Bakery love story

Bakery love story
Sakit



Keesokan harinya


Hari ini Aksan pulang lebih awal karena ia merasa tidak enak badan. Dari pagi ia muntah-muntah terus kepalanya juga terasa pusing. Aksan kembali ke Mansion pukul 2 sore karena ia sudah tidak kuat.


Setibanya di mansion, seperti biasa pelayan langsung menyambutnya untuk membawakan tasnya.


"Dimana Mamah dan papah?" Tanya Aksan kepada pelayan, karena dilihatnya ruang keluarga yang sepi.


"Nyonya dan Tuan besar sedang keluar Tuan, tadi katanya mau jalan-jalan sore"


Jawab pelayan itu, Aksan hanya menganggukkan kepalanya.


"Nanti bawakan obat sakit kepala ke kamar!"


"Baik Tuan"


Aksan pun segera menuju ke kamar dan langsung ambruk di kasur tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu.


Satu jam kemudian barulah Anindira pulang.


"Tuan sudah pulang dari tadi Nona." Ucap pelayan memberi tahu Anindira yang baru saja tiba di mansion.


"Ohya? Kenapa cepat sekali?"


"Sepertinya Tuan sedang sakit Nona."


"Sakit?"


"Iya, tadi saat pulang tuan minta Obat sakit kepala, tapi saat saya bawakan kekamar tuan sudah tidur"


"Baiklah, saya keatas dulu"


"Baiklah" Anindira segera menuju ke kamar untuk melihat keadaan suaminya yang sedang sakit katanya.


Setibanya dikamar, pandangannya langsung tertuju pada Aksan yang terbaring lemah di tempat tidur tanpa melepas sepatu dan jas nya.


"Sakit apa Tuan muda ini sampai tidak sempat membuka sepatunya" Anindira berjalan mendekati kasur, Ia kemudian membukakan sepatu yang masih menempel dikaki Aksan. Aksan terbangun namun tetap memejamkan matanya, ia lemas untuk melakukan apapun sekarang. Setelah membuka jas dan dasinya kemudian Anindira menarik selimut untuk menyelimuti suaminya.


Anindira menempelkan telapak tangannya di kening dan leher Aksan merasakan suhu panas di tubuhnya.


Panas sekali.


Ia pun keluar dari kamar dan pergi ke dapur. pelayan yang melihat Anindira mencari sesuatu di dapur langsung menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Bi, saya minta tolong siapkan kompres dan air hangat ya."


Anindira tidak tahu letak barang barang di dapur, jadi dia meminta bantuan kepada pelayan saja.


Setelah pelayan menyiapkan kompresnya Anindira langsung membawanya ke kamar dan mulai mengompres Aksan yang ternyata sedang demam.


"Bisa sakit juga ternyata dia" ucapnya tertawa pelan sembari mengelus kepala suaminya itu.


"Aku juga manusia". Ucap Aksan dengan mata yang masih tertutup. Anindira terkejut spontan menarik tangannya.


Aku kira dia tidur.


Aksan membuka matanya, ia meletakkan kembali tangan Anindira dikepalanya dan kembali memejamkan matanya. Anindira hanya tersenyum dan mengelus kepalanya lagi dengan penuh perasaan. tidak butuh waktu lama Aksan langsung tertidur, terdengar dari hembusan nafasnya yang beraturan.


Anindira memperhatikan wajah tenang suaminya saat tertidur, rasanya sangat damai.


Seperti bayi. batin Anindira tersenyum lalu mengecup kening suaminya itu.


Setelah Aksan tertidur, Anindira bergegas ke kamar mandi untuk mandi. setelah selesai ia turun kebawah untuk melihat makan malam sudah siap atau belum.


Anindira melihat dua orang koki yang baru akan mulai memasak makan malam, Anindira mendekat dan berniat untuk membantu.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Anindira dengan senyuman manisnya. ia selalu bersikap ramah kepada semua pelayan di mansion karena itu para pelayan menyukainya.


"Terimakasih nona, tapi anda tidak perlu repot-repot."


Ucap salah satu koki.


Ada dua koki yang ditugaskan untuk memasak di mansion ini, satu pria dan satu wanita. Keduanya sudah berusia 40 tahun keatas.


"Tidak apa-apa". Anindira berjalan menuju sekeranjang sayuran yang belum dicuci. saat hendak mencuci sayuran itu, Bella memanggilnya.


"Kakak ipar apa yang kakak lakukan disitu?" Bella yang baru pulang dan hendak mengambil air dingin di kulkas melihat Anindira didapur.


