Bakery love story

Bakery love story
Jalan-jalan



Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Kini hubungan Aksan dan Anindira semakin lengket saja. Semakin hari Aksan semakin posesif kepada istrinya karena cintanya semakin lama semakin besar kepadanya.


Ia menjaga Anindira dengan sangat ketat, bahkan dirinya tidak diperbolehkan sering sering membantu karyawannya membuat roti, dengan alasan dia tidak ingin Anindira kelelahan.


Sore hari di balkon kamar.


"Haahh. . . " Suara helaan nafas Anindira. Saat ini ia sedang duduk di balkon menatap langit yang cerah.


Hari ini ia tidak pergi ke tokonya karena Aksan bilang dia akan pulang cepat. Dia ingin saat pulang Anindira ada untuk menyambutnya.


Anindira selonjoran mengangkat kakinya ke kursi disebelanya.


"Aku sangat ingin keluar, diluar sangat cerah. Aaahhh. . ." Sambil memerosotkan kepalanya. Padahal hari ini dia ada janji bertemu dengan Kanaya sahabatnya, namun Aksan tidak mengijinkannya.


Setelah lama menunggu akhirnya ia melihat mobil Aksan baru saja memasuki kawasan Mansion. Ia pun langsung turun kebawah untuk menyambut suami manjanya.


Setelah menyambut suami manjanya pulang, mereka langsung naik ke atas, kembali ke kamar. Aksan langsung mandi sedangkan Anindira kembali duduk di balkon. Hari sudah siang menjelang sore, namun cuaca sangat cerah hari ini. Ia jadi betah berada di balkon sambil memandangi awan awan yang cantik.


"Ada apa sayang? Kenapa cemberut begitu?" Tanya Aksan yang baru datang dan duduk disebelahnya, ia baru selesai mandi dan sudah berpakaian santai.


"Padahal aku sengaja pulang cepat supaya kau tidak merindukanku terlalu lama"


Hah yang benar saja.


"Suamiku tadinya aku ingin pergi bersama Kanaya tapi karena kau. ." Ucapnya dengan cepat namun langsung berhenti saat melihat wajah Aksan yang sudah tak sedap dipandang.


"Emm. . Kami hanya mau jalan-jalan tadi."


"Lagi pula sudah lama kami tidak bertemu" ucapnya lagi dengan raut wajah sedih.


"Jadi kau mau jalan-jalan? Baiklah ayo."


Maksudnya jalan-jalan dengan sahabatku, aku sudah lama tak bertemu dengannya. Batinnya sedih, Kanaya bilang pekerjaannya di kantor semakin sibuk, ia sering lembur jadi tak sempat bertemu dengannya.


Eh, tapi akukan belum pernah jalan-jalan dengannya, bagaimana ya rasanya.


"Ayo katanya mau jalan-jalan, kenapa melamun."


"Ah iya, ayo ayo"


Asiiik jalan-jalan. Maaf ya Nay kali ini aku jalan-jalan sama suamiku dulu hihihi. jarang jarang kan dia mengajakku jalan-jalan.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Anindira sangat senang diajak jalan-jalan oleh Aksan, ia tidak kepikiran kalau mereka belum pernah pergi keluar bersama untuk jalan-jalan


"Mau kemana Tuan?" Tanya pak supir.


"Jalan saja pak"


"Baik Tuan"


"Suamiku kita mau kemana?"


"Sssttt diamlah, nikmati saja perjalanan kita ini." Ucap Aksan lalu menarik kepala Anin meletakkan dibahunya sambil menciumi rambutnya yang selalu wangi itu.


"Suamiku Sebenarnya kita mau kemana sih? Kenapa dari tadi kita muter-muter terus?" Anindira heran karena dari tadi mereka hanya jalan terus tanpa berhenti. Banyak tempat wisata yang sudah terlewati, namun Aksan belum juga memerintahkan supir untuk berhenti. Sejauh apa tempat yang akan mereka datangi pikirnya.


"Tadikan kau minta jalan-jalan, yasudah ini kita lagi jalan-jalan."


Anindira tercengang mendengar ucapan suaminya itu.


"Jangan bilang kita jalan-jalan hanya didalam mobil saja tanpa berhenti atau mampir ke suatu tempat?"


"Betul". Aksan menoel hidung Anin.


Tiidaaakkk. . .


Anindira merosot dari duduknya. Terbang sudah khayalannya tentang jalan-jalannya, ia mengira Aksan akan mengajaknya jalan-jalan ke mall, ke taman, pantai atau tempat rekreasi lainnya. Tapi nyatanya zonk, mereka hanya duduk di mobil yang membawa mereka menyusuri jalanan.


"Suamiku ini namanya bukan jalan-jalan, ini namanya mengukur jalan." Ucap Anindira frustasi, pak supir yang mendengarnya tersenyum ingin tertawa namun tidak berani. Sedangkan Aksan sedari tadi ia sudah tertawa melihat istrinya. Sungguh jahil dirinya namun ia senang. Asalkan selalu bersama dengan istrinya.


Aksan sengaja mengajak Anindira hanya berkeliling tanpa ada niat untuk keluar dari mobil karena diluar panas.


"Sudahlah, kan sama saja kita sedang jalan-jalan, hanya saja di dalam mobil." Ucapnya santai, membuat jengkel orang yang mendengarnya.


Anin menghela nafasnya kasar kemudian membetulkan posisi duduknya yang merosot tadi.


"Kita pulang saja." Ucap Anindira sok serius, karena kesal ia jadi punya sedikit keberanian melawan suaminya yang sangat menjengkelkan itu.


"Sudah jalan-jalannya?" Tidak ada jawaban dari Anin.


"Baiklah, pak kita pulang"


"Baik Tuan"


Selama di perjalanan pulang Anindira hanya diam saja. Bahkan ia tak menanggapi ucapan Aksan. Dia sangat kesal jadi dia hanya diam saja.


"Sayang?"


"Hmm"


"Sayang?"


Aksan terus memanggilnya, namun ia hanya menjawab dengan deheman saja, sesekali melihat ke arah Aksan lalu kembali lagi menatap ke jendela.


Lebih baik aku melihat jalanan daripada kesal melihat wajahnya.


Sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Jangan marah, apa kau tidak lihat diluar itu sangat panas, jadi lebih baik kita jalan-jalannya di dalam mobil saja. Aku tidak ingin kau kepanasan."


Anindira berdecih, masih menatap ke arah jalanan. Alasan macam apa itu pikirnya.


Bosan mendengarkan suara Aksan yang terus memanggilnya lebih tepatnya menggodanya, Anindira memilih memejamkan matanya. Aksan tertawa kecil melihat istrinya yang sedang merajuk itu. Diletakkannya kepala Anin bersandar di bahunya, namun Anin segera menarik kepalanya lagi bersandar kembali di kursi mobil. begitu seterusnya sampai dia lelah sendiri. akhirnya dia menyerah dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang menjengkelkan itu.