
2 Minggu kemudian
Sudah 2 minggu berlalu akan tetapi hubungan pernikahan mereka masih belum ada perkembangan.
Segala macam cara telah dilakukan Anindira untuk mendapatkan perhatian dari suaminya itu, namun entah pria dingin itu menyadarinya atau tidak. setidaknya Anindira telah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai istri yang baik dengan melayani semua kebutuhan pria itu. hanya saja satu hal yang belum bisa ia lakukan sebagai istri, lagipula Aksan tidak pernah meminta haknya sebagai suami.
***
Pagi ini Aksan terbangun karena ia merasa seperti ada sesuatu yang menimpa wajahnya.
Dan benar dugaannya ternyata itu adalah tangan dari gadis yang sedang tidur di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan istrinya.
Diturunkannya tangan Anindira dengan perlahan, lalu dipandanginya wajah istrinya yang masih terlelap. beberapa hari ini ia memang menyadari bahwa sikap dan perilaku Anindira yang perhatian padanya, melayani dan mengurus segala keperluannya dengan baik. namun entah mengapa sikapnya kepada Anindira tidak berubah, seperti acuh tak acuh, tetap cuek bahkan dingin.
"Hey bangun". Ucapnya pada Anindira yang langsung terbangun dan membuka matanya.
"Hemm" Anindira bergumam sembari bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk.
"Sudah pagi." Hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir Aksan.
Tanpa banyak bicara Anin langsung turun dan segera menyiapkan air untuk Aksan mandi. Setelah itu masuk ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya. Disaat Aksan mandi barulah ia mulai merapikan kamarnya.
Begitulah rutinitasnya disetiap pagi menyiapkan segala keperluan suaminya, semenjak ia memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya mereka.
Pernikahan mereka bukanlah seperti pernikahan pada umumnya, karena pernikahan ini tidak didasari dengan cinta. akan tetapi mereka bisa berpura-pura menjadi pasangan suami istri jika dihadapan orang lain.
Meskipun Aksan tidak memperlakukan Anindira sebagai istri pada umumnya, namun Aksan tidak pernah berbuat kasar ataupun berkata kasar padanya. Dia memang dingin dan cuek tapi dia tidak pernah berpikir untuk melakukan kekerasan. karena sama saja itu dengan menyakiti ibu dan adik perempuannya.
***
Setelah menghabiskan sarapannya Aksan langsung berangkat ke kantor.
"Kakak ipar, apa kakak sibuk hari ini?" Tanya Bella Kepada Anin yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Tidak Bel, kenapa?"
"Aku juga tidak ada kegiatan hari ini, rasanya bosan sekali. Bagaimana kalau kita pergi keluar?".
Anindira tampak sedang berpikir.
"Ayolah kak, sekalian jalan-jalan. Lagian selama kakak menjadi kakak iparku kita tidak pernah pergi keluar bersama, yakan?".
"Benar, baiklah kalau begitu". Anindira tidak tega jika harus menolak ajakan adik iparnya yang sudah mulai mengeluarkan sifat manjanya itu kepadanya.
Sifat manja Bella hanya diperlihatkan kepada keluarga dan teman dekatnya saja. selain itu dia akan menunjukkan sifat sombong dan kerasnya.
***
Bella mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ditengah perjalanan mereka terus berbincang. Anin dan Bella memang sudah akrab karena keduanya sama-sama memiliki sifat yang cepat nyambung dan mudah bergaul dengan siapa saja.
"Ohya Bell, kenapa kamu tidak memakai supir pribadi saja".
"Kalau ada supir pribadi yang ada malah gak bebas kak, mau kemana mana susah. karena dulu supir pribadiku selalu melapor ke mama apa saja yang aku lakukan dan kemana saja aku pergi, lagian aku juga sudah bisa bawa mobil sendiri sekarang". Jelas Bella.
"Kemarin mama bilang akan mencarikan supir untuk kakak. Siap siap saja, kemana pun kakak pergi akan ada yang mengawasi dan dilaporkan ke mama, jadi kakak tidak bisa macam-macam diluar. hahaha"
"Memangnya kakak akan pergi kemana, mana mungkin kakak macam macam diluar".
Beberapa menit kemudian sampailah mereka ke tempat tujuan. Bella langsung membeli beberapa barang keperluannya. Setelah mendapatkan semua barang yang dicari, Bella langsung menjalankan mobil menuju ke taman.
Mereka duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon, tempat yang sangat nyaman untuk bersantai. Mereka banyak bercerita sambil memakan ice cream.
"Aku baru tau ada taman yang bagus juga disini". Ucap Anin.
"Kakak belum pernah kemari?". Tanya Bella yang dijawab gelengan kepala oleh Anin.
"Apa kakak tau gedung disana?". Tanya Bella lagi menunjuk ke arah gedung-gedung yang menjulang tinggi tak jauh dari taman.
Anin memperhatikan arah tangan Bella menunjuk. " Gedung itu? Memangnya ada apa dengan gedung itu?".
"Ya ampun kakak tidak tahu?, Itu adalah gedung Alister company." Jelas Bella.
"Benarkah? ya ampun kakak baru tau. dulu kakak dan teman kakak bermimpi untuk bisa bekerja di perusahaan itu tapi kakak bahkan tidak tahu tempatnya dimana, hahaha".
"Wah jadi dulu kakak ingin bekerja disana?, Tapi bukannya keterima kerja disana malah keterima jadi istri CEO disana". Anin hanya tersenyum mendengar perkataan Bella.
