
Hanna masih terngiang-ngiang dengan yang di ucapkan temannya saat di arisan tadi. Temannya yang bertanya kapan putranya akan menikah dan kapan dia akan menjadi seorang nenek. Karena hampir semua temannya itu sudah memiliki cucu.
Aksan. . .Aksan. . . Sampai kapan sih kamu mau seperti ini. Sepertinya aku yang harus memilihkan calon istri untuknya.
Hanna yang sedang duduk di sofa sambil melamun itu di kejutkan Dengan suara putrinya.
"Dorrr" Kejut Bella sambil memegang bahu mamanya.
"Aaaa". Hanna langsung berbalik dengan cepat sambil memegang dadanya melihat putri jahilnya itu.
"Bellaaa kau ini, mau buat mama jantungan ya". Teriak mamanya.
"Hahahaha" tawa Bella yang melihat mamanya terkejut.
"Ada apa ini kenapa heboh sekali?". Tanya Tuan David yang mendengar istrinya teriak, sambil berjalan kearah sofa lalu duduk di samping istrinya.
"Habisnya mama melamun sih jadi aku kagetin deh, hehe". Ucap Bella sambil duduk di sofa.
"Kenapa kamu melamun mah?" Tanya Tuan David.
"Mama tidak melamun mama hanya sedang memikirkan Aksan. Entah sampai kapan dia akan seperti ini, apa dia tidak mau memberikan mama cucu?. Tadi di arisan teman mama terus saja bercerita tentang perkembangan apa saja yang di alami cucu cucu mereka. Mama kan jadi iri, mama juga pengen punya cucu pa." Ucap Hanna kesal.
"Kenapa tidak mama bujuk saja kakak untuk segera menikah?". Bella yang juga tidak mengerti kenapa kakaknya itu belum mau menikah.
Aksan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya mendengar apa yang diucapkan Bella barusan.
"Untuk apa menikah? membuang waktu saja." Ucap Aksan sambil berjalan menuju sofa lalu duduk bersama mereka.
"Aksan apa kau akan selamanya seperti ini? apa kau tidak ingin berumah tangga?" apa kau tidak ingin punya anak?. Tanya Hanna dengan nada tinggi. ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Putranya itu barusan.
"Bukan begitu mah, aku hanya ingin fokus dengan perusahaan. Lagian aku juga masih muda."
"Kau ini. justru di usia muda seperti inilah kau harus segera menikah. Umurmu itu sudah pas. Apa kau tidak ingin memberikan pewaris di keluarga ini."
"Yang dikatakan mama benar Aksan. Percuma semua kesuksesan yang kau raih jika tidak ada yang meneruskan."
Ucap tuan david.
"Biar mama saja yang pilihkan calonnya. tenang saja mama akan carikan gadis yang tepat". Mengingat Aksan yang pernah salah pilih wanita yang membuatnya menjadi seperti sekarang, dingin dan tak berperasaan.
"Sepertinya mama sudah ada calonnya.
Dia gadis yang hebat dan juga cantik." Ucap Hanna sambil mengingat seseorang.
"Terserah mama saja." Ucap Aksan malas. lalu pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga.
- - -
Karena ini hari Minggu. Kenan mengajak Anindira untuk makan malam di sebuah restoran.
Mobil Kenan baru saja memasuki halaman depan rumah Anindira. meskipun rumahnya sederhana tapi halaman depannya cukup lebar. bahkan dia memiliki berbagai macam tanaman yang ditanam di halaman depan rumahnya. serta pot bunga yang berjajar rapi di pinggir-pinggir pagar kayu rumahnya.
Anindira langsung keluar saat mendengar suara mobil didepan rumahnya.
"Kak Kenan sudah datang"
"iya kak aku lupa" Jawab Anindira sambil menyengir. ia lupa kalau Kenan mengajaknya makan malam.
"Yasudah tidak apa, lagian masih sore." Kenan sengaja datang lebih awal.
"Oh ya Anin, kau suka berkebun ya?"
"Emm iya, tapi tidak terlalu sih kak, aku lebih suka memasak, terutama membuat roti."
"Membuat roti kan memang keahlianmu."
Kenan melihat tanaman dan bunga-bunga yang ada di pot seperti tidak terawat.
"Ini semua ibuku yang menanamnya, dia juga yang merawatnya. aku hanya membantunya sesekali jika ada waktu. tapi sekarang ibuku tidak ada jadi tanaman ini tidak terurus lagi. dan aku lupa merawatnya." Ucapnya sedih namun sempat sempatnya ia tertawa karena ia lupa mengurusnya.
"Mulai sekarang aku akan merawat tanaman ini karena ibuku sudah membesarkannya dengan penuh kesabaran." Aksan tersenyum melihat Anindira. walaupun ia sedih tapi ia sudah mencoba untuk kuat.
"Perlu bantuan?."
"Tidak usah kak, aku rasa aku bisa melakukannya sendiri."
"Kakak tunggu saja didalam. aku mau bersiap-siap dulu"
"Baiklah"
Setelah Anindira selesai bersiap-siap, mereka pun langsung menuju ke sebuah restoran.
Anindira dan Kenan yang baru saja tiba di restoran langsung duduk di kursi yang sudah di pesan Kenan. Lalu memesan makanan.
"Apa kau suka tempatnya?". Sambil menunggu pesanan datang, kenan bertanya.
"Tempatnya bagus". jawab Anindira sambil tersenyum. Sebenarnya ia merasa sedikit aneh karena yang makan disini rata-rata berpasangan semua.
Anindira mengenakan dress warna biru navy yang panjangnya selutut. Rambut lurusnya dibiarkan tergerai menimbulkan kesan feminim. beda dari penampilan biasa ia di toko.
"Kau cantik sekali malam ini Anin". Ucap Kenan yang sedari tadi memperhatikan Anin.
Anindira menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Memangnya selama ini aku tidak cantik ya?
"Hehe. . terima kasih."
Mereka pun makan setelah pesanan mereka tiba.
selama makan Kenan terus saja memperhatikan Anin. tangan Kenan meraih bibir Anin dan mengelap noda saos yang ada di bibirnya.
"kau makan seperti anak kecil." ucap Kenan sambil tersenyum.
Anin hanya diam saja dan tersenyum tipis.
kenapa kak Kenan bersikap seperti ini aku rasa sikapnya terlalu berlebihan akhir akhir ini.