
1 bulan kemudian.
Hari ini seperti biasa Anindira berada di tokonya. meskipun tidak melakukan apa-apa tapi ia tetap rutin mendatangi tokonya, daripada dirumah saja akan membuatnya bosan.
Anindira selalu senang melihat aktivitas keramaian di tokonya, melihat para pelanggan yang datang dan pergi silih berganti. melihat para pelanggan yang ramai serta para karyawan yang menyambut dan melayani mereka dengan ramah dan hangat, melihat interaksi mereka membuatnya senang. ditambah lagi sesekali ia bisa menyalurkan hobinya membuat roti walaupun secara diam-diam. itulah yang membuatnya lebih memilih menghabiskan separuh harinya disini daripada dirumah.
Kalau dirumah saja Anindira akan bosan dan kesepian, karena Bella sibuk kuliah dan pergi dengan teman-temannya, ibu dan ayah mertuanya yang sibuk pergi entah kemana, sedangkan suaminya sibuk bekerja. jadi untuk apa dia tetap berada dirumah jika semua penghuninya tidak ada, hanya pelayan saja yang tersisa. lebih baik dia menghabiskan waktunya di tokonya.
Saat ini Anindira sedang duduk di kursi tamu.
"Chika, kalau kau lelah istirahat saja. aku takut jahitannya belum benar-benar kering." Anindira memperingatkan untuk yang kesekian kalinya. sedari tadi ia sudah memperingatkan Chika untuk istirahat tapi Chika menolak.
"Iya kak, jangan khawatir. aku sudah sembuh, salto pun aku bisa sekarang." Ucap Chika gemas karena dia memang sudah merasa baik-baik saja.
Luka tusuk di perut Chika tidak terlalu dalam sehingga tidak parah. apalagi dia sudah mendapatkan perawatan medis yang cepat dan bagus, sehingga Chika sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit beberapa Minggu yang lalu.
"Hari ini dingin sekali ya" Anindira menggosok-gosok tangannya karena kedinginan.
Dari pagi cuaca memang tidak terlihat secerah biasanya, udaranya juga cukup dingin, namun tak ada tanda-tanda yang memperlihatkan akan turun hujan.
Alira ditugaskan untuk memastikan Anindira selalu merasa nyaman dimanapun dia berada. kalau tidak Aksan akan memerintahkan Malik untuk memberikan hukuman padanya bahkan bisa sampai dipecat, dan dia tidak ingin itu terjadi.
Gajinya sangat besar, namun menjaga kenyamanan Anindira saja dia tidak bisa?
"Kakak butuh sesuatu?aku buatkan teh hangat ya?"
"Kau tidak keberatan?"
"Tentu saja tidak. aku kan asisten kakak, jadi sudah tugasku melayani kakak." Ucap Alira lalu beranjak ke belakang untuk membuat teh.
"Aku yakin hari ini pasti turun hujan" Ucap Anindira sembari berjalan mendekat ke jendela, memperhatikan keadaan luar sambil melipat tangannya. Karena seluruh ruangan ini terbuat dari bahan kaca, jadi dia bisa melihat keadaan luar dari dalam.
Dan benar saja hujan turun dengan tiba-tiba. bahkan hujannya sangat deras membuat semua orang yang berada diluar panik dan sibuk mencari tempat untuk berteduh. padahal mereka tak melihat adanya tanda-tanda hujan akan turun.
"Yaah. . . hujan" Ucap beberapa pelanggan yang hendak keluar setelah mendapatkan pesanan mereka.
Sebagian dari mereka memutuskan untuk tetap disana sambil menikmati roti pesanan mereka yang tadinya sudah di bungkus untuk dibawa pulang, sembari menunggu hujan reda. dan sebagian lagi tetap menerobos hujan yang cukup deras itu.
Anindira memperhatikan orang-orang diluar yang sibuk mencari tempat perlindungan untuk berteduh, dan para pedagang pinggir jalan yang panik membereskan barang dagangan.
