Bakery love story

Bakery love story
Aku Harus Semangat



Di tengah perjalanan pulang Anindira tertidur karena kelelahan, terlalu banyak menangis membuat matanya menjadi sembab.


Sesekali Kenan menoleh sebentar kearah Anindira yang sedang tidur lalu kembali fokus ke jalanan.


Tunggulah sebentar lagi Anin, jika waktunya sudah tepat, aku pasti akan melamarmu.


Kenan sudah menyukai Anindira sejak masa kuliah dulu. kedekatan mereka membuat Kenan jatuh hati padanya. Berbeda dengan Anindira yang hanya menganggap Kenan seperti kakaknya sendiri.


Setelah sampai di depan rumah Anindira, Kenan langsung membangunkannya dengan menepuk pelan bahunya.


"Anin, Anin bangunlah sudah sampai." Ucap Kenan dengan lembut.


"Eh, sudah sampai ya?" Ucap Anindira sambil mengucek matanya.


"Terimakasih kak untuk tumpangannya, terimakasih juga untuk nasehatnya tadi" Ucap gadis itu sembari tersenyum.


"Anin ingatlah aku akan selalu ada untukmu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Kenan khawatir meninggalkan Anindira yang kini tinggal sendirian dirumahnya, apalagi ia seorang gadis. Kenan takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Anindira hanya tersenyum sambil mengangguk.


Setelah masuk kedalam rumah, Anindira melewati kamar orang tuanya. Kamar yang belum lama tak ditempati itu masih menyisakan aroma khas ibu dan ayahnya, seketika air matanya mengalir lagi mengingat kedua orangtuanya. kepergian mereka terlalu mendadak jadi butuh waktu untuk Anindira bisa beradaptasi, apalagi di dalam rumah yang penuh sekali dengan kenangan mereka bersama.


Anindira menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang biasa ditiduri ayah dan ibunya, sambil mengenang kebersamaan bersama orang tuanya, mengingat Betapa bahagianya mereka walaupun hidup dalam kesederhanaan.


Setelah beberapa saat menangis iapun bangkit dan menghapus air matanya, mencoba menguatkan dirinya.


"Aku harus kuat."


Tanpa sengaja ia melihat kunci yang ada di atas lemari kecil di samping tempat tidur lalu mengambilnya.


"Inikan kunci toko roti ibu".


Setelah berpikir sangat panjang, akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan usaha toko roti milik ibunya. ia mengubah rencana awalnya untuk bekerja di sebuah perusahaan.


Anindira pun Keluar dari kamar ayah dan ibunya sambil membawa kunci itu menuju kamarnya.


Keesokan harinya, Anindira mulai mempersiapkan segala keperluan untuk membuka toko roti itu kembali. Ia berlatih dengan giat agar roti buatannya semakin enak. dia mengingat semua yang sudah diajarkan ibunya kepadanya. cara-cara agar membuat roti yang enak dan berhasil.


Dengan uang peninggalan ayah dan ibunya yang ia kumpulkan, dan juga tabungan yang ia miliki, sedikit demi sedikit dia membangun dan merenovasi toko itu menjadi lebih besar. dia juga menambah menu-menu baru pada roti yang akan dijualnya.


***


Beberapa bulan kemudian.


Setelah meneruskan toko roti peninggalan ibunya, dengan tekat dan bakat yang dimilikinya, Toko roti itu semakin maju dan memiliki banyak sekali pelanggan tetap. Berkat kemajuan usahanya,


Anindira bisa mempekerjakan lumayan banyak pegawai dan lebih memperbesar toko roti peninggalan ibunya ini. dia juga memberikan nama untuk toko rotinya, namanya adalah "A.K Bakery" kata A.K adalah singkatan dari namanya sendiri Anindira Kirana, nama pemberian orang tuanya.


"Wahh Anin kau benar-benar hebat, aku bangga padamu." Ucap Kanaya sahabat dekatnya. Kanaya adalah sahabat Anindira sejak kuliah dulu. Ia gadis yang manis dan baik hati. Setelah lulus kuliah dia bekerja sebagai pegawai tetap di perusahaan Alister Company.


"Aku juga bangga padamu, kau bisa bekerja di perusahaan besar. Seperti impian kita dulu".


Anindira dan kanaya memang berencana bekerja di sebuah perusahaan besar, target mereka adalah bekerja di perusahaan Alister Company. Perusahaan terbesar dan nomor satu di kotanya.


