
Di lantai tertinggi di gedung Alister company.
"Apa kau sudah menemukan orangnya?" Tanya Aksan kepada Malik.
"Kami masih mencarinya Tuan." Sebenarnya agak susah mencari seorang wanita yang bisa bela diri dan bertanggung jawab besar untuk menjaga istri dari Tuannya. ditambah lagi Malik yang sedang sibuk-sibuknya mengurus pekerjaannya membuat pencarian sedikit terhambat.
"Kenapa lama sekali? ada dua orang yang sangat berharga, yang harus dijaga." ucap Aksan dengan nada rendah. jika sudah seperti itu, tandanya ia sedang berusaha untuk bersabar.
"Awas kalau sampai terjadi sesuatu kepada istri dan anakku, karena tidak adanya pengawalan yang ketat." Ucap Aksan masih dengan nada rendahnya namun tegas.
Mengingat ia adalah seorang pengusaha sukses, pastilah banyak orang yang berusaha untuk menjatuhkannya, entah itu perusahaannya, orang terdekatnya bahkan keluarganya. apalagi sekarang istrinya sedang mengandung calon pewarisnya. ia harus waspada dan berjaga-jaga.
"Maafkan saya Tuan. saya akan segera saya temukan orang yang pas yang bisa menjaga Nona."
Di Toko Roti milik Anindira.
Seorang wanita dengan pakaian hitam putih, serta sebuah map ditangannya, berdiri menatap toko roti yang sangat terkenal milik Anindira ini. sedari pagi ia sudah berjalan kesana-kemari dengan membawa map berisi surat lamaran pekerjaan ditangannya, namun tidak ada satupun tempat yang menerimanya karena semua lowongan sudah penuh.
Toko roti ini adalah harapan terakhirnya dihari ini.
Wanita itu masuk kedalam toko roti dengan wajah yang sudah lelah dan lesu. ia sudah pasrah jika kali ini gagal juga.
"Selamat datang" Ucap Chika menyambutnya. wanita itu langsung menyampaikan tujuannya datang kemari. Chika meminta maaf karena mereka tidak sedang mencari seorang pegawai.
"Maaf kak, kami tidak membuka lowongan pekerjaan." Ucap Chika. Wanita itu sudah menduganya. ia terduduk lesu dikursi yang ada disitu dan menghembuskan nafasnya dalam. sungguh lelah pikirnya, setiap hari harus pergi kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan.
Anindira baru keluar dari ruangannya hendak melihat keadaan di depan, diikuti supir pribadinya yang selalu ada dibelakangnya. ia melihat wanita yang sedang terduduk lesu itu, kemudian ia bertanya pada Chika. Chika memberitahu kalau wanita itu sedang mencari lowongan pekerjaan, Anindira merasa kasihan melihat wanita itu, sampai sore begini masih mencari pekerjaan. Anindira kemudian duduk dihadapan wanita itu dan bertanya, wanita itu kemudian menceritakan semuanya, sudah beberapa hari ini dia mencari pekerjaan tapi tidak ada yang menerimanya. ia menceritakannya dengan wajah memelas membuat Anindira iba dan kasihan. Anindira dan Chika saling pandang kemudian ia berpikir sebentar.
"Kau boleh bekerja disini" Ucap Anindira kepada wanita itu.
"Benarkah?" Tanya wanita itu sambil berdiri sampai menjatuhkan kursi, membuat Anindira dan Chika terkejut.
"Eh maaf hehe" Wanita itu lalu mendirikan kursi yang jatuh dibuatnya tadi, kemudian menggeser kursi dan duduk mendekat.
"Apa kau bisa menceritakan semua tentang dirimu?" Tanya Anindira. wanita itupun menjawab dengan antusias
"Nama saya Alira Shadika, biasa dipanggil Alira, usia saya 23 tahun, saya anak pertama dari dua bersaudara, orangtua saya sudah meninggal sejak lama. dan saya hanya tinggal berdua dengan adik saya, itupun kadang-kadang dia tidak dirumah, dan blablabla. . ." Jelas wanita yang baru diterima bekerja itu panjang lebar. Anindira dan Chika saling pandang, perasaan tadi wanita ini tidak begini. yang tadinya terlihat lelah dan lesu sekarang jadi sangat antusias dan penuh semangat menceritakan semua tentang dirinya.
"Baiklah Alira, terimakasih sudah menjelaskan" Ucap Anindira menghentikan Pembicaraan wanita itu.
"Hehe maaf, sepertinya saya terlalu banyak bicara, saya terlalu semangat karena diterima bekerja disini." Ucap wanita yang bernama Alira itu, Anindira hanya mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih sudah menerima saya bekerja disini Kak " Ucapnya antusias.
"Jangan panggil kakak, sepertinya usia kita sama."
"Tidak apa-apa kak, aku lahir di akhir tahun."
"Oh, aku dipertengahan, baiklah kalau begitu."
"Jadi kapan aku bisa mulai bekerja kak? dan apa tugasku?"
Anindira menjelaskan kalau besok ia sudah bisa mulai bekerja, dan tugasnya hanyalah membantu Chika melayani pembeli.
Keesokan harinya.
Seperti yang sudah disepakati semalam, kini pegawai Toko roti bertambah satu. Alira si pegawai baru sudah mulai bekerja hari ini, ia membantu Chika melayani pengunjung yang datang untuk membeli. Chika mengajarinya bagaimana cara melayani pembeli dengan baik. Alira pun dengan cepat mengerti.
Saat jam istirahat, Aksan mengunjungi Anindira ditokonya. ia ingin mengajak istrinya makan siang bersama.
