Bakery love story

Bakery love story
Kejadian tak terduga



Empat bulan kemudian.


Kehamilan Anindira yang sudah memasuki bulan ke 4, membuat perutnya sudah terlihat walaupun tidak terlalu besar.


Hari ini Anindira akan pergi ke mall. Meskipun tidak sedang ingin membeli sesuatu, tapi dia tetap ingin pergi kesana untuk sekedar cuci mata.


Setelah memohon dan berusaha membujuk suaminya, akhirnya dengan berat hati Aksan mengizinkannya pergi.


Meskipun Anindira kemana-mana selalu didampingi oleh asisten, tapi ia senang karena yang mendampinginya adalah Alira. menurutnya Alira adalah gadis yang asik dan menyenangkan. Bagi Anindira, Alira adalah orang terdekat keduanya setelah Kanaya, karena Alira adalah asisten pribadinya, ia banyak mengetahui tentang kehidupan pribadi Anindira.


Pekerjaan Alira selama kurang lebih 4 bulan ini sudah membuktikan bahwa dirinya bisa menjaga dan melindungi Anindira dengan sangat baik. Aksan senang karena ia telah menemukan orang yang tepat untuk melindungi istrinya saat berada diluar dan jauh darinya.


Selama 4 bulan ini, tak sedikit masalah yang harus mereka hadapi. mulai dari masalah dengan seorang pembeli yang berusaha memfitnah mereka di toko roti, maupun masalah dengan orang yang tak dikenal di luar. banyak sekali kejadian tak mengenakkan yang menghampiri mereka seperti berusaha ingin menyakiti atau menjatuhkan Anindira. tapi Alira selalu berada disampingnya dan melindunginya.


***


Anindira dan Alira baru tiba di mall, mereka langsung turun dari mobil hendak masuk kedalam.


"Mau kemana?" Tanya Alira saat Madan mengikuti mereka. "Kak Madan disini saja, tidak usah ikut."


"Tapi"


"Pak supir tunggu saja dimobil." Ucap Anindira kepada supir muda itu.


"Baiklah"


Mereka berdua langsung masuk dan mulai melihat-lihat. Sepanjangan waktu mereka hanya berputar-putar mengelilingi mall besar ini.


Alira sudah lelah sedari tadi mengikuti Anindira. Mereka sudah naik turun lantai dan berkeliling. bahkan semua sudut mall ini sudah mereka datangi tapi belum ada satupun barang yang dibeli.


"Barang apa yang kakak cari?"


"Tidak ada" Ucapnya sambil menggeleng membuat Alira ternganga.


Alira pikir Anindira sedang mencari sesuatu sampai berkeliling mendatangi semua tempat. tapi ternyata tidak ada barang yang dicarinya. sia-sia mereka berjalan kesana-kemari, membuat lelah saja.


"Jadi kenapa kakak ingin sekali pergi kemari kalau tidak ingin membeli sesuatu?" Tanya Alira putus asa.


"Karena aku bosan. sepertinya anakku ingin jalan-jalan cuci mata." Ucap Anindira sembari mengusap perutnya.


"Apa kakak tidak lelah?"


Anindira menggeleng. Bagaimana bisa ia tidak lelah setelah satu jam lebih berkeliling. Pikir Alira.


"Kau lelah ya?" Tanya Anindira melihat kaki Alira yang tidak bisa diam.


"Tidak kok" Alira berbohong, padahal kakinya sudah sakit untuk menapak karena terlalu lama berjalan.


"Kau yakin? kalau begitu ayo kita berkeliling lagi."


Alira menggeleng cepat, lalu tersenyum menunjukkan deretan giginya. "Kakiku sedikit pegal, hehe."


"Hahaha, kenapa tidak bilang dari tadi? yasudah ayo kita istirahat dulu."


Mereka segera masuk kedalam lift menuju ke lantai paling atas karena tempat makan terletak disana.


"Apa kaki kakak tidak sakit?"


"Aku sudah terbiasa. dulu sewaktu aku pulang sekolah, aku selalu berjalan kaki dari halte sampai rumah. jaraknya lumayan jauh, dan aku melakukannya setiap hari." Jelas Anindira membuat Alira manggut-manggut.


Ting.


Pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju ke stan tempat penjual minuman.


saat sedang mengantri, mereka bertemu dengan Chika yang sedang mengantri juga dibelakang mereka. Chika tidak pergi ke toko karena hari ini adalah jatahnya libur.


"Kak Anin? kak Ali?" Chika memanggil mereka. tadinya dia tak menyadari kalau orang yang sedang mengantri didepannya adalah Anindira dan Alira.


"Panggil aku dengan benar." Alira mengeluarkan kata-kata andalan Malik karena tak suka dengan panggilan yang diberikan Chika.


"Iyaiya kak Ali...ra"


Chika sengaja menggodanya. ia sering memanggil Alira dengan sebutan Ali untuk membuatnya kesal.


"Chika sedang apa kamu disini?" Tanya Anindira.


"Aku... emm... aku sedang membeli sesuatu."


"Beli apa emangnya? kok jawabnya mesti mikir dulu?"


"Rahasia dong kak Ali, wekk"


"Aaaa... sakit-sakit"


Anindira menggeleng melihat mereka berdua, tidak di toko tidak disini mereka selalu seperti itu.


"Alira sudahlah. sudah giliran kamu tuh yang pesan." Ucap Anindira melihat antriannya sudah kosong tinggal mereka bertiga. Alira pun segera memesan minuman. sedangkan Chika menjauh sebentar untuk menjawab telpon.


