Bakery love story

Bakery love story
Menyembunyikan Kebenaran



Beberapa hari kemudian.


Nyonya Hanna mendapat telpon dari pihak rumah sakit kalau Hasil pemeriksaan kesehatannya sudah keluar. sebenarnya Tuan David ingin ikut tapi nyonya Hanna menolak, dia bilang dia akan mengambilnya sendiri karena setelah itu dia akan langsung pergi arisan dirumah temannya.


Setelah membaca hasil pemeriksaan itu, mata nyonya Hanna langsung berkaca-kaca. Dokter menjelaskan semua yang terjadi padanya, mulai dari penyakit yang dideritanya dan apa penyebabnya, serta efek yang harus dialaminya selama mengidap penyakit ini. Nyonya Hanna tertunduk menahan air matanya sembari mendengarkan penjelasan dari dokter. Sampai saat dokter mengatakan poin yang paling penting, Ia langsung mengangkat kepalanya menatap sang dokter, air matanya langsung mengalir saat dokter bilang penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan karena sudah memasuki stadium akhir.


Ia tak menyangka kebohongan yang pernah ia ceritakan kepada menantunya waktu itu kini menjadi kenyataan. Kebohongan demi membuat Anindira menyetujui pernikahan dengan putranya kini benar adanya. Usianya benar-benar sudah tidak lama lagi.


Wanita paruh baya yang sudah terlihat sedikit kerutan halus di wajahnya namun tetap kelihatan cantik itu, kini sedang merasakan kesedihan yang mendalam. Ia termenung memikirkan kenapa ini semua bisa terjadi. Kenapa disaat semuanya baik-baik saja takdir seperti ini yang diterimanya. Disaat keinginan terbesarnya untuk menjadi seorang nenek hampir terwujud, dirinya harus menerima kenyataan bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi.


Dokter menyayangkan bahwa Nyonya Hanna tidak pernah pergi kedokter untuk mengecek kondisinya. Mereka mengetahuinya saat penyakitnya sudah parah dan tidak bisa disembuhkan.


Nyonya Hanna sudah memiliki perasaan buruk tentang hasil pemeriksaan ini, oleh sebab itu dia tidak mau Tuan David ikut menemaninya tadi.


Sepanjang perjalanan pulang ia terus termenung memikirkan semuanya. Ia menyadari bahwa semua ini juga kesalahannya, coba saja waktu itu dia menuruti perkataan suaminya untuk periksa kedokter, pasti penyakitnya tidak akan separah ini. Mungkin penyakitnya masih bisa disembuhkan. Tapi karena ketakutannya menerima kenyataan membuat nyonya Hanna tidak pernah mau periksa kedokter.


- - -


Sore harinya nyonya Hanna tiba di mansion, mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga menunggu hidangan makan malam. Melihat istrinya sudah kembali, tuan David langsung bertanya.


"Bagaimana hasilnya mah? kenapa lama sekali?"


Nyonya Hanna pun memberikan surat berisi hasil pemeriksaan kesehatannya itu kepada suaminya. Tuan David langsung membacanya.


"Syukurlah, tidak ada masalah yang serius." Ucap Tuan David setelah membaca surat itu. Surat palsu yang telah diubah nyonya Hanna.


Ia sengaja menyembunyikan penyakitnya. ia tidak ingin semua orang mencemaskan dirinya. Biarlah dia menyimpan semua ini sendirian. Meskipun Anindira mengetahui penyakitnya, tapi ia harap Anindira akan tetap diam seperti ini, tidak mengungkit atau menanyakan hal ini.


Nyonya Hanna sudah ikhlas dengan kenyataan ini, sepanjang perjalanan tadi ia sudah memikirkan semuanya. tidak menerima kenyataan tidak akan mengubah keadaan. Sekarang yang dia inginkan hanyalah bisa bertahan sampai nanti cucunya lahir. Ia hanya ingin melihat wajah cucunya, Itu saja.


- - -


Beberapa hari sudah terlewati. Semua berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang curiga dengan penyakit yang diderita Nyonya Hanna. Dirinya sendiri pun seperti sudah berdamai dengan penyakitnya. mulai sekarang ia hanya akan menjalani sisa hidupnya dengan bahagia.


Hari ini dia datang ke toko roti Anindira. Dia ingin menemui menantunya disana.


"Selamat datang Nyonya, lama tidak bertemu" Ucap Chika ramah menyapa nyonya Hanna. Nyonya Hanna tersenyum membalas sapaannya.


"Dimana Menantuku?"


"Ada diruangannya Nyonya, mari saya antarkan." Chika pun mengantarkan nyonya Hanna sampai diruangan Anindira.


Setelah sampai, supir yang ditugaskan sekaligus menjaga Anindira sedang berdiri di depan ruangannya. Ia berdiri disana seperti seorang pengawal. Saat melihat nyonya Hanna datang ia langsung membungkuk memberikan hormat.


