Bakery love story

Bakery love story
Percobaan bunuh diri



Beberapa hari kemudian


Di sebuah jembatan di taman wisata, berdiri seorang gadis yang sedang menatap jauh ke dalam danau. gadis itu adalah Anindira yang kini tepat berada di atas jembatan tersebut.


Keadaan taman hari ini tampak sepi, karena taman biasanya akan ramai didatangi pengunjung setiap weekend.


Biasanya ditempat inilah Anindira berada jika dirinya sedang sedih, disaat ia memiliki masalah namun tidak bisa dia ceritakan kepada orangtuanya, dia memilih pergi ke taman ini dan duduk di pinggiran danau untuk merenung dan menenangkan pikirannya.


Karena biasanya dengan duduk sambil memandangi air danau yang tenang membuat perasaannya menjadi lebih tenang.


Setelah ditinggalkan oleh orang tuanya, dirinya seakan kehilangan arah dan tujuan dalam hidupnya, tidak tahu harus melakukan apa, tidak ada lagi penyemangat dalam hidup, ingin rasanya ia ikut bersama kedua orang tuanya.


Anindira yang sedari tadi berdiri di jembatan itu memejamkan matanya membayangkan wajah ayah dan ibunya, semakin dibayangkan semakin sedih rasanya. saking larutnya ia dalam kesedihan, ia pun mulai berhalusinasi, merasa seolah mereka sedang berdiri dihadapannya, datang untuk menjemputnya pergi, Anindira pun memajukan langkahnya berjalan maju seolah menghampiri mereka. Angin sore yang berhembus pun membuatnya terbuai sehingga tidak menyadari kalau selangkah lagi dia akan jatuh kedalam danau yang cukup dalam itu, kakinya sudah berada di ujung jembatan yang hanya menggunakan tali sebagai pembatas. tiba tiba dengan cepat tangannya ditarik oleh seseorang yang membuatnya langsung tersadar dan jatuh ke dalam pelukan orang tersebut.


Anindira yang terkejut pun langsung menegakkan tubuhnya dan melihat orang yang telah menariknya itu.


"Kak kenan" ucap Anindira terkejut setelah melihat wajah orang yang menyelamatkannya barusan.


Kenan adalah seniornya waktu dikampus, karena Kenan yang lulus lebih dulu membuat mereka tidak pernah bertemu lagi.


"Apa yang kau lakukan Anin? Ada apa denganmu?". Tanya Kenan dengan wajah khawatir bercampur marah.


Anindira kembali menunduk, Kenan pun menghela nafasnya lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya duduk di bangku taman yang masih berada di sisi jembatan.


"Sekarang ceritakan padaku apa yang kau pikirkan di jembatan tadi!" tanya Kenan dengan suara lembutnya namun tak ada jawaban dari Anindira. gadis itu hanya menunduk sedih.


"Kau mau bunuh diri?" tanya Kenan lagi dengan suara super lembut.


Semenjak kuliah Anindira sudah terbiasa berbagi cerita dengan Kenan, walaupun Kenan seniornya di kampus tapi hubungan mereka sangat dekat.


Anindira sedih tapi juga senang setelah sekian lama tidak melihat Kenan akhirnya hari ini mereka bertemu, Kenan itu sudah seperti kakak sendiri baginya.


Anindira meneteskan air matanya sembari mulai menceritakan semua kesedihannya, dan semua yang telah terjadi kepada Kenan, Anindira tak henti-hentinya menangis dan meluapkan rasa sedihnya.


"Aku tau kamu sangat sedih dan sangat kehilangan kedua orangtuamu, tapi bunuh diri bukanlah cara yang tepat untuk menghilangkan kesedihanmu itu Anin". Kenan berusaha menenangkan Anindira dan memberikan nasehat padanya. Anindira hanya diam mendengarkan perkataan Kenan sambil sesekali mengelap air matanya yang mengalir.


"Orangtua mu pasti akan sedih jika melihat mu begini, Mereka tidak akan tenang kalau kau seperti ini".


Kenan memegang bahu Anindira dan menatapnya seolah mengalirkan semangat. "Kuatkan hatimu. Biarkan mereka tenang disana, dan kau jalani lah hidupmu dengan bahagia disini."


Setelah banyak nasehat dan dukungan yang diberikan Kenan, Anindira perlahan mulai sadar dan mulai mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupnya. rencana Tuhan tidak pernah salah dan jangan pernah sekalipun meragukan apa yang sudah tuhan rencanakan untuk hidup kita. hanya jalani saja garis hidup yang sudah ditentukan dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, ikuti saja alur hidup ini walaupun terkadang sulit dan pahit kenyataannya. karena seberat apapun itu, selagi kita masih diberi cobaan hidup itu tandanya kita masih mampu untuk menjalaninya, karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan manusia itu sendiri.


