Bakery love story

Bakery love story
Makan Bakso Asin



Hari ini cuaca terlihat mendung, tidak seperti hari sebelumnya yang panas terik. jam masih menunjukkan pukul lima pagi, tapi langit masih gelap.


Hujan turun membuat pagi ini terasa lebih dingin. membuat orang-orang masih betah berada dibawah selimut tebal mereka.


Aksan terbangun ketika mendengar suara seperti orang yang sedang muntah di kamar mandi. ia melihat istrinya tidak ada ditempat tidur, ia pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. pasti istrinya yang sedang muntah disana.


"Sayang kenapa?" Tanyanya setelah membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci.


Anindira sedang membasuh wajahnya, ia menoleh kebelakang saat mendengar suara Aksan. ternyata suaminya sudah bangun.


"Tidak tahu, sepertinya aku masuk angin." Ucapnya sambil berjalan keluar dari kamar mandi diikuti Aksan.


"Aku akan memanggil dokter." Ucapnya sembari mengambil ponselnya yang berada di nakas, hendak menelepon seseorang.


"Tidak usah suamiku, aku hanya masuk angin saja. cucanya sedang dingin."


"Tapi. . .


"Aku hanya perlu istirahat."


"Baiklah, kalau begitu ayo tidur lagi." Mereka pun kembali ke tempat tidur. berada dibawah selimut hangat, berlindung dari dinginnya udara.


"Suamiku kenapa dingin sekali?"


Aksan pun mengambil selimut tambahan yang tebal. cuacanya benar-benar dingin sekali saat ini.


"Masih dingin?". Tanya Aksan


"Lumayan."


Aksan mendekatkan bantal mereka dan mulai memeluk istrinya.


"Sekarang bagaimana?"


"Hangat." Ucapnya sambil tersenyum.


Mereka pun kembali tidur dibawah selimut yang tebal dan berlapis sambil berpelukan. mereka tidak mengira pagi ini akan turun hujan dan cuacanya dingin seperti ini.


- - -


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang tapi hujan belum juga reda. batal sudah rencana mereka pergi ke tempat wisata hari ini.


"Kalau hujan terus kapan kita perginya." Gerutu Bella. ia kesal karena tidak jadi pergi, padahal ia sudah sangat ingin pergi ke tempat wisata. "Kenapa harus hujan sih hari ini."


Iya, kenapa?. Batin Anindira. ia juga sudah bersemangat ingin jalan-jalan, ternyata malah hujan.


"Kan masih ada hari besok sih Bella. kenapa menyalahkan hujan. hujan itu rahmat." Ucap Tuan David.


"Iya kalau besok tidak hujan." Ucap Bella


Betul juga. iya kalau besok tidak hujan, kalau hujan bagaimana kami bisa pergi?. Batin Anindira lagi. ia membenarkan setiap perkataan Bella dalam hati, karena pikiran mereka sama saja, sama-sama ingin jalan-jalan keluar.


"Semoga saja tidak hujan." Ucap Nyonya Hanna kesal mendengar Bella yang terus mengoceh karena hujan.


Bella berjalan kearah jendela, ia melihat hujan yang tak kunjung berhenti dari kaca jendela.


"Padahal aku sangat ingin keluar, aku ingin jalan-jalan."


Aku juga, aku juga ingin jalan-jalan. padahal ini pertama kalinya aku ke Bali, percuma jauh-jauh kemari kalau tidak bisa keluar jalan-jalan. Anindira memanyunkan bibirnya.


"Sekarang ini memang cuacanya sedang berubah-ubah, kadang panas kadang hujan." Ucap Tuan David lalu meminum tehnya. "Semoga saja besok dan seminggu kedepan tidak hujan dulu. supaya kita bisa menikmati liburan ini dengan menyenangkan." ucapnya lagi


Waktu makan siang tiba. mereka semua pun menuju meja makan untuk segera makan. cuaca dingin membuat mereka lapar. apalagi menu kali ini adalah sup daging dan makanan lainnya yang sangat cocok dinikmati dicuaca dingin seperti ini.


"Dingin-dingin gini memang enaknya yang hangat-hangat." Ucap Tuan David melihat semua hidangan makanan yang masih mengeluarkan uap panas karena baru matang. Mereka semua pun mulai menyantap makanan dihadapan mereka yang sangat menggugah selera.


"Sup daging ini sangat enak, dagingnya empuk dan kaldunya terasa sekali." Ucap Nyonya Hanna disela-sela makannya. mereka semua memakan makanan mereka dengan nikmat.


Beberapa saat setelah makan, Aksan dan Anindira kembali ke kamar mereka. setelah makan Anindira merasa mengantuk, rasanya ia ingin tidur sebentar.


Melihat ada kesempatan Aksan pun mendekati Anindira yang sudah berada di tempat tidur. niat hati ingin tidur tapi Aksan mengganggunya, Aksan tidak membiarkannya tidur. Aksan memeluknya dari belakang sambil tangannya beraksi di dadanya. Anindira memukul tangan Aksan yang tidak bisa diam.


"Sayang aku ingin." Bisik Aksan tepat ditelinga Anindira membuatnya geli.


