
Setelah tiba di Mansion. Anindira membantu Hanna turun dari mobil.
"Mama bisa sendiri Anin."
"Ada apa, kenapa Anindira sampai membantu mama berjalan?". Tanya Tuan David yang sedari tadi sedang duduk di halaman depan.
"Tadi kepala mama sakit tapi sekarang sudah mendingan." Jawab Hanna.
"Kepala mama sakit lagi?, Mah mah sudah papa bilang untuk perik..". Belum habis suaminya berbicara Hanna sudah memotongnya.
"Tidak perlu pa, Mama hanya kelelahan saja akibat berkeliling di mall tadi.
sudalah ayo masuk".
Setelah masuk ke dalam rumah Anindira langsung menuju ke kamar untuk segera mandi, setelah selesai membersihkan diri ia langsung menuju tempat tidur. Ia mengingat ucapan ibu mertuanya tadi bahwa dia harus membuat Aksan mencintainya.
"Bagaimana caranya ya?". gumamnya sambil berpikir.
"Oh iya". Anin langsung mengambil ponselnya lalu mulai melakukan pencarian di internet.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya di internet.
"Apa iya aku harus melakukan semua ini untuk membuat dia menyukaiku?. Ah yang benar saja".
Anin pun meletakkan ponselnya dan segera tidur karena ia juga kelelahan saat berkeliling di mall tadi.
Aksan yang baru pulang dari kantor langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya.
Setelah berada di kamar, ia melihat kearah tempat tidur dan melihat Anindira sedang tertidur.
"Wah wah lihatlah wanita ini, enak sekali dia tidur." Ada perasaan yang berbeda saat menyadari bahwa dia harus berbagi kamar dengan wanita. ini hal yang baru dan menarik perhatiannya.
Aksan berjalan menuju ranjang, memandangi wajah damai gadis itu lagi rasanya dia juga ingin segera tidur karena dia juga merasa lelah dan mengantuk akibat seharian bekerja. tapi dia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah selesai membersihkan diri, Aksan langsung berjalan kearah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
"Akhh". badannya terasa pegal-pegal semua.
"Butuh pijatan?". Anindira sebenarnya belum sepenuhnya tidur saat Aksan baru masuk kedalam kamar. Tapi karena masih mengantuk dia mengabaikannya.
"Apa kau pura-pura tidur?". Aksan terkejut, dia kira Anindira benar-benar tidur tadi.
Untung aku tidak memandanginya **terlal**u lama tadi. batin Aksan.
"Aku baru bangun". Ucap Anin sambil duduk.
"Berbalik lah, aku akan memijatmu". Ucap Anindira dengan full senyum. tidak seperti biasanya yang terlihat gugup dan menghindar, kini dia terlihat tenang dan tidak segan-segan menawarkan sebuah pijatan.
Ada apa dengannya?
"Tuan, anda mau dipijat atau tidak?". Tanya Anin saat melihat Aksan diam saja.
Apa sih yang dipikirkannya, aku kan hanya menawarkan pijatan untuknya.
"Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Aksan dengan menaikkan alisnya.
"Aku berniat membantu dengan ikhlas" Anindira masih dengan senyuman dibibirnya meski dalam hati mengutuk pria yang saat ini berada seranjang dengannya.
"Baiklah. tapi awas kalau pijatanmu tidak enak". Sambil merebahkan tubuhnya.
Masih untung aku mau memijatmu. Memangnya kau akan apa jika pijatanku tidak enak?, Dasar.
Aku jadi tidak yakin bisa mencintai orang seperti dia.
"Hey katanya mau memijat, kenapa lama sekali?".
Anindira pun mulai memijat punggung Aksan. Berdasarkan pencariannya tadi di internet, bahwa kita harus selalu memberikan perhatian dan membuat orang merasa nyaman agar orang tersebut menyukai kita. Jadi Dia berinisiatif memberikan kenyamanan lewat pijatannya ini. meskipun sebenarnya dia ragu dan takut untuk menyentuh tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu. namun demi tekadnya untuk mempertahankan pernikahan ini dia akan melakukan apapun.
Enak juga pijatannya.
Setelah beberapa saat memijat, tangan Anin mulai terasa pegal. "Emm tuan apa kau sudah merasa lebih baik?".
Tidak ada sahutan, Anin pun melihat Aksan yang ternyata sudah memejamkan mata.
Dia tidur?, Yasudalah.
Melihat Aksan yang sudah tidur Anin pun merebahkan tubuhnya kembali dan lama kelamaan dia juga tertidur.
Anin yang merasa perutnya kelaparan pun terbangun. Dia melihat ke samping dan ternyata Aksan masih tidur. Anin pun turun kebawah untuk melihat apakah makan malam sudah siap atau belum. Dan ternyata kebetulan sekali pelayan sedang mempersiapkan makan malam.
"Anin, dimana Aksan kenapa kau turun sendiri?". Hanna yang sedang duduk di ruang tv melihat Anin turun dari tangga.
"Masih tidur mah, sepertinya dia sangat kelelahan saat pulang tadi".
"Kau bangunkan saja dulu, ini sudah waktunya makan malam, nanti setelah makan baru tidur lagi. Jika tidak makan nanti dia akan sakit".
"Baiklah mah, Anin bangunkan dulu".
Setelah kembali ke kamar Anin langsung membangunkan Aksan. "Tuan, tuan bangunlah sudah waktunya makan malam". Sambil menepuk-nepuk bahu Aksan.
"Hemm". Jawab Aksan tanpa menggerakkan badannya. sebenarnya dia sudah bangun hanya saja dia malas untuk turun.
"Hemm apa bangunlah tuan".
"Aku masih mengantuk". jawabnya malas
Aksan hanya diam saja masih memejamkan matanya.
"Tuan". Masih tidak ada pergerakan dari Aksan.
Anin pun mulai menggoyang goyangkan bahu Aksan dengan kencang. "Heyy Aksan bangunn!." ucapnya kesal karena Aksan tak bangun juga.
Seketika Aksan langsung membuka matanya. Mendapatkan tatapan tajam menyala dari Aksan membuat Anindira merasa takut.
"Ji jika tidak makan nanti tuan akan sakit". Ucapnya takut-takut.
Aksan langsung bangkit dari tempat tidur dan turun kebawah diikuti Anin di belakangnya. entah apa yang dipikirkan Aksan hanya dia yang tahu.
Saat semua sudah berkumpul di meja makan mereka semua pun memulai makan malam dengan tenang. Setelah selesai makan mereka semua kembali ke kamar masing-masing.
Aksan dan Anin berjalan menuju kamar mereka.
Bagaimana ini kenapa dia diam saja, apa dia marah karena tadi?. batin Anin yang merasa tidak enak.
Setelah sampai Anin sengaja menutup pintu kamar dengan lambat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aksan yang melihatnya sedari tadi langsung memangilnya.
"Hey, menutup pintu saja lama sekali, cepat kemari aku akan memberikan hukuman atas ketidak sopanan mu tadi". Ucapnya sambil berkacak pinggang.
Anin pun berjalan lambat menghampiri Aksan yang berdiri di dekat tempat tidur.
"Apa kau tau apa kesalahan mu?". Tanya Aksan yang melihat wajah istrinya ketakutan.
"Tau". Jawab Anin sambil menunduk karena takut.
"Bagus kalau kau tau, sekarang kau harus terima hukumanmu".
Aksan langsung naik ke tempat tidur dan menendang selimut ke bawah. "Cepat naik". Perintah nya yang membuat Anindira was was. insting seorang wanita pun muncul untuk melindungi dirinya.
Mau apa dia? Oh tidak, habislah aku. Seharusnya aku tidak mencari gara-gara dengannya tadi.
"untuk apa?" tanya Anin khawatir dengan apa yang akan dilakukan Aksan.
"karena kau sudah kurang ajar kepadaku maka hukumanmu adalah kau harus memberikan kepuasan untukku". ucap Aksan lalu tersenyum smirk.
Aduh mati aku, aku belum siap
"Ma maafkan aku, aku salah, lain kali aku akan membangunkan mu dengan baik, aku janji". Ucapnya berusaha tersenyum walaupun terlihat sekali dia sedang bergetar ketakutan.
Aksan pun tertawa terbahak bahak melihat istrinya itu, sungguh senang rasanya melihat wajah Anin yang ketakutan.
"Sudah cepat naik, aku hanya memintamu memijatku lagi sampai aku puas!."
Ucap Aksan lalu memposisikan tubuhnya sambil menahan tawanya.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
Memangnya apa yang dipikirkannya, lihatlah wajahnya yang ketakutan itu hahaha.
Anindira menghembuskan nafas lega.
Ternyata hukumannya hanya memijat, astaga apa yang ku pikirkan.
Anin pun langsung naik ke tempat tidur dan memijat kembali Aksan.
Enak juga ya punya istri seperti ini bisa disuruh suruh, bisa dikerjai hahaha. Batin aksan, sambil menikmati pijatan Anin yang rasanya cocok baginya.
Beberapa lama Anin memijat.
Aduh tanganku rasanya mau putus, kapan ini akan berakhir. tanganku sudah pegal
"Tuan tanganku lelah sekali, sudah ya?".
"Tidak". jawabnya cepat
Anin yang mendengar jawaban tidak rasanya kesal sekali dan langsung menguatkan pijatannya.
"Akhh, apa yang kau lakukan, kau sengaja ya?" Aksan yang mendapat pijatan keras lebih tepatnya pukulan telapak tangan keras langsung memiringkan tubuhnya.
"Maaf"
Melihat Anin yang menunduk dan memanyunkan mulutnya membuat Aksan merasa kasihan dan gemas melihat tingkahnya.
"Baiklah kali ini kau lolos, sudah sana tidurlah."
Anin langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum manis karena dia diperbolehkan tidur.
"Terimakasih". Dengan cepat dia turun mengambil selimut yang tadi dicampakkan kebawah oleh Aksan.
"Selamat malam". Ucapnya malu dan Langsung tidur membelakangi Aksan yang sedari tadi melihat tingkahnya.
kenapa dia menggemaskan begitu.
Aksan tersadar dan menggelengkan kepalanya.
Anindira tak tau harus memanggil suaminya itu dengan sebutan apa, tidak mungkin dia memanggilnya dengan nama karena menurutnya tidak sopan. tidak mungkin juga dia memanggil dengan sebutan sayang karena hubungan mereka belum dekat. jadi dia memanggil tuan saja seperti orang-orang biasa memanggilnya.
Memang aneh rasanya memanggil suaminya sedang sebutan Tuan, tapi dia bingung harus memanggil apa, jadi untuk sementara dia akan seperti ini dulu.