
Setelah selesai makan malam sendirian Anindira pun kembali ke kamar. Saat ia masuk ia tidak melihat Aksan di tempat tidur. namun ia mendengar suara air di kamar mandi.
karena baru siap makan Anindira memilih duduk di sofa panjang yang ada di kamar sambil memainkan ponselnya.
Aksan baru keluar dari kamar mandi. ia merasa lemas karena habis muntah. kemudian ia menghampiri Anindira di sofa lalu tidur dipaha istrinya itu.
Anindira terkejut sesaat kemudian meletakkan ponselnya, ia menempelkan tangannya kening Aksan memeriksa suhu tubuhnya lagi.
"Kau pucat sekali suamiku?" tanya Anindira cemas.
"Tadi aku baru muntah"
"Sebaiknya kita periksa ke dokter saja ya?"
"Tidak perlu." ucap Aksan lalu melingkarkan tangannya di pinggang Anindira dan memejamkan matanya. sontak saja hal itu membuat Anindira semakin terkejut.
"kenapa kau tegang sekali?". ucap Aksan masih memeluk pinggang istrinya itu.
"Emm. . sebaiknya kau tidur dikasur saja suamiku, lebih nyaman." Anindira merasa canggung dan malu.
Aksan pun bangkit menuju tempat tidur sambil menarik tangan Anindira. ia memaksa Anin ikut naik ke tempat tidur dan tidur di sebelahnya.
Anindira hanya bisa pasrah menuruti suaminya yang sedang sakit dan bersikap aneh itu, saat sakit Aksan menjadi lebih manja.
Anindira menarik selimut untuk menyelimuti mereka, kemudian Aksan menariknya dan tidur sambil memeluk. Aksan meletakkan kepala Anindira didada. memeluknya seperti guling. ia merasakan kenyamanan dan kehangatan saat memeluk Anindira. tak butuh waktu lama ia pun tertidur lagi.
Anindira merasakan kehangatan dan kenyamanan dipelukan Aksan, entah karena badan Aksan yang sedang panas atau memang ia merasa nyaman dipeluk suaminya.
Anindira mulai merasakan hembusan nafas Aksan yang mulai teratur mengenai rambutnya, ia rasa Aksan sudah tertidur.
Dinginnya malam tak ia rasakan saat berada di pelukan istrinya. malam ini Aksan dan Anindira benar-benar merasa sangat nyaman berada di pelukan masing-masing.
Meskipun aku tidak tau kau sudah mencintaiku atau belum, aku juga tidak tau perasaan ku padamu ini cinta atau tidak, tapi aku ingin kita tetap bersama selamanya sampai kita tua nanti.
Seperti Ayah dan Ibuku, seperti Mama dan Papamu. Karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Semoga segala rintangan yang ada dalam rumah tangga ini bisa diselesaikan dengan mudah. batin Anindira.
Tak lama kemudian Anindira pun ikut tertidur menyusul suaminya yang sudah tidur duluan.
***
Keesokan paginya.
Anindira bangun terlebih dahulu masih dalam posisi dipeluk Aksan seperti guling. badannya terasa pegal karena tidur dengan posisi yang sama sepanjang malam.
Tidak hanya Anindira, Aksan juga merasa pegal dan tangannya kebas. Mereka berdua duduk sambil menunggu nyawanya terkumpul, kemudian mereka saling pandang lalu mereka tertawa bersama. entah apa yang lucu hanya mereka berdua yang tahu.
Anindira menempelkan telapak tangannya di kening, pipi, dan leher Aksan. Mengecek suhu tubuh Aksan pagi ini.
"Syukurlah panasnya sudah turun."
Aksan mengecek suhu tubuhnya sendiri dengan menempelkan tangannya di keningnya. dan benar kalau panasnya sudah turun.
"Ternyata tidur sambil berpelukan bisa menyembuhkanku ya. kalau begitu aku akan tidur sambil memelukmu terus." ucap Aksan yang berhasil membuat pipi Anindira berubah warna. Anindira ingin turun hendak ke kamar mandi tapi Aksan menarik tangannya mencegahnya turun.
"Mau kemana?"
"Aku mau menyiapkan air hangat untuk mandi."
"Nanti saja"
"Tapi ini sudah siang, nanti kamu telat suamiku." ucap Anindira, ia berusaha lepas dari suaminya.
