
Karena hampir seluruh bagian dinding toko didominasi kaca transparan, jadi dengan mudah orang luar melihat keaadan dalam toko, begitu juga sebaliknya.
"Aku akan buat perhitungan denganmu" ucap seseorang dari dalam mobilnya yang sudah terparkir didepan toko. kemudian orang itupun masuk kedalam dan orang pertama yang dijumpainya adalah Chika.
"Selamat datang di A.K Bakery, mau pesan apa?" ucap Chika sopan dengan orang tersebut.
"Dimana Anindira?." Tanyanya tanpa basa-basi. ia sudah tahu kalau Anindira adalah pemilik toko roti terkenal ini karena ia telah mengirim orang suruhan untuk menyelidiki tentang Anindira. ia juga tahu kalau setiap hari Anindira akan mengunjungi tokonya ini.
"Maaf nona ini siapa ya? kalau boleh tau ada perlu apa nona mencari kak Anindira?"
"Kamu tidak perlu tahu, sekarang cepat panggil wanita bernama Anindira itu kemari!" Ucapnya dengan angkuh
Chika menatap serius orang didepannya ini. dilihat dari gelagat dan penampilannya tidak mungkin kalau dia teman Anindira.
"Hei kenapa kau diam saja? apa kau tuli? cepat panggil wanita itu!"
"Memangnya anda siapa?" Ucap Chika geram, sudah sekuat tenaga ia mencoba sabar akhirnya kelepasan juga.
"Ada apa Chik?" Tanya salah satu pegawai yang menghampiri Chika.
"Gak tau nih orang, datang-datang nyolot, seenaknya bilangin orang tuli"
"Aku ingin bertemu Anindira, cepat panggil dia kemari! aku tahu dia ada didalam."
"Baiklah, silahkan nona tunggu dulu disana" Ucap pegawai itu mempersilahkannya untuk duduk.
"Yaudah Chik panggilin kakak sana, biar aku yang jaga disini"
Chika pun memanggil Anindira yang sedang berada di ruangannya.
"Kak ada yang nyariin tuh didepan"
"Siapa Chik?" Tanya Anindira penasaran
"Gatau tuh makhluk asing"
"Hah? kok makhluk asing?"
"Iya habisnya ditanya siapa gak dijawab, malah ngatain orang tuli lagi"
"Tapi kamu tidak boleh begitu Chik sama pelanggan, kita harus sabar menghadapi pelanggan meskipun banyak maunya." Ucap Anindira mengingatkan.
Anindira yang penasaran pun bergegas menemui orang yang dibilang Chika mahluk asing.
Dari kejauhan Anindira bisa melihat siapa orang yang datang mencarinya itu, sedikit terkejut namun ia tetap tenang.
"Bener Chik mahluk asing" Ucap Anindira yang diangguki oleh Chika.
"Yakan kak, sudah aku tebak dia pasti bukan pelanggan, apalagi teman kakak. makanya aku berani melawan."
"Ada perlu apa?" Ucap Anindira setelah duduk dihadapan wanita yang mencarinya itu, yang tak lain adalah Tamara.
Tamara memperhatikan penampilan anindira dari atas sampai kebawah. Anindira berpenampilan sangat jauh bertolak belakang dengannya.
Aku tidak kalah cantik darinya. Aku juga jauh lebih seksi dan menarik darinya. Lalu apa yang dilihat Aksan dari wanita ini?.
Apa dia bisa bernafas dengan pakaian ketat itu? bajunya itu pantasnya dipakai oleh anak kecil.
Setelah saling memperhatikan dan berbicara dengan pikiran mereka masing-masing, Tamara pun membuka suara.
"Tidak disangka ya selera Aksan menurun drastis sekarang" Ucap Tamara dengan tatapan merendahkan, sambil melipat kedua tangannya di dada. Anindira hanya diam mendengar perkataan Tamara.
"Aku kemari hanya ingin memperingatkan kalau mulai sekarang kau harus menjauhi Aksan, kalau perlu bercerailah dengannya! karena aku sudah kembali untuk mengambil kembali Aksan ku" Ucap Tamara dengan santainya tanpa tahu malu. Anindira masih diam tak merespon membuat Tamara kesal.
"Aku yakin Aksan masih sangat mencintaiku, dan sebentar lagi kami pasti akan segera kembali bersama. dan kau akan dicampakkan olehnya" Ucap Tamara berusaha memanas-manasi Anindira namun tetap tak ada reaksi apapun dari gadis itu.
"Sudah selesai? jika hanya itu yang mau kau sampaikan, kau bisa pergi sekarang." ucap Anindira yang tak terpengaruh sedikit pun dengan ocehan Tamara.
Berani sekali dia mengusirku. awas saja kau. aku akan merebut Aksan kembali bagaimanapun caranya.
"Kau harus ingat ini, jika kau tidak mau berpisah dengannya maka aku yang akan memisahkan mu darinya." Ancam wanita itu lalu pergi meninggalkan Anindira.
"Dasar wanita aneh".
Setelah Tamara pergi, Anindira memikirkan kembali semua perkataanya tadi sambil bertopang dagu di atas meja. Saat ini ia memang tak mempercayai wanita itu, tapi bagaimana kalau suatu saat perkataan Tamara menjadi kenyataan. bagaimana kalau Aksan kembali pada mantan kekasihnya itu dan mencampakkan dirinya.
Perasaan khawatir dan takut mulai menghampirinya. berbagai macam pikiran buruk bermunculan di kepalanya.
Bagaimana kalau Yang dikatakan Tamara tadi semuanya benar?
Bagaimana kalau Aksan masih mencintai Tamara?
Bagaimana kalau Tamara berhasil merebut Aksan kembali? bagaimana?
"Tidak bisa". Ucapnya sambil menggebrak meja. orang-orang yang berada disitu langsung melihat kearahnya.
"Hehe"
Anindira langsung pergi dari situ kembali ke ruangannya.
Dilantai tertinggi perusahaan Alister company.
Setelah melihat video yang dikirim oleh anak buahnya, Aksan menjadi sangat emosi.
"Wanita tidak tahu malu, awas saja jika dia sampai macam-macam dengan Anindira. akan kupatahkan jari-jarinya."
Terekam jelas semua perkataan Tamara dari awal sampai akhir, mulai dari dia menghina penampilan Anindira sampai dengan ancaman yang diberikannya pada istrinya itu, membuat Aksan emosi melihatnya.
Malik yang melihat Tuannya itu begitu peduli dengan istrinya, merasa kalau tebakannya selama ini benar. lama kelamaan Aksan pasti akan menyukai Anindira, sejak pertama melihatnya saja Malik sudah tahu kalau Anindira lebih baik dari Tamara. dan benar saja Aksan sudah jatuh hati dengan istrinya itu.
"Tapi kenapa dia diam saja?" Aksan tidak habis pikir melihat Anindira yang bisa dengan tenang menghadapi sikap Tamara. Dia diam saat dihina, dia juga tenang saat diancam.
"Terkadang diam itu emas tuan." Ucap Malik yang kemudian mendapat lirikan tajam dari Aksan.