Jadi CEO belum tentu bahagia tau. lihatlah dia yang selalu membuatku bimbang dengan perilakunya. Batin Anin.
Tanpa mereka sadari seorang wanita tengah memperhatikan mereka." Oh jadi itu wanita yang membuatmu menolakku karena kau menikahinya, hah tidak ada apa-apanya dibanding aku". Siapa lagi wanita itu kalau bukan Tamara, mantan kekasih Aksan.
"Hai Bel" Sapa Tamara kepada Bella
"Kak Tama." Ucap Bella yang terkejut melihat wanita itu setelah sekian lama.
"Oh jadi dia wanita yang berhasil menggantikan posisiku. tapi kenapa selera Aksan jadi turun begini" Tamara menatap Anindira dengan tatapan merendahkan.
"Apa maksudmu?" Anindira tidak tahu siapa wanita yang tiba-tiba datang dan seenak hatinya berbicara
"Lihat saja penampilannya, bahkan barang mewah pun tidak cocok untuk kau pakai, dasar wanita kampungan. aku penasaran trik apa yang kau pakai untuk mendapat Aksan?"
"Kak Tama hentikan!"
Anin ya hendak bicara terhenti karena Bella.
"Tentang bagaimana caranya kak Anin mendapatkan kakak ku itu bukan urusan kakak, karena kakak sudah tidak ada hubungan lagi dengan kami. aku peringatkan mulai sekarang untuk jauhi keluarga kami!" ucap Bella dengan tegas.
"Lihat saja kau akan menyesal karena telah merebut Aksan dariku". Ucapnya menatap sinis Anin, kemudian pergi dengan perasaan dendam.
Sebelum benar-benar pergi, Tamara mengambil foto mereka berdua dari kejauhan.
"Akan kubalas kalian berdua"
***
Bella melihat Anindira yang diam saja setelah Tamara pergi. sebelumnya mereka sangat asik menikmati sore ditaman ini sampai tamara datang merusak suasana. hal itu membuat Bella tidak enak.
"Kak, jangan hiraukan apa yang dikatakan wanita sialan barusan. hah dari dulu aku tak pernah menyukainya."
Anindira tersenyum sebentar melihat Bella, setelah itu pandangannya kembali menatap gedung didepan.
"Apa kakak bahagia menikah dengan kakakku?". Tanya Bella yang melihat Anin hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Tentu saja aku bahagia memiliki keluarga baru seperti kalian". jawabnya jujur.
"Apa kakak mencintai kak Aksan? Atau apa kak Aksan mencintai kakak?".
Bella paham betul sifat kakaknya yang seperti itu, dingin dan tak berperasaan. dia ingat betul kalau dulu Aksan sangat mencintai Tamara.
Lama Anindira berpikir "Ntahlah Bell". Jawab Anin sambil menghela nafas, ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini, yang ada hanya rasa ingin mempertahankan hubungan yang tidak jelas ini.
Aku memang tertarik padanya, tapi akan percuma saja jika dia tidak menyukaiku.
"Sabar ya kak, mungkin perlu waktu bagi kalian untuk saling mencintai. Dulu kakak tidak seperti itu, dia memang cuek tapi setelah berpisah dari mantan kekasihnya sikapnya menjadi lebih parah".
"Memangnya apa yang menyebabkan mereka sampai berpisah?". Tanya Anindira penasaran dengan kisah masa lalu Aksan.
"Jadi pada intinya, Karena sangking cintanya kak Aksan dengan wanita itu, kakak mengirim Seseorang untuk mengikutinya kemanapun karena takut jika suatu saat terjadi hal buruk padanya, eh bukannya mendapat laporan tentang orang jahat kakak malah mendapat laporan bahwa wanita pujaannya itu sedang berselingkuh bahkan sudah sering tidur bersama laki-laki lain, katanya sih hanya untuk mendapatkan kepuasan yang tidak pernah ia dapatkan dari kak Aksan".
"Tapi sepertinya semenjak kehadiran kakak, kak Aksan mulai berubah. Dia tidak sedingin dan secuek dulu. aku rasa dia hanya butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih sih hahaha".
"Kak apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan kakak ku yah?". Ucap Bella menggenggam tangan Anindira.
Anindira mengangguk dan tersenyum.
"Dalam hidup kakak, kakak hanya ingin menikah sekali seumur hidup."
Aku juga sedang berusaha mempertahankan pernikahan ini Bell.
Disisi lain di taman ini.
"Nona Anin bersama nona Bella masih berada di taman Tuan. dan wanita yang tadi sudah pergi. tapi dia sempat mengambil foto nona Anin dan nona Bella tuan ". Ucap seseorang dari telpon.
"Baiklah awasi terus mereka".
"Baik Tuan".
Dari dulu Aksan selalu mengutus orang untuk mengikuti Bella kemanapun dia pergi, tujuannya untuk berjaga-jaga saja. karena dia menolak memiliki supir pribadi yang bisa menjaganya.
Dan dengan ini dia jadi tahu kejadian yang barusan. jika tidak ada orang suruhan Aksan mungkin tidak akan tahu jika Tamara kembali muncul dan mulai menganggu keluarganya.
"Sepertinya aku harus mengutus orang untuk mengawasinya terus"
Aksan curiga setelah ini Tamara akan membuat kekacauan dengan Anin. jadi dia berencana mengirim orang untuk mengawasi sekaligus melindungi Anindira.
Setelah mengelilingi taman sebentar, mereka berdua pun pulang karena hari sudah mulai gelap.