
Sore hari di balkon kamar dilantai atas. Anindira tengah memandangi pantai yang indah dihadapannya. pantai ini terletak persis dibelakang villa.
Langit yang cerah membuat pemandangan jadi lebih indah, saat langit biru cerah awan-awan putih pun terlihat dengan bentuknya yang unik. daun pohon kelapa yang melambai-lambai tertiup angin. air pantai serta pasir putih yang berkilauan terkena sinar matahari.
Anindira hanya bisa memperhatikan semua keindahan itu dari balkon kamarnya. karena Aksan tidak mengijinkannya kesana sebab matahari sangat terik.
"Sayang kau sedang apa disitu? disitu panas." Ucap Aksan berjalan kearah Anindira. sedari tadi ia mencari istrinya yang ternyata ada di balkon kamar mereka.
"Suamiku aku mau kesana." Tunjuk Anindira ke arah pantai. "Aku akan berjalan dipinggir pantainya saja, boleh ya?" Ucapnya memelas, ia sangat ingin jalan-jalan di tepi pantai meskipun cuaca sedang panas. rasanya ia ingin menjemur kulitnya dibawah matahari.
"Sayang, sekarang sedang panas terik. nanti sore saja ya." Ucap Aksan mengelus kepala istrinya. ia melihat Anindira begitu semangat namun ia tidak bisa membiarkan istrinya berpanas-panasan.
Anindira menunduk, menghadap ke arah depan. Aksan menghela nafasnya lalu memegang bahu Anin agar menghadap ke arahnya kembali.
"Sayang kau menangis?" Aksan heran kenapa istrinya menangis. Anindira melepaskan tangan Aksan dengan kesal dan masih menangis.
Aksan memperhatikan istrinya yang sedang menangis, meskipun tidak bersuara tapi air matanya keluar. Aksan menghela nafasnya lagi.
"Kenapa kau menangis." Ucapnya sambil menghapus air mata istrinya. "Baiklah ayo kita jalan-jalan dipantai tapi harus pakai payung." Anindira langsung menatap suaminya, ia tersenyum dan mengangguk. Aksan pun tersenyum dan mengelus kepalanya kembali. tak lupa Aksan menyuruh Anindira untuk berganti pakaian panjang agar tidak terkena panas matahari langsung.
Melihat Aksan dan Anindira menuruni tangga dengan pakaian panjang. Nyonya Hanna bertanya.
"Mau kemana kalian nak?"
"Mau kepantai mah." Ucap Anindira sambil tersenyum.
"Panas-panas begini?" Tanyanya lagi, Anindira mengangguk.
Aksan meminta Pelayan untuk mengambil satu payung yang agak besar. setelah mendapatkannya mereka pun berjalan ke pantai yang ada di halaman belakang villa.
Sepanjang perjalanan Anindira terus tersenyum, ia merasa sangat senang. bukan senang karena bisa berjalan-jalan dipinggir pantai menikmati indahnya pemandangan, tapi ia lebih senang karena keinginannya dituruti oleh suaminya. entah kenapa ia merasa sangat senang jika keinginannya dituruti.
Sepanjang perjalanan Aksan berjalan sambil merangkul pinggang istrinya itu sementara tangan satunya lagi memegangi payung. mereka berjalan dibawah payung yang melindungi mereka dari panasnya sinar matahari.
Aksan melihat Anindira terus tersenyum, ia pun ikut tersenyum. "Kau kenapa sayang?" Ucapnya sambil tertawa. Anindira menggeleng dengan wajah imutnya. ia sendiri juga heran dengan dirinya sendiri. biasanya ia tidak begini.
Setelah puas menyusuri pantai, mereka kembali ke villa. Di halaman belakang Bella sedang berjemur di kursi yang khusus disediakan untuk berjemur. dengan topi dan kacamata serta segelas jus jeruk.
"Wah Bella kau sedang berjemur?" Tanya Anindira.
"Iya kakak ipar."
"Berjemur itu pagi hari, matahari pagi itu sehat. kalau sore hari bukannya sehat malah gosong." Ucap Aksan
"Sengaja biar gosong." Sahut Bella. "Sini kakak ipar berjemur."
"Gak deh, kakak sudah capek habis berkeliling tadi. kakak mau mandi dulu. daah." Ucapnya melambaikan tangannya kepada Bella lalu masuk kedalam meninggalkan Aksan dan Bella.
"Daah." Bella juga melambaikan tangannya.