"Ingin apa?"


"Ingin itu"


"Itu apa?"


"Tapi aku ingin tidur."


"Tidak boleh" Ucap Aksan langsung bangkit menimpa Anindira. "Tadi malam aku sudah membiarkanmu tidur, tapi kali ini aku tidak akan melepaskanmu." Ucapnya lagi. kalau sudah begini Anindira mana bisa menolak, ia sudah tidak bisa berkutik.


Dan terjadilah yang seharusnya tadi malam terjadi.


Setelah melakukan aktivitas mereka, mereka pun tertidur karena kelelahan.


Pukul lima sore mereka baru bangun. mereka langsung mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi Anindira duduk di sofa dan memainkan ponselnya, ia membuka suatu aplikasi menonton video. tanpa sengaja ia melihat video orang yang sedang makan bakso. melihat orang itu makan dengan lahap ia jadi merasa lapar, ia juga ingin makan bakso seperti itu. berulang kali ia menelan salivanya melihat orang itu makan.


"Sayang kau sedang melihat apa?" Tanya Aksan pada Anindira yang sangat fokus melihat video di ponselnya, dan berulang kali menelan salivanya. Aksan mendekat dan duduk disebelah istrinya.


"Suamiku, aku ingin makan bakso." Ucapnya manja pada suaminya.


"Bakso?"


"Dimana ada jual bakso disini?, lagian diluar juga masih gerimis."


"Suamiku aku mau bakso!, pokoknya aku mau makan bakso!, bakso yang enak dan asin." Ucap Anindira kesal.


"Baiklah baiklah sebentar." Aksan pun turun kebawah. ia pergi menuju dapur menemui pelayan yang ada disitu.


"Apa ada yang bisa buat bakso?" Tanya Aksan pada para pelayan.


"Saya bisa Tuan." Ucap salah satu pelayan.


"Bagus, buatkan segera untuk istriku. dan ingat harus yang enak dan asin. awas kalau nanti istriku bilang tidak enak." Ucap Aksan dengan wajah serius dan penuh ancaman membuat nyali para pelayan menciut.


"Ba. . baik Tuan."


Aksan pun kembali ke kamar dan memberi tahu Anindira bahwa pelayan sedang membuatkan bakso untuknya.


Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan hendak menuju kamar Aksan dan Anindira dengan membawa sebuah nampan dan semangkuk bakso.


"Apa itu?" Tanya Nyonya Hanna yang kebetulan sedang lewat, pada kedua pelayan itu.


"Ini bakso Nyonya, Tuan Aksan menyuruh kami membuatkan bakso untuk Nona." Ucap seorang pelayan sambil membuka tutup mangkok bakso itu.


"Bakso untuk Anindira?" Ucap Nyonya Hanna heran.


"Iya Nyonya"


"Baiklah pergilah, antarkan segera."


kedua pelayan itupun pergi menuju kamar Aksan dan Anindira. keduanya sangat gugup, mereka takut jika rasanya tidak sesuai dengan lidah Anindira.


salah satu pelayan pun mengetuk pintu kamar setelah mengambil nafas dalam-dalam.


"Tuan, Bakso pesanan Nona sudah siap." Ucap seorang pelayan.


Aksan pun membuka pintu dan langsung mengambil makanan permintaan istrinya itu. pelayan juga sudah menyediakan sebotol saus dan semangkuk kecil garam apabila rasanya kurang asin.


Anindira mulai mencicipinya, ia merasa seperti ada yang kurang, ia pun menambahkan lumayan banyak garam kedalam mangkuk baksonya.


"Mmm ini baru pas" Ucapnya senang, ia pun makan dengan lahapnya. Melihat Anindira makan dengan lahap begitu membuat Aksan jadi selera ingin mencicipinya.


"Suamiku mau?" Ucap Anindira menawari Aksan.


Aksan pun mencicipi bakso yang sangat dinikmati istrinya itu. saat baru menelan kuahnya Aksan langsung bergidik karena rasanya sangat asin. rasanya benar-benar asin, bagaimana bisa Anindira memakannya seolah-olah itu sangat enak padahal keasinan.


"Sayang ini sangat asin, sudah tidak usah dimakan lagi."


"Tidak. ini sudah pas, rasanya sangat enak."


"Tapi sayang ini terlalu asin, tidak bagus untuk kesehatanmu. buang saja. pelayan akan membawakan yang baru."


"Tidak mau. ini sudah sangat pas." Ucap Anindira kekeh, Aksan tercengang, ia tak percaya rasa seasin itu dibilang pas oleh Anindira.


"Sayang sepertinya lidahmu bermasalah, apa aku perlu memanggil dokter?"


"Lidahku baik-baik saja, lidah suamiku yang bermasalah. sudah sana jangan ganggu aku makan bakso yang enak ini."


"Kau mengusirku?". Anindira tidak menjawab ia terlalu fokus pada baksonya. "Sayang?, sayang?" Panggil Aksan tapi Anindira tetap fokus pada baksonya. Aksan menghela nafasnya, gara-gara bakso asin dia dicuekin.