Bakery love story

Bakery love story
Ikut ke kantor



Setelah tiba di lantai tertinggi di gedung itu, Anindira langsung terkagum. ia berkeliling melihat ruangan besar itu. sedangkan Aksan menuju meja kerjanya untuk memulai pekerjaannya.


Jadi seperti ini rupanya ruangan CEO, Wah ruangannya besar sekali.


Anindira berjalan kesana-kemari melihat-lihat isi ruangan, kemudian ia duduk di sofa yang ada di situ sambil matanya berkeliling melihat-lihat.


Sofa ini sangat nyaman. Eh kenapa ada dua pintu disitu?.


"Suamiku, kenapa ada dua pintu disana?, ruangan apa itu?". Sambil menunjuk ke arah dua pintu yang bersebelahan.


"Lihat saja". Ucap Aksan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya, ia tak sempat menjelaskan pertanyaan Anin, jadi ia menyuruh istrinya untuk melihatnya sendiri.


Anindira memang suka penasaran, ia pun segera bangkit ingin melihat ruangan apa itu. Dibukanya satu pintu yang ternyata adalah toilet.


"Aku sudah tebak sih, salah satu diantara pintu ini pasti toilet. kalau yang itu ruangan apa ya?". Anindira membuka pintu sebelahnya yang ternyata sebuah ruangan yang ada tempat tidurnya.


Loh kenapa bisa ada ranjang disini?. masa iya suamiku menggunakan ranjang ini untuk tidur siang, memangnya dia kekantor untuk tidur siang apa.


Anindira berpikiran yang tidak-tidak, pikirannya traveling kemana-mana.


Anindira segera keluar dari ruangan itu, dia ingin tahu apa maksud dari keberadaan tempat tidur disitu.


"Suamiku, kenapa bisa ada ranjang disana?" Tanya Anindira. ia berdiri tepat didepan meja kerja Aksan. Aksan mendengar pertanyaan istrinya itu tapi dia tidak menjawab karena dia sedang sibuk sekarang. Anindira masih berdiri disana menunggu jawaban Aksan. mengetahui istrinya yang diam saja, Aksan meliriknya.


"Ya untuk tidurlah sayang untuk apa lagi?"


Anindira melipat kedua tangannya di dadanya dan menaikan alisnya sebelah.


"Kau tidak melakukan hal-hal aneh kan?, kau tidak macam-macam kan suamiku?"


"Macam-macam apa, aku hanya satu macam." Ucapnya sambil melanjutkan pekerjaannya.


Anindira menatap suaminya dengan curiga. ia memainkan jarinya dan mengetuk-ngetuk sepatunya di lantai. Aksan kembali meliriknya.


"Kau mencurigaiku?" Aksan menghela nafasnya. "Aku tidak pernah berbuat macam-macam, aku bahkan jarang tidur di kasur itu. aku sangat sibuk sayang, mana ada waktu untuk tidur siang bagiku."


"Apa mantan pacarmu. . . " Belum sempat Anindira menyelesaikan kalimatnya, Aksan langsung menggebrak meja. Anindira terkejut dan langsung memegang dadanya. melihat Anindira terkejut Aksan tersadar dan langsung mendekatinya. "Maaf". Ucapnya sambil memeluk istrinya itu.


"Jangan pernah membahas itu. aku malu mengakuinya sebagai mantanku, bagaimana bisa aku punya mantan yang ternyata seorang wanita murahan."


Aksan menangkup wajah Anin. "Jangan pernah menyebut namanya dengan bibir ini" Ucapnya lagi mengusap bibir Anindira dengan ibu jarinya.


Aku bahkan tidak ingat siapa namanya.


"Kenapa?"


"Dosa."


Anindira tertawa. "Memangnya nyebut nama orang saja bisa dosa? hahaha." Aksan tersenyum lega melihat Anindira yang tertawa, ia sudah takut jika Anindira akan marah tadi.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak lagi ya. aku hanya mencintaimu."


"Baiklah".


Lagian kenapa ada tempat tidur segala sih di dalam kantor, ada-ada saja.


Aksan kembali memeluknya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk."


Anindira ingin melepaskan pelukannya tapi Aksan menahannya.


