
Keesokan harinya. Karena ini adalah hari minggu, jadi Aksan ikut menemani Anindira ke toko roti. tak ketinggalan juga Malik, si sekretaris setia sekaligus asisten pribadinya.
Saat ini Aksan dan Anindira sedang duduk dikursi yang disediakan khusus untuk pembeli apabila ingin makan ditempat. sedangkan Malik duduk di meja terpisah di belakang mereka. tak lupa Malik membawa laptopnya untuk bisa sekalian bekerja.
Suasana saat ini cukup tegang. Aksan sedang bertanya kepada Madan, si supir pribadi Anindira, dimana keberadaan dirinya semalam saat terjadi pencopetan. karena direkaman itu Aksan tidak melihatnya.
"Madan." Ucap Aksan sambil memegang kartu nama supir pribadi Anindira. "Sekarang jelaskan kepadaku dimana kau semalam. Istriku panik mencarimu tapi kau tidak ada. dimana kau?"
"Maaf Tuan, pada saat itu saya sedang berada di toilet." Ucap Madan sambil melirik kearah Chika. Chika sekarang ini sudah sangat cemas dan takut.
"Benarkah? mana ada orang ditoilet lama sekali. Apa kau tertidur di toilet?, Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi?" Bentak Aksan. Anindira memegang tangan Aksan mencoba menenangkannya.
"Tidak Tuan, saya masih ingin bekerja." Jawab supir itu. Aksan menarik nafasnya berusaha menahan amarahnya, biar bagaimanapun Madan lebih tua setahun darinya. sama seperti Malik.
"Aku tidak ingin ini terulang lagi. keselamatan istriku jauh lebih penting dari apapun. utamakan istriku terlebih dahulu baru yang lainnya kau mengerti."
"Baik Tuan, saya mengerti."
"Pergilah"
Alira baru datang dari belakang sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan juga roti. ia berpapasan dengan Madan yang menatapnya datar. Alira juga mendengar perkataan Aksan tadi.
Alira memperhatikan Malik yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Silahkan Tuan tampan." ucap Alira menyuguhkan terlebih dahulu kepada Malik sambil menunjukkan senyuman manisnya. sementara Malik hanya menatapnya datar.
Ya ampun dia semakin tampan kalau dilihat dari dekat.
Alira terus menatap Malik sambil tersenyum-senyum sendiri, sampai suara deheman Malik menyadarkannya.
"Sepertinya Alira menyukai sekretaris Malik." Ucap Anindira sembari melihat kearah Malik dan Alira. Aksan juga menoleh kearah mereka sebentar.
"Sepertinya Malik tidak menyukainya." Ucapnya santai.
"Bagaimana Suamiku tau?"
"Dia itu tidak tertarik dengan siapapun, dia hanya tertarik dengan pekerjaannya. lihat saja dia, dimana-mana dia selalu bekerja."
Malik menghela nafasnya mendengar perkataan Aksan barusan.
Ini semua juga karena anda Tuan. batinnya mengingat Aksan yang selalu melimpahkan pekerjaan padanya. tapi Malik tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik karena itu sudah resikonya.
Setelah menyuguhkan kopi dan roti kepada Malik, Alira kemudian menyuguhkannya kepada Aksan.
"Silahkan Tuan."
Aksan langsung mengambil kopinya dan meminumnya, karena kesal tadi ia jadi haus.
"Sayang kau bilang dia pegawai baru kan?" Tanya Aksan melirik Alira, Anindira mengangguk.
"Kau dipecat!." Ucap Aksan kepada Alira, lalu menyeruput kopinya lagi. Alira membelalakkan matanya begitupun dengan Anindira yang terkejut.
"Tuan apa salah saya? Kenapa anda ingin memecat saya?" Tanya Alira bingung, perasaan ia tidak membuat kesalahan apapun. Aksan tidak menjawab, ia masih belum selesai menikmati kopinya.
"Ahhh kopinya enak sekali." Ucap Aksan setelah menghabiskan kopinya dengan sekali teguk. Anindira menatapnya bingung, sedangkan Alira memanyunkan bibirnya karena sudah dipecat.
Huaa. . baru juga kerja sehari sudah dipecat.
Apa Tuan Aksan marah karena aku tidak menyuguhkan kopi itu kepadanya lebih dulu ya?. pikirnya. karena tadi ia sudah tidak sabar untuk melihat Malik jadi dia menyuguhkan kepada Malik terlebih dahulu.
