Bakery love story

Bakery love story
Merindukan Ibu



Hari Minggu selanjutnya


Anindira tengah duduk di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi yang cukup segar, menikmati terik matahari pagi yang menyehatkan. ia mengelus perutnya yang sudah terlihat menonjol, Sambil memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih.


Aksan baru selesai mandi. ia melihat istrinya dari kaca jendela seperti sedang melamun, ia langsung menghampiri Anindira dibalkon.


Aksan mengecup kening Anindira yang sedang menunduk lalu duduk disebelahnya.


Aksan memperhatikan istrinya yang sedang menunduk itu, lalu mengelus rambutnya.


"Kau kenapa sayang?" Aksan heran, tidak biasanya Anindira diam saja seperti itu, biasanya dia selalu ceria dan bawel ataupun menangis dengan lebay.


Anindira menatap suaminya dengan tatapan sedih, Aksan langsung memeluknya saat melihat wajah Anindira yang seperti akan menangis.


"Ada apa?" Tanya Aksan setengah berbisik sambil menenangkan Anindira dalam pelukannya.


"Aku rindu ibu" Ucapnya pelan sambil meneteskan air matanya. Aksan pun mengerti, wajar saja Anindira bersikap seperti ini, ternyata dia sedang merindukan ibunya.


Aksan menepuk-nepuk pundak istrinya berusaha menenangkannya. Anindira kini terlihat lebih tenang karena sudah menumpahkan seluruh kesedihannya dipelukan suaminya. ia sudah tidak menangis lagi sekarang.


"Aku ingin bertemu ibu."


"Sayang apa yang kau katakan? kenapa bicara seperti itu?" Tanya Aksan tak senang mendengar perkataan Anindira.


"Memangnya kenapa? aku hanya ingin bertemu dengan ibuku."


"Apa yang kau bicarakan? apa kau tega meninggalkan ku?"


Anindira mengerutkan keningnya mendengar perkataan Aksan.


"Apa kau tidak peduli padaku? kau adalah hidupku bagaimana bisa kau ingin meninggalkan ku? aku ingin kita hidup bersama sampai kita tua nanti."


Sekarang Anindira mengerti, ternyata Aksan sudah salah memahami ucapannya. Anindira menghela nafasnya karena suaminya itu sudah salah paham sampai bicaranya melantur kemana-mana.


"Suamiku, maksudnya aku ingin bertemu dengan ibu di pemakamannya. aku ingin mengunjungi ibu dan ayah." Jelasnya membuat Aksan jadi mengerti, ternyata menemui ibu maksudnya menemui di pemakamannya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi." Ucap Aksan sambil mencubit kedua pipi Anindira dengan gemas. "Yasudah ayo siap-siap, kita pergi sekarang."


Anindira memutar bola matanya sambil mengusap-usap pipinya.


Mereka pun bersiap-siap untuk segera pergi ke pemakaman orang tua Anindira.


Aksan memerintahkan Malik dan Alira untuk ikut bersama mereka. Malik seperti biasa menuruti perintah Tuannya. Sementara Alira senang karena bisa pergi bersama dengan Malik.


Malik mengemudikan mobil sementara Alira membawakan barang bawaan Anindira.


***


Setelah tiba di pemakaman, mata Anindira mulai berkaca-kaca. ia mulai berjalan mendekati makam ibu dan ayahnya yang letaknya bersebelahan.


"Ayah, ibu, aku datang"


Anindira mulai bicara pada makam kedua orangtuanya sambil meneteskan air matanya.


"Ayah ibu aku baik-baik saja, sekarang aku sudah bahagia bersama keluarga baruku. kalian tidak usah khawatir."


Anindira sedih mengingat semua kenangan bersama orang tuanya, mengingat bagaimana orang tuanya sangat menyayanginya, mengingat betapa harmonis dan bahagianya keluarga kecil mereka dulu, kini semua itu sudah usai karena maut yang memisahkannya dari orangtuanya.


Anindira sedih mengingat semua kenangan-kenangan indah bersama orang tuanya yang tak akan pernah bisa terulang lagi.


Aksan mengelus pundak istrinya berusaha untuk menenangkannya.


Alira yang melihatnya seperti itu juga ikut merasa sedih. ia sangat bisa merasakan perasaan Anindira karena dirinya juga seorang yatim piatu.


"Ibu, aku punya berita baik. sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu, seperti ibu. aku bahagia tapi aku takut. aku membutuhkan mu bu."


Kasihan kak Anin, saat sedang hamil seperti ini dia pasti sangat membutuhkan sosok ibunya. Batin Alira.


Anindira terus bicara membuat orang yang mendengarnya ikut merasakan kesedihannya.


Alira kini mulai meneteskan air matanya karena dia teringat juga dengan ibunya. suatu saat ia pasti akan berada di posisi Anindira, dan itu membuatnya bertambah sedih.


Malik menyenggol lengan Alira dengan sikunya, karena isakan tangisnya yang terdengar meskipun pelan.


"Jangan menangis" Ucap Malik pelan, Alira langsung menatapnya.


"Tangisanmu hanya akan membuat Nona bertambah sedih."


Senyuman yang tadinya muncul langsung menghilang dengan sekejap. Alira sudah senang tadi saat Malik mengatakan jangan menangis, tapi ternyata Malik hanya tidak ingin tangisannya membuat Nona Anindira bertambah sedih.


Cuaca semakin lama semakin panas. matahari bersinar sangat terik, membuat mereka semua kepanasan karena berdiri lama disana.


