kelaparan setelah melihat menu makan malam yang sudah memenuhi meja makan, makanan yang sangat pas dicuaca dingin seperti ini.
Mereka semua mulai menyantap makan malam dengan nikmat, terlebih Anindira yang sangat menikmati makanannya.
Anindira menyeduh sup yang masih panas dengan bersemangat, kemudian memakan nasi di piringnya dengan jumlah banyak, begitu pun dengan lauknya. Anindira makan tanpa jeda seperti orang kelaparan yang tidak makan berhari-hari. Anindira membuat semua orang ternganga dengan tingkahnya.
"Pelan-pelan, tidak akan ada yang memintanya" Ucap Aksan yang membuat Anindira tersedak, dengan sigap Aksan langsung memberikan air minum kepada Anindira. pasalnya sedari tadi ia memperhatikan Anindira yang makan lahap sekali. Anindira pun memperlambat makanya.
Nyonya Hanna yang melihat putranya mulai perhatian kepada istrinya itu merasa senang. sepertinya hubungan mereka mulai dekat pikirnya.
"Tidak apa-apa nak, makanlah yang banyak" Ucap nyonya Hanna lalu menambahkan nasi dan lauk lagi ke piring Anindira.
"Tidak mah, Anin sudah kenyang"
"Kau harus makan yang banyak supaya sehat dan kuat, biar bisa cepat-cepat kasih mamah cucu" Anindira dan Aksan saling pandang mendengar ucapan Mamanya.
"Sepertinya kau sudah baikan nak" Tanya tuan David pada putranya.
"Sudah pah"
"Anindira pasti merawat mu dengan baik, jadi kau cepat sembuh. iyakan sayang?" Anindira hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu mertuanya.
"Mama memang tidak salah pilih menantu." ucapnya lagi..
*Mama memujiku terus, bisa-bisa terbang telingaku.
Tapi memang benar sih, aku yang merawatnya sampai sembuh. Mama memang tidak salah pilih menantu seperti aku, hihihi*.
Melihat Anindira melamun, Aksan menyenggol lengannya membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Hey, cepat habiskan". Bisik Aksan
"Kenapa?" Bisik Anindira juga sambil melanjutkan makannya.
"Sudah cepat habiskan".
"Jangan sibuk" Ucap Aksan dengan mata melotot membuat Bella mendengus.
Setelah selesai makan Aksan rencananya akan kembali ke kamar.
"Kalian tidak mau menonton tv?"
"Tidak Mah, kami tidak suka nonton tv"
Jawab Aksan.
"Iya mah lagian acara tv sekarang tidak ada yang bagus" Sahut Bella
"Duduklah sebentar disini nak, kita sangat jarang berkumpul seperti ini" Kali ini Tuan David yang bicara. Mau tidak mau mereka pun menurut. Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga sambil menonton tv dan minum teh hangat.
Aksan yang merasa bosan kini mulai tidak bisa diam, dia memainkan rambut Anindira di jarinya, lalu menarik kepala istrinya itu untuk bersandar dipundaknya. sementara Anindira sibuk mendengar ocehan adik iparnya sambil memakan camilan.
Hanna yang sedari tadi memperhatikan mereka merasa senang. ia menyadari putranya sudah banyak perubahan, tidak seperti dulu lagi yang sikapnya dingin dan cuek. bahkan untuk berkumpul bersama saja jarang sekali, selain saat makan.
Dia berpikir menantunya itu sudah membawa perubahan pada putranya.
"Sayang, apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?". Pertanyaan tiba tiba dari ibu mertuanya yang membuat Anindira tersedak camilan yang sedang ia makan. Semua pandangan tertuju pada Anindira seolah mereka menunggu Jawaban darinya.
Ya ampun mama kenapa bertanya seperti itu membuatku malu saja. Kami bahkan belum melakukannya. Batin Anindira.
"Belum mah". Jawab Anindira, nyonya Hanna menghela nafasnya.
"Mama sudah tidak sabar ingin menggendong cucu". Ucapnya pada anak dan menantunya itu. "Berusalah lebih keras lagi".
Mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu membuat Anindira teringat akan sesuatu. waktu itu saat pertama kali nyonya Hanna memintanya untuk menikah dengan Aksan adalah dengan alasan penyakitnya. dan sampai sekarang Anindira tidak tahu kalau alasan yang diberikan nyonya Hanna adalah kebohongan.
Ada sedikit perasaan takut jika mertuanya itu akan pergi sebelum memiliki cucu darinya.
"Aku juga tidak sabar ingin segera punya keponakan". Sahut Bella.
"Mungkin belum rejeki, lagian mereka juga baru menikah, kenapa harus terburu-buru." Ucap Tuan David santai sambil menganggukkan kepalanya memberi semangat kepada anak dan menantunya.
Setelah itu mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena sudah malam.
Setelah sampai di dalam kamar, Aksan langsung mengunci pintunya. Kemudian menatap lekat Anindira yang berdiri disampingnya membuat Anindira salah tingkah dan ingin segera beranjak ke tempat tidur, tapi sebelum dia melangkah Aksan menariknya dan menahannya didinding dengan kedua tangannya.
"Apa datang bulanmu sudah selesai?" Pertanyaan Aksan membuat Anindira kesulitan menelan salivanya.
Datang bulan Anindira memang sudah selesai dari kemarin, karena sudah seminggu berlalu. dengan pelan Anindira menganggukkan kepalanya, membuat Aksan tersenyum senang.
"Apa kau sudah siap?"
Mau bilang iya tapi dia belum sepenuhnya siap, mau bilang tidak tapi dia tidak ingin menjadi istri durhaka. lagian jika dia bilang tidak pun Aksan akan tetap melakukannya malam ini.
...