Selagi Alira memesan, seorang ibu-ibu sedang berjalan tanpa sendal sambil memegang pisau ditangannya. Chika yang melihat ibu itu merasa aneh. ibu-ibu itu seperti berjalan kearah mereka dengan tatapan yang kosong.


Chika yang sudah was-was sedari tadi langsung berlari kearah Anindira, karena ibu-ibu aneh itu mengarahkan pisaunya ke perut Anindira. dengan cepat Chika mendorong Anindira bertepatan saat ibu itu menusukkan pisaunya. Dan akhirnya Perut Chika lah yang tertusuk pisau karena melindungi Anindira. Untungnya tusukannya tidak terlalu dalam.


Semua orang terkejut dan histeris melihat kejadian itu. sedangkan si ibu-ibu aneh itu langsung melarikan diri.


"Chikaaa" Teriak Anindira membuat Alira langsung menoleh kebelakang.


"Chika" Alira membantu Anindira memegangi tubuh Chika yang sudah mau ambruk.


"Aakhh..." Chika meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


Para pengunjung mall langsung berkerumun sambil bertanya-tanya apa yang terjadi.


Tampak dua orang pria berlari datang menghampiri mereka. pria itu adalah Kevin dan asistennya.


Sedari tadi Kevin dan asistennya memang sudah ada disana sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang. mereka melihat seorang ibu-ibu aneh dengan bertelanjang kaki sambil memegang pisau berjalan melewati mereka. Mereka terus melihat ibu itu yang akhirnya menusukkan pisaunya ke perut seorang gadis yang sudah melindungi wanita hamil yang sebenarnya menjadi target ibu itu.


"Kakak ipar?" Ucap Kevin terkejut karena awalnya ia tak tahu kalau wanita hamil itu adalah Anindira.


Melihat Kevin ada disitu, Anindira langsung meminta bantuannya untuk menolong Chika.


"Kevin tolong.. tolong bawa dia kerumah sakit." Ucap Anindira yang sudah sangat cemas dan khawatir melihat kondisi Chika yang hampir tak sadarkan diri.


"Baiklah"


Tanpa basa-basi Kevin langsung membuka jasnya dan membawa Chika dalam gendongannya. Sementara petugas keamanan yang baru datang langsung menghampiri mereka dan segera mengamankan pisau yang tergeletak dilantai dengan noda darah.


"Kau bantu mereka mengurusnya!" Perintah Kevin pada asistennya.


"Baik Tuan"


Kevin lalu berjalan cepat menuju lift diikuti Anindira dan Alira dari belakang.


Anindira menyarankan agar mereka pergi dengan mobilnya saja. Kevin menyetujuinya dan langsung memasukkan Chika kedalam mobil Anindira dan memangkunya.


Madan langsung melajukan mobil kerumah sakit tanpa sempat bertanya kepada mereka apa yang terjadi.


Apa yang terjadi denganmu Chika?


Madan sesekali melihat Chika dari kaca spion. padahal Chika baru saja menerima panggilan telpon darinya tadi.


Madan melajukan mobilnya dengan sangat cepat agar bisa segera tiba dirumah sakit.


"Jangan terlalu kencang, kita bisa celaka." Ucap Kevin saat Madan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Madan pun sedikit menurunkan kecepatannya.


"Kakak ipar tidak apa-apa?" Tanya Kevin melihat wajah Anindira yang pucat, ia sangat khawatir melihat keadaan Chika sekarang.


"Chika akan baik-baik saja kak, kita akan segera sampai dan dokter akan menanganinya. tenanglah." Alira berusaha menenangkannya, ia juga khawatir dengan Anindira yang wajahnya sudah pucat. tak baik baginya merasakan cemas dan khawatir yang berlebihan karena sedang hamil.


Kevin memandangi wajah Chika yang pucat dan bajunya yang sudah berlumuran darah sampai-sampai kemeja yang dikenakan Kevin pun juga ikut terkena noda darah. entah kenapa ada perasaan kasihan dan cemas yang dirasakan Kevin saat melihat Chika.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit. Kevin langsung menggendongnya turun untuk segera mendapatkan perawatan medis. Chika langsung dibawa ke ruang operasi untuk penanganan lebih lanjut.


Mereka semua menunggu diluar ruangan operasi dengan cemas.


"Segera temukan ibu itu dan cari tahu siapa dia!" Ucap Kevin lalu mematikan telponnya.


"Dia terluka karena aku. dia berusaha melindungiku." Ucap Anindira mulai meneteskan air matanya. ia mengingat kejadian tadi dimana Chika langsung berlari untuk menggantikan dirinya dari tusukan pisau itu.


"Tidak kak, ini semua karena ibu-ibu gila itu" Ucap Alira berusaha menenangkannya. namun Anindira semakin menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan Chika.


"Kakak ipar tenangkan dirimu." Ucap Kevin. "Alira, apa kau sudah memberitahu Aksan?"


"Belum Tuan." Alira belum melaporkan kepada Aksan apa yang terjadi hari ini. ia lupa dan juga takut karena Anindira saat ini terlihat pucat dan tidak sehat.


"Biar aku yang telpon."


Kevin langsung menghubungi Aksan dan memberi tahukan semua yang terjadi. Aksan terkejut ketika mendengar penjelasan dari Kevin. ia menanyakan keadaan istrinya sekarang. Kevin menceritakan kalau Anindira saat ini sedang merasa bersalah dan terlihat pucat.


Setelah menanyakan lokasi rumah sakitnya, Aksan langsung memutuskan sambungan teleponnya dan segera menyusul mereka. ia sangat khawatir dengan kondisi Anindira. ia takut terjadi sesuatu dengan istri tercintanya.