
"Ya ya aku percaya". Ucap Anindira setelah tertawa.
"Syukurlah." Aksan akhirnya bisa tenang. Karena yang ia takutkan adalah kalau istrinya salah paham.
"Tuan sebaiknya kita pulang saja." Ucap Sekretaris Malik.
"Baiklah, ayo sayang." Akhirnya mereka semua pulang karena mereka semua juga sudah lelah baru pulang dari kantor masing-masing langsung bertemu disini.
"Nay, pulangnya hati-hati ya, aku duluan."
"Iya"
Anindira pulang bersama Aksan dan Malik dengan mobilnya. Sementara mobil Anin dibawa oleh supirnya.
"Aku seperti pernah melihatnya". Ucap Kevin melihat ke arah Kanaya yang sedang melambaikan tangannya pada Anin.
"Hey wanita." Panggil Kevin. Kanaya melihat kesebelah kanan kiri dan belakangnya.
"Aku memanggilmu."
"Nama saya Kanaya, Tuan."
Aku seperti pernah melihatnya di kantor.
"Nama yang cantik." Seperti orangnya.
"Apa kau temannya kakak ipar?" Ucap Kevin lagi.
"Kakak ipar?"
"Aksan adalah sepupuku jadi istrinya adalah kakak iparku."
"Saya temannya Anin, saya juga bekerja di perusahaan Tuan Aksan."
Pantas saja aku seperti pernah melihatnya, ternyata di kantor Aksan. Batin Kevin
"Kau tahu saja yang bening-bening." Bisik Willy ditelinga Kevin
"Aku Roy" Ucap pria satu lagi dengan senyuman manisnya lalu menjabat tangan Kanaya.
Kevin dan Willy terkejut melihat aksi temannya itu.
"Baiklah sudah malam, saya permisi tuan-tuan." Ucap Kanaya lalu pergi meninggalkan ketiga pria itu.
"Wah wah Roy, kau selangkah lebih maju dari Kevin." Ucap Willy
"Hahaha siapa cepat dia dapat." Ucap Roy lagi.
- - -
Aksan dan Anin sudah bersiap untuk tidur karena mereka sangat lelah hari ini. Anindira tidur membelakangi Aksan, sedangkan Aksan tidur sambil memeluknya dari belakang.
Saat Anindira mulai memejamkan matanya, Aksan memanggilnya.
"Sayang"
Anindira pun kaget dan tidak jadi memejamkan matanya.
"Ada apa?"
"Kau marah?"
"Tidak"
"Kenapa tidak bertanya?"
"Tanya apa?"
"Soal kejadian tadi"
"Oh itu, sebenarnya aku sudah melihatnya sejak awal, aku melihat bagaimana cara wanita itu sengaja menyandung kakinya sendiri, dan jatuh dihadapan mu. Aku tau dia sengaja ingin membuatku cemburu."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Dia pernah datang menemuiku di toko. Dia bilang kau adalah kekasihnya, dia juga mengancam dan menyuruhku untuk bercerai darimu."
"Apa? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"
"Aku tidak ingin mengambil pusing masalah ini, aku kira dia hanya orang iseng atau salah orang. jadi aku mengabaikannya. Memangnya kenapa?"
Dia tak menyangka Tamara akan melakukan ini, berani sekali dia mengancam istri tercintanya dan menyuruhnya untuk bercerai.
Berani sekali dia. Sepertinya aku harus memberikannya pelajaran. dia semakin kurang ajar.
"Dengar, aku sudah melupakannya. Hubungan kami sudah berakhir bahkan sebelum kau datang di kehidupanku. Dan sekarang aku hanya mencintaimu, Jadi jangan berpikiran yang macam-macam." Anindira mengangguk. Lalu Aksan mencium keningnya dan memeluknya "Tidurlah".
Jadi dia mantannya. Anindira menghela nafasnya pelan kemudian memejamkan matanya.
- - -
Keesokan harinya.
Hari sudah mulai sore. Anindira baru pulang dari tokonya. Seperti biasa ia akan pulang lebih dulu sebelum Aksan pulang.
Setelah pulang dan membersihkan tubuhnya, Anindira turun kebawah. Ia menghampiri ibu mertuanya yang sedang selonjoran di sofa ruang keluarga sambil menonton tv.
"Kepala mama sakit?" Tanya Anindira saat melihat Hanna memijat kepalanya sendiri. Dan wajahnya juga terlihat agak lesu.
"Iya". Ucap Hanna sambil menarik kakinya yang tadi ia selonjorkan agar menantunya bisa duduk disebelahnya.
"Sudah minum obat?"
Anindira menatapnya dengan tatapan sendu, ia mengkhawatirkan keadaan mertuanya itu. Ia takut penyakit yang diceritakan mertuanya itu semakin bertambah parah.
"Sudahlah Mama hanya pusing sedikit nanti juga hilang".
Maaf ya sayang, mama sudah membuatmu khawatir dengan penyakit palsu itu. Mama terpaksa berbohong waktu itu.
"Jangan menatap mama seperti itu, mama baik-baik saja." Anindira mengangguk. Hanna lalu mengelus wajah menantunya itu.
"Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda?". Hanna menyentuh perutnya yang datar.
"Belum mah"
Hanna menghela nafasnya kuat.
"Sampai kapan kalian akan memberikan mama cucu? Mama sangat ingin punya cucu." Ucap Hanna cemberut. Anindira hanya menyengir, ia bingung harus berkata apa. Mau minta maaf tapi ini bukan kesalahannya, karena memang Tuhan belum memberikan rezeki itu padanya.