Alira terduduk di kursi memikirkan nasibnya sekarang, ia harus kembali mencari pekerjaan karena sudah dipecat. Anindira merasa kasihan melihat Alira yang dipecat tanpa sebab. ia penasaran kenapa suaminya tiba-tiba memecatnya.
"Suamiku, kenapa harus memecatnya? diakan tidak bersalah."
"Aku tidak bilang dia bersalah." Ucap Aksan santai.
"Aku sudah menemukan calon bodyguard untukmu." Ucapnya lagi sambil tersenyum kepada istrinya.
"Aku mau dia berhenti dari pekerjaan ini, dan bekerja sebagai asisten sekaligus bodyguardmu. Aku akan menggajinya lima kali lipat dari pekerjaannya disini." Jelas Aksan membuat Anindira tercengang.
"Apa?" Ucap Alira spontan berdiri sampai kursinya terjungkal, Membuat mereka terkejut.
Kak Alira selalu deh. Ucap Chika dalam hati. ia yang sedang berdiri di pintu depan dengan perasaan cemasnya jadi terkejut.
"Maaf."
Alira lalu memberdirikan kursi yang terjungkal kebelakang itu. Kemudian ia mendekat kearah Aksan dan Anindira.
"Apa? Yang benar Tuan?"
"Hmm. Aku akan menggajimu 5 kali lipat untuk pekerjaan ini, kau akan menjadi asisten pribadi istriku sekaligus bodyguardnya." Jelas Aksan.
"Lima kali lipat tuan? Saya mau saya mau." Ucapnya semangat langsung menerima tawaran ini, ia hanya harus melindungi Anindira seperti seorang bodyguard. meskipun terdengar aneh tapi ia tidak masalah karena gajinya sangat besar.
"Malik, persiapkan dia."
"Baik Tuan"
Malik mengerti maksudnya, ia segera membawa Alira pergi untuk melatihnya. Sebelum mulai bekerja, Malik harus memastikan bahwa Alira pantas untuk pekerjaan ini. Pertama yang akan ia lakukan adalah mengetes kemampuan berkendara Alira.
"Tuan tampan, kita mau apa?" Tanya Alira antusias saat Malik membawanya ke mobil dan menyuruhnya duduk di kursi pengemudi.
"Aku akan mengetesmu, sekarang mulai!" Perintah Malik, Alira pun segera mengemudikan mobilnya.
"Tidak perlu dites tuan, saya sangat jago mengendarai mobil."
Alira berkendara dengan sangat baik, ia merasa sangat senang bisa berkendara berduaan dengan Malik, pria yang sudah merebut hatinya sejak pandangan pertama. sepanjang perjalanan, Alira terus mengoceh menceritakan hal-hal yang tidak penting. Malik hanya menghela nafasnya mendengarkan ocehannya.
Gadis ini sangat banyak bicara.
"Tuan tampan kenapa anda diam saja?"
"Diam dan perhatikan saja jalannya." Ucap Malik. meskipun Malik tidak menanggapi ucapannya tapi Alira senang karena Malik mendengarkannya.
_ _ _
Flashback on.
Sebenarnya semalam Chika telah mengunci Madan di kamar mandi. Chika melakukan itu karena kesal habis berdebat dengan Madan. ia meninggalkan Madan dan pergi kedepan karena terdengar suara keributan di depan. karena panik ia sampai lupa kalau sudah mengunci Madan dikamar mandi.
Untungnya ada Alira. setelah menghajar penjahat itu ia hendak membasuh wajahnya. ia melihat pintu kamar mandi terkunci dari luar dan langsung membukanya. Alira terkejut bagaimana bisa Supir pribadi Anindira ada didalam sedangkan pintu terkunci dari luar.
"Kenapa kak Madan disini?" Tanya Alira. Alira orang yang mudah akrab dengan siapa saja, jadi dengan cepat ia mengetahui nama-nama mereka.
Madan hanya menghela nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya. Madan kira tadi adalah Chika, ternyata Alira. iapun segera keluar dari kamar mandi. sedangkan Alira melihatnya dengan bingung.
Flashback off.
"Maafkan aku kak." Ucap Chika tulus kepada Madan. ia benar-benar merasa bersalah telah membuat Madan dimarahi padahal ini salahnya.
Baru kali ini Madan melihat Chika meminta maaf dan berkata tulus padanya. mengingat selama ini mereka terus bertengkar dan berdebat. Madan lucu mendengar Chika memanggilnya kakak, ia pun tertawa membuat Chika keheranan.
"Kak Madan aku sedang minta maaf kenapa kau tertawa?"
"Sudahlah, tidak apa-apa."
