Bakery love story

Bakery love story
Mengingat masa itu



Setelah mendapatkan kabar gembira tentang kehamilan Anindira, kini Keluarga Alister semakin menjaga Anindira dengan sangat ketat. terutama Nyonya Hanna, Dia yang paling berlebihan.


Anindira kesal karena mulai sekarang ia tidak boleh melakukan ini, tidak boleh melakukan itu, tidak boleh makan ini tidak boleh makan itu. tidak boleh pakai sepatu yang terlalu tinggi. bahkan rencananya Aksan akan mencarikan seseorang yang bisa menjaga Anindira saat ia berada diluar.


"Suamiku, supir saja kan sudah cukup, dia bisa menjagaku. tidak perlu menambah orang lagi untuk mengikutiku." Ucap Anindira.


"Mana bisa begitu. kalau seandainya ada orang jahat dan supir itu terluka karena melindungimu, bagaimana bisa dia menyupir nanti." Jawab Aksan.


"Betul itu." sahut nyonya Hanna.


"Semua orang sudah punya tugasnya masing-masing. aku membayar satu orang untuk melakukan satu pekerjaan saja dan mereka harus mengerjakannya dengan benar, tanpa celah sedikit pun." Jelas Aksan.


"Malik, mulailah cari orang untuk menjaga istriku." Perintahnya pada sekertaris Malik yang sedari tadi sudah menunggunya dengan setelan jas rapinya.


"Baik tuan, aku akan mengutus orang kita untuk menjaga Nona."


"Tidak, jangan orang kita. cari yang perempuan." Ucapnya cepat. mengingat semua anak buahnya adalah laki-laki, dia tidak ingin istrinya dijaga oleh laki-laki lain, sebab itu ia mencari orang lagi asalkan perempuan.


"Baik tuan."


Anindira mengantar Aksan sampai ke mobil. Aksan membungkuk dan mengelus perut istrinya yang masih rata.


"Papa pergi dulu ya sayang." Ucapnya sambil mengelus perut Anindira. Anindira tersenyum melihat suaminya, sekretaris Malik yang berdiri di pintu mobil pun terlihat tersenyum tipis. ia tidak pernah melihat Tuannya seperti itu, berbicara dengan calon anaknya yang masih di dalam perut.


Setelah berbicara dengan calon anaknya, Aksan berdiri dan berbicara dengan istrinya.


"Aku pergi ya sayang" Ucapnya sembari mengecup kening Anindira, lalu turun ke pipi, hidung dan bibir. Anindira membelalakkan matanya. sedangkan Malik langsung membuang muka mengalihkan pandangannya. ia membuka pintu mobil.


"Suamiku ada sekretaris Malik disini." Ucap Anindira kesal sekaligus malu. suaminya tidak pernah tahu tempat. dia selalu seenaknya saja.


"Hahaha biarkan saja."


Malik menghela nafasnya. Teruskan saja pamernya Tuan. Batinnya. Aksan memang senang sekali mengejeknya.


Malik menyadari bahwa sudah saatnya ia mencari pendamping hidup. bukannya ia tidak laku, hanya saja ia terlalu sibuk bekerja lagipula ia belum menemukan seseorang yang membuatnya tertarik.


Mereka pun segera berangkat menuju perusahaan. sementara Anindira bersiap-siap akan pergi ke tokonya. ia sudah tidak sabar ingin segera membagikan oleh-olehnya.


 


Anindira baru tiba di tokonya, supir langsung membukakan pintu dan ikut masuk kedalam bersamanya. Aksan memberinya perintah untuk mengawasi Anindira dan menjaganya untuk sementara sampai Malik menemukan pengganti.


"Pak supir tidak usah ikut, tunggu saja dimobil. atau pak supir juga bisa pergi kemanapun asalkan sore baru kembali kemari." Ucap Anindira pada supir yang usianya masih terbilang muda, sama seperti Aksan.


"Tidak nona, saya harus menjalankan perintah." Ucap sang supir muda itu. bagaimana kalau ada orang suruhan Aksan yang mengawasinya. bisa saja ada mata-mata yang sengaja diutus untuk memantau kinerjanya.


Lagian suamiku ada-ada saja sih, masa di dalam saja harus diawasi. tokoku kan yang paling aman. Batinnya


Dengan segera ia masuk kedalam. sang supir juga ikut dengan membawa banyak paper bag berisi oleh-oleh, Anindira juga membantu membawa beberapa sangking banyaknya.


Karena ini masih pagi, jadi belum banyak pelanggan yang datang. biasanya toko akan ramai saat siang dan menjelang sore.


"Selamat pagi." Ucapnya tersenyum sambil mengangkat paper bag ditangannya.


"Kakaak" Para karyawan bersorak senang melihat kedatangan Anindira. mereka tidak tahu kalau Anindira sudah kembali. Anindira sengaja tidak memberitahu mereka, dia ingin memberikan kejutan.


"Maaf kalian membuat Nona sulit bernafas." Ucap sang supir.


Mereka semua pun tersadar dan melepaskan pelukannya. kemudian tertawa.