Kasihan sekali mereka.
Mata Anindira tertuju pada seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang berteduh di depan tokonya.
Anindira pun keluar menghampirinya.
"Aduh kak Anin mau kemana sih hujan hujan begini" Alira yang baru datang membawa secangkir teh melihatnya keluar langsung menyusulnya.
"Kak Anin ayo kita masuk, disini sangat dingin, nanti kakak bisa masuk angin"
"Aku ingin menghampiri ibu itu" Ucapnya sambil melihat kearah wanita paruh baya itu.
"Apa dia gila?" Bisik Alira kepada Anindira. karena melihat penampilan ibu itu yang acak-acakan dan tidak memakai sandal. bajunya sedikit basah karena terkena hujan.
"Ssttt..., Apa orang gila bisa merasakan sedih?, aku rasa ibu itu tidak gila. lihat saja wajahnya." Bisik Anindira.
Mereka berdua pun mendekati ibu itu. Anindira memanggil ibu itu beberapa kali tapi ibu itu tidak menyahut.
"Bu?" Panggil Anindira sambil memegang pundak ibu itu, membuatnya terkejut dan langsung menoleh ke mereka.
"Pantas saja tidak menyahut, ternyata ibu itu sedang melamun." Bisik Alira.
"Maaf saya hanya menumpang berteduh disini, jangan usir saya." Ucap ibu itu dengan wajah memelas dan ketakutan.
Anindira tersenyum. ia tahu kalau ibu itu sedang ketakutan. "Tidak apa-apa"
"Ibu kenapa melamun disini?" Tanya Anindira ramah, ia berusaha membuat ibu itu agar tidak takut padanya. Ibu itu hanya diam tidak menjawabnya, tapi terus memperhatikan mereka.
"Jangan takut, tidak ada yang akan mengusir ibu" Ucap Alira membantu.
"Apa ibu sudah makan?" Tanya Anindira lagi, Ibu itu menggeleng. "Saya hanya punya roti, ibu mau?" ibu itu mengangguk.
"Kalau begitu ibu ikut saya kedalam ya" ibu itu menggeleng lagi.
"Tidak apa-apa, jangan takut."
Anindira berusaha membujuknya hingga akhirnya ibu itu mau ikut kedalam bersama mereka.
Saat hendak masuk kedalam Anindira sempat melihat kearah jalanan dan tak sengaja ia melihat seorang pria berjas hitam dengan payung hitam berdiri memperhatikan mereka dari kejauhan.
Karena hujan ia tak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Anindira berusaha melihatnya dengan jelas, dan ia terkejut saat melihat wajah pria itu mirip dengan seseorang.
Kak Kenan?
Anindira hendak memanggilnya tapi pria itu sudah berbalik dan pergi.
"Ada apa kak?" Tanya Alira, Anindira menggeleng dan mereka langsung masuk kedalam.
"Sebentar ya bu, rotinya sedang diambilkan" ibu itu mengangguk pelan.
Siapa pria itu? dia mirip sekali dengan kak Kenan, apa dia memang kak Kenan? tapi kenapa dia berdiri saja disana?
Anindira terus melamun memikirkan siapa pria tadi, sambil menopang dagunya di meja.
Kak Kenan, bagaimana keadaanmu sekarang? kenapa kau memutuskan hubungan dengan kami?
Tak lama kemudian Alira dan Chika datang membawa nampan yang berisi beberapa potong roti dan minuman hangat. mereka langsung menyajikannya kepada ibu itu.
"Itu dia ibunya." Bisik Alira kepada Chika. Tadi dia sudah menceritakan tentang ibu itu kepada Chika, dia bilang kalau ibu itu terlihat aneh.
"Tidak ada yang aneh." Bisik Chika sambil memperhatikan ibu itu.
"Silahkan dimakan bu." Ucap Chika, ibu itu langsung memakan rotinya.