Kenan selalu bisa membuatnya tenang, dia selalu bisa memberikan solusi di setiap masalah Anindira, Kenan juga selalu melindungi Anindira dari orang-orang yang pernah berbuat jahat padanya. Oleh sebab itu Kenan sudah di anggap seperti kakak pelindung oleh Anindira.


Kak Kenan benar, ayah dan ibu pasti sedih jika melihat aku seperti ini. batin Anindira


Anindira mengusap air matanya dan menatap kenan. "Kemana saja kakak selama ini? kenapa tidak menghubungiku?" karena sibuk menangisi nasibnya tadi, ia lupa menanyakan kabar tentang Kenan selama ini.


"Hmm mana dulu yang harus aku jawab?" Ucap Kenan meletakan tangannya di dagu seolah sedang berpikir. Anindira pun tersenyum.


"Baiklah aku akan menceritakannya, dengarkan baik-baik ya, tidak ada siaran ulang." Ucap Kenan mengangkat jari telunjuknya tanda peringatan. Anindira tersenyum dan mengangguk. Kenan pun mulai menceritakan kisahnya selama menghilang ini.


"Setelah lulus aku langsung bekerja di perusahaan papa, aku tidak sempat menghubungi mu karena aku sangat sibuk di perusahaan dan papa selalu mengawasiku". Ucap Kenan sambil menunjukan wajah kesalnya.


"Aku harus bisa membuktikan kepada papa bahwa aku mampu dan layak menggantikan papa meneruskan perusahaan keluarga, setelah kerja keras dan hanya fokus pada perusahaan selama beberapa tahun ini akhirnya aku berhasil mendapatkan kepercayaan papa, baru sekarang lah aku bisa sedikit santai dan aku memutuskan untuk pergi menemuimu." meskipun begitu Kenan belum sepenuhnya menjadi pemimpin perusahaan, karena ia masih perlu bimbingan ayahnya yang saat ini masih menjabat sebagai CEO di perusahaan mereka. dia juga masih belum mau menerima jabatan itu karena ia merasa belum mampu meneruskan tanggung jawab besar itu meskipun ayahnya memaksa. Anindira akhirnya mengerti alasan Kenan tidak bisa ditemui dan dihubungi selama ini.


"Lalu bagaimana kakak bisa tau aku ada disini?"


"Tadi aku kerumahmu, tetanggamu bilang kau tidak ada di rumah, kau pergi beberapa saat setelah aku datang. kemudian mereka menceritakan semua yang terjadi padamu, mereka bilang bahwa Ayah dan ibumu baru saja meninggal. sepertinya tetanggamu juga mengkhawatirkan mu.


Aku tahu kau pasti sangat terpukul, dan aku tahu kau akan pergi kemana disaat seperti ini, dan ternyata feeling ku benar". ucapnya sembari menoel hidung gadis itu.


Setau Kenan jika Anindira bersedih dia akan pergi ke rumah kanaya sahabat baiknya atau pergi ke taman ini. Mereka bercerita panjang lebar setelah sekian lama tidak berjumpa hingga gelap pun hampir tiba.


"Anin, apapun yang terjadi aku tidak ingin kau melakukan hal seperti tadi lagi." peringatan Kenan dengan wajah serius.


Jika aku tidak datang tepat waktu tadi entah apa yang akan terjadi padamu. batin Kenan


"Aku sudah bilang aku tidak bunuh diri kak, aku hanya merasakan orang tuaku ada didepanku itu saja". Elaknya


"Hmm sama saja itu seperti percobaan bunuh diri. alasan macam apa itu". Kenan menghela nafas kasar.


"Yasudah ayo, sudah sore. aku akan mengantarmu pulang." ucap Kenan sembari bangkit dan menggandeng tangan Anindira.


Setelah bertemu kembali dengan Kenan dan mendengarkan nasehat yang Kenan berikan, Anindira merasa jauh lebih tenang. sikap dewasa Kenan selalu bisa membuat Anindira merasa aman, Ia senang akhirnya bertemu kembali dengan Kenan.


Kenan pun mengantar Anindira pulang dengan mengendarai mobilnya.


Perjalanan dari taman ke rumah Anindira tidaklah terlalu jauh, hanya saja karena sudah sore jalanan menjadi macet karena banyak orang yang baru pulang bekerja.