Sekretaris Malik pun masuk untuk memberitahukan jadwal Aksan selanjutnya. ia melihat pasangan suami istri itu yang sedang berpelukan. terlihat Anindira seperti ingin melepaskan pelukannya tapi Aksan menahannya.


"Suamiku itu ada sekertaris Malik." Bisiknya.


"Biarkan saja."


Sepertinya anda sedang pamer ya tuan. Batin Malik.


"Tuan, setengah jam lagi akan ada meeting."


"Hmm." Jawab Aksan, ia sudah tahu.


"Dan saya sudah mengurus semua keperluan untuk anda sekeluarga liburan nanti. semuanya sudah beres."


"Baiklah terimakasih."


"Saya permisi tuan."


"Suamiku apa sekretaris Malik ikut?" Tanya Anin saat Malik sudah keluar dari ruangan.


Aksan melepaskan pelukannya. dan menjawab pertanyaan Anindira dengan ketus.


"Tidak. untuk apa dia ikut, pekerjaannya banyak disini. dan kenapa kau selalu menanyakannya? apa kau menyukainya?"


"Eh tidak-tidak. aku hanya bertanya karena kalian kan selalu bersama kemana-mana. ternyata kali ini dia tidak ikut bersamamu, hahaha" Anin langsung menghentikan tawanya melihat wajah Aksan yang kesal.


Aksan menggandeng tangan Anin menuju kursi kerjanya.


"Duduk sini" Aksan menarik Anindira untuk duduk di pangkuannya.


"Eh suamiku bagaimana kalau ada yang masuk nanti." Anindira hendak bangkit tapi Aksan menahannya.


"Biarkan saja. biar mereka melihatnya."


Cih tidak malu apa memamerkan kemesraan dengan orang lain.


"Dengar, aku akan keluar sebentar untuk meeting. kau tunggu disini saja ya aku tidak akan lama."


"Tapi aku ingin keluar, aku ingin melihat-lihat gedung ini. aku juga ingin menemui Kanaya." Ucapnya semangat.


"Siapa Kanaya?"


"Sahabatku, dia karyawan disini." Ucapnya antusias. dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya.


Ah iya, aku lupa bertanya padanya.


"Aku akan mencarinya, sekalian jalan-jalan. kalau aku menunggumu disini aku akan bosan suamiku, boleh ya?"


Anindira berusaha membujuk suaminya. Aksan menghela nafasnya, ia tidak bisa menolak Anindira yang begitu semangat.


"Baiklah. apa kau butuh orang untuk menemanimu berkeliling?"


"Tidak perlu suamiku, aku ingin jalan-jalan sendiri."


"Baiklah, tapi jangan sampai kau lelah. gedung ini sangat besar, kalau kau tidak menemukan temanmu itu kau bisa bertanya pada resepsionis atau siapapun. atau lebih baik kau kembali kesini. mengerti?"


"Baiklah baiklah."


Aksan pun memulai meeting setelah Malik menjemputnya. sedangkan Anindira mulai menelusuri gedung ini. ia melihat-lihat dan menyusuri semua tempat. para karyawan yang melihatnya memberikan hormat, sebagian dari mereka sudah tahu kalau ia adalah istri dari bos besar tempat mereka bekerja ini.


lantai demi lantai ia datangi tapi tidak terlihat juga keberadaan sahabatnya. ia mulai lelah berkeliling.


"Ya ampun gedung ini sangat besar. kakiku sudah pegal daritadi tapi aku belum menemukan Kanaya. haiss sayang sekali padahal aku sudah berada disini. kenapa kemarin aku tidak bertanya dia ada di lantai berapa." ia pun terdiam sesaat.


"Haiss bodohnya aku, kenapa tidak ku tanyakan sekarang saja." Anindira mengeluarkan ponselnya dan menelepon Kanaya. lama ia menunggu akhirnya Kanaya mengangkat telponnya.


"Ha Anin ada apa?" Ucap Kanaya di ujung telpon. ia menjepit ponselnya di bahu dan telinganya karena tangannya sedang sibuk mengetik.


"Nay kamu kerjanya dilantai berapa?"


"Aku? aku dilantai 15 kenapa?".


"Oke" Anindira langsung mematikan telponnya.


"Halo. . halo Anin". Dilihatnya layar ponselnya sudah mati. Kanaya memutar bola matanya kemudian meneruskan kembali pekerjaannya yang bertumpuk-tumpuk.


