
Keesokan paginya
Aksan yang baru membuka matanya terkejut melihat seorang wanita tengah tertidur di ranjangnya.
Ahh aku lupa kalau sudah menikah.
Percaya tidak percaya ini pertama kalinya bagi Aksan tidur seranjang dengan seorang wanita. meskipun dulu dia memiliki Tamara sang pujaan hati, namun dia sangat menjaga kehormatan mantan kekasihnya itu dulu. akan tetapi itu semua tidak ada gunanya, karena Tamara malah menyia-nyiakan kehormatan itu dengan menjajakan tubuhnya pada pria-pria dibelakang Aksan selama mereka masih bersama.
Dipandanginya wajah Anindira yang masih tertidur begitu nyenyak.
Setelah dilihat-lihat pria itu baru menyadari bahwa Anindira adalah gadis yang cantik, cantiknya alami. bahkan saat tidur pun masih tetap cantik.
Setelah beberapa saat memandangi, Aksan pun tersadar.
Apa yang aku lakukan, kenapa aku betah memandanginya terus. batinnya tersadar
sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu pun segera turun dan bergegas untuk mandi, karena hari ini dia tetap akan pergi ke kantor seperti biasa.
Selesai mandi Aksan langsung masuk keruang ganti, memilih setelan jas dan kemeja yang akan dipakainya seperti biasanya.
Tidur pulas Anindira terusik saat ia merasakan cahaya matahari mulai menembus melalui jendela.
"Huaaa.." sambil merentangkan tangannya Anindira menguap masih dalam keadaan mata yang tertutup..
15 menit lagi sajalah
Bukannya bangun dia malah kembali tidur. sepertinya tempat tidur barunya ini begitu nyaman sampai ia betah berlama-lama dikasur.
Aksan yang baru selesai berpakaian melihat Anin masih tertidur.
"Apa kau akan tidur sepanjang hari." Suara Aksan berhasil mengagetkan Anin dari tidur tambahannya.
Sama seperti Aksan dia juga lupa kalau dirinya baru saja menikah.
Anindira langsung bangun dan duduk agar nyawanya terkumpul dulu. sambil melihat Aksan, orang yang baru semalam menjadi suaminya itu.
Anindira pun segera turun dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi.
Ini adalah hari pertamanya di rumah keluarga suaminya, dia tidak ingin membuat kesan buruk dan membuat semua orang menunggunya terlalu lama.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya, mereka langsung turun bersama untuk sarapan. lebih tepatnya Anin yang mengikuti Aksan dibelakangnya.
Anindira tidak biasa sarapan pagi. Dia sudah terbiasa mulai makan itu saat jam makan siang bersama dengan karyawan di tokonya. meskipun begitu dia tetap akan hadir di meja makan.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan seperti biasa.
"Selamat pagi pengantin baru". Ucap Mama Hanna.
"Pagi ma". Jawab Aksan cuek langsung duduk dikursi.
"Selamat pagi tante". Jawab Anindira masih terlihat canggung.
"Kau ini sudah jadi menantuku jadi panggil aku mama mulai sekarang Kau mengerti?". Ucap Hanna sambil tersenyum.
"Baik tante, eh baik mah ". jawab Anin balas tersenyum.
"Aksan apa kau akan langsung ke kantor. Kalian kan baru saja menikah apa kau tidak ingin mengambil cuti?". Tanya Hanna melihat Aksan memakai pakaian kantor.
"Tidak ma". Jawabnya singkat.
"Oh ya mah, Anin juga akan pergi ke toko nanti, apa boleh?". Ragu-ragu Anin meminta izin.
"Kau juga Anin. Kalian seperti bukan pengantin baru saja."
"Sudahlah mah mungkin mereka sibuk, lagipula itu urusan mereka, Biarkan saja". Ucap Tuan David mengehentikan istrinya.
"Ya sudahlah. Ohya Anin kalau mau pergi nanti kau pilih saja mobil yang ada di garasi ya". ucap Hanna
"Terimakasih mah, tapi Anin tidak bisa menyetir. Anin naik bis saja."
"Naik bis? hahaha yang benar saja."
Saut Bella.
Bella adalah gadis yang baik hanya saja dia selalu ceplas-ceplos jika berbicara.
"Aku merasa nyaman saat naik bis, karena ayahku dulunya seorang supir bis jadi aku merasa dekat dengan Ayahku jika aku naik bis". Ucap Anindira mengingat kenangan bersama Ayahnya sewaktu di bis.
"Tapi bukankah itu akan menggangu kak Aksan? bagaimana kalau ada orang yang mengenali dan tahu jika menantu keluarga Alister berpergian naik bis." ucap Bella lagi tanpa sadar membuat Anindira sedikit kesal.