Kanaya menepuk bahu Anindira. "Aku tau perasaanmu". Kanaya yang orang tuanya sudah lama meninggal tentu saja mengerti dengan perasaan sahabatnya itu karena dia juga merasakannya.


"Mungkin dengan mengorbankan impianmu dan menjalankan toko roti ini, itu adalah pilihan terbaik". Kanaya tersenyum memandang Anindira.


"Lihat dalam beberapa bulan saja kau sudah sesukses ini. Toko roti ini semakin maju. kau harus semangat Anindira". Sambil mengepalkan tangannya ke udara memberi semangat.


"Ibumu pasti bangga padamu, kau telah membesarkan toko roti kesayangannya."


"Iya, kau benar. Ibu akan bangga padaku. Aku harus semangat."


"Kita berdua hebat." Ucap kanaya sambil menggandeng bahu Anindira.


Kau hebat Nay, aku harus kuat seperti mu. Kau bahkan kehilangan orang tuamu saat kau masih kecil, itu pasti lebih menyakitkan.


"Terimakasih Nay, orang tuamu juga pasti bangga memiliki anak seperti mu."


"Ah kau buat aku menangis" Kanaya tertawa sambil menghapus air matanya.


"Maaf membuatmu sedih" Mereka lalu tertawa bersama-sama.


"Aduh aku lapar sekali, ayo kita makan!".


Kanaya yang memang baru pulang dari kantor langsung ke toko roti milik Anin, karena sudah lama dia tidak bertemu sahabat nya itu karena tidak sempat.


Mereka pun pergi dengan mobil Kanaya yang baru dibelinya. menuju tempat makan favorit mereka. Rumah makan tradisional yang menyediakan berbagai macam makanan Nusantara.


"Mobilmu bagus juga Nay". Sambil memperhatikan isi mobil Kanaya


"Hehe aku baru bisa membelinya setelah beberapa bulan bekerja. Aku menabung sangat keras kau tau."


Anindira memutar bola matanya.


Keras apanya, kau bekerja untuk dirimu sendiri, kau kan tidak punya beban yang harus kau tanggung. Tentu saja kau bisa membeli mobil ini.


"Apa kau tidak mau membeli mobil juga?". Mengingat Anindira yang selalu pergi kemana mana naik bis.


"Aku tidak bisa menyetir Nay, yang ada aku malah merusak mobil yang baru kubeli nanti."


"Tenang saja, Aku akan mengajarimu".


"Nanti sajalah, aku belum terlalu membutuhkan nya."


Setelah memarkirkan mobil, mereka turun dan langsung masuk ke tempat makan favorit mereka.


Aroma masakan khas rumahan langsung tercium membuat mereka semakin lapar dan tidak sabar untuk segera makan.


"Sudah lama ya kita tidak makan disini". Ucap Anindira.


"Iya, tempat ini masih sama, tidak ada yang berubah. Semoga rasa makanannya juga tidak berubah."


Setelah pesanan Mereka datang mereka pun langsung makan dengan lahab.


"Akhh perutku kenyang sekali. Kamu sih pesannya kebanyakan." Ucap Anindira sambil memegang perutnya yang kekenyangan.


"Tapi habis juga kan". Sahut Kanaya.


mereka berdua pun tertawa mengingat Betapa rakusnya mereka saat makan tadi karena memang mereka sedang lapar dan makanannya yang sangat menggugah selera.


Setelah makan, Mereka langsung pulang. Kanaya mengantar Anindira sampai ke rumahnya.


"Kapan ya jadi orang kaya, seandainya aku jadi bos pasti tidak perlu susah-susah bekerja seperti ini."


"Sabar Nay, mau sukses harus kerja keras dulu dong. kecuali bagi orang yang sudah kaya dari lahir."


"Kau benar, kenapa aku tidak kaya dari lahir ya"


Anindira menggelengkan kepalanya melihat Kanaya yang terus mengeluh. Kanaya menghembuskan nafasnya kasar. ia tidak boleh terus mengeluh seperti ini.


"Aku pulang dulu ya, mau istirahat. besok harus kerja lagi. huh semangat." Ucap Kanaya mengepalkan tangannya di udara. Anindira tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.


"Hati hati ya Nay."


"Iya, bye Anin" Kanaya melajukan mobilnya meninggalkan rumah sahabatnya.


Anindira yang mengantuk pun langsung masuk, membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimut.


Aku akan berusaha terus untuk membuat toko roti ibu menjadi lebih maju. Ibu Ayah aku harap kalian bangga padaku.


Sambil berlinang air mata dia tersenyum, air matanya pun menetes setelah ia memejamkan matanya.


Bersambung. . .