"Mulai sekarang kau harus banyak makan makanan yang bergizi. Tidak boleh makan sembarangan dan tidak boleh kelelahan, mengerti." Anindira mengangguk.
"Kalau perlu kau tidak usah pergi ke toko roti setiap hari. Kau kan bisa mengutus orang kepercayaan atau karyawan kepercayaan mu menangani toko." Anindira menggeleng.
"Tidak ma, aku ingin selalu pergi kesana. Aku ingin selalu melihat toko ku. Dengan pergi kesana aku seperti mengunjungi ibuku. Jangan larang aku pergi kesana ma." Ucapnya cepat dengan wajah memelas sambil memegang tangan mertuanya.
"Baiklah baiklah. Tapi kau harus menjaga kesehatan mu. Tidak boleh kelelahan. Supaya kau bisa cepat memberikan cucu untuk mama."
Memang ada hubungannya ya? Iyakan sajalah.
Haish. . ibu mertuaku ini sangat perhatian dan juga bawel.
"Baiklah mah"
Beberapa saat kemudian Aksan pun pulang. Anindira segera keluar menyambut suaminya. Ia berdiri di depan pintu melihat sekertaris Malik membukakan pintu mobil untuk suaminya.
Memang ya orang kaya, pintu mobil saja mesti dibukain.
Anindira menatap ke depan. ia tak pernah membayangkan bisa menikah dan dicintai oleh orang yang sangat terpandang di kotanya. menjadi bagian dari keluarga konglomerat. kehidupannya berubah.
dulunya ia hanya hidup sederhana bersama kedua orang tuanya, dan setelah orang tuanya pergi meninggalkannya ia menjadi sebatang kara dan hampir bunuh diri. tapi sekarang ia sangat bahagia, selalu dikelilingi orang-orang baik dan menyayanginya. Toko roti kesayangannya juga semakin maju.
"Sayang" Aksan sudah berdiri dihadapannya tapi ia tidak menyadari.
"Kenapa melamun?"
"Tidak ada" Jawabnya sambil tersenyum setelah tersadar dari lamunannya. Aksan mencium keningnya lalu merangkulnya masuk ke dalam.
- - -
Saat malam tiba.
Mereka semua sudah berada di meja makan, sedang makan malam.
"Anin, apa yang kau makan saat makan siang?" Tanya Hanna.
"Terkadang aku membeli makanan di warung dekat toko dan juga camilan camilan pinggir jalan." Jawab Anin sambil mengingat-ingat makanan yang biasa dibelinya.
"Apa? pinggir jalan? itukan tidak higienis." Ucap Hanna dengan suara menggelegarnya.
"Biasa aja kali mah ngomongnya, kaget nih." Ucap Bella.
"Lagian kenapa sih mah, orang enak juga. gak semua yang dijual dipinggir jalan itu gak higienis."
"Dari mana kamu tahu?"
"Di dekat kampus juga ada jajanan pinggir jalan. bersih kok, enak lagi."
"Mulai sekarang Mama tidak mau kalian makan makanan pinggir jalan lagi."
Bella mau menyahut lagi tapi belum sempat. baru membuka mulutnya mamanya sudah bicara.
"Tidak ada tapi tapian. kalian masih muda tidak pernah menjaga makanan yang kalian makan." Ucap Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan makannya.
Anin dan Bella saling pandang, kemudian melanjutkan makannya juga. hening sejenak.
"Mama akan menyuruh pak supir untuk mengawasi mu Anin. mama akan meminta laporan darinya apa saja yang kau makan diluar sana."
Ya ampun masih berlanjut.
Mereka semua yang ada disitu menghela nafasnya panjang. mendengar ocehan Hanna yang masih berlanjut. mereka semua tahu jika Hanna sudah mengomel, nantinya ia bisa membahasnya lagi.
"Dan kau Bella, apa perlu mama kirim pengawal bersamamu juga?"
"Tidak tidak. iya aku tidak akan makan pinggir jalan lagi." Jawab Bella cepat. sudah untung dia tidak diberi supir, jadi dia bisa pergi dengan bebas kemanapun sesukanya. tapi dia tetap menjaga batasannya. dan aturan yang telah dibuat mamanya.
"Baiklah."
Mereka pun melanjutkan makannya lagi. tapi tiba-tiba Hanna merasakan sakit di kepalanya. ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kenapa ma? makanya jangan marah-marah terus. lihatkan pasti darah tinggi mama naik." Ucap Tuan David.
"ssstttt. . . jangan berisik pah. jangan ada yang bersuara." Ucap Hanna dengan mata terpejam sambil memijit kepalanya. "Kalian habiskan makanan kalian. mama sudah selesai." Ucapnya lagi sambil meninggalkan mereka menuju tangga.
Aduuhh, kenapa semakin hari semakin sakit ya. ahh aku akan tidur saja.
"Apa mama sering sakit kepala pah?" Tanya Aksan pada Papanya.
"Iya, akhir-akhir ini papa sering melihat mama kalian memijat kepalanya sendiri. papa sudah mengajaknya untuk periksa ke dokter tapi dia tidak mau. dia hanya meminum obat yang dibeli di apotik."
"Kenapa mama sering sakit kepala?" Gumam Aksan.
Apa? Apa mereka tidak tahu tentang penyakit mama? apa mama merahasiakannya dari mereka?. Batin Anin