
"Apa kau sudah siap?". Tanya Aksan.
"Siap untuk apa?"
"Siap untuk membuatkan mama cucu".
Bisik Aksan ditelinga Anindira
"Ta tapi kau masih sakit kan suamiku?" Tanya Anindira mengingat Aksan baru saja sembuh.
"Siapa bilang aku sakit"
"Aku sangat sehat" Ucapnya sembari menjelajahi leher gadis itu, sesekali memberikan kecupan disana. membuat Anindira merasakan sesuatu yang aneh.
Aksan kembali memandang wajah istrinya yang cantik dengan bibir merahnya, begitu menggoda jika dilihat dengan nafsu.
Niat hati hanya ingin mengerjai istrinya, karena ia tahu tenaganya pasti belum kembali sepenuhnya. namun entah mengapa timbul gejolak dari dalam dirinya yang tidak ingin dia tahan lagi. Namanya nafsu bisa datang kapan saja ditambah lagi dengan cuaca yang mendukung. Aksan tidak ingin membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perlahan ia mulai mendekatkan bibirnya dan mencium bibir ranum milik istrinya lagi, tapi kali ini Anindira membalas ciumannya. biasanya dia hanya diam menerima ciuman dari Aksan. hal itu membuat Aksan senang dan semakin bersemangat, itu berarti Anindira siap dan setuju untuk melakukannya.
Anindira tidak ingin menahan hak suaminya atas dirinya lebih lama lagi. dia takut menjadi istri yang berdosa, dan juga ada niat dilubuk hatinya untuk segera memberikan cucu yang sangat dinanti-nantikan oleh mertuanya itu.
Semakin lama ciuman yang mereka lakukan semakin dalam hingga membuat Anindira kesulitan bernafas. Anindira hanya bisa pasrah dengan keganasan suaminya, sambil tangannya memegang dada bidang milik suaminya.
"Kali ini aku tidak akan melepaskan mu". Ucap Aksan setelah melepas ciumannya, ia kemudian menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur.
"Sayang aku takut." Ucap Anindira dengan manja membuat Aksan senang sekaligus terkejut dengan ucapan istrinya yang manja.
"Jangan takut, aku akan melakukannya dengan lembut".
Akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi. mereka menikmati indahnya malam pertama yang sudah lama.
Tak disangka walaupun baru sembuh tak mengurangi tenaganya malam ini. Aksan sangat kuat seperti orang yang tidak sakit.
"Terimakasih istriku, aku mencintaimu". Ucap Aksan sambil mencium kening istrinya itu. lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Aksan sangat bangga dan bahagia karena Anindira telah menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya.
Aksan memeluk tubuh Anindira dan mencium keningnya, sementara Anindira yang sudah tak bertenaga hanya diam dengan mata yang tertutup, namun ia sangat senang dan bahagia.
Malam ini merupakan malam yang sangat indah bagi mereka berdua. mereka sangat bahagia. malam yang hangat dicuaca dingin.
Tidak butuh waktu lama mereka berdua pun langsung tertidur dengan perasaan bahagia.
***
Pagi ini Aksan bangun lebih dulu. Dipandanginya wajah istrinya yang masih terlelap. sambil senyum-senyum mengingat kejadian tadi malam.
"Kau milikku seutuhnya". Bisiknya ditelinga Anindira yang masih tertidur. kemudian di ciumnya pipi dan kening istrinya itu, membuat yang diciumi wajahnya itu menggeliat kemudian membuka matanya dengan berat.
Saat Anindira membuka matanya, ia langsung melihat Aksan yang sedang menatapnya dengan senyuman diwajah tampannya.
"Selamat pagi sayang" Mendengar panggilan sayang dari suaminya, Anindira langsung malu dan kembali menundukkan kepalanya. apalagi mengingat kejadian tadi malam, wajahnya sudah merah merona sekarang. ia bersembunyi di dada suaminya dan bergerak salah tingkah tak bisa diam.
"Sepertinya kau sudah membangunkan sesuatu sayang."
"Maksudnya?"
"Ayo kita ulangi yang tadi malam karena dia sudah bangun". Anindira mengerutkan alisnya, ia tidak mengerti apa maksudnya, siapa yang bangun pikirnya. Aksan menunjuk ke arah bagian bawahnya dengan matanya.
Anindira segera mengalihkan pandangannya ketempat lain, ia terdiam dengan mata yang terbuka lebar, kemudian menggelengkan kepalanya. sekarang ia tahu siapa yang bangun sekarang.
"Emm suamiku, ini sudah pagi nanti kau akan telat ke kantor" ucap Anindira, ia akan bangkit menuju kamar mandi. karena kalau dia tetap berada disitu ia tau apa yang akan terjadi nanti, suaminya akan melakukan seperti tadi malam lagi.
"Aaww". Ia terduduk lagi karena merasakan nyeri dibagian sensitifnya.
"Sakit?" Tanya Aksan khawatir sambil bangkit menghampiri istrinya.
"Sedikit"
"Maaf" kemudian Aksan langsung menggendongnya ke kamar mandi, membuat Anindira terkejut dan membulatkan matanya lebar-lebar.
Mereka mandi bersama selama hampir satu jam lebih. Tentunya tidak hanya mandi, karena Aksan melakukan ritualnya menjahili istrinya terlebih dahulu.