"Aku tidak ke kantor hari ini." Aksan kembali merebahkan tubuhnya. rasanya ia ingin menghabiskan waktunya hari ini dukamar saja bersama Anindira.
"Tapi suamiku sepertinya kau sudah sembuh, dan bagaimana dengan pekerjaanmu nanti?" tanya Anindira dengan hati-hati takut Aksan marah.
"Malik akan mengurusnya."
Ya, tentu saja dibalik suksesnya Aksan ada seorang bawahan yang selalu membantunya dengan setia.
Anindira berpikir kalau mereka berdua sangat mirip. sama-sama pekerja keras, berwajah kaku dan bersifat dingin.
"Cihh, kenapa kau memikirkan dia?" Dengus Aksan kesal. Dia kira Anindira sedang memikirkan Malik karena Anindira terdiam setelah menyebut sekretaris Malik.
"Sudah biarkan saja dia, pikirkan saja suamimu yang sedang sakit ini."
***
Setelah mandi dan sarapan, mereka kembali ke kamar. lebih tepatnya Aksan yang mengajak Anindira kembali ke kamar. Aksan melarang Anindira untuk keluar rumah hari ini, dia ingin Anindira menemaninya seharian dikamar. sebagai istri yang baik tentu saja Anindira menurut.
"Suamiku, apa yang akan kita lakukan? aku bosan di kamar terus". ucap Anindira setelah memberikan obat pada Aksan.
"Apa kau lupa aku menyuruhmu apa kemarin?"
"Apa" Anindira bingung, seingatnya Aksan tidak menyuruhnya melakukan apapun kemarin.
"Panggil aku dengan sebutan sayang!" Ucap Aksan mengingatkan sekali lagi, Anindira pun baru teringat.
"Sayang, apa yang akan kita lakukan sekarang? aku bosan"
"Kau ingin melakukan sesuatu?". Anindira mengangguk.
"Sekarang pijat aku" ucap Aksan sambil membalikkan badannya tengkurap. Anindira memutar bola matanya malas, namun ia tetap melakukannya.
Aksan beberapa kali bersendawa saat dipijat. ia merasa lebih baik sekarang. Anindira memang pandai memijat. ntah darimana keahlian memijatnya itu datang, padahal dia tidak pernah kursus memijat. atau mungkin itu hanya berlaku bagi Aksan saja? dia begitu menikmati sentuhan pijatan yang diberikan Anindira.
Aksan membalikan badannya karena dari tadi Anindira terus saja merengek sudah? sudah? karena tangannya sudah pegal.
huh akhirnya. . . sebenarnya aku istrinya atau tukang pijat sih?. Anindira memijat tangannya sendiri yang pegal.
"Kemarilah" ucap Aksan menepuk sisi ranjang di sebelahnya. Anindira menurut dan berbaring disebelahnya.
"Hari ini kau harus temani aku seharian." ucapnya sambil memegang tangan Anin, memberikan sedikit pijatan ditangannya.
ia tau pasti tangan Anindira pegal karena habis memijatnya.
"Tapi. . ."
"Tidak ada tapi tapian!"
"Baiklah." lagi-lagi dia hanya bisa pasrah. Aksan tersenyum senang. dia senang mendapatkan istri yang begitu penurut tidak pernah membantah.
Aksan masih memijat tangan Anindira. setelah memperhatikannya ia baru sadar bahwa tangan istrinya itu sangat kecil.
"kenapa tanganmu kecil sekali? makanlah yang banyak."
Anindira langsung menarik tangannya.
"Hiss. . body shaming" ucapnya.
Bukan aku yang kekecilan tapi kau yang kebesaran. batinnya tak terima dibilang kecil.
Aksan memiliki badan yang bagus dan atletis, bisa dibilang badannya itu sudah pas. tidak terlalu besar dan tidak kecil juga.
"Bukan body shaming, aku cuman menyuruhmu makan yang banyak supaya kau kuat nanti."
"Meskipun tanganku kecil begini, tapi aku itu sangat kuat."
"Benarkah? kita lihat saja apa kau kuat menghadapiku nanti. ucap Aksan sambil menyeringai
"Mulai sekarang kau harus makan yang banyak, biar kau kuat nanti." ucap Aksan tersenyum penuh arti sambil mengedipkan sebelah matanya. Anindira memaksakan senyumnya melihat suaminya yang membuatnya merinding sekaligus malu.