Aksan berjalan memasuki toko roti diikuti sekretaris Malik dari belakang. semua mata pengunjung tertuju pada mereka. beberapa dari mereka ada yang mengenal siapa Aksan. karena kehebatannya dalam berbisnis, dirinya jadi sering muncul di koran dan media tentang bisnis.
Mereka berdua terlihat sangat tampan dan bergaya, meskipun dengan setelan jas formal mereka tetap keren. semua menatap mereka dengan kagum, tak terkecuali Alira si pegawai baru.
Saat para pegawai memberi hormat dengan menundukkan kepala mereka, Alira malah hanya menatap Aksan dan Malik tanpa berkedip. Chika langsung menyenggolnya.
"Kak Alira, beri hormat." Bisik Chika. Alira pun tersadar dan ikut menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Yang itu Tuan Aksan, suaminya kak Anin. dan yang dibelakangnya itu asistennya, aku tidak tahu namanya siapa." Jelas Chika.
"Ooh jadi itu suaminya kak Anin. kalau yang dibelakangnya sudah punya istri belum?" Tanya Alira.
"Mana aku tahu." Jawab Chika.
Tampan sekali, hihihi. batin Alira melihat Malik.
Setelah pegawai memberitahukan kedatangan Aksan kepada Anindira, Anindira pun keluar dari ruangannya langsung menemui suaminya. sebelum datang kemari, Aksan sudah menelpon Anindira dan mengatakan kalau dia akan datang menjemput untuk makan siang.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil hendak pergi. "Mau makan apa sayang?" Tanya Aksan pada istrinya. Anindira berpikir apa makanan yang sedang ia inginkan sekarang. dan yang terlintas dipikirannya adalah makanan lezat baginya yang sudah lama tidak ia makan.
"Aku mau telur mata sapi kecap." Ucapnya sambil membayangkan makanan itu.
"Apa? telur mata sapi?" Ucap Aksan tak percaya dengan makanan yang diinginkan istrinya.
"Iya, telur mata sapi kecap. kuning telurnya harus setengah matang, kecapnya harus kecap manis jangan kecap asin, dengan nasi hangat. dan yah ditambah kerupuk juga, mmm pasti enak sekali." Ucap Anindira sambil membayangkan makanan itu.
"Sayang kau itu sedang hamil, kau harus makan makanan yang bergizi, supaya kau dan anak kita sehat."
"Telur itukan juga bergizi dan sehat."
"Iya tapi. .
Belum selesai Aksan bicara Anindira langsung memotong.
"Aku tidak mau tau, pokoknya aku mau makan itu sekarang." Ucapnya sambil melipat kedua tangannya di dadanya. membuat Aksan dan Malik saling pandang.
"Suamiku aku mau itu, ayolah suamiku aku mau itu." Rengek Anindira, Aksan heran dengan sikap Anindira akhir-akhir ini. ia terlihat lebih manja dan suka merengek jika keinginannya tidak dituruti. tapi Aksan senang istrinya bermanja-manja padanya.
"Baiklah baiklah, tapi dimana kita bisa mendapatkan makanan seperti itu?"
"Di warung ada"
"Warung mana?"
Anindira pun memberitahukan jalan menuju warung yang dimaksud kepada sekretaris Malik. Malik langsung melajukan mobilnya mengikuti arahan Anindira. beberapa saat kemudian mereka pun tiba di warung makan sederhana yang terletak tak jauh dari toko rotinya. warung itu menjual menu-menu makanan rumahan dan tradisional.
"Sayang apa ini tempatnya?" Tanya Aksan melihat sebuah warung sederhana tapi lumayan ramai.
"Iya, ayo" Anindira sudah tak sabar tapi Aksan diam saja memandangi warung ini. "Jangan khawatir tempat ini bersih dan higienis."
"Bagaimana kau tahu?"
"Dulu kami sering membeli makan siang disini."
"Kami siapa?" Tanya Aksan penuh curiga. Anindira menghela nafas kasar.
"Aku dan para karyawan toko." Ucapnya sambil memutar bola matanya. Anindira pun menarik suaminya masuk kedalam karena ia sudah tidak sabar.
"Buk" Panggil Anindira kepada pemilik warung.
"Ehh neng cantik. sudah lama ya tidak kesini." Ucap si ibuk masih mengingat Anindira karena ia gadis yang cantik dan ramah yang sering kemari dulu. "Mau pesen apa neng?"
Anindira memberitahu makanan yang di inginkannya itu kepada si ibuk. meskipun tidak ada dalam daftar menu, tapi si ibuk tetap membuatkannya.
Sementara Aksan dan Malik bingung mau pesan apa, karena mereka tak biasa dengan menu makanan disini. Anindira mengerti dan ia memesankan gado-gado untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian pesanan mereka bertiga pun datang. Anindira mulai memakan pesanannya yaitu telur mata sapi dengan nasi hangat dan kecap manis, plus kerupuk. ia memakannya dengan lahap.
Sedangkan Aksan yang baru pertama kali makan gado-gado, merasa aneh dengan makanan itu. perlahan tapi pasti ia memakannya. awalnya rasanya aneh, tapi lama kelamaan dia mulai menikmati gado-gado itu, ia makan dengan lahapnya sampai habis tak tersisa. begitu juga dengan Malik. Malik pernah satu kali memakan gado-gado, tapi rasanya tidak seenak ini.
Enak juga ternyata gado-gado. batin Aksan
"Enak kan gado-gadonya." Ucap Anindira. gado-gado disini memang sudah terkenal enak. sayuran yang dipakai masih segar dan kuah kacang yang melimpah serta rasanya yang pas, membuat tempat ini selalu ramai pembeli.
Setelah selesai makan mereka langsung kembali ke toko roti untuk mengantar Anindira. setelah berpamitan dengan istrinya Aksan kembali ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya.