Bakery love story

Bakery love story
Tidak Akan Tergoda



Di Perusahaan Alister Company.


Kanaya dan rekannya yang lain sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan serius.


sebagai pegawai di perusahaan besar yang sangat maju, tentu saja pekerjaan mereka sangat banyak dan bertumpuk di meja kerja masing-masing.


"Aku sudah tidak tahan lagi" Ucap Kanaya lalu berlari menuju toilet. Sedari tadi ia ingin buang air kecil tapi ditahan karena pekerjaannya yang sangat banyak. Setelah selesai ia segera kembali. Ia ingin menyelesaikan tugasnya dengan cepat supaya tidak lembur lagi malam ini.


Ruangan yang tadinya riuh dengan aktivitas karyawan tiba-tiba jadi senyap. Kehadiran seorang wanita dengan pakaian seksi diruangan mereka membuat fokus sebagian karyawan teralihkan. Terutama karyawan pria. Mereka melihat wanita itu tanpa berkedip.


"Wow". Ucap karyawan pria yang berada di sebelah Kanaya.


Kanaya menoleh kearahnya. Ia terkejut melihat rekannya melotot sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia melihat kearah pandangan mata rekannya, dan ternyata seorang wanita sedang berdiri dengan mengenakan baju ketat dan rok mini.


Kemudian dia melihat rekannya yang lain yang sama saja dengan rekan disebelahnya.


"Haish. . Dasar kalian semua mata keranjang" Kanaya bergumam saat melihat para pria tak berkedip melihat wanita itu.


Wanita itu berjalan kearah mereka bak seorang model. melihat lihat ke sekeliling ruangan.


Kemudian ponsel wanita itu berbunyi.


"Aksan sudah kembali?" Tanyanya pada si penelepon.


"Baiklah aku akan keruangannya sekarang."


"Akhirnya ada pencuci mata yang datang kemari." Ucap karyawan pria disebelah Kanaya yang bernama Niko. Kanaya menaikkan alisnya sebelah.


"Itu baru mantep, seksih" dengan nada manja Niko mengucap kata seksi. "Gak kayak" ucapnya lagi melirik Kanaya. Satu ruangan pun tertawa mendengar perkataan Niko yang meledek Kanaya. Kanaya hanya memutar bola matanya malas.


Siapa wanita itu? Kenapa dia memanggil bos Aksan dengan namanya. Sepertinya aku harus memberi tahu Anin supaya berjaga-jaga takut ada pelakor. Jaman sekarang kan bahaya, pelakor suka menggoda suami orang. lihat saja pakaian wanita tadi. Kanaya terus bicara sendiri dalam hatinya.


Kemudian Kanaya pergi ke toilet lagi. Ia akan menelpon Anindira disana agar tidak ada yang mendengar.


- - -


Di Toko Roti.


Anindira tengah duduk diruangannya. Setelah menerima telpon dari Kanaya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia merasa sedikit cemas, ia takut suaminya akan macam-macam dengan wanita lain. Apalagi saat Kanaya bilang wanita itu cantik dan seksi. Ia merasa gelisah.


"Aaah aku jadi kepikiran" Anindira menggigit jarinya saat membayangkan hal-hal buruk tentang suaminya.


"Oh tidak tidak" ia membayangkan suaminya sedang berselingkuh dengan wanita lain.


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi." Ucapnya sambil menggebrak meja.


"Aku harus minta bantuan Kanaya."


Anindira mengirimkan pesan teks kepada Kanaya.


"Nay aku butuh bantuan."


"Bantuan apa?"


"Apapun yang kau lihat mencurigakan tentang suamiku disana laporkan padaku, oke?"


"Maksudmu aku harus jadi mata-mata begitu?"


"Anggap saja seperti itu"


"Oke, walaupun aku tidak sering bertemu atau melihat Tuan Aksan, aku akan memberikan informasi yang kutahu."


"Baiklah"


Beberapa saat kemudian Aksan menghubunginya.


"Ada apa suamiku?"


"Kangen". Mereka pun berbicara panjang lebar.


Sebenarnya Anin tidak ingin menanyakan ini tapi karena ia penasaran dan gelisah akhirnya ia menanyakan tentang wanita yang diceritakan Kanaya tadi.


"Suamiku?"


"Hmm"


"Apa tadi ada tamu? Em maksudku apa tadi ada yang mengunjungimu, suamiku?"


"Ada, kenapa?"


"Siapa?"


"Para klien dan rekan bisnis ku"


"Emm. . ." Anindira bingung akan melanjutkan pertanyaannya atau tidak.


"Ada apa sayang?" Aksan heran dengan istrinya yang tiba-tiba menanyakan siapa yang mengunjunginya.


"Apa. . Apa yang mengunjungimu seorang wanita?" Tanyanya terbata. Ia malu harus menanyakan ini. Aksan akan mengira kalau ia cemburu nanti.


"Iya"


Tok. Anindira memukul kepalanya sendiri.


Kenapa aku menanyakan itu, bodoh.


Aksan mulai mengerti maksud pertanyaan istrinya. Dia pun memulai aksi jahilnya.


"Biasa saja, tapi dia sangat seksi."


Anindira ingin sekali menanyakan "apa kau tergoda?". Tapi ia tidak mau, ia tidak ingin mendengar jawaban Aksan. Semua pria sama saja pikirnya.


Lihat yang seksi langsung tergoda. Batinnya kesal.


"Tapi darimana kau tahu? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"


Tidak mungkin Aku bilang kalau aku tahu dari Kanaya. Bisa-bisa Kanaya terkena masalah karena sudah mengadu padaku.


"Hanya bertanya saja. Filling seorang istri itu kan kuat. Istri bisa tahu jika ada sesuatu yang tidak beres." Ucapnya seperti sedang menyindir.


"Suamiku sepertinya kau sibuk, aku tidak mau menggangumu, sudah dulu ya." Ia ingin segera mengakhiri pembicaraan ini karena ia sudah badmood.


"Baiklah jaga dirimu ya"


"Hm"


"Jangan lupa makan siang"


"Hm"


Aksan tertawa setelah Anindira menutup telponnya. Ia tahu istrinya itu sedang kesal dan cemburu. Dan itu membuatnya sangat senang.


- - -


Setelah selesai makan malam. Aksan dan Anindira sedang duduk di balkon kamar. mencerna makanan yang baru mereka makan.


Mereka menikmati indahnya pemandangan malam dari atas. Malam yang cerah, bulan yang bersinar terang dikelilingi bintang-bintang. sungguh pemandangan yang sangat indah.


Aksan melihat istrinya yang hanya diam saja menatap langit begitu lama.


"Ada apa?" Tanya Aksan sambil membelai rambutnya. Anindira menoleh kearah suaminya, lalu menggeleng.


"Lalu kenapa kau diam saja memandangi langit, padahal suamimu ini lebih enak dipandang"


"Aku sedang berdoa" Ucapnya kembali memandangi langit.


"Aku berdoa agar pernikahan kita langgeng sampai maut memisahkan. tanpa adanya orang ketiga." kemudian melirik kearah suaminya.


Aksan tertawa kecil. "Kau sangat suka menyindir ya".


Aksan merapatkan kursinya ke dekat kursi Anin, menggeser meja agar kursinya bisa dekat dengan kursi istrinya. "Mulai besok aku akan meletakkan sofa saja disini". Ia kesal tak bisa memeluk istrinya karena kursi kayu ini memiliki pembatas dibagian tangannya.


"Dengar. seberapa banyak godaan diluar sana, aku tidak akan pernah tergoda. karena aku tidak akan melihat godaan itu. aku hanya mencintaimu, aku sangat mencintaimu, meskipun kau tak percaya aku tidak peduli. aku hanya ingin kau tetap selalu berada disisiku, meskipun kau membenciku sekalipun. meskipun kau ingin pergi dariku, aku tidak akan pernah melepaskan mu." ucapnya dengan serius.


Anindira terharu mendengar perkataan Aksan.


"Apa suamiku yakin tidak akan tergoda atau melirik wanita lain?"


"Aku akan menutup mataku untuk wanita lain."


"lalu wanita seksi yang mengunjungi suamiku tadi?"


"Aku berbicara dengannya tapi tidak


menatapnya. aku menjaga pandangan ku."


"Yang benar?" Anindira menyenderkan kepalanya dibahu Aksan.


"Kau bisa membunuhku jika aku mengkhianatimu."


Aku sudah sangat nyaman denganmu. aku menyayangimu, aku ingin selalu melindungimu. aku tidak ingin membuatmu terluka, lebih baik aku mati daripada melukai mu. Batin Aksan lalu mencium pucuk kepala istrinya.


"Ayo masuk, semakin lama udaranya semakin dingin."


"Sebentar lagi suamiku. aku belum mengantuk."


"Siapa yang menyuruhmu tidur. aku mengajakmu masuk karena kita akan bekerja."


"Bekerja?"


"Iya kerja. kerja keras"


Aksan bangkit dari duduknya lalu membungkuk membisikkan sesuatu ke telinga Anin.


"Kerja untuk menghasilkan anak". bisiknya sambil menyeringai.


"Dimana-mana kerja untuk menghasilkan uang bukan menghasilkan anak" ucap Anin. ia tahu maksud dan tujuan suaminya saat ini.


Aksan langsung menggendong istrinya itu membawanya ke tempat tidur. dan mereka pun memulai pekerjaan mereka, bekerja keras untuk menghasilkan anak.