
Keesokan harinya.
Anindira dan Bella pergi ke sebuah tempat pembelian oleh-oleh yang sangat terkenal disini. mereka hanya pergi berdua saja ditemani supir dan dua orang pengawal.
kedua pengawal itu ikut masuk kedalam tempat pembelian oleh-oleh bersama mereka, sedangkan sang supir menunggu mereka di mobil. dua orang pengawal itu terus mengikuti mereka, sangat mencolok sekali membuat orang-orang memperhatikan mereka.
"Kan sudah aku bilang kalian gak usah dekat-dekat, jauh-jauh sana." Bisik Bella mengusir kedua pengawal yang terus mengikuti dibelakang mereka.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah."
Aksan sengaja memerintahkan pengawal untuk ikut bersama mereka. tujuannya untuk menjaga keamanan mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama pada istrinya. maksudnya, selain menjaga mereka tetap aman, ia juga tidak ingin ada pria lain lagi yang mengganggu atau mendekati istrinya seperti semalam.
Bella kesal karena orang-orang pada melihat terus kearah mereka. dia sudah menyuruh para pengawal untuk menunggu di mobil saja bersama supir tapi kedua pria berbadan tegap itu tetap mengikuti mereka.
kedua pria berbadan tinggi tegap dengan pakaian mereka yang serba hitam, ditambah ekspresi wajah datar, menarik perhatian banyak orang.
Bella berjalan dengan melipat kedua tangannya di dadanya sambil melirik pengawal dibelakangnya itu dengan kesal, sementara yang ditatap terus hanya memasang wajah datar tanpa memperdulikan tatapan kesal Bella.
"Lihat kedepan Nona." Ucap salah satu pengawal, bermaksud agar Bella melihat ke jalan supaya tidak menabrak orang. Bella mengehentikan langkahnya, membuat mereka juga ikut berhenti.
"Kenapa Bel?"
"Ah kakak ipar, kenapa kak Aksan berlebihan sekali mengirim mereka bersama kita?. jalan-jalan kita jadi tidak menyenangkan." Rengek Bella, Anindira hanya tersenyum sambil melirik kedua pengawal itu.
"Kakakmu memang berlebihan" Bisiknya pada Bella.
"Sudahlah biarkan saja, mereka kan tidak menggangu."
"Mereka mengganggu, kakak ipar."
"Anggap saja mereka tidak ada. sudah ayo kita kesitu sepertinya banyak benda-benda unik disitu." Ucap Anindira sambil menarik lengan Adik iparnya yang terus bawel itu.
Anindira sama sekali tidak terganggu dengan adanya pengawal bersama mereka ataupun tatapan orang-orang yang tertuju pada mereka, karena ia sudah pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Anindira pun melihat-lihat barang-barang yang ada ditempat ini, sangat unik dan bagus-bagus.
"Kak?" Panggil Bella pada Anindira yang tengah sibuk memilih barang-barang dihadapannya.
"Hmm, ada apa Bel?" Anindira sibuk memilih barang mana yang mau ia beli untuk oleh-oleh.
"Apa kakak tidak terganggu dengan mereka?" Tanya Bella sambil melirik para pengawal itu.
"Biasa aja" Jawab Anindira sibuk memeriksa barang yang ada ditangannya. "Wah ini sangat bagus, aku akan membeli ini untuk mereka." Ia pun mengambil barang yang akan dibelinya itu dalam jumlah yang banyak.
"Wah itu juga bagus, aku akan ambil itu juga. mereka pasti senang" Anindira mengambil barang yang lainnya juga.
"Memangnya untuk siapa sih kak semua oleh-oleh ini? kenapa satu macam banyak sekali?"
"Untuk sahabat dan para karyawan kakak di toko" Ucapnya sambil tersenyum, entah kenapa ia senang sekali bisa membelikan oleh-oleh ini untuk mereka.
"Kakak perhatian sekali dengan para karyawan kakak"
"Mereka bukan hanya karyawan, mereka sudah kakak anggap seperti keluarga sendiri. kakak menganggap mereka seperti adik kakak sendiri."
Kau orang yang berhati baik kakak ipar. Ucap Bella dalam hati. ia terharu mempunyai kakak ipar seperti Anindira.
Sudah berjam-jam mereka berkeliling, sudah banyak juga barang yang dibelinya. Mereka semua sudah lelah mengikuti Anindira kesana-kemari. Anindira sendiri juga lelah tapi ia senang.
Anindira sudah membeli banyak barang dan juga makanan khas Bali. ia juga membelikan beberapa untuk keluarganya.
Setelah selesai berbelanja, mereka mampir ke sebuah restoran untuk mengisi perut. Anindira menyuruh para pengawal untuk menunggu di mobil saja, tetapi mereka tidak mau. Anindira memaksa lagian mereka hanya akan makan sebentar.
"Kalau kalian tetap mau ikut kedalam, kalian juga harus makan. mana mungkin aku membiarkan kalian berdiri saja di sana melihat semua yang ada di dalam sedang makan."
"Tidak Nona, baiklah kami menunggu di mobil saja."
Anindira dan Bella pun masuk tanpa didampingi pengawal, kebetulan hanya tersisa satu meja yang kosong karena restoran ini sangat ramai. mereka mulai memesan dan menunggu.
Selagi menunggu pesanan mereka datang, Anindira membuka ponselnya, ia membuka pesan masuk dari Chika, karyawan yang paling dekat dengannya. Anindira tadi menanyakan keadaan di toko roti padanya.
"Semuanya aman kak, meskipun tadi ada sedikit masalah, tapi semua sudah beres, kakak tenang saja." Pesan dari Chika.
"Masalah apa Chik?"
