Bakery love story

Bakery love story
Sangat Mengejutkan



Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Pernikahan akan dilaksanakan seminggu lagi. Nyonya Hanna tidak ingin berlama lama lagi. Dia sudah tidak sabar melihat putranya itu menikah, apalagi yang akan menjadi menantunya itu pilihannya sendiri. Meskipun Hanna tau putranya setuju hanya karena dirinya.


"Apa semua persiapan sudah diurus?, Baiklah. Ingat aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun. Kau mengerti!". Ucap Hanna pada seseorang di telepon.


"Baik Nyonya, semua akan berjalan dengan lancar".


"Yasudah lakukan tugasmu dengan benar". Sambil mematikan teleponnya.


Tiba tiba Hanna merasakan sakit di kepala nya. "Aduhh". Sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Kenapa ma? Apa kepala mama sakit lagi? Kan sudah papa bilang untuk cek ke dokter". Ucap tuan David.


"Sudalah pa, ini hanya sakit kepala biasa. Tidak usah berlebihan". Hanna mencoba menenangkan suaminya.


"Kalau begitu biarkan para asisten saja yang mengurus semuanya."


"Tidak pa, mama ingin mengurus semuanya sendiri. Mama sangat bahagia akhirnya Aksan setuju untuk menikah."


Tuan David hanya bisa menghela nafas kasar. "Terserah mama saja".


- - -


Malam hari di Toko Roti.


"Apa?". Berteriak sambil menggebrak meja.


"Kenapa mendadak begini? Kenapa kau tiba-tiba mau menikah? Dengan siapa? Kau tidak sedang hamil kan Anin?". Tanya Kanaya dengan diselimuti rasa penasaran yang membara.


"Huss, sembarangan. Aku itu masih perawan tau".


"Lalu kenapa kau tiba-tiba mau menikah? Minggu depan lagi, ini terlalu tiba-tiba Anin. kau merahasiakan apa dariku?" Tanya Kanaya kesal, dia mengira selama ini sahabatnya itu menyimpan rahasia dibelakangnya.


"Apa kau ingat Nyonya Hanna Alister yang pernah aku ceritakan padamu?".


"Ingat, kenapa?".


Anindira pun menceritakan semuanya.


"Dia ingin aku menikah dengan anaknya. Dia bilang dia punya penyakit serius di kepalanya. Aku tidak tega Nay, Semenjak bertemu dengannya, rinduku dengan ibu sedikit terobati".


"Nyonya Hanna memintamu menikah dengan Tuan Aksan?".


"iya. dan maaf karna aku belum sempat menceritakan semuanya padamu, Karna ini semua terlalu tiba-tiba dan.. dan aku tidak tau apa keputusan yang kupilih ini benar atau tidak"


Kanaya menggenggam tangan sahabatnya itu, mencoba menguatkannya. dia tahu Anindira sedang benar-benar dilema saat ini.


"Tapi bagaimana dengan Tuan Aksan? Apa dia menerima perjodohan ini?."


"Dia bilang dia menerimanya hanya karena ibunya."


Menghela nafas panjang. "Semoga keputusanmu ini tepat. Aku tidak ingin kau terluka nantinya." Anin hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.


Suara telpon berbunyi.


"Halo kak ada apa?". tanya Anin.


"Anin apa kau sibuk?". Tanya Kenan dari ujung telpon.


" Tidak, kenapa?".


"Aku ingin mengajakmu makan malam. Kau di toko kan, aku akan kesana sekarang ya".


"Emm baiklah kak". Menutup telpon.


"Kak Kenan mengajak ku makan malam, sekalian aku akan bilang padanya tentang pernikahan ku".


"Aku rasa kak Kenan menyimpan rasa padamu, apa kau merasakannya juga?".


" Kau ini bicara apa?. Dia itu sudah ku anggap seperti kakak sendiri".


"Apa dia menganggapmu sebagai adiknya?. Anin apa kau tidak bisa melihat dari sikap dan perhatian nya padamu, aku rasa dia menyukai mu."


Anin memang menyadari sikap dan perhatian yang Kenan berikan padanya memang tidak wajar.