"Kami sangat senang kakak sudah kembali. tapi kenapa kakak tidak memberitahu kami?"


"Aku sengaja ingin memberikan kejutan. ini, ambillah satu-satu." Anindira menyerahkan paper bag itu kepada mereka. Mereka langsung menyerbu dan berebut seperti anak-anak.


"itu juga ambil satu-satu ya." ucap Anindira menunjuk kearah supir yang masih memegang beberapa paper bag lainnya. yang belum mendapat bagian langsung menyerbu sang supir, tak ketinggalan juga Chika, ia yang belum mendapat bagian langsung menyerbu supir itu sampai sang supir gelagapan dan terduduk di kursi karena terdorong.


Astaga gadis ini. Batin sang supir.


"Eh lihat tuh pak supirnya kalian dorong-dorong sampai jatuh, untung ada kursi dibelakangnya."


"Chika yang dorong"


"Tau nih Chika rusuh banget."


"Pak supirnya aja yang lemah, disenggol dikit aja jatuh." Ucap Chika sembari melihat isi paperbag itu. Anindira menggelengkan kepalanya melihat Chika yang tak merasa bersalah, jelas-jelas dia yang paling rusuh dan mendorong pak supir tadi.


Gadis kurang ajar, dia bilang aku lemah?. Batin sang supir, Chika bukannya minta maaf malah mengatainya lemah.


"Waah banyak sekali kak oleh-olehnya."


"Aku sendiri yang memilihkan itu semua untuk kalian." Ucap Anindira.


"Aaah kakak baik sekali, tapi ini terlalu banyak kak." Ucap Chika.


"Alah bilang aja kamu seneng." ucap yang lain.


"Senenglah, makasih ya kakakku, hehe" Mereka semua juga berterimakasih kepada Anindira, setelah itu mereka langsung membereskan dan menyimpan paperbag masing-masing dan kembali bekerja.


Anindira tak bisa membuat roti karena diawasi oleh sang supir. ia sudah berjanji kalau hanya akan melihat saja, ia tidak boleh kelelahan karena sedang hamil. baik Aksan atau nyonya Hanna melarangnya, jika tidak dia tidak diperbolehkan pergi ke toko.


Anindira sekarang berada di ruangannya. ia bosan hanya duduk diam saja. karena bingung mau melakukan apa, akhirnya ia membersihkan ruangannya yang sedikit berantakan dan merapikan mejanya.


"Ya ampun ternyata ruanganku kotor sekali, aku tidak ingat pernah membersihkannya." Ruangan Anindira memang tidak pernah dibersihkan karena dulu saat pertama kali meneruskan usaha ini, ia tidak mengijinkan siapapun untuk masuk walaupun hanya sekedar untuk bersih-bersih. ia berpikir bahwa dirinya sendiri yang akan membersihkannya, tapi ia lupa karena keasikan membuat roti.


Diruangan ini ada banyak peninggalan dan kenangan tentang ibunya. ia tidak ingin ada perubahan sedikit pun karena semua susunan barang-barang disini ibunya yang menatanya meskipun ada sedikit yang diubah saat renovasi dulu. bahkan catatan dan tulisan tangan ibunya masih tersimpan disini. ia sengaja menyimpan semua itu.


Beberapa saat kemudian kegiatan bersih-bersihnya pun selesai.


"Aduh lelahnya." ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya di kursinya yang lumayan empuk.


Lama ia duduk disitu melepaskan semua penat dan mengembalikan tenaganya sambil memikirkan apa saja yang terlintas dipikirannya.


ia teringat tentang pertemuannya dengan nyonya Hanna di toko ini yang awalnya sebagai pelanggan sampai akhirnya jadi ibu mertua. ia ingat nyonya Hanna memintanya menikah dengan Aksan karena katanya usianya yang sudah tak lama lagi. sampai sekarang ia masih bingung apakah mereka semua tahu kalau nyonya Hanna mempunyai penyakit serius?, kenapa mereka semua terlihat santai sekali?, tapi ia tidak bertanya pada siapapun karena ia rasa seluruh keluarga tidak ingin membicarakan hal yang menyedihkan itu.


Ia juga mengingat pertemuan pertamanya dengan Aksan. orang menyebalkan yang mengomentari penampilannya. sampai akhirnya mereka sepakat untuk menikah. walaupun rasanya aneh menikah dengan orang yang tak dikenal tapi akhirnya lama kelamaan mereka saling mencintai. ia tersenyum-senyum sendiri mengingat masa itu.


Anindira mengelus perutnya, tak terasa ia sedang mengandung anak dari suami yang sangat mencintainya. seorang pria yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. seorang pria tampan dan berkuasa. tak pernah ia bayangkan akan jadi seperti ini kehidupannya sekarang, sangat berbeda, ternyata kehidupan bisa berubah-ubah. ia semakin penasaran akan seperti apa kehidupannya nanti. ia juga membayangkan seperti apa dirinya nanti saat sudah menjadi seorang ibu. pasti menyenangkan dan melelahkan.