"Benar juga, kalau begitu kami akan menyewa supir khusus untuk mengantar mu". Ucap Hanna.
"Tapi ma."
"No no no tidak ada tapi tapian". Belum selesai Anin bicara Hanna langsung memotong.
"Baiklah ma".
Hanna tersenyum. Tidak ada yang bisa membantah jika Nyonya besar Hanna sudah memerintah.
"Anin kau sudah selesai?".Tanya Hanna saat melihat Anin yang sudah meletakan sendoknya
"Sudah mah."
"Kenapa sedikit sekali makannya? tambahlah lagi"
"Tidak mah, Anin sudah kenyang"
"Kau baru makan sedikit tapi sudah bilang kenyang, kau itu harus makan yang banyak supaya sehat dan kuat. agar bisa segera hamil".
"Uhuk. . uhuk. ."
Anin yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapan mertuanya barusan. begitu pun dengan Aksan yang tersedak nasi saat sedang makan.
"Pelan pelan sayang". Ucap Hanna kepada keduanya sembari memberikan air untuk Aksan.
Aksan langsung minum dan menyudahi sarapannya, karena jika tidak pembahasan tentang anak akan semakin panjang.
"Sepertinya aku sudah terlambat. Aku pergi dulu ma, pa". Aksan pun langsung berangkat ke kantor bersama sekretaris Malik yang sudah menunggu diluar.
- - -
Di Toko Roti.
Anin pergi ke toko roti dengan diantar oleh supir sang mertua.
"Bapak pulang saja ya, tidak usah menunggu. saya bisa pulang sendiri nanti".
"Baik Nona". jawab pak supir
"Wah ternyata memang benar itu kak Anin". Ucap salah satu karyawan.
Anin yang baru masuk kedalam heran dengan beberapa karyawannya yang berkumpul.
"Kenapa kalian pada berkumpul disini?"
"Iya kak, kami melihat ada mobil mewah berhenti di depan dan ternyata itu kakak". Ucap salah satu karyawan
"Wahh kakak beruntung sekali jadi menantu keluarga konglomerat" ucap karyawan lainnya lagi.
"Kak Anin kenapa kakak disini? Kakak kan baru saja menikah. Apa kakak tidak pergi bulan madu?". Tanya Chika penasaran sekaligus menggoda.
"Tidak. Sudah sudah kerja lagi sana"
"Baik kak" para karyawan pun bubar, dan kembali ke tempatnya masing-masing.
"Ohya Chika kau bilang kau ingin belajar membuat roti kan? Ayo." Chika belum bisa membuat roti, karena Chika yang kedapatan bertugas di depan melayani pembeli, jadi dia belum terlalu pandai membuat roti. dia hanya mempelajari cara-caranya tanpa praktek.
"Wah asiik, akhirnya jadi juga belajar buat rotinya." ucap Chika antusias dan tidak sabar.
Mereka pun segera menuju tempat pembuatan roti yang berada area dibelakang. Anin mulai mengajari dan menjelaskan kepada Chika caranya membuat roti dengan benar. walaupun Chika hapal tapi dia tetap antusias mendengarkan.
"Membuat roti itu gampang gampang susah, kita harus sabar dalam setiap proses pembuatannya. Takaran bahan, proses menguleni, proses pembentukan, dan juga cara pemanggangan. Semua harus pas dan benar agar hasilnya juga maksimal".
"Setiap proses pembuatannya harus tepat. Kita harus memberi Takaran yang pas dan menguleni adonan dengan benar agar menghasilkan roti yang manis juga tekstur yang lembut." jelas Anin.
Chika mendengarkan semua yang dikatakan Anin. Dan mengikuti cara-cara yang sedang dipraktekkan oleh Anin.
"Darimana kakak belajar membuat roti?".
Tanya Chika. Dia benar-benar kagum dengan kehebatan bos mudanya itu dalam membuat roti.
"Dulu setiap ibuku membuat roti aku merasa senang dan tertarik untuk bisa membuatnya juga. jadi aku selalu memperhatikan cara-caranya, aku belajar itu semua dari ibu."
"Ibuku sangat berbakat."
"Dan bakat itu kini diturunkan ke kakak". timpal Chika.
Anindira sudah tidak sedih lagi jika membahas tentang ibunya, dia sudah tidak sesedih dulu saat awal-awal ibunya meninggal. Dia kini sudah mulai bisa menerima keadaan. karena dia tahu bahwa hidupnya harus terus berjalan, dan dia memiliki peninggalan berharga yang harus dijalankan, yaitu toko roti ini.