Alira melihat Anindira yang diam saja seperti sedang melamun.
"Kak?, kak Anin?"
"Eh iya? ada apa?"
"Kakak memikirkan apa?"
"Tidak ada" Jawabnya sambil tersenyum, ia lalu melihat ibu itu yang sedang memakan rotinya dengan lahap.
"Kami tidak punya nasi, kami hanya punya roti, nanti kalau hujannya sudah reda saya akan membelikan ibu nasi." Ibu itu tidak menghiraukan perkataan Anindira, dia hanya fokus memakan rotinya. awalnya pelan-pelan tapi lama kelamaan ia memakannya dengan lahap karena roti itu sangat enak dan dia juga sedang kelaparan.
Anindira, Alira, dan Chika saling tatap. mereka heran dengan cara makan ibu itu yang seperti tidak makan selama berhari-hari.
"Pelan-pelan bu makannya" Ucap Chika.
Ibu itu sudah menghabiskan sepuluh potong roti berukuran besar yang sengaja dipilihkan Chika tadi.
Setelah selesai menghabiskan rotinya, ibu itu meminum coklat panas yang dibuatkan Alira tadi. dia langsung menghabiskan minuman itu dengan sekali teguk.
Setelah menghabiskan coklat panasnya, ibu itu terdiam sebentar lalu menangis, membuat mereka bertiga keheranan.
"Ibu kenapa menangis? apa ibu masih lapar? Chika cepat ambilkan rotinya lagi." Perintah Anindira.
"Tidak" Ucap Ibu itu membuat mereka bertiga saling pandang lagi.
"Anakku, aku teringat dengan anakku karena dia sangat suka coklat panas." Ucap ibu itu lalu menunduk dan kembali menangis.
"Apa kalian tahu dimana anakku?"
"Apa kau anakku?" Tanya ibu itu kepada Chika. Chika langsung menyengir.
"Saya tidak suka coklat panas bu" Jawab Chika sambil tersenyum.
kasihan sekali ibu ini, sepertinya dia sangat merindukan anaknya.
"Bagaimana bisa ibu kehilangan anak ibu?" Tanya Anindira.
Ibu itu pun mulai bercerita dan mereka bertiga sangat serius mendengarkan.
"Selama bertahun-tahun aku disana, berkali-kali aku mencoba kabur tapi mereka selalu menemukan ku. sekarang aku memutuskan untuk kabur yang jauh dari tempat gila itu. anak-anak ku pasti sudah besar sekarang."
"Lalu dimana suami ibu? kenapa dia" Ucap Alira langsung dipotong ibu itu.
"Jangan tanyakan laki-laki bajingan itu." Jawab ibu itu tak suka.
"Jadi ibu tinggal dimana sekarang?" Tanya Chika.
"Aku tidak tahu" Ibu itu tertunduk sedih.
Sudah 3 hari ibu itu kabur dari rumah sakit jiwa. kali ini dia kabur sangat jauh.
"Bagaimana kalau ibu tinggal bersamaku?" Ucap Chika membuat mereka semua melihatnya.
"Chika apa kau serius?" Tanya Alira. bagaimana bisa Chika mengajak orang yang baru dikenalnya untuk tinggal bersama. bisa saja ibu ini orang jahat yang telah mengarang cerita.
"Aku serius kak Ali." Ucap Chika, Alira hanya mendengus kesal. sementara Anindira memikirkan sesuatu.
"Bagaimana bu? ibu maukan tinggal bersama ku? aku tinggal sendirian di rumah." Ibu itu mengangguk sambil tersenyum, entah kenapa dia senang melihat Chika.
Setelah hujan reda, Anindira dan Alira membawa ibu itu pergi untuk membelikannya baju. setelah itu mereka membawanya ke sebuah restoran.
"Terimakasih ya nak, kalian sangat baik."
Ucap ibu itu sambil menangis.
Anindira memegang tangan ibu itu berusaha menenangkannya.
Bersambung. . .