"Sudah biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka kakak ipar. ayo ikut aku." Bella menarik tangan kakak iparnya meninggalkan dapur.


Semua pelayan pun bisa bernafas lega dan memasak dengan tenang. Karena mereka takut Nyonya Hanna pasti akan memarahi mereka jika tau menantunya membantu pekerjaan mereka.


Beberapa saat kemudian makanan pun siap dihidangkan. Nyonya Hanna dan Tuan David juga sudah kembali dan sudah bersiap siap untuk makan malam.


"Dimana Aksan?" Tanya Nyonya Hanna.


"Dia sedang tidur mah, sedang tidak enak badan. Anin akan membawakan makan malamnya ke kamar saja."


"Yasudah kalau begitu, tapi kau makanlah dulu disini nak."


"Nanti saja mah."


Anindira menyisihkan makanan untuk Aksan lalu membawanya ke kamar. setibanya dikamar Anindira meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas. Lalu membangunkan Aksan.


"Suamiku bangunlah! makan dulu". Dengan lembut Anindira membangunkan Aksan.


"Hmm"


"Suamiku ayo makan dulu."


"Aku tidak selera".


"Tapi kamu harus makan supaya cepat sembuh." Aksan diam saja tak mau makan.


"Ayolah sedikit saja."


Aksan berbalik menghadap istrinya


"Panggil aku sayang! baru aku mau makan" Ucapnya membuat Anindira bingung.


"Baiklah, sayang makan dulu ya"


Aksan langsung duduk bersandar dan membuka mulutnya. Anindira pun mulai menyuapinya dengan hati-hati.


"Mulai sekarang panggil aku sayang!" Ucap Aksan yang membuat Anindira menatapnya dengan bingung. tiba-tiba dia ingin dipanggil sayang.


"Sayang? baiklah sayang hehe"


Meskipun heran dan bingung dengan sikap Aksan, tapi Anindira tetap menuruti keinginannya.


Senyuman terukir diwajah Aksan. Anindira menyuapinya dengan telaten, seperti ibu yang sedang menyuapi anaknya. ia membersihkan nasi yang menempel di mulutnya dan memberikannya minum. Tapi Aksan senang dengan itu semua. ia bahagia dengan perhatian yang diberikan Anindira. Saat sakit maupun tidak Anindira selalu mengurusnya dengan baik. Bisa bisa ia bergantung terus padanya. ia bersyukur memiliki Anindira sebagai istrinya.


Wanita yang baik hati, perhatian, tangguh dan cantik. itulah definisi Anindira dimata Aksan.


Anindira turun kebawah membawa piring kotor bekas Aksan makan tadi.


"Biar saya saja Nona" ucap pelayan yang berada di dapur mengambil piring kotor dari tangan Anindira.


"Terimakasih"


"Ini sudah tugas saya nona"


Anindira yang hendak menaiki tangga untuk kembali ke kamar, berbalik saat nyonya Hanna memanggilnya.


"Anindira kamu belum makan kan? sebaiknya makan dulu nak"


"Baiklah ma" sebenarnya ia tidak selera makan tapi mertuanya itu memaksanya mau tidak mau dia harus makan walaupun sedikit.


"Bagaimana Aksan nak?"tanya tuan David.


"Dia Demam pah, tadi sudah minum obat dan sekarang sudah tidur." David menganggukkan kepalanya.


"Dia bekerja sangat keras, sampai melupakan kesehatannya. tapi papa bangga dengannya. mau meneruskan perusahaan ini saja papa sudah senang apabila dia membuat perusahaan lebih maju lagi dengan kerja kerasnya itu." Anindira mendengarkan ucapan tuan David dengan serius. ia juga tahu suaminya itu sangat ambisius dengan pekerjaan.


"Kita tidak perlu khawatir lagi pah, sekarang kan sudah ada menantu kita yang akan mengurusnya. yakan nak?" Ucap Nyonya Hanna mengelus kepala menantu kesayangannya itu.


"Iya mah"


Anindira tersenyum bahagia dengan keluarga baru yang ia dapatkan ini. ia sangat bersyukur, ia merasa sangat nyaman bersama keluarga ini, tidak pernah terbayangkan sama sekali kalau dia akan mendapatkan mertua yang sangat menyayangi dirinya seperti orang tua kandungnya sendiri.


"Sayang kami tidur duluan ya, selamat malam." ucap Nyonya Hanna karena ia sudah mengantuk.


"Selamat malam mah, pah." tinggallah Anindira sendiri di meja makan menghabiskan makanannya dengan penuh rasa syukur.