Bakery love story

Bakery love story
Lagi datang bulan



Setelah pertemuan dengan kliennya selesai, Aksan dan sekretarisnya langsung bergegas meninggalkan food court yang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.


Namun saat sedang berjalan tak sengaja ia melihat sebuah benda yang menarik perhatiannya. senyuman terangkat di bibirnya saat melihat benda tersebut.


"Kau sudah membeli tiketnya?". Tanya Aksan pada Malik.


"Sudah Tuan, pesawatnya akan berangkat pukul 2 sore".


"Baiklah".


 


Setibanya Aksan di mansion, ia langsung menemui orang tuanya yang saat itu sedang bersantai menonton tv.


"sayang, kenapa kau tidak memberitahu kalau akan pulang hari ini?". Tanya mamanya.


"Aku lupa". Ucapnya santai, lagipula dia hanya pergi keluar kota yang jaraknya hanya 2 jam perjalanan jika naik pesawat.


"Dasar anak ini". Nyonya Hanna kesal dengan anaknya ini yang tidak pernah memberi kabar tiba-tiba sudah nongol di depan mata.


"Bagaimana keadaan disana nak?". Tanya papanya mengenai cabang perusahaan keluarga mereka yang ada disana.


"Sudah beres pah".


"Baguslah".


"Aku ke atas dulu mah pah". Ucapnya kemudian bangkit lalu pergi ke kamarnya untuk segera mandi dan istirahat sebentar.


"Anindira masih di tokonya". Ucap Nyonya Hanna saat Aksan sudah menaiki anak tangga. Aksan berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi langkahnya.


***


1 Jam kemudian Anindira pulang


saat ia pulang mansion nampak sepi. karena haus ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Bi dimana mamah dan papah? tanyanya pada bibi yang sedang membersihkan dapur.


"Tuan dan nyonya sedang istirahat dikamar non"


"Oh baiklah"


Anindira segera menghabiskan air minum digelasnya dan akan langsung ke kamar saja pikirnya.


"Saya keatas dulu ya bi"


"Iya non"


Anindira langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. ia tidak tahu kalau Aksan sudah pulang hari ini, pasalnya saat Anindira pulang Aksan sedang berada di ruang kerjanya untuk mengecek pekerjaan kantornya.


Beberapa menit kemudian, Aksan yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung kembali ke kamar, sebenarnya ia tak sabar ingin melihat reaksi Anindira jika mengetahui kalau dia sudah kembali. setibanya di kamar Ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, diapun berpikir kalau gadis itu pasti sedang mandi.


Aksan lalu berjalan menuju balkon kamar merasakan udara malam yang sejuk sambil menghisap rokok elektrik miliknya. hal itu sudah menjadi kebiasaannya karena mampu mengurangi sedikit beban dikepalanya.


Anindira baru selesai dengan acara mandinya, ia langsung menuju ke ruang ganti. saat hendak mengambil pakaian ia mendengar suara ponselnya berdering. Awalnya ia mengabaikannya namun ponselnya terus saja berdering. Anindira pun akhirnya keluar dari ruang ganti hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Ia pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


"Berisik sekali, siapa sih yang menelpon?" Ucap Aksan yang mendengar suara ponsel Anindira berdering terus, Aksan pun ingin mengeceknya karena ia pikir Anindira mungkin tak mendengarnya karena sedang mandi.


Aksan yang baru masuk langsung mematung dengan pemandangan langka yang ada di hadapannya. Baru kali ini ia melihat Anindira hanya menggunakan handuk mini yang hanya pas pasan menutupi sebagian tubuhnya, memperlihatkan leher jenjang serta tangan dan kakinya yang putih bersih, sangat menggoda. Aksan terdiam memandangi Anin yang posisinya sedang membelakanginya. sungguh pemandangan yang tak biasa dan luar biasa. sesekali ia menelan salivanya.


Kanaya. Ada apa? kenapa dia menelpon terus?.


Anindira melihat 3 panggilan tak terjawab dari Kanaya. Ia pun menelpon balik sahabatnya itu beberapa kali namun tak diangkat.


"Kenapa sih, tadi nelpon berkali-kali sekarang diltepon balik tidak diangkat."