"Apaan sih Anin nelpon cuman nanyak begituan, gak tau apa aku lagi sibuk banget"


"Sibuk apasih neng".


Kanaya terdiam dan menghentikan ketikannya.


Suaranya kayak kenal. ia pun menoleh kesamping dan mendongakkan kepalanya.


"Anin". Teriaknya, ia terkejut melihat sahabatnya itu sudah ada dihadapannya.


"Biasa aja kali, kayak ngeliat hantu gitu."


"Kamu kok disini?" Tanyanya antusias.


Anindira mendekat seperti akan membisikkan sesuatu Kanaya pun ikutan memajukan kepalanya. "Aku berteleportasi." Bisiknya.


"Haiss" Kanaya memukul lengan Anin pelan, padahal ia sudah serius tadi mendengarkan. Anindira hanya tertawa.


Sebenarnya saat menelpon Kanaya tadi Anindira sudah berada di lantai 15, jadi dia tinggal mencarinya saja.


"Suamiku mengajakku kemari."


"Wah wah. . enak ya jadi istri bos besar. bisa melakukan apapun sesuka hati. coba lihat aku, pekerjaan ku menumpuk. aku harus menyelesaikannya dengan cepat seperti dikejar-kejar hutang." Mereka pun tertawa bersama. mereka berbincang panjang lebar sampai lupa waktu.


"Bukankah itu istri Tuan Aksan?, sepertinya Kanaya akrab sekali dengannya." bisik para karyawan.


"Nay sepertinya suamiku sudah selesai meeting. aku harus kembali ke ruangannya sebelum dia mencariku." Kanaya mengangguk.


"Oh ya maaf ya gara-gara aku datang pekerjaanmu jadi tertunda. padahal kau sibuk."


"Gapapa paling malam ini lembur lagi. tapi aku senang kau mengunjungiku. sahabat terbaikku." Ucap Kanaya lalu memeluk Anindira.


"Semangat ya kerjanya, semangat lemburnya hehe, fighting." Anindira mengangkat kepalan tangannya di udara, memberikan semangat.


"Fighting." Kanaya mengikuti gerakan Anin sambil memanyunkan bibirnya.


Anindira tersenyum melihat sahabatnya itu, ada rasa kasihan melihatnya. tapi ia tahu Kanaya wanita yang kuat, sama seperti dirinya kuat menjalani kehidupan yang sulit dulu sebelum bertemu dengan keluarga Aksan.


Aku harap kau menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia. seperti diriku yang sudah menemukan kebahagiaanku.


"Aku yakin kau juga akan menjadi istri dari seorang bos besar."


"Hahaha, jangankan bos besar, aku bahkan tidak punya waktu luang untuk berpacaran."


Anindira kini sudah berada dilantai tertinggi di gedung ini. ia kembali ke ruangan Aksan. ia melihat ruangan itu masih kosong.


"Katanya sebentar tapi sampai sekarang belum kembali. untung aku berkeliling tadi. kalau aku menunggunya dari tadi pasti sangat membosankan."


Ia menarik sofa kecil untuk duduk, ia meletakkan sofa itu di depan jendela kaca. sinar matahari sore masuk menembus jendela-jendela kaca di ruangan ini. ia duduk bersandar lalu memejamkan matanya, merasakan pantulan cahaya jingga yang menyentuh kulitnya.


Tak pernah dibayangkan ia bisa merasakan bersantai di ruangan ini. ruangan tertinggi, ruangan CEO, tempat yang didambakan para pengusaha kecil maupun menengah apabila usaha mereka sukses dan menjadi perusahaan besar.


Beberapa saat menunggu Aksan akhirnya datang juga.


"Sayang, kau sedang berjemur?" Tanya Aksan saat melihat Anindira sedang duduk dengan mata terpejam dibawah sinar sore.


Aksan berjalan mendekati Anindira, ia berdiri dihadapannya menghalangi cahaya yang mengenai kulit istrinya.


"Aku sedang menikmati indahnya sore dari sini."


Aksan mengecup keningnya. Anindira lalu membuka matanya.


"Maaf membuatmu menunggu lama"


"Apa sudah selesai?"


"Sudah, ayo kita pulang."


Karena sudah sore mereka pun segera pulang. dibawah sudah ada sekretaris Malik yang sudah menunggu di mobil.