Bella dan Aksan saling pandang, mereka berdua heran dengan sikap Anindira yang tak seperti biasanya. Anindira sangat bersemangat akhir-akhir ini. Aksan pun menyusul istrinya kedalam.
"Mungkin kakak ipar sedang senang." Ucap Bella lalu meminum jusnya dan mengambil ponselnya, ia membuka kamera dan mulai berfoto. seperti biasa ia akan mengunggah kegiatannya di akun sosial medianya.
Malam hari tiba, mereka semua sedang menikmati makan malam. sambil membahas rencana mereka besok. mereka akan pergi ke tempat wisata yang terkenal disini.
"Sayang kenapa kau makan sedikit?" Tanya Aksan kepada Anindira.
"Iya Anin, sedikit sekali makanmu, kau harus makan banyak nak." Ucap nyonya Hanna juga.
"Aku masih kenyang mah." Ucapnya berbohong padahal ia sedang tidak selera makan. ia mau muntah rasanya melihat semua makanan dihadapannya, tapi ia berusaha menahannya.
Setelah selesai makan, Tuan David dan Nyonya Hanna berjalan-jalan sebentar untuk mencerna makanan. mereka berjalan kaki menikmati suasana malam disekitaran villa.
Aksan dan Anindira duduk di kursi yang ada di halaman depan villa. sedangkan Bella duduk di ayunan tak jauh dari mereka. ia sedang Video call an dengan teman-temannya.
Terdengar suara Bella yang sedang tertawa dengan teman-temannya.
"Benarkah? hahaha. . ."
"Berisik." Ucap Aksan kepada Bella. Bella mendengus kemudian ia berjalan masuk kedalam masih dengan panggilan vidionya.
"Teman-teman kita bicara didalam saja, disini ada bapak-bapak tua yang nyebelin." Ucapnya menjulurkan lidahnya ke Aksan. Aksan berdiri Bella langsung berlari "Daah kakak ipar." Ucapnya sambil berlari masuk ke dalam.
"Anak itu memang kurang ajar, enak saja dia bilang aku bapak-bapak tua." Ucap Aksan kesal setelah kembali duduk. Anindira tertawa melihat kakak beradik yang tak bisa akur itu. Adiknya jahil kakaknya pemarah.
"Sudahlah diakan hanya bercanda." Ucap Anindira sambil tertawa.
"Tetap saja aku kesal."
"Kesal pada adik lebih menyenangkan daripada tidak punya adik."
"Bukan hanya tidak punya adik, aku juga tidak mempunyai sepupu ataupun keluarga dekat. aku hanya punya orangtua ku." Ucapnya lagi menatap lurus kedepan. memikirkan takdirnya yang hidup sebatang kara.
"Pasti kau dulu sangat kesepian, kasihan istriku." Ucap Aksan mengusap kepala istrinya.
"Sudah takdirku begini." Ucap Anindira tersenyum, dia sudah menerima takdirnya.
Semakin lama udara semakin dingin. Tak lama kemudian Tuan David dan nyonya Hanna kembali. Mereka menyuruh Aksan dan Anindira ikut masuk kedalam karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Mereka semua pun masuk, dan benar saja hujan pun turun dengan lebatnya setelah mereka masuk. karena sudah malam mereka semua pun pergi ke kamar masing-masing untuk segera tidur.
Aksan dan Anindira sudah berada di kamar. Anindira langsung naik ke kasur untuk segera tidur, ia menarik selimut sampai menutupi lehernya karena memang sekarang sangat dingin sebab diluar hujan.
Aksan baru keluar dari kamar mandi, ia langsung naik ke tempat tidur dan mendekati istrinya yang sedang tidur membelakanginya.
"Sayang kau sudah tidur?" Bisik Aksan ditelinga Anindira. tidak ada jawaban atau gerakan dari Anin.
"Sayang, kau benar-benar sudah tidur?" Ucap Aksan dengan suara agak kuat. masih tidak ada jawaban dari Anin.
"Sayang, aku sedang ingin. kau akan berdosa jika menolak suamimu." Bisiknya sambil tangannya bergerilya membelai tubuh Anin. Anindira menggeliat karena tangan Aksan yang sangat menggangu.
"Yasudalah, kau akan berdosa jika kau memang pura-pura tidur."
Maafkan aku suamiku, aku sedang malas dan mengantuk. dosa dikit gapapa lah ya. hehe. . .
Aksan pun masuk kedalam selimut dan tidur sambil memeluk istrinya dari belakang. ia tidak tahu kalau Anindira memang berpura-pura tidur.