"Siapa?". Ucap Aksan yang sudah berdiri tepat dibelakangnya, sontak saja membuat Anindira terkejut dan langsung membalikkan badannya menghadap Aksan.


Aksan hanya diam saja menatap Anin. Anin yang merasa tidak enak dengan tatapan itu pun hendak pergi ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya. namun dengan cepat tangan Aksan langsung menarik tangannya membuat tubuhnya mendadak kaku.


"Ada apa?". Tanya Anindira. jantungnya kini sudah berdegup kencang.


"Apa kau sedang menggodaku?"


Menggoda? mana aku tahu kalau kau sudah pulang, kalau aku tahu aku tidak akan keluar handukan begini.


Aksan menarik tangan Anindira sehingga tubuh mereka saling bersentuhan.


"Apa kau tahu? kau sudah membangunkan singa yang lapar" bisiknya ditelinga Anindira.


"Aku ingin kau memberikan hak ku sekarang!" Ucap Aksan yang telah dikuasai nafsu dan gairah.


Tanpa aba-aba Aksan langsung mencium bibir ranum Anindira. ciumannya sangat bernafsu dan rakus seperti orang kelaparan yang tidak pernah diberi makan berhari-hari.


Aksan mendorong tubuh Anindira ke atas ranjang dan menindihnya tanpa melepaskan ciumannya.


Anindira memang sempat terkejut dengan tindakan yang dilakukan Aksan, namun dia diam saja karena dia menyadari sudah seharusnya Aksan mendapatkan haknya sebagai suami.


Akan tetapi sebelum Aksan melakukan hal yang lebih jauh lagi, ia teringat akan sesuatu dan langsung mendorong tubuh pria yang sudah diselimuti nafsu itu. jelas saja Aksan tak menghiraukan dorongan Anindira.


Anindira pun memukul-mukul dada bidang suaminya itu barulah Aksan melepaskan ciumannya.


"Ada apa?"


"Maaf suamiku, tapi kita tak bisa meneruskannya sekarang." Disaat itu pula keluar cairan merah yang membuat Anindira panik


"Kenapa?" Tanya Aksan kesal, pasalnya ia sudah sangat menginginkannya sekarang.


"Karena aku sedang datang bulan" Jawabnya berusaha bangkit membuat cairan merah itu semakin banyak keluar. namun Aksan diam saja tak bergerak diatasnya.


"Aduh sudah keluar, minggir dulu!" Ucapnya sembari menunjuk kebawah barulah Aksan bangkit dan terkejut melihat darah merembes dihanduk istrinya. meskipun tidak banyak tapi itu mampu membuat Aksan panik.


Anindira pun langsung berlari menuju kamar mandi tak lupa ia mengambil pembalut dan pakaiannya.


"Anindira buka pintunya? ada apa denganmu? kenapa kau berdarah?" Tanya Aksan sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Anindira keluar dengan perasaan malu dan bersalah.


"Kau kenapa? Katakan padaku!" Ucap Aksan khawatir


"Aku tidak apa-apa, hanya lagi datang bulan saja."


"Tapi kenapa sampai berdarah begitu?"


"Datang bulan memang begitu" Jawab Anindira menyengir dengan kepolosan suaminya.


"Apa?" Aksan terkejut, ia pernah mendengar tentang datang bulan, tapi dia tidak tahu jika datang bulan itu mengeluarkan darah.


***


Sesaat sebelum tidur.


Aksan dan Anindira kini sudah berada di kamar setelah selesai makan malam.


"Sini ponsel mu!". Ucap Aksan setelah naik ke ranjang dan bersandar. Ia ingin memeriksa siapa yang tadi menelpon Anindira. sekalian memeriksa isi ponselnya. Karena tetap saja dia adalah suaminya, dia tidak akan terima jika istrinya berani berselingkuh darinya.


"Untuk apa?". Tanya Anindira kemudian mengambil ponselnya lalu duduk disebelah Aksan.


"Sudah kemarikan". Sambil merebut ponsel Anindira yang berada di tangannya, Lalu memeriksanya.


Sedang apa dia. Batin Anindira heran apa yang dilakukan Aksan dengan ponselnya.