
Setelah acara selesai, Aksan dan Anin langsung pulang ke mansion keluarga Alister.
Anindira tidak menyangka bahwa dirinya kini telah menjadi salah satu penghuni dari rumah yang begitu besar dan mewah layaknya istana.
Istana berkedok rumah. Itulah yang digambarkan Anin dalam pikirannya.
Turun dari mobil. Aksan langsung masuk ke dalam meninggalkan Anin yang masih berada di dalam mobil.
Melihat dirinya ditinggal, Anin langsung turun dan menyusul Aksan. Karena gaunnya yang berat dan panjang membuatnya sulit untuk mengejar Aksan.
Hey, gila ya. Tidak bisa menunggu apa. Gaun ini kenapa berat sekali sih. Huh.
"Tuan, Tuan Tunggu". Ucap Anin sambil berjalan di belakang Aksan.
"Diam dan ikuti aku". Aksan terus berjalan tanpa memperdulikan Anin yang kesulitan berjalan sambil memegangi gaunnya.
Setelah sampai di depan pintu kamar, Aksan melihat Anin yang masih berusaha menaiki tangga.
Sedikit lagi Anin kau pasti bisa.
Berada di anak tangga terakhir.
Huh akhirnya. lagian ini anak tangga kenapa banyak sekali sih. gerutu Anin dalam hati karna tangga yang dinaikinya ini membuatnya lelah, karena tubuhnya yang kecil harus menopang gaun pengantin yang super duper berat dan ribet ini.
Sementara Aksan yang sudah diambang pintu kamar kesal menunggu Anin yang sangat lambat, dia tidak tahu betapa beratnya baju pengantin wanita itu.
Menyebalkan wanita ini.
Sambil berkacak pinggang.
"Hey cepatlah! kenapa kau lama sekali". Ucap Aksan kesal sedikit berteriak.
Dasar, tidak lihat apa aku kesusahan begini. gerutu Anindira sambil berlari menuju tempat Aksan berdiri.
"Lambat sekali". Sambil membuka pintu kamar.
setelah memasuki kamar, Anin dibuat terpana dan sangat kagum melihat ruangan yang baru dimasukinya itu. Kamar yang besar dengan perpaduan warna hitam dan putih. Dengan tatanan barang yang tersusun rapi membuat mata sedap memandang.
"Ini kamarku".
Suara Aksan menyadarkannya dari kekaguman.
"Lalu kamarku?".
"Kamarmu?" Aksan berpikir sebentar kemudian tersenyum smirk.
"Kau akan tidur disini. Bersama ku" ucapnya sambil menekan kata Bersamaku.
Apa? tidur bersama?.
"Bu bu kankah kita hanya menikah karena terpaksa. Lalu untuk apa kita tidur bersama". Tanya Anindira secara perlahan
Terpaksa?
Sebenarnya Aksan tau semuanya. Semenjak mamanya memutuskan akan mencarikan calon istri untuknya. Dia mengutus orang untuk mengikuti mamanya. Dia ingin tahu sebesar apa mamanya berusaha mencarikan calon istri untuknya.
Dia juga mengetahui bahwa Mamanya memohon kepada Anin untuk menikah dengannya, apalagi mamanya mengatakan kebohongan soal penyakitnya kepada Anindira. Sehingga gadis itu mau menuruti permintaan mamanya dan menikah dengannya.
Sebenarnya Aksan sangat kesal dengan mamanya, tanpa Mamanya memohon semua yang diinginkan mamanya akan akan Aksan penuhi walau dengan terpaksa sekalipun.
Aksan mengehela nafas kasar, kemudian menyilang kedua tangannya di dada.
"Jawab aku, kenapa kau menerima permintaan mamah untuk menikah dengan ku?"
"Karena.. karena aku tidak tega melihat Tante Hanna." Jawab Anindira hati-hati melihat Aksan yang sedang dalam mode serius.
"Tidak tega? Kenapa?"
"Kenapa anda bertanya seperti itu tuan? anda pastinya sudah tahu bahwa tante Hanna punya penyakit yang sangat serius, dan dia memiliki harapan besar pada putranya untuk segera menikah, karena dia sudah tidak sabar ingin segera memiliki seorang cucu, mengingat penyakit yang dideritanya aku merasa iba dan ikhlas ingin membantunya".
Anindira berbicara dengan cepat tanpa filter sampai terhenti mengingat ucapannya yang terasa tidak beres.
Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Astaga apa yang aku bicarakan. ia memejamkan matanya sambil memukul kepalanya. bisa-bisanya dia menyebutkan soal cucu.
malu, itulah yang sedang dirasakannya saat ini.
Seringai muncul di bibir Aksan.
Gadis ini polos atau memang bodoh. Mau saja ditipu mama.
"Kenapa?" Aksan memajukan tubuhnya mendekat pada Anin.
"Kenapa kau harus terpaksa?" Aksan mengangkat tangannya membelai halus pipi Anin, gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Seketika tubuh Anindira menegang, ia memundurkan tubuhnya.
"Apa kau tau, semua wanita bahkan rela melakukan apapun agar bisa bersama dengan ku"
"Tetapi dibalik itu semua, mereka hanya menginginkan harta. mereka tak pernah tulus mencintai"
Aksan terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu, membuat Anindira merasa bingung. namun sesaat kemudian Aksan tertawa.
"Hahaha.."
"Kalian wanita pandai sekali menipu. Apa kau juga sama seperti mereka?" ucapnya dengan suara yang pelan namun penuh dengan sindiran.
"Apa maksud anda?".
Anindira benar-benar dibuat keheranan dengan sikap dan perkataan Aksan barusan.
Aksan tidak menjawab dia pergi meninggalkan Anindira menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia ini kenapa sih.
Aksan memang sudah tidak mencintai Tamara, mantan kekasihnya itu. sama sekali tidak. Namun dia dendam karena dia merasa cinta tulusnya dulu telah disia-siakan.
Setelah Aksan selesai membersihkan dirinya. Dia pun keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti.
Melihat Aksan yang hanya memakai handuk, memperlihatkan dada bidangnya yang sudah seperti roti sobek, Sontak saja Anindira membalikkan badannya menatap ke arah lain.
Astaga itu dada atau roti sobek yang sering kubuat.
Aksan berjalan melewati gadis itu dengan santai.
Kini giliran Anindira yang akan membersihkan diri. Dia membawa baju tidur yang sudah disediakan di lemari pakaian yang sudah dibuatkan khusus untuk dirinya. Saat Aksan mandi tadi Anin sudah melihat lemari pakaian yang berisi baju baju untuknya. Dia sungguh takjub dengan isi lemari pakaiannya.
Setelah selesai mandi. rasanya Anindira ingin segera tidur karena sangat lelah.
Saat menuju tempat tidur dia melihat Aksan sedang bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Anindira berdiri diujung tempat tidur sambil berpikir, ragu-ragu dia untuk bicara.
"Ada apa?" Tanya Aksan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Emm.. kenapa anda tidur disitu?" Tanya Anindira ragu-ragu.
Cih. Aksan kesal dengan pertanyaannya
"Pertanyaan bodoh macam apa itu. Tentu saja aku tidur disini karena ini tempat tidurku".
"Benar juga". Anindira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu dimana aku harus tidur?" Tanyanya lagi. membuat Aksan menghembuskan nafas kasar.
"Apa kau lupa yang sudah kukatakan tadi? kita akan tidur bersama." Ucap Aksan yang membuat jantung Anindira berdegup kencang.
"Kita hanya tidur bersama. Apa yang kau pikirkan".
"Hanya tidur kan?!" Tanya Anin memastikan. Karena dia tahu bahwa setiap pasangan pengantin baru pasti melakukan yang namanya Malam pertama, dan dia belum siap untuk itu.
"Memangnya kau berharap apa?".
"Bukankah kau bilang Kita menikah karena terpaksa. Apa sekarang kau berubah pikiran?". Tanyanya lagi sambil menaikkan satu alisnya.
"Baiklah baiklah. Hanya tidur bersama kan, baiklah."
Anin yang sudah sangat lelah dan mengantuk segera naik ke tempat tidur, masuk kedalam selimut dan tak lupa meletakkan guling ditengah sebagai pengaman. Lalu tidur membelakangi Aksan.
Cih benar benar ya wanita ini.
Aksan tidak habis pikir dengan wanita satu ini. disaat banyak wanita lain tergila-gila padanya, tapi Anin malah bersikap seperti itu.
Apa dia benar-benar tidak tertarik dengan ku?
Setelah mengecek semua email yang dikirimkan sekretarisnya. Aksan juga langsung tertidur menyusul Anin yang sudah berada di alam mimpi, karena memang dirinya juga lelah.
Begitulah malam pertama yang dilalui pengantin yang baru menikah dengan terpaksa ini.