"Jadi gini kak, tadi ada orang yang tiba-tiba datang sambil marah-marah.
dia minta ganti rugi, katanya roti yang dia pesan berjamur, padahal dia tidak ada pesan roti disini. dia membuat keributan sampai banyak orang yang melihat.
tapi semua sudah terselesaikan karena kami punya bukti daftar pemesanan."
"Baguslah, kakak tau kau bisa menghandle toko dengan baik. kakak percaya padamu."
Setelah membalas pesan tersebut, Anindira meletakkan ponselnya. pesanan mereka pun kebetulan sudah datang. mereka memakan makanan itu dengan lahap karena mereka sudah sangat kelaparan sehabis berkeliling di tempat pembelian oleh-oleh tadi. lebih tepatnya mengikuti Anindira berkeliling.
Saat tengah menikmati makanan mereka, tiba-tiba seorang wanita mendatangi meja mereka dan berdiri sambil melipat kedua tangannya, menatap sinis kepada Anindira.
"Kak Tamara?" Ucap Bella terkejut melihat mantan kekasih kakaknya yang sedang berdiri dihadapan mereka.
Wanita itu?. Batin Anindira
"Hey wanita kampungan, enak ya bisa jalan-jalan kesini dan makan di restoran mahal." Ucap Tamara menghina Anindira. Anindira hanya diam saja, ia memakan makanannya tanpa menatap atau memperdulikan Tamara.
"Kau tau, kau itu tidak pantas mendapatkan Aksan, kau tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Alister, hanya aku yang pantas, hanya aku yang pantas menjadi istri Aksan, kau tidak pantas karena kau hanyalah seorang tukang roti kampungan."
"Kak Tama apa yang kau lakukan? kenapa menghina kak Anin?" Ucap Bella mendengar perkataan Tamara yang menghina Bella.
"Bella sayang, aku tidak menghinanya aku itu bicara yang sebenarnya. diakan memang tukang roti kampungan. apa kau tidak malu bersama dengan wanita kampungan ini. hahaha kau pasti malu punya kakak ipar seperti dia."
Anindira tetap diam meskipun Tamara menghinanya, sementara Bella tak terima kakak iparnya dihina seperti itu.
"Siapa bilang?, aku bahkan sangat bahagia mempunyai kakak ipar seperti kak Anin. aku bersyukur kakakku tidak menikahi wanita seperti kakak, karena kakak sama sekali tidak pantas untuk kakakku." Ucap Bella yang berhasil membuat Tamara emosi.
"Kurang ajar sekali kau." Tamara hendak menampar wajah Bella, namun dengan cepat tangannya ditahan oleh Anindira.
"Berani sekali kau menahan ku"
"Terserah kau mau menghinaku, tapi jangan berani kau menyentuhnya." Ucap Anindira lalu menghentakkan tangan Tamara dengan kasar.
"kau benar, aku memang tukang roti, yang aku jual adalah roti. bukan menjual harga diri seperti mu."
Tamara yang sedari tadi sudah sangat emosi kini hendak menampar Anindira juga, namun sekali lagi Anindira menahan tangannya.
"Sayang ada apa ini?" Seorang pria paruh baya dengan perut buncit datang menghampiri mereka. dan bertanya pada Tamara. ia barusan dari kamar mandi.
Anindira memperhatikan pria yang barusan memanggil sayang kepada Tamara. seorang laki-laki tua dan buncit, tapi dari pakaiannya terlihat seperti orang berduit. pasti itu alasannya Tamara mau dengan laki-laki itu.
Sugar Daddy? hah.
"Aku rasa wanita kampungan lebih baik daripada wanita murahan. kau tau wanita murahan itu seperti apa? seperti sampah." Bisik Anindira pada Tamara.
Tamara yang kehabisan kata-kata hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar sindiran halus Anindira.
"Ayo Bella kita pergi. disini ada sampah dan tong sampahnya" Ucap Anindira membuat Tamara semakin geram.
Bella yang sedari tadi memperhatikan mereka, tak menyangka kalau Anindira bisa membalas perbuatan Tamara.
"Hahaha ayo kak"
Mereka pun pergi meninggalkan Tamara yang menatap kepergian mereka dengan geram.
"Tunggu pembalasan ku nanti." Ucap Tamara yang sudah benar-benar geram dan emosi. ia tidak terima diperlakukan seperti tadi oleh Anindira, ia kira Anindira adalah wanita lemah yang akan diam saja ketika dihina, ternyata ia membalasnya dan Tamara tidak terima.
"Sayang ada apa, siapa wanita tadi?"
"Debu yang akan kubersihkan." Ucap Tamara menatap lurus kedepan, ia akan mencari cara untuk membalas penghinaan Anindira tadi.
Berani sekali dia mengataiku sampah. tunggu saja pembalasan ku nanti.
"Sayang ayo kita kembali ke hotel" Bisik lelaki tua itu.
Dasar tua bangka nafsuan, untung kaya. Ucap Tamara dalam hati.
Anindira dan Bella kini sudah berada di dalam mobil.
"Apa terjadi sesuatu tadi Nona?" Tanya salah satu pengawal.
"Ta. . .
Bella yang hendak berbicara dan menunjuk kearah restoran langsung dipotong oleh Anindira.
"Tidak ada" Ucapnya cepat
"Ada apa nona?" tanya pengawal yang satu saat Bella menunjuk restoran.
"Tadi makanannya enak." Ucapnya tertawa sambil menurunkan tangannya. ia tidak tahu kalau Anindira akan merahasiakan kejadian tadi.
"Baiklah kita pulang sekarang" Ucap Anindira. supir pun melajukan mobilnya menuju villa.