"Benarkah? Kak Madan tidak marah?" Mendengar Chika memanggilnya dengan sebutan kakak lagi, masih lucu ditelinga Madan, ia kembali tertawa membuat Chika kesal.
Melihat wajah Chika yang sudah kesal, Madan pun menghentikan tawanya.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa."
Ternyata dia orang yang baik, meskipun menyebalkan. batin Chika.
_ _ _
Kembali ke Malik dan Alira. sekarang Malik membawa Alira pergi ke tempat pelatihan olahraga. ada banyak sekali yang harus dilakukan Alira disana.
Alira menunjukan kemampuannya kepada Malik. mulai dari beladiri, tolak peluru, memanah dan berbagai macam jenis olahraga lainnya.
Meskipun Alira banyak bicara sampai membuat telinganya panas tapi Malik senang karena Alira gadis yang berbakat dan menguasai banyak jenis olahraga. ia belum pernah bertemu dengan gadis seperti Alira.
"Meskipun kau sudah bisa banyak hal, kau juga harus sering-sering melatihnya supaya kemampuanmu tidak hilang." Ucap Malik.
"Baiklah Tuan tampan."
"Panggil aku dengan benar."
"Baiklah Tuan, hehe"
Malik pun memberitahukan hal-hal lainnya yang harus dipatuhi oleh Alira saat sudah menjadi asisten pribadi Anindira nanti.
Alira dengan penuh semangat dan antusias mendengarkan semua penjelasan dari Malik.
"Kau mendengarku?" Tanya Malik, Alira kemudian mengangguk.
"Kau mengerti?" Tanya Malik lagi, Alira pun menggeleng.
"Kau mendengarku tapi tidak mengerti maksudku." Ucap Malik kesal.
"Aku memang mendengar suaramu tuan, tapi aku tidak memahami ucapanmu." Telinga Alira memang mendengar suara Malik tapi pikirannya sibuk memikirkan hal lain, yang jelas masih tentang lelaki tampan itu.
Sampai malam hari tiba, Malik baru selesai mengetes dan melatih Alira. ada satu hal yang Alira tidak bisa lakukan yaitu menembak. Malik mengajari cara menembak kepadanya terlebih dahulu baru setelah itu mereka pulang. Malik mengantar Alira sampai ke rumahnya.
"Terimakasih ya Tuan tampan sudah mengantar saya pulang." Ucap Alira saat hendak turun dari mobil. Malik menghela nafasnya dan berkata.
"Panggil aku. . .
"Iyaiya Tuan. panggil aku dengan benarkan. baiklah." Alira sudah hapal dengan apa yang akan dikatakan Malik padanya. Setelah Alira turun Malik langsung melajukan mobilnya meninggalkan Alira.
"Panggil aku dengan benar." Ucap Alira menirukan gaya bicara Malik.
"hah aku sudah benar memanggilnya, dia itu memang tuan tampan."
"Ekhemm" Suara seseorang yang pura-pura batuk di telinganya. membuat Alira terkejut sampai memegang dadanya.
"Anak ini" Ucap Alira kesal kepada orang yang sudah mengagetkannya. orang itu adalah adiknya yang juga baru pulang.
"Mobil siapa tadi? pacar kakak ya??"
"Tumben kau pulang?"
"Seharusnya kakak senang aku pulang."
Alira segera masuk kedalam rumah diikuti adiknya dari belakang. mereka hanya tinggal berdua karena orangtua mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Cepat katakan, siapa yang mengantar kakak pulang tadi?"
"Bukan urusanmu. sudah sana jangan ganggu kakak, kakak lelah." Alira kemudian menutup pintu kamarnya membuat adiknya kesal.
_ _ _
Saat sebelum tidur.
"Kau sudah mempersiapkannya?" Tanya Aksan kepada Malik melalui telpon.
"Sudah Tuan, saya sudah mengetes dan melatihnya. dia sudah bisa banyak hal jadi tidak butuh waktu lama untuk mengajarinya lagi." Jelas Malik.
"Aku tahu, itu sebabnya aku memilihnya. lalu apa kau sudah mencari tahu tentang penjahat yang membuat rusuh di toko istriku?"
"Sudah Tuan." Jawab Malik. ia tadi sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari dan menginterogasi kedua penjahat yang berusaha mencopet di toko roti Anindira.
"Bagus. bagaimana?"
"Mereka ternyata orang suruhan Nona Tamara, Tuan."
"Apa? beraninya wanita itu." Aksan yang mendengarnya merasa geram. berani sekali Tamara mengganggu istrinya dengan mengirim para penjahat itu, bagaimana kalau penjahat itu sampai melukai istrinya.