Dia benar-benar patung, Tahan sekali berdiri dan diam saja seperti itu. Batin Chika melirik sang supir. Yang dilirik pun juga melirik. Mereka saling lirik dengan mata tajam. Sang supir masih ingat dengan Chika, gadis kurang ajar yang bukannya minta maaf setelah mendorongnya malah mengatainya lemah. Sedangkan Chika entah kenapa dia tak suka melihat sang supir itu.


Menyadari mereka berdua saling tatap tatapan seperti musuh, nyonya Hanna berbicara. "Awasloh nanti jatuh cinta"


"Hahaha tidak mungkin Nyonya" Ucap Chika tergelak mendengar perkataan nyonya Hanna. Mana mungkin ia jatuh cinta dengan patung menyebalkan itu. Ada-ada saja pikirnya.


"Mamah" Panggil Anindira yang sudah berdiri di depan pintu, ia mendengar suara mereka dari dalam dan langsung keluar. Ternyata ada ibu mertuanya disini. "Mama disini? Ada apa mah?"


"Ayo kita kedalam saja mah" Anindira mengajak mertuanya masuk kedalam ruangannya, Nyonya Hanna mengucapkan terimakasih kepada Chika karena sudah mengantarnya.


"Terimakasih ya. . .


"Chika nyonya" Jawab Chika memberi tahu namanya sambil tersenyum.


"Terimakasih ya Chika."


"Sama-sama nyonya" Ucap Chika. Kemudian Anindira dan nyonya Hanna masuk kedalam.


Chika gadis yang ramah dan murah senyum. Tapi senyumannya yang cerah itu hilang saat melihat orang disebelahnya, yaitu sang supir.


"Aku dengan mu? Oh tidak mungkin." Ucap Chika menunjuk dirinya sendiri dan supir itu dengan jarinya, kemudian bergidik lalu pergi meninggalkan pria itu. Sang supir hanya memutar bola matanya.


Chika kembali ke tempatnya di depan. "Padahal ada kursi tapi dia memilih berdiri, Apa dia bisulan?, Dasar orang aneh" Gerutu Chika yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. Ia terus berbicara sendiri. "Dia itu aneh sekali"


"Kalian itu sama saja. Sama-sama aneh" Ucap temannya yang sedang mengelap kaca. Temannya tahu siapa orang aneh yang sedang dibicarakan Chika. Siapa lagi kalau bukan supir pribadi bos mereka. Mereka semua yang ada disini tahu kalau Chika dan supir itu tidak akrab.


"Jangan samakan aku dengan orang aneh itu"


"Berbicara sendiri kau pikir tidak aneh? Sudahlah jangan terlalu membenci orang nanti kau jatuh cinta dengannya. benci itu benar-benar cinta tau"


"Hah tidak mungkin"


- - -


Diruangan Anindira.


"Sayang, mama ingin kau tidak membahas tentang penyakit mama dihadapan keluarga kita ya. Tetaplah diam seperti ini. Jangan pernah membicarakannya dengan siapa pun"


"Baiklah mah, aku tau. Jika membahas itu kita semua akan sedih, jadi lebih baik tidak usah membahasnya kan." Mendengar perkataan Anindira, mata nyonya Hanna jadi berkaca-kaca.


"Kau adalah menantu terbaik" Ucap nyonya Hanna meneteskan air matanya.


"Kenapa mama menangis?"


Anindira heran kenapa ibu mertuanya tiba-tiba menangis, ia tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya.


"Tidak apa-apa" Ucap nyonya Hanna menggelengkan kepalanya. Anindira menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Mama, ada apa?, Cerita denganku." Nyonya Hanna kembali meneteskan air matanya.


"Mama hanya ingin hidup sampai cucu mama lahir ke dunia ini." Ucapnya membuat Anindira sedih, Anindira berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh yang hanya akan membuat Hanna semakin sedih. Ia menghapus air mata ibu mertuanya itu dengan sayang.


"Itu pasti, mama pasti akan melihat cucu mama ini lahir dan tumbuh sampai dia besar." Anindira berusaha menyemangatinya, nyonya Hanna mengangguk dan tersenyum lalu menghapus air matanya. Ia benar-benar beruntung memiliki menantu seperti Anindira.


Kurang apa lagi diriku?, Aku memiliki keluarga yang lengkap, harta yang banyak, dan menantu yang pengertian. Hidupku sudah sangat bahagia, aku memiliki segalanya. Tuhan memberikan hidup yang sangat sempurna padaku. Aku tidak bisa menikmati semua kebahagiaan ini selamanya. Aku sadar itu. Tidak ada kebahagiaan yang kekal, semua itu hanya sementara. Aku ikhlas tuhan akan mengambil nyawaku, asal jangan mengambil kebahagiaan dari keluargaku.