Bakery love story

Bakery love story
Butuh Piknik



Seperti biasa keluarga Alister tengah sarapan bersama.


Pagi ini Bella mengatakan kalau pekan depan liburan semester akan tiba, jadi dia dan teman-teman kampusnya berencana akan pergi jalan-jalan ke luar negeri untuk liburan seperti tahun kemarin.


Tapi Orang tuanya tidak mengijinkannya pergi kali ini. karena tahun kemarin saat Bella pergi dengan teman-temannya, mereka sempat mengalami perampokan. Bella dan temannya dirampok oleh sekumpulan perampok disana. Untungnya ada warga disana yang membantu dan menolong mereka meskipun perampok itu sudah kabur membawa sebagian barang mereka.


"Tapi itukan dulu, waktu itu kami terlalu bersenang-senang sampai tidak menyadari ada orang jahat yang mengikuti kami dari belakang."


"Kali ini aku akan lebih berhati-hati."


Bella berusaha membujuk tapi mereka hanya diam saja.


"Bolehkan mah?"


"Tidak". Jawab Hanna.


"Pah, bolehkan?"


"Tidak". Jawab Tuan David.


"Hiss Pelit. Aku tidak mau makan". Ucap Bella merajuk.


Aduh kenapa kepala ku selalu saja sakit. Hanna memegangi kepalanya yang berdenyut. setelah itu dia berbicara dengan nada pelan, tidak seperti biasanya.


"Hey Bella, anak kurang ajar. Dengar ini, Mama tidak akan mengijinkan mu pergi, silahkan kalau kau mau mogok makan, mama tetap tidak ijinkan.


Kau itu anak perempuan kami satu-satunya. Mama harus ketat padamu."


"Dan ya, mama sedang mencoba menjadi orang yang lebih sabar, mama sedang tidak ingin marah-marah nanti tekanan darah mama bisa semakin tinggi. jadi kau tidak usah membantah."


"Mama benar Bella, bukannya kami tidak mengijinkanmu pergi, kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kau belum bisa menjaga dirimu sendiri dengan benar." Ucap Tuan David mengingat Bella anak yang manja.


Bella diam saja, dia sedang merajuk sekarang. Dia tidak mau makan dan lebih memilih memainkan ponselnya.


"Bella" panggil Aksan. Bella langsung melihat kakaknya.


"Habiskan makanmu" ucap Aksan lagi dengan dingin. Ia harus tegas dengan adiknya itu karena Bella sangat keras kepala karena dari kecil ia selalu dimanja terutama oleh papanya.


Bella hanya melengos memutar bola matanya.


"Atau. ." Belum habis Aksan bicara Bella langsung memotong.


"Iya iya, cihh menyebalkan" Bella meletakkan ponselnya dan mulai makan. Ia tahu apa yang akan dikatakan kakaknya itu pasti hanyalah ancaman.


Anindira dari tadi diam saja mendengar pembicaraan mereka sambil memakan sarapannya, ia tersenyum setelah melihat Bella yang menuruti perkataan kakaknya. Ia heran Bella lebih menuruti kakaknya daripada orang tuanya.


Memang Aksan lebih menakutkan, tatapannya tajam dan sikapnya dingin kepada orang-orang kecuali keluarganya.


Tuan David melihat istrinya yang memegangi kepalanya sambil memakan sarapannya dengan malas, kemudian dia melihat putrinya yang merengut karena tidak diijinkan pergi, dan melihat menantunya yang senyum-senyum sendiri, lalu berganti menatap putranya yang seperti biasanya diam saja. Ia pun memikirkan sesuatu.


"Setelah papa pikir-pikir, sepertinya kita semua butuh piknik. Ayo kita piknik." Ucap Tuan David, mereka semua langsung menatapnya.


"Piknik?". Ucap Bella dengan semangat.


"Kenapa tiba-tiba papa ngajak piknik?" Tanya Hanna


"Karena kita semua butuh piknik. Papa lihat mama sakit kepala, pasti mama suntuk, itu berarti mama butuh piknik. Dan Bella katanya dia ingin jalan-jalan, dia juga ingin piknik. menantu juga sepertinya stres dia sangat butuh piknik." Jelas Tuan David


"Menantu stres?" Tanya Hanna langsung melihat menantunya.


"Iya tadi dia senyum-senyum sendiri"


Eh apa? Aku dibilang setres karena senyum-senyum sendiri. Batin Anin tak percaya papa mertuanya mengira kalau dia stres karena senyum-senyum sendiri.


"Kau kenapa nak?" Tanya Hanna pada menantunya, ia khawatir.


"Eh, tidak"


"Kau apakan dia Aksan sampai dia stres begitu?"


"Aku tidak setres mah, pah. aku baik-baik saja" ucapnya lalu tertawa dipaksakan. "Ahahaha"


Yang benar saja mereka menganggap ku gila. batinnya sambil memegang lehernya.


"Istriku tidak setres. Aku selalu membuat dia senang dan bahagia. dia senyum-senyum sendiri karena senang mendapatkan suami seperti aku. Iyakan sayang."


Heh ngadi ngadi nih orang.


"Papa ini ada-ada saja" Hanna memukul lengan suaminya. "Masak menantunya dibilang stres"


"Hahaha" Tuan David tertawa. "Papa hanya bercanda. Kalian semua serius sekali, kalian benar-benar butuh liburan"


"Ayo, ayo kita liburan" Ucap Bella semangat. "Kita keluar negeri saja"


"Kau itu sangat suka diluar ya, sudah sana kau diluar saja, tidur diluar." Ucap Hanna


"Kalau Luar negri kejauhan, disini sajalah." Ucap Tuan David.


"Dimana?" Tanya Bella.


"Terserah tapi jangan diluar negeri."


"Tapi aku maunya diluar negeri"


Mereka pun berdebat, setelah perdebatan panjang akhirnya Tuan David memutuskan untuk tidak jadi pergi.


"Ah papa. . ., Jangan gitulaah." Rengek Bella saat papanya membatalkan rencana liburan mereka.


Anindira tersenyum melihat perdebatan Ayah dan anak itu, ia jadi teringat dengan almarhum ayahnya. kemudian ia melihat Hanna yang hanya melihat suami dan anaknya itu sambil menggelengkan kepalanya.


Tumben mama diam saja, biasanya mama yang paling bising. kasihan mama pasti dia sedang menahan sakit kepalanya. Kalau tidak, sudah bisa dibayangkan akan sebising apa pagi ini.


"Biar aku saja yang memutuskan tempatnya." Aksan kesal mendengar perdebatan papa dan adiknya itu.


"Jadi kita akan pergi kemana kak?"


"Nanti kita bicarakan lagi karena kakak sudah terlambat."


"Ayo sayang" ucapnya lagi sambil menarik tangan Anin.


"Kami pergi dulu, mah pah."


"Baiklah, hati-hati ya kalian"


"Iya mah" Ucap Aksan dan Anin bersamaan.


Aksan berangkat ke perusahaan, sedangkan Anindira pergi ke tokonya. Mereka berangkat agak siang karena perbincangan panjang tadi.


- - -


Di sebuah gedung dilantai tertinggi, Aksan sedang menandatangani beberapa berkas yang dibawa sekretaris Malik keruangannya.


"Satu jam lagi akan ada meeting dengan Tuan Baskara, Tuan." Ucap Malik setelah Aksan selesai menandatangani semua berkas-berkasnya.


"Baiklah, siapkan semuanya."


"Baik Tuan." Malik membungkukkan badannya lalu pergi dari ruangan Aksan.


Suara pesan masuk berbunyi di ponsel Aksan. Ia pun membuka dan membaca pesan yang ternyata dari Bella.


"Kak, segera pikirkan tempat yang bagus untuk liburan nanti."


Isi pesan dari Bella.


"Anak ini" Aksan yang tadinya lupa pun memikirkan tempat yang bagus untuk mereka liburan nanti.


Satu jam kemudian meeting pun dimulai.


Di lantai lain di gedung ini, Kanaya dan para karyawan lainnya seperti biasa sedang mengerjakan tugasnya dengan serius. Tiba-tiba pintu lift di lantai itu terbuka dan keluarlah seorang wanita. Dengan terburu-buru wanita itu keluar dari lift menuju toilet dilantai itu.


"Wanita itu". Kanaya terkejut melihat wanita yang baru saja keluar dari lift dengan tergesa-gesa.


"Itukan wanita yang semalam. Dia datang lagi? aku harus memberi tahu Anin."


Kanaya pun memberi tahu Anin kalau wanita itu datang lagi. Sebenarnya Anindira sudah mempercayai suaminya. Dia yakin suaminya tidak akan mengkhianatinya. Tapi dia tetap menyuruh Kanaya untuk mengawasi wanita itu, dan memantau keadaan disana.


Beberapa saat kemudian wanita itu keluar dari toilet, dia berjalan kearah lift. sebagian karyawan menatapnya dengan tatapan terpesona. Kanaya hendak menyusul wanita itu kedalam lift.


"Nay, mau kemana?". Panggil temannya saat melihat Kanaya tiba-tiba pergi menuju lift.


"Beli makan" Teriak Kanaya yang berlari menuju lift.


"Nitip" Teriak temannya.


"Dari chat aja"


"Tumben dia pergi sendiri, biasa minta belikan"


Kini Kanaya dan wanita itu sudah berada didalam lift. mereka menuju lantai dasar. Dia memperhatikan wanita itu diam-diam.


Cantik sih. aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?


Ia pun berusaha mengingat dimana dia pernah melihat wanita ini.


"Haa" Teriaknya histeris. Wanita itu langsung melihat kearahnya.


"Maaf". ucapnya lalu menutup mulutnya.


Bukankah dia seorang model. dia sering muncul di tv dan majalah. aduh Anin saingan mu berat sekali.


Pintu lift terbuka. wanita itu keluar dan berjalan kearah beberapa orang pria berjas yang sedang berbincang sesuatu.


"Itukan Tuan Aksan" Kanaya bersembunyi dibalik pilar. ia melihat dua orang yang dikenalnya yaitu Aksan dan sekretaris Malik. mereka sedang membicarakan sesuatu dengan orang-orang berjas itu. wanita itu menghampiri mereka.


"Sedang apa mereka?". Batin Kanaya


Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. dia terkejut dan langsung berbalik.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kevin.


Diakan?, kenapa dia ada disini.


"A aku, aku ingin membeli sesuatu"


jawabnya gugup. "Saya permisi Tuan." lalu pergi meninggalkan kevin yang terlihat bingung. Kevin pun menghampiri Aksan dan rekan-rekannya. Setelah Kevin pergi, Kanaya balik lagi ke tempatnya bersembunyi tadi memantau mereka.


"Ayo sayang kita pulang." Ucap seorang pria tua yang tak lain adalah Tuan Baskara.


"Ayo pah" ucap wanita itu.


Sepertinya Tuan itu rekan bisnis Tuan Aksan, dan si model itu anak dari rekan bisnis tuan Aksan. oh aku paham sekarang. Batin Kanaya


"Kau sedang apa?". Tanya seorang pria sambil menepuk pundaknya yang membuatnya terkejut lagi.


"Haiss. . kalian ini suka sekali menepuk pundakku." Ucapnya kesal pada orang yang barusan menepuk pundaknya yang tak lain adalah Niko temannya.


"Kalian?" Tanya Niko.


"Hey mau kemana? katanya mau beli makan?" Ucap Niko sambil mengejar Kanaya yang berjalan kearah lift.