Anindira mengangguk lalu menghela nafas berat.


_ _ _


Kenan mengajak Anin makan malam di restoran seafood favoritnya.


Mereka langsung masuk dan duduk di kursi yang sudah di pesan Kenan terlebih dulu.


Malam ini Kenan berencana akan menyatakan perasaannya pada Anindira.


Setelah makanan tiba mereka langsung makan. Mereka berdua tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.


Setelah selesai makan, mereka sama sama membuka suara. saling memanggil secara bersamaan.


"kak".


"Anin".


Mereka berdua tertawa.


"Baiklah kau duluan". Ucap Kenan sambil tersenyum. "Katakanlah apa yang ingin kau katakan".


"Baiklah kak, aku mau memberi tahumu sesuatu". ucap Anin ragu.


"Apa itu?"


Anindira menatap lekat wajah Kenan, kemudian melanjutkan ucapannya dengan perlahan tapi pasti dan itu terdengar cukup jelas ditelinga Kenan.


"Sebentar lagi aku akan menikah kak"


Senyum dari bibir Kenan berangsur memudar. Dia begitu terkejut mendengar perkataan Anin. Hatinya terasa sakit.


"Apa?" Ucapnya tidak bisa menyembunyikan nada keterkejutannya.


Secepat itukah? lirihnya dalam hati.


Terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya saat ini. namun dia mengakui kalau dirinya telah kalah, kalah cepat.


Anindira melihat perubahan ekspresi dari Kenan.


"Kapan kau akan menikah?" Ucapnya lagi setelah hening sesaat. tanpa memandang gadis dihadapannya itu.


"Minggu depan kak". jawab Anindira sambil terus memperhatikan ekspresi wajah Kenan.


Kenapa secepat ini. Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaan ku padanya.


Kenapa, kenapa dia diam saja. Apa dia bersedih?. Aku rasa memang benar yang dikatakan Kanaya kalau kak Kenan menyukai ku.


"Kak?" Anindira bingung karena Kenan hanya diam saja sambil menunduk.


Menatap Anindira, "kau memberi kabar yang mengejutkan, sangat mengejutkan". tersenyum getir.


"Maaf mengejutkan mu kak."


"Emm aku harap kakak bisa datang ke pernikahanku nanti".


Kenan hanya tersenyum getir menatap Anin tanpa mengatakan apapun. suasana kembali hening.


"Tadi kakak mau bilang apa?".


"Karena terkejut aku sampai lupa mau bilang apa". Ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Akhirnya Kenan memutuskan untuk tidak menyatakan isi hatinya kepada Anin. Sebaiknya dia menyimpan perasaannya itu tanpa diketahui siapapun pikirnya.


- - -


Di perjalanan pulang suasana sangat hening. Kenan hanya diam saja.


Saat tiba di depan rumah Anin. "Apa kak Kenan baik-baik saja?"


Kenan menolehkan kepalanya berat kearah Anin dan menatapnya beberapa saat.


"Semoga kau bahagia". satu kalimat yang singkat namun penuh arti diucapkannya kepada Anin, membuat Anindira bingung harus senang atau sedih mendengarnya.


kalimat singkat itu seperti sebuah kalimat perpisahan baginya


"Jaga dirimu Anin".


Setelah Kenan pergi. Anindira masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamarnya.


Di dalam kamar Anindira tenggelam dengan pikirannya sendiri.


"Apa kak Kenan benar benar menyukai ku?. Apa tadi dia mau menyatakan perasaannya padaku?. Aku harap itu tidak benar. aku merasa tidak enak padanya. tapi itu juga bukan salahku."


Setelah mengantarkan Anin pulang, Kenan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menyesal karena terlambat menyatakan perasaannya.


Beberapa hari kemudian.


Kenan pergi ke luar negeri. Selain urusan pekerjaan dia juga ingin menenangkan pikiran dan hatinya.


Dia menyadari sudah terlalu lama dirinya meninggalkan Anin setelah lulus kuliah tanpa mengabarinya. Mungkin pada saat itu Anin berkenalan dengan pria lain pikirnya.


Bersambung. . .