
Dilihatnya daftar panggilan masuk di ponsel Anin. "Siapa Kanaya?". Tanya Aksan karena nama Kanaya tertera paling atas.
"Ah dia itu sahabat ku"
"Ohya dia juga bekerja di perusahaanmu suamiku, apa kau pernah bertemu dengannya?". Aksan mendengarnya tapi dia diam saja, dia masih sibuk mengecek ponsel istrinya itu.
"Suamiku apa kau mendengar ku?".
"Hemm".
"Jadi apa kau pernah bertemu dengan Kanaya? aku yakin dia pasti melakukan pekerjaannya dengan baik."
"Mana aku tahu". Masih asik memeriksa.
Aksan membuka galerinya dan melihat foto-foto Anin. fotonya imut dan menggemaskan. Dikirimnya beberapa foto Anin ke ponselnya sendiri, setelah terkirim di hapusnya kembali Agar Anin tidak mengetahuinya.
"Suamiku?".
"Hemm".
"Apa yang sedang kau lakukan?".
"Memeriksa ponselmu". Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa harus diperiksa?". Aksan hanya diam saja.
"Sudalah tidak ada apapun disitu".
"Kenapa banyak sekali kontak pria di ponselmu?". Tanyanya dengan nada tak suka.
"Itu nomor teman-teman kuliah ku dulu". Ucapnya jujur.
"Lalu foto siapa ini? Tanya Aksan setelah melihat foto Anindira bersama seorang pria yang tak lain adalah Kenan.
"Oh itu kak Kenan. Dia senior di kampusku dulu. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri". Jelas Anindira. Aksan menatapnya seolah tak percaya.
"Aku berkata jujur"
"Baiklah, aku ingin kau tahu satu hal" Ucapannya yang didengarkan serius oleh anindira
"Aku benci penghianatan. jadi jangan coba-coba berkhianat padaku atau kau rasakan akibatnya."
Anindira menelan salivanya dengan kasar. membayangkannya saja ia tak berani
Aksan meneruskan kegiatannya memeriksa ponsel Anindira.
"Hapus foto ini!" Ucap Aksan tidak suka melihat foto Anindira yang terlihat sangat dekat dengan pria lain.
"Kenapa?" Anindira tidak mengerti kenapa Aksan harus menyuruhnya untuk menghapus foto itu. Fotonya bersama Kenan, Orang yang sudah dianggap kakak sendiri olehnya. Orang yang selalu memberikan motivasi dan nasehat disaat dirinya sedang putus asa.
"Aku tidak suka melihatnya"
"Kak Kenan sudah seperti kakak bagiku, dia orang yang baik, percayalah. Kami tidak ada hubungan apa-apa"
"Kalau begitu yasudah hapus saja fotonya"
"Tapi aku ingin menyimpan foto ini sebagai kenangan, karena semenjak kita menikah kak Kenan tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tak bisa dihubungi.
Mendengar ucapan Anindira barusan, Aksan merasa ada yang tidak beres. feeling-nya merasa kalau Pria itu menyukai Anindira.
"Baguslah kalau dia menghilang, dengan begitu kau tidak perlu bertemu dengannya lagi dan tidak usah mengingatnya lagi. dan juga jangan coba-coba untuk menghubunginya lagi."
Dia memang tidak bisa memahami perasaan orang. bagaimana bisa aku menikah dengan orang seperti dia.
Aksan sangat keras kepala dan tidak bisa dibantah. mirip seperti Mamanya.
"Tunggu apa lagi? tidak mau?"
Foto kenangan cih, foto dengan suaminya saja tidak ada, malah menyimpan foto pria lain.
Dengan terpaksa Anindira menghapus semua foto kenangannya bersama Kenan. dan juga beberapa nomor teman prianya yang entah masih aktif atau tidak ia tak tahu karena memang mereka sudah jarang berkomunikasi. tentunya itu semua tak luput dari pandangan pria yang mulai obsesif disebelahnya ini.
Setelah dirasa sudah aman barulah Aksan mengembalikan ponsel Anindira. mereka pun bersiap-siap untuk segera tidur.
"Kemari" Ucap Aksan menyuruh Anindira agar lebih dekat dengannya. gadis itu hanya menurut. meskipun malu-malu Anindira tetap mendekat dan tidur dipelukan suaminya. sembari mengelus kepala istrinya Aksan bertanya.
"Apa datang bulan itu sakit?" Pertanyaan random Aksan membuat Anindira terheran-heran, dari sekian banyak bahasan kenapa dia bertanya tentang itu.
"Tidak tentu juga, ada yang sakit sekali ada yang sakit sedikit ada juga yang tidak sakit. setiap wanita berbeda-beda"
Aksan mendengarkan dengan seksama.
"Dibagian mana sakitnya?"
"Diperut. tapi itu tidak lama kok"
"Apa kau merasa sakit?"
"Sekarang sudah tidak"
"Baguslah"
Sekarang Aksan sedikit paham tentang datang bulan. jujur saja saat melihat Anindira tadi sore ia sempat khawatir dan panik, ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu. karena selama ini ia tidak tahu menahu perihal datang bulan.
"Jadi berapa lama datang bulan itu?"
"Umumnya seminggu"
"Kenapa lama sekali?" Ucap Aksan kesal.
"Baiklah akan kutunggu sampai minggu depan. setelah itu aku ingin kau memberikan hak ku segera!"
Anindira membulatkan matanya mendengar perkataan Aksan, ia menelan salivanya dengan susah payah.
"Bagaimana? persiapkan dirimu ya! seminggu lagi." Ucap Aksan sambil tersenyum yang tak dapat dilihat Anindira. bisa dirasakannya kalau Anindira membeku sekarang membuatnya tertawa dalam hati.
"Ba baiklah"
Seminggu lagi. kata-kata itu terngiang-ngiang dikepala Anindira. ia ingin cepat-cepat tidur saja.
***
Keesokan paginya.
Aksan bangun terlebih dahulu karena merasakan kebas ditangannya. semalaman mereka tidur tanpa merubah posisi. sepertinya mereka berdua sangat betah tidur sambil berpelukan sampai pagi.
Dipandanginya wajah istrinya yang cantik natural itu. Aksan mencium rambut harum Anindira kemudian beralih ke kening dan pipi gadis itu, namun Anindira tak bangun juga, kemudian Aksan beralih mencium bibirnya hingga beberapa detik kemudian Anindira tersentak bangun.
"Selamat pagi sayang" Ucap Aksan yang bersemangat setelah mendapat asupan energi pagi-pagi.
"Apa yang kau lakukan suamiku?" Tanya Anindira dengan suara serak bangun tidur. bisa-bisanya Aksan menciumnya saat ia sedang tidur.
"Membangunkan mu" Jawabnya santai dengan senyuman diwajahnya. melihat senyuman manis Aksan Anindira terpana, tidak pernah ia melihat Aksan tersenyum seperti ini. Ia hanya sering melihat Aksan memasang wajah dingin dan kaku jika berada diluar.
Dia memang tampan. aku harap dia tersenyum seperti ini hanya padaku.
"Mau lagi?" Tanya Aksan saat Anindira diam saja menatapnya.
"Eh tidak"
Anindira langsung menggelengkan kepalanya. ia segera bangkit untuk menyiapkan keperluan Aksan.
Melihat tingkah lucu istrinya itu Aksan kembali tertawa. ia bersyukur memiliki istri yang rajin dan penurut seperti Anindira. hanya saja ia belum mendapatkan Anindira seutuhnya.