"Sayang sudahlah"


Aksan sudah tak tahan dengan panas matahari yang terasa membakar kulitnya, ia juga sudah keringatan. ingin rasanya ia mengajak istrinya untuk pergi tapi ia tak enak dan takut istrinya marah.


Sementara Malik dan Alira, mana berani mereka mengeluh. mereka hanya bisa pasrah menunggu.


Alira sudah seperti cacing kepanasan sementara Malik hanya menghela nafasnya.


Sudah lama mereka disana tapi tidak ada tanda-tanda Anindira akan selesai atau beranjak dari makam orangtuanya. tanpa sadar Anindira sudah membuat mereka seperti murid nakal yang dijemur di tiang bendera.


Alira terus menatap Malik dengan kagum, ia sudah melupakan rasa lelah dan gerahnya karena pesona Malik yang berhasil mengalihkan dunianya sejenak. Malik mengetahui kalau Alira terus menatapnya dari tadi, tapi ia membiarkannya.


"Tissue" Ucap Aksan membuat Alira tersadar.


Alira langsung mengambil tissue yang ada di dalam tas Anindira yang sedang dibawakannya. Ia mengeluarkan tissue itu dan memberikannya pada Aksan.


Aksan mengelap wajah Anindira yang sudah basah karena air mata dan keringat.


Anindira kini sudah tampak tenang, ia sudah tidak menangis lagi.


"Ayo kita pergi" Ucap Anindira membuat mereka semua lega dan bersyukur dalam hati, karena sudah tak tahan dengan panasnya matahari yang membakar kulit.


Sebelum pergi tak lupa Aksan mendoakan almarhum ibu dan ayah mertuanya terlebih dahulu.


"Ibu, Ayah, aku pulang dulu ya. aku akan mengunjungi kalian lagi nanti."


Dengan cepat mereka segera masuk kedalam mobil dan langsung menyejukkan badan dengan AC mobil.


"Suamiku, haus." Ucap Anindira, setelah menangis membuatnya haus.


"Baiklah, kita akan mampir ke supermarket nanti"


"Tidak, aku ingin minum es cendol"


"Es cendol?" Tanya Aksan, Anindira mengangguk cepat.


Wah asik minum es cendol. Batin Alira


Aksan berpikir tidak ada salahnya sekali-sekali minum es diluar. ia pun menyetujui permintaan istrinya. karena Anindira sedang bersedih. ia juga sudah haus, butuh yang segar-segar.


"Baiklah, tapi dimana tempat jual es cendol?" Tanya Aksan, Anindira menggeleng karena ia juga tidak tahu.


Alira langsung membalikkan badannya kebelakang.


"Saya tahu dimana tempat jual es cendol yang enak." Ucap Alira antusias.


"Dimana?"


Alira langsung memberi tahukan dimana tempat jual es cendol yang katanya enak itu. Malik pun melajukan mobil menuju tempat es cendol itu dengan arahan dari Alira.


"Belokan terakhir belok kiri. nah itu dia" Ucap Alira.


"Sudah sampai ya?" Anindira sudah tidak sabar ingin segera merasakan minuman santan segar yang sedang diinginkannya itu.


sama dengan Anindira, Alira juga sudah tak sabar untuk segera menikmati es cendol langganannya itu.


Setelah mobil terparkir, Alira langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Anindira.


"Ayo kak." Ucap Alira semangat setelah membukakan pintu untuknya. Anindira yang sudah tak sabar langsung turun dibantu Alira. Mereka berdua sangat bersemangat. membuat Aksan dan Malik saling pandang melihat tingkah mereka berdua.


Aksan dan Malik pun langsung menyusul mereka karena mereka juga sudah haus.


"Mang, es cendolnya 4 ya!" Ucap Alira kepada si mamang penjual es cendol langganannya.


"Minum sini neng?"


"Iya mang"


"Oke neng Ira, segera mamang buatkan."


Tak lama kemudian, 4 gelas es cendol pun tiba.


"Enak kan kak? rasanya dari dulu tidak berubah."


"Iya, enak. jarang ya ada cendol yang seger gini."


Aksan yang baru pertama kali mencoba minuman seperti ini awalnya merasa aneh tapi lama-lama dia menikmatinya.


Sebentar saja gelas mereka berempat sudah kosong sangking kehausannya mereka.


"Sayang, jangan sering-sering minum ini ya, tidak bagus." Aksan memperingatkan istrinya.


"Pak, tambah lagi." Ucap Aksan sambil mengangkat gelasnya yang sudah kosong. membuat Malik, Anindira, dan Alira mengerutkan alisnya.


"Suamiku, tadi katanya tidak bagus kenapa minta tambah?"


"Iya, tidak bagus untuk ibu hamil maksudnya." Jawab Aksan membuat Anindira mengerucutkan bibirnya.


Memang apa pengaruhnya?


"Ohya Alira, Bagaimana keadaan Chika?"


"Tenang saja kak, Kak madan pasti menjaganya dengan baik."


Anindira juga tahu ada sesuatu antara Madan dan Chika. jadi ia memerintahkan Madan untuk menjaga dan menemani Chika selama di rumah sakit.


Anindira hanya bisa sesekali menjenguk Chika. Aksan tidak mengijinkannya pergi ke rumah sakit setiap hari, karena menurut Aksan rumah sakit adalah tempat yang paling banyak virus dan penyakit. akan bahaya bagi ibu hamil seperti Anindira.