
Di perjalanan pulang menuju villa, Bella bersandar manja di bahu Anindira.
"Kakak ipar, kakak hebat sekali tadi melawan kak Tamara. aku kira kakak akan diam saja dihina seperti tadi." Ucap Bella berbisik karena tidak ingin para pengawal atau supir mendengar. Anindira hanya tersenyum mendengarnya.
"Tapi kenapa kakak baru melawan saat aku mau ditampar?, sebelumnya kakak diam saja."
"Terserah dia mau menghinaku seperti apa, tapi aku tidak akan tinggal diam jika dia berani menyakiti mu." Jawab Anindira.
"Aaa kakak ipar." Bella terharu mendengarnya, ia memeluk Anindira dengan manja.
Anindira tidak peduli dengan hinaan yang diberikan Tamara terhadapnya, tapi ia tidak akan terima jika orang terdekatnya disakiti. Begitulah dirinya, dibalik sifatnya yang lembut dia juga bisa membalas perbuatan orang yang menurutnya pantas untuk dilawan.
Saat sampai di villa, mereka langsung masuk dan duduk di sofa dimana nyonya Hanna dan Tuan David sedang bersantai.
"Aduh lelahnya" Ucap Bella sambil melempar tubuhnya duduk disofa.
Para pengawal membawa barang belanjaan mereka kedalam, Anindira menyuruh mereka meletakkannya di sofa saja.
"Ya ampun banyak sekali yang kalian beli." ucap Nyonya Hanna saat melihat para pengawal membawa banyak tas belanjaan ke sofa.
"Bukan aku tapi kakak ipar, aku hanya membeli sedikit."
"Anindira? Apa yang kau beli nak?" Nyonya Hanna heran karena tak biasanya menantunya itu berbelanja banyak.
"Aku membeli oleh-oleh untuk teman dan juga karyawanku di toko mah. aku juga beli beberapa untuk kita."
"Pantas saja, ternyata kau akan membagi-bagikannya." Ia tahu kalau menantunya itu tak pernah berbelanja sebanyak ini untuk dirinya sendiri, bahkan sangat jarang ia melihat menantunya itu berbelanja. ia tahu Anindira lebih suka berhemat daripada menghambur-hamburkan uang.
Aksan yang baru turun dari tangga langsung menghampiri mereka.
"Sayang kenapa lama sekali?" Ucapnya mendekat dan akan duduk disebelah Anindira.
"Kakak cari tempat lain lah" Ucap Bella yang digeser oleh Aksan. Aksan terus berusaha untuk duduk di celah-celah antara Anindira dan Bella, Bella tetap bertahan meskipun Aksan mendorongnya.
"Aaaa aduh kakak kau berat sekali, sakit tau." Teriak Bella saat Aksan mendudukinya. akhirnya Bella mengalah. ia pun pindah ke sofa lain di depannya. Aksan tersenyum puas, akhirnya ia bisa duduk disebelah istrinya.
"Kakak kau berat sekali rasanya tulang ku hampir patah." Gerutu Bella sambil memijit pahanya yang diduduki Aksan tadi.
"Lebay" Ucap Aksan melempar bantal sofa ke wajahnya.
Nyonya Hanna dan Tuan David hanya menghela nafasnya, sedangkan Anindira menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua.
Beberapa hari kemudian.
Tepat seminggu mereka di Bali. Selesai sudah waktu liburan mereka. Sudah banyak tempat-tempat wisata yang mereka datangi. sudah banyak foto yang diambil, mereka semua menikmati waktu liburan ini dengan bahagia.
kini saatnya mereka kembali karena Aksan pun tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya. meskipun disini ia juga bekerja, tapi ia tak bisa lama-lama meninggalkan perusahaan.
Setelah pesawat jet pribadi datang menjemput, mereka semua langsung masuk dan berangkat meninggalkan pulau Bali.
Di dalam pesawat Anindira kembali mual dan muntah-muntah sampai wajahnya pucat.
Nyonya Hanna kembali mengoleskan minyak angin dan memijatnya agar tidak mual. dia memang ibu mertua yang perhatian.
"Sayang kenapa kau muntah separah itu? lihat wajahmu pucat sekali." Ucap Aksan, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya. "Kita harus kedokter setelah sampai."
"Tapi. ." Ucap Anindira
"Tidak ada tapi tapian." Ucap Aksan.
"Iya, kita akan pergi bersama-sama nanti. sekalian papa juga ingin periksa kesehatan bersama mamamu." Ucap Tuan David.
"Tapi. . ." Ucap Nyonya Hanna.
"Tidak ada tapi tapian." Ucap Tuan David.
Setelah tiba di villa mereka yang terletak di dekat hutan. sang pilot langsung menepikan pesawat jetnya. mereka langsung turun dan para pengawal mengeluarkan barang-barang mereka.
Mereka langsung pergi kerumah sakit bersama sekretaris Malik yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan mereka di villa.
Diperjalanan terasa sangat sunyi. mereka semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Anindira memikirkan bagaimana kalau ia nanti disuntik, karena ia takut jarum suntik. sedangkan Aksan cemas bagaimana kalau terjadi sesuatu pada istrinya. dan Nyonya Hanna cemas bagaimana kalau setelah diperiksa dokter mengatakan hal buruk tentang kesehatannya. kalau tuan David ia diam saja karena merasa lelah dan mengantuk. sedangkan Bella yang biasanya mengganggu sekretaris Malik juga diam saja. ia tidak ingin berbicara dengan sekretaris Malik yang menurutnya sangat menyebalkan.
Saat tiba di rumah sakit, dokter tengah memeriksa keadaan Anindira. Aksan menunggunya dengan cemas.
sementara diruangan lain Nyonya Hanna juga tengah diperiksa. pemeriksaan berjalan lumayan lama. setelah melakukan beberapa tes, pemeriksaan pun selesai.
"Kami akan memeriksanya hasil tesnya terlebih dahulu, setelah hasil pemeriksaan keluar, kami akan segera menghubungi Nyonya."
"Baiklah." Nyonya Hanna dan Tuan David pun kembali menuju ruangan Anindira.
Anindira sudah selesai diperiksa. dokter mengatakan kalau gejala mual dan muntah yang dialami Anindira selama ini adalah karena ia sedang hamil. mereka sangat bahagia mendengarnya. kecemasan yang dirasakan Aksan kini berubah menjadi kebahagiaan.
"Aku akan menjadi seorang ayah" Ucap Aksan terharu, lalu mencium kening istrinya.
"Suamiku kau menangis?" Tanya Anindira sembari menghapus air mata suaminya. ia tak mengira kalau suaminya akan menangis setelah mengetahui kabar kehamilannya.
"Aku sangat bahagia."
"Aku akan punya keponakan." Ucap Bella antusias.
Malik juga ikut senang mendengarnya, akhirnya tuannya menemukan kebahagiaannya. ia yang paling tahu tentang Aksan, setelah penghianatan yang membuat sikapnya berubah, kini Aksan sudah menemukan cinta sejatinya yang merubahnya kembali meskipun tidak banyak, dan sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
"Selamat Tuan dan Nona." Ucap Malik.
"Terimakasih sekertaris Malik." Jawab Anindira sedangkan Aksan hanya mengangguk.
"Aku akan mempunyai anak sebentar lagi, kau kapan malik?" Ucap Aksan mengejek.
Malik menghela nafasnya mendengar pertanyaan Aksan. bagaimana bisa ia punya anak bahkan dirinya saja belum menikah.
"Aku akan menemukan ibunya dulu Tuan." Jawab Malik.
"Hahaha segeralah cari seorang istri, apa kau akan menua sendirian?."
"Suamiku jangan begitu, mungkin jodohnya belum datang." Anindira juga bingung kenapa Malik tak kunjung menikah, ia penasaran apakah Malik sudah mempunyai kekasih atau belum.
Nyonya Hanna dan Tuan David pun tiba dan masuk keruangan Anindira.
"Mamah, bagaimana? apa kata dokter?" Tanya Bella.
"Dokter bilang kita harus menunggu sampai hasil pemeriksaannya keluar."
"Semoga tidak ada apa-apa." Ucap Bella
"Bagaimana Menantuku?"
"Ada kabar baik mah, Mama pasti sangat senang mendengarnya karena ini yang selalu mama tunggu-tunggu." Ucap Bella lagi dengan semangat. nyonya Hanna berpikir sebentar lalu menjawab dengan cepat.
"Apa Mama akan segera mempunyai cucu dan menjadi seorang nenek?" ucapnya semangat. karena memang hal itu yang sangat ia tunggu-tunggu.
"Yak, betul sekali."
"Aaaa. . . mama senang sekali." Ia langsung melupakan kecemasan akan hasil pemeriksaan kesehatannya. ia langsung memeluk dan mencium kening menantunya itu.
"Terimakasih menantuku. Kau sudah mengabulkan keinginan terbesar Mama. mulai sekarang Mama akan menjagamu dengan sangat hati-hati." mode cerewet dan bawelnya yang lama menghilang sekarang mulai aktif lagi.
Ya ampun bagaimana ini?. Anindira tau pasti ibu mertuanya itu akan sangat ketat menjaganya, siap-siap saja dia akan dilarang ini dan itu. tapi ia tahu itu semua juga demi kebaikannya.
Dokter menyarankan agar Anindira menjaga kandungannya dengan baik karena ini adalah kehamilan pertamanya. setelah mendengarkan nasehat dari dokter tentang kehamilan, mereka semua pun pulang dengan perasaan bahagia. akhirnya sebentar lagi akan ada Alister baru di keluarga mereka. Anindira sangat bahagia melihat semua orang bahagia. ia berjanji akan melakukan